YasuDAHLAH

2 September 2014

Saat ini, beberapa teman saya ada yang sibuk mengumpulkan massa mendukung penolakan pabrik semen di Rembang. Ada juga teman saya yang sedang berdialog dengan pemerintah setempat demi menolak reklamasi Tanjung Benoa. Ada yang masih sibuk mengoleksi puncak-puncak gunung. Beberapa masih sibuk dengan akun-akun sosmednya. Sebagian lagi teman saya istirahat dari kampanye pilpres yang banyak mengura energi. Beberapa sibuk mengedit tulisan di majalah dan penerbitan buku. Ada juga yang sibuk meng-upload hobi mereka seperti panjat tebing, jogging, Zippo, Mountain bike, hiking, travelling, diving. Ada juga yang masih bergelut dengan dunia perjodohan. Ada yang sudah terfokus mengurus anak. Sebagian lainnya tergabung dalam misi SAR membantu korban di hutan dan gunung. Ada juga yang entah dimana menjadi guru dalam program Indonesia Mengajar. Dan ada juga yang menghabiskan waktu di depan Smartphonenya yang entah untuk apa..

Oh, teman saya ternyata hebat-hebat. Sedangkan saya di sini, sedang menuliskan jadwal kuliah untuk dijalankan sore harinya hingga 3 hari ke depan. Berteman rokok beberapa batang, saya mengamati teman-teman saya tersebut di atas. Mereka dinamis, saya statis. Saya stagnan tanpa gerakan yang wah..

Jadilah saya sibuk dengan imajinasi saja. Berharap jadi tanah atau udara adalah pilihan terbaik. Amat berguna meskipun sering diabaikan. Tidak perlu jadi matahari. Paling vital namun seringkali dicaci maki. Imajinasi adalah satu-satunya senjata saya agar tetap waras bergelut dengan jaman. Kadang kalah, tapi tak pernah menang. Dan baiknya memang, dunia yang satu ini tidak seharusnya dibagi-bagi…

 

 kkk


Bunga Edelweis menurut calon Prof. Dr. DR. Frans Cihuy MBA, M.Sc, M.Pdu.

25 Agustus 2014

Jadi, karena dari kemaren saya liat dunia maya sedang ribut sebuah artikel koran yang berisi tulisan cewek pemetik edelweis, mau tidak mau saya sebagai pembela kaum wanita cantik harus segera angkat bicara. Hal ini saya lakukan agar tidak punahnya spesies wanita cantik nan aduhai apalagi dalam industri Mountaineering yang memang fakir wanita kece.

Karena info yang saya ketahui cuma sedikit, akhirnya saya googling juga tentang edelweis. Sebenarnya malas sekali membuka wikipedia… huh. Dari yang saya dapat, beberapa jenis bunga ini memang endemik di gunung-gunung Indonesia. Yang artinya cuma ada di Jawa, Lombok,  Sumatra, dan Sulawesi. Laporan sementara, yang di daerah Bromo-Tengger sudah punah, yang di Gede-Pangrango sudah mulai dijaga ketat, seketat celana pensil..

Kabar baiknya, bunga ini sudah mulai bisa dikembangbiakkan seperti yang dilakukan di Dieng. Makanya di sana banyak yang jual sampai kiloan. Jadi ga usah marah-marah kalo liat edelweis dijual di daerah sana. Dan Faktanya, Bunga Edelweis sebenarnya cuma bertahan 3 hari, sedangkan yang abadi itu cuma kelopaknya.

Juga kalau tidak saya lupa, Bunga edelweis memang harus di potong sebagian (tangkai bunganya, bukan cabangnya), untuk mengurangi populasi liar katanya. Nih kata Oom Wiki:

Dalam batas tertentu dan sepanjang hanya potongan-potongan kecil yang dipetik, tekanan ini dapat ditoleransi.

Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa edelweis dapat diperbanyak dengan mudah melalui pemotongan cabang-cabangnya. Oleh karena itu potongan-potongan itu mungkin dapat dijual kepada pengunjung untuk mengurangi tekanan terhadap populasi liar.

 

Dulu, tahun 2006 saya juga pernah metik edelweis di Surya Kencana, Gede-Pangrango. Tapi itu karena saya tidak tahu kalo bunga itu dilindungi. Karena dulu walaupun saya cakep, saya tidak ubahnya sosok lugu yang masih sangat polos dan menggemaskan. Saya juga metiknya masih dalam batas toleransi, cuma muat di selipan dompet. Maka dari itu, maafkanlah..

Sebenarnya sih saya juga risih sama peraturan pelarangan mengambil bunga. Toh bukannya bunga sama kayak mangga? Yang kalopun diambil hari ini, tahun depan juga bakal berbuah? Atau, sepunah-punahnya bunga tersebut bukankah kita sudah punya cara mengembangbiakkannya seperti yang dilakukan orang-orang dieng?

Tapi saya tau diri kok, InsyaAllah saya sekarang tidak akan mengambil apa yang bukan hak saya. Meskipun bunga ini diklaim abadi, lambang cinta suci nan murni (tsaaahhhh,.. susu kali murni..), bahkan orang jaman dulu menganggap edelweis simbol keberanian karena untuk ngedapetinnya harus bertaruh nyawa di gunung, tapi biarlah dia abadi di mana dia seharusnya..

Seperti yang hukum ekonomi bilang: Barang yang semakin susah di dapat, akan semakin tinggi nilainya..

Jadi, biarlah mereka yang berani naik gunung yang hanya bisa melihat edelweis. Biar mereka naik gunung kalo mereka benar-benar rindu dan kangen akan edelweis. Btw, edelweis saya yang di dompet, yang saya colong di Gede-Pangrango, yang sudah saya simpan 7 tahun, hilang kemana ya?

 

 

Oiya, selamat merdeka  ya buat Indonesia. , Maaf telat. soalnya sibuk maen game buatan Jepang..

Oiya, selamat merdeka ya buat Indonesia. , Maaf telat. Soalnya sibuk maen game buatan Jepang kemaren..


Gombalanashyu

22 Agustus 2014

Dan seumpama, di suatu saat nanti rembulan tak sudi lagi membagi sinarnya ke bumi,
Yakinlah ini, kamu boleh melihat mataku selama yang kau mau..

22::34:22-08-14


Ini Rutinitas Pagi

14 Agustus 2014

Bangun setengah 6.

Sholat

Hidupkan Laptop

Bikin Kopi

Nongkrong (rokok + kopi + musik)

Bersih Rumah (DepartemenTempat Tidur dan Halaman)

Panasin Motor

NgGame Sebentar

Bikin To Do List hari ini di HP

Makan

Persiapan (Tas + HP + Earphone + Rokok + Zippo + Dompet)

Mandi

Berangkuuuut !!

 

DSC03743


Poli.tik(us)

13 Agustus 2014

Karena saya sedang senang akibat IP saya tembus 3.2, maka saya mau menulis bebas..

Kali ini saya mau membahas masalah politik. Tapi yang ringan-ringan saja. Demi pengetahuan umat..

Terlepas dari pendukung Prabowo atau Jokowi, saya melihat pemilu kali ini adalah titik balik sejarah anak bangsa. Saya tidak netral, toh netral anggotanya tidak ada yang bernama Frans, anggaplah saya adalah musuh kedua kubu. Saya adalah kritikus permanen.

Di pemilu kali entah kenapa saya sangat senang juga sedih melihat sebagian besar orang akhirnya aktif (meninggalkan golput) dan menjadi pintar politik meskipun dadakan. Beberapa dari mereka menyadari arti penting berpolitik. Beberapa kembali lagi menelusuri jejak sejarah politik negeri ini, beberapa juga menjadi Tuhan politik yang pendapatnya selalu benar dan yang tidak sejalan adalah salah. Ada juga yang merasa ini saatnya mengenal negara ini..

Saya sendiri tidak berminat terjun ke dalam kubangan politik. Meskipun begitu, bukan berarti saya masa bodoh dengan politik. Paling tidak, saya tahu pergerakan negeri ini. Minimal, saya tahu tentang politik. Tidak ikut, tapi saya belajar sekedar untuk mengenal.

Pemilu kali ini juga membawa dampak besar terhadap ramainya gaung politik yang selama ini hanya memperdengarkan masalah korupsi dan anggota DPR. Masyarakat akhirnya menyadari ada sisi lain dari politik. Mereka seolah bergairah untuk mengikuti setiap langkah perubahan yang terjadi. Sangat berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya.

Tumbenlah saya dengar ada tukang becak, tukang jamu, buruh, petani, nelayan dan tukang ojek begitu antusias ikut campur dalam zona yang digadang-gadang khusus kaum elit. Ada perasaan bersemangat melihat mereka begitu sadar ingin ikut mewarnai perubahan negeri ini. Beda kasus dengan jaman-jaman sebelumnya yang keterlibatan orang-orang tersebut hanya sebatas barter suara dengan kaos dan uang beberapa puluh ribu.

Politik kini menjadi bahan pembicaraan yang umum tanpa sekat. Saya kemaren juga sempat ketemu teman lama dengan pertanyaan pembuka : “Pilih Jokowi apa Prabowo?”, katanya.. Dampak yang begitu besar hingga jadi obrolan warung kopi di desa-desa. Meskipun saya kurang yakin bangsa ini tambah pintar. Mereka hanya mengurangi kebodohan atas pembodohan.

Banyak orang-orang mencari tahu agar menjadi tambah pintar dalam berdebat ataupun sekedar untuk komentar. Ditambah lagi media sosial yang bagai tsunami. Begitu banyak orang menjadi kebenaran. Bahkan Tuhan pun kalah benar. Saya pun juga membenci politik yang mengait-ngaitkan dengan agama. Ibarat berenang sambil melukis, mungkin saja tapi akan sangat sulit.

Untuk saya sendiri, saya juga bergairah sejak lama akan politik. Tapi tidak dengan kasusnya, saya tertarik hanya kepadah biografi tokoh-tokoh politik dan sejarah dibalik peristiwa-peristiwa perubahan negara ini.Tapi gara-gara pemilu kemaren, saya kembali membuka arsip-arsip mulai dari awal masuknya VOC (buku Sejarah Tanah Jawa/JJ. Stockdale), berdirinya Freeport, Gestok, Malari, Tragedi 98, Timor-timur, sampai ke terbentuknya pemuda pancasila, dan juga dibalik layar presiden-presiden Indonesia..

Politik bagi saya adalah pembentuk corak negeri ini. Boleh dianggap, politik adalah bagian dari budaya. Hanya saja, politik pada masa-masa kini terlalu kotor untuk didekati. Politik juga yang menjadikan saya membodoh-bodohi banyak orang.  Politik juga turut andil atas lahirnya banyak pemuda macam saya dan teman-teman.

Maka dari itu, utamakan belajar terlebih dahulu. Politik menuntut orang yang benar-benar berkualitas baik sebagai pemain maupun penonton. Jangan setengah matang ataupun amatiran, nanti kalau kotor susah dibersihkannya..

 

 

pol


Mari Mendaki

12 Agustus 2014

Saya ingat sebuah kejadian ditahun 2009 dulu di sebuah kucingan depan kampus sastra undip, sedikit malam waktu itu. Ketika itu saya sedang makan mie rebus dengan ganasnya karena seharian belum makan. Saya lagi nongkrong sama anak-anak belakang yang tiba-tiba datang satu orang lagi yang ikut duduk di lesehan sambil cengar-cengir.

“Aku udah ke 37 lho, kapan kowe-kowe nyusul?”, katanya.. Terus temannya bilang “Itu si Frans udah 38 malah”. Pertamanya saya bodo amat percakapan mereka karena saya nggak ngeh bahasa kode mereka, tapi karena nama saya sudah disebut, saya harus ikut campur dalam obrolan itu dan meninggalkan sejenak mie rebus saya.

Ternyata mereka lagi bicara tentang gunung-gunung yang sudah didaki. 37 adalah kode untuk Rinjani (3726 mdpl), dan 38 untuk Kerinci (3805 mdpl). Saya ingat betul ditahun-tahun itu banyak teman saya yang seperti berkompetisi dalam mendaki gunung. Tidak hanya gunung tertinggi yang mereka incar, tapi juga pendakian / gunung terbanyak. Momen itulah yang kadang membuat saya tersadar tujuan semula saya mendaki gunung…

Pertama kali saya naik gunung itu ketika kelas 2 SMP, saya diajak kakak saya sama rombongan organisasinya yang mahasiswa. Waktu itu saya buta sama sekali seperti apa naik gunung. Makanya barang bawaan saya waktu itu cuma jaket, coklat silverqueen, dan komik dragon ball nomer 42. Waktu SMP saya belum merokok, ditambah dari kecil saya memang anak kampung yang sering keluar masuk hutan, jadilah saya orang kedua yang sampai puncak bersama seorang mahasiswi cantik meninggalkan rombongan perokok di belakang.

Di situlah saya berkenalan dengan tenda gunung (bukan tenda pramuka), kompor lapangan, sleeping bag,  carriel, slayer, scebo, dan diri saya yang satu lagi.

Seringkali banyak orang bertanya buat apa naik gunung. Meskipun saya sudah mempersiapkan jawaban “naiklah ke gunung, dan temukan sendiri jawabannya”, tapi saya selalu saja diam ketika ditanya seperti itu. Seolah saya sendiri masih mencari jawaban atas pertanyaan yang sama..

Benar, saya puas saat mendaki dan sampai ke puncak, saya senang saat berhasil menaklukkan ego saya, saya menikmati saat menjadi diri saya yang lain, saya bersyukur mengetahui batas-batas kemampuan saya, saya suka saat-saat berkeringat dan tertawa lepas. Tapi saya belum yakin itulah yang saya cari. Saya masih menyisakan kekosongan di daerah sekitar hati. Seolah ada yang kurang.

Setelah 2010, saya meyakini bahwa jawabannya adalah saya ingin berdiskusi dengan Tuhan. Semakin tinggi gunungnya, semakin dekat saya mendengar-Nya. Jadilah saya pendaki yang religius. Religius saya tidak lantas bawa-bawa kain dan sejadah dan sholat di gunung, atau cari jurang buat tempat mati syahid. Saya hanya melontarkan banyak pertanyaan hidup dan berdiskusi satu arah kepada Tuhan. Lucu juga kalau ingat kejadian itu sekarang..

Saya yang sekarang sedikit rasional. Saya tidak lagi mencari jawaban-jawaban tersebut. Saya senang saja naik gunung. Saya juga senang berdiam di pantai. Atau masuk gua, atau menyelam di laut, mandi di sungai, atau jalan-jalan ke mall, tidur di kamar, atau sekedar jalan-jalan kaki. Biarlah pertanyaan itu terjawab di saat yang tepat. Di saat saya bisa memandang hidup lebih bijak dan adil..

Tidak ada lagi gunung yang lebih tinggi, gunung terbanyak di daki. Makanya saya tersenyum saja ketika kawan saya banyak yang berbicara Semeru, Rinjani, Raung, Kerinci, Leuser, bahkan Himalaya. Saya cukup senang bisa sekedar keluar rumah. Saya mencoba memaknai tiap langkah yang saya ambil. Saya adalah seorang pengamat Tuhan. Sebuah profesi yang aneh memang. Karenanya, semoga Tuhan juga maklum, menciptakan mahkluk yang seperti saya.. Hehe

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA


Randomize Past-Future

25 Juli 2014

Pagi tadi, saya kepikiran buat bikin biografi sendiri. Metodenya tulis di ms.word dulu, jadi kapan ingat bisa di up-date. Nanti dibagi waktu-waktunya. Ada masa kecil, SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, sampai nanti nikah ama Aura Kasih..

Saya mulai membayangkan ini gara-gara sering ingat beberapa kejadian masa lalu tapi tidak berurutan. Dari pada saya bikin diary, mending saya bikin autoboigrafi.

Selain saya suka masa lalu, ingatan saya juga buruk. Jadi lumayanlah kalo ada tulisan sendiri, sukur-sukur ada fotonya. Yah, untuk kapasitas otak saya saat ini, cuma inilah mesin waktu yang mampu saya buat. Semoga Jayalah sendiri Indonesia!!

 

————————————————————————————————

NB: Sorenya setelah pagi memikirkan ini, saya juga kepikiran masalah nama. Tiap akun media sosial, forum ataupun website dunia maya yang saya daftar kan (FB, twitter, blog, wordpress, goodreads, soundcloud, kaskus, ymail, gmail, kompasiana, skype, 4shared, bubblews, pinterest, kwikku, duolingo, dsb) saya menggunakan nama lain dan terkadang tidak melampirkan foto diri.

Ada dua alasan yang bisa saya berikan atas perbuatan saya itu. Pertama, saya tidak ingin di masa depan nanti anak, cucu, dan seluruh keturunan saya tahu seberapa alay dan anehnya saya di masa ini. Ketika nanti teknologi semakin canggih, informasi semakin mudah, dan anak saya serta keturunannya membaca apa yang pernah saya tulis di internet dan dunia maya, maka habislah saya. Dan kemungkinan teman-temannya juga akan membaca dan habislah anak saya di bully.

Alasan kedua, menggunakan biodata decoy (bukan akun palsu, tapi disamarkan) membuat orang jenis ambivert seperti saya nyaman menjalankan kehidupan di dunia maya. Tidak perlu cemas, dan tidak ketahuan kalau sedang senang.

Dan sungguhpun, alasan pertama memang menjadi kekhawatiran saya. Apalagi kalau keturunan saya menemukan dan membaca blog ini, hancur sudah rencana saya membangun imej sebagai bapak yang bijaksana nan rendah hati. Ah, masa depan memang menakutkan..

 

_MG_0279


Moooeeeediiiiikk…!!!

24 Juli 2014

Setelah bertahun-tahun di tanah rantau, tumbenlah saya tahun ini bisa ikut mudik. Sayangnya, orang yang paling menjadi alasan saya untuk mudik sudah tidak ada lagi. Ah, mama saya memang orang hebat. Bisa-bisanya membuat anak sekeren saya ini rindu berlebihan. Sekarang, walaupun senang untuk mudik, tapi kurang menarik. Entah kenapa rumah yang besar itu kini makin suram. Dunia di rumah itu kini mendekati black hole.

Terlalu banyak peninggalan mama yang tersisa dirumah. Seumur-umur, di rumah belum pernah ada kursi roda, tabung oksigen, selang pernafasan, dan Buku Yassin bergambar beliau. Suasana rumah jadi ikut terkubur meski telah lewat satu tahun.

Padahal saya dulu selalu berusaha sekuat tenaga untuk bisa mudik. Sayangnya saya sadar, untuk mudik tidak hanya dibutuhkan sekedar tenaga.. Selalu harapan saya cuma untuk merasakan suasana rumah. Untuk menyimpan kenangan lebih lama. Sekalinya bisa mudik, keadaan rumah tak lebih baik daripada tanah perantaun. Sepi, senyap, hening, dan miskin tawa.

Ada beban yang tak ingin dibagi. Banyak tumpukan yang harus diselesaikan sendiri. Nilai-nilai yang diajarkan masih tersusun rapi, nasehat bijak tetap terjaga di dada kini, keinginan satu masih menanti, semoga kau di sana tersenyum hingga ke hati..

 

tour de magelang


WC

11 Juli 2014

Saya itu, setiap harinya bisa 5 sampai 10 kali ke WC. Tapi keadaan ini tidak lantas menjadi hobi, atau membuat saya mencintai WC, atau menjadi kesenangan, atau menjadi tempat paling menarik, atau bahkan juga tidak menjadikan WC sebagai tempat ibadah. Yah, meskipun di sini tempat biasanya saya menyucikan diri (mandi wajib dan berwudhu), buang air (kecil, besar, sangat besar), nyuci baju, dan berbagai aktivitas air lainnya.

Di WC seringkali terjadi perenungan-perenungan nasib, pendalaman-pendalaman teori, munculnya berbagai pertanyaan hidup, melintasnya kenangan-kenangan lama, harapan-harapan akan masa depan, dan terbukanya otak ke bagian yang paling luas. Disadari atau tidak, di WC lah kita menyadari bermacam-macam hal.

WC adalah tempat terhormat di mana ia menerima baik dan buruk dari manusia. WC menjadi tameng sebagai pembersih dari rutinitas manusia. Ia hadir sebagai pelengkap norma-norma kehidupan. Tak pernah mengeluh dan selalu berurusan dengan air dan kotoran. Saling melengkapi. WC tanpa kotoran tak ada fungsinya. Begitupun juga WC tanpa air, ibarat dompet tanpa uang, tak ada gunanya.

Apalah arti kehidupan manusia tanpa WC?… Bau? Bergelimpangan kotoran? Punahnya indera penciuman? Murahnya harga mawar? Oh, dan tentu bangkrutnya pabrik parfum.. Sedasyat itukah pengaruh WC? Saya berani bilang YA!!

Banyak peneliti yang telah menyatakan 47 % perkataan saya ini benar berdasarkan fakta. Karena apa? Karena yang 53% lagi malah pilih Jokowi..

 

 

Ini adalah filosofi foto, jangan di pandang mentah-mentah! (*ngeles)

Ini adalah filosofi foto, jangan di pandang mentah-mentah!
(*ngeles)


Bilik Bambu Beratap Jerami, Kata Godbless

1 Juli 2014

Saya pindah ke rumah baru. Dapat kamar paling depan, yang mengharuskan saya berhadapan langsung dengan matahari mulai dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore. Kamar dengan suasana seperti ini pernah saya dapat ketika umur 4 tahun. Samar-samar saya masih mengingat sensasi cahaya oranye dengan senja redup perlahan turun ketika dulu. Sayangnya dulu ada suasana keriangan masa kecil, kebersamaan keluarga, kesenangan tanpa uang, dan banyak bibit kebahagiaan.

Kamar ini sekarang sangat mendukung berbagai aktivitas malas saya semacam tidur sambil berhujan sinar matahari, baca buku jenis filsafat atau kategori ilmiah lainnya, nulis sambil ngopi, ngetik dengan pose aduhai, main/meracau dengan gitar, mempelajari peta, imajinasi puisi, menghapal kenangan, merokok sambil dengar musik klasik, melupakan teknologi, nonton film animasi, merapal kamus jepang-jerman, atau kadang-kadang membaca buku yang sudah di baca untuk dicari kata-kata bagusnya. Semua saya lakukan agar terlihat cerdas sebenarnya.. hah.

Kamar dengan jendela rendah ini memungkinkan saya berinteraksi dengan dunia luar tanpa harus keluar yang akhirnya membuat saya betah berjam-jam mengurung diri tanpa harus mengkhawatirkan kehidupan di luar kotak. Saya suka zona nyaman. Dan anggaplah saya masih berpikiran di dalam kotak.

Karena bagi saya, kotak saya masih jauh lebih besar daripada out of the box orang-orang kebanyakan. Seperti kata Pidi Baiq yang entah berkorelasi atau tidak: Your Idol is my fans. Yang mereka pikir sudah berpikir di luar kotak mereka, ternyata masih berada di dalam kotak saya. Yang artinya juga, standar out of the box saya tidak main-main.

Sama dengan selera humor saya. Saya punya selera humor yang tinggi. Sangat tinggi. Monas kalah, yakin. Jadi humor yang garing atau sudah ketinggalan jaman, tolong jangan dibawa-bawa lagi. Takutnya, yang saya tertawakan adalah kapasitas otaknya, bukan humornya. Makanya saya suka jadi pendiam. Orang pendiam lebih senang mengamati. Kemudian menilai, dan beradaptasi. Kekuatan orang-orang pendiam berada pada alam bawah sadarnya. Dan hati-hati bertingkah laku kalau tidak mau di nilai “rendah”, karena orang-orang ini punya penilaian yang tajam. Jadi, waspadalah..

Karena lagi bulan puasa, saya cuma menulis yang ringan-ringan saja. Musik pun saya setel yang indie akustik. Untuk buku, mumpung keadaannya mendukung, saya mau baca Nietzche sama Ekky Al-Malaky. Puisi saya coba memahami Gibran lagi. Untuk gitarnya, saya mau coba belajar lagu blues, walaupun saya tahu hasilnya menakutkan. Filsafat saya tetap mencoba memahami filsafat barat walaupun terdengar agak mustahil untuk diterapkan. Film, saya masih suka animasi dan film-film yang tidak terlalu berat semacam film-film super hero.

Yah, namanya juga belajar.. Apalagi keadaannya lumayan mendukung. Belajar apa saja untuk membuat otak saya ada kerjaan. Biar tidak terlalu membebani isi dompet. Karena menurut pengalaman, satu-satunya hal yang mampu mengikat saya dari keliaran saya akan dunia luar adalah kamar yang nyaman.

Dan saya entah mengapa, sedikit takut keluar dari zona nyaman. Bukannya saya takut akan ketidaknyamanannya, tapi saya takut saya terlalu betah di zona tidak nyaman saya. Saya takut saya kembali lagi ke dunia luar. Saya takut menjadi angin yang pergi ke sana-kemari tanpa henti. Saya takut mengorbankan banyak hal lagi. Saya takut mengulang hal yang banyak mengecewakan orang-orang. Saya takut menjadi liar, tak terkendali, terlalu dinamis, dan saya takut keluar dari kotak saya…


Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: