Randomize Past-Future

25 Juli 2014

Pagi tadi, saya kepikiran buat bikin biografi sendiri. Metodenya tulis di ms.word dulu, jadi kapan ingat bisa di up-date. Nanti dibagi waktu-waktunya. Ada masa kecil, SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, sampai nanti nikah ama Aura Kasih..

Saya mulai membayangkan ini gara-gara sering ingat beberapa kejadian masa lalu tapi tidak berurutan. Dari pada saya bikin diary, mending saya bikin autoboigrafi.

Selain saya suka masa lalu, ingatan saya juga buruk. Jadi lumayanlah kalo ada tulisan sendiri, sukur-sukur ada fotonya. Yah, untuk kapasitas otak saya saat ini, cuma inilah mesin waktu yang mampu saya buat. Semoga Jayalah sendiri Indonesia!!

 

————————————————————————————————

NB: Sorenya setelah pagi memikirkan ini, saya juga kepikiran masalah nama. Tiap akun media sosial, forum ataupun website dunia maya yang saya daftar kan (FB, twitter, blog, wordpress, goodreads, soundcloud, kaskus, ymail, gmail, kompasiana, skype, 4shared, bubblews, pinterest, kwikku, duolingo, dsb) saya menggunakan nama lain dan terkadang tidak melampirkan foto diri.

Ada dua alasan yang bisa saya berikan atas perbuatan saya itu. Pertama, saya tidak ingin di masa depan nanti anak, cucu, dan seluruh keturunan saya tahu seberapa alay dan anehnya saya di masa ini. Ketika nanti teknologi semakin canggih, informasi semakin mudah, dan anak saya serta keturunannya membaca apa yang pernah saya tulis di internet dan dunia maya, maka habislah saya. Dan kemungkinan teman-temannya juga akan membaca dan habislah anak saya di bully.

Alasan kedua, menggunakan biodata decoy (bukan akun palsu, tapi disamarkan) membuat orang jenis ambivert seperti saya nyaman menjalankan kehidupan di dunia maya. Tidak perlu cemas, dan tidak ketahuan kalau sedang senang.

Dan sungguhpun, alasan pertama memang menjadi kekhawatiran saya. Apalagi kalau keturunan saya menemukan dan membaca blog ini, hancur sudah rencana saya membangun imej sebagai bapak yang bijaksana nan rendah hati. Ah, masa depan memang menakutkan..

 

_MG_0279


Moooeeeediiiiikk…!!!

24 Juli 2014

Setelah bertahun-tahun di tanah rantau, tumbenlah saya tahun ini bisa ikut mudik. Sayangnya, orang yang paling menjadi alasan saya untuk mudik sudah tidak ada lagi. Ah, mama saya memang orang hebat. Bisa-bisanya membuat anak sekeren saya ini rindu berlebihan. Sekarang, walaupun senang untuk mudik, tapi kurang menarik. Entah kenapa rumah yang besar itu kini makin suram. Dunia di rumah itu kini mendekati black hole.

Terlalu banyak peninggalan mama yang tersisa dirumah. Seumur-umur, di rumah belum pernah ada kursi roda, tabung oksigen, selang pernafasan, dan Buku Yassin bergambar beliau. Suasana rumah jadi ikut terkubur meski telah lewat satu tahun.

Padahal saya dulu selalu berusaha sekuat tenaga untuk bisa mudik. Sayangnya saya sadar, untuk mudik tidak hanya dibutuhkan sekedar tenaga.. Selalu harapan saya cuma untuk merasakan suasana rumah. Untuk menyimpan kenangan lebih lama. Sekalinya bisa mudik, keadaan rumah tak lebih baik daripada tanah perantaun. Sepi, senyap, hening, dan miskin tawa.

Ada beban yang tak ingin dibagi. Banyak tumpukan yang harus diselesaikan sendiri. Nilai-nilai yang diajarkan masih tersusun rapi, nasehat bijak tetap terjaga di dada kini, keinginan satu masih menanti, semoga kau di sana tersenyum hingga ke hati..

 

tour de magelang


WC

11 Juli 2014

Saya itu, setiap harinya bisa 5 sampai 10 kali ke WC. Tapi keadaan ini tidak lantas menjadi hobi, atau membuat saya mencintai WC, atau menjadi kesenangan, atau menjadi tempat paling menarik, atau bahkan juga tidak menjadikan WC sebagai tempat ibadah. Yah, meskipun di sini tempat biasanya saya menyucikan diri (mandi wajib dan berwudhu), buang air (kecil, besar, sangat besar), nyuci baju, dan berbagai aktivitas air lainnya.

Di WC seringkali terjadi perenungan-perenungan nasib, pendalaman-pendalaman teori, munculnya berbagai pertanyaan hidup, melintasnya kenangan-kenangan lama, harapan-harapan akan masa depan, dan terbukanya otak ke bagian yang paling luas. Disadari atau tidak, di WC lah kita menyadari bermacam-macam hal.

WC adalah tempat terhormat di mana ia menerima baik dan buruk dari manusia. WC menjadi tameng sebagai pembersih dari rutinitas manusia. Ia hadir sebagai pelengkap norma-norma kehidupan. Tak pernah mengeluh dan selalu berurusan dengan air dan kotoran. Saling melengkapi. WC tanpa kotoran tak ada fungsinya. Begitupun juga WC tanpa air, ibarat dompet tanpa uang, tak ada gunanya.

Apalah arti kehidupan manusia tanpa WC?… Bau? Bergelimpangan kotoran? Punahnya indera penciuman? Murahnya harga mawar? Oh, dan tentu bangkrutnya pabrik parfum.. Sedasyat itukah pengaruh WC? Saya berani bilang YA!!

Banyak peneliti yang telah menyatakan 47 % perkataan saya ini benar berdasarkan fakta. Karena apa? Karena yang 53% lagi malah pilih Jokowi..

 

 

Ini adalah filosofi foto, jangan di pandang mentah-mentah! (*ngeles)

Ini adalah filosofi foto, jangan di pandang mentah-mentah!
(*ngeles)


Bilik Bambu Beratap Jerami, Kata Godbless

1 Juli 2014

Saya pindah ke rumah baru. Dapat kamar paling depan, yang mengharuskan saya berhadapan langsung dengan matahari mulai dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore. Kamar dengan suasana seperti ini pernah saya dapat ketika umur 4 tahun. Samar-samar saya masih mengingat sensasi cahaya oranye dengan senja redup perlahan turun ketika dulu. Sayangnya dulu ada suasana keriangan masa kecil, kebersamaan keluarga, kesenangan tanpa uang, dan banyak bibit kebahagiaan.

Kamar ini sekarang sangat mendukung berbagai aktivitas malas saya semacam tidur sambil berhujan sinar matahari, baca buku jenis filsafat atau kategori ilmiah lainnya, nulis sambil ngopi, ngetik dengan pose aduhai, main/meracau dengan gitar, mempelajari peta, imajinasi puisi, menghapal kenangan, merokok sambil dengar musik klasik, melupakan teknologi, nonton film animasi, merapal kamus jepang-jerman, atau kadang-kadang membaca buku yang sudah di baca untuk dicari kata-kata bagusnya. Semua saya lakukan agar terlihat cerdas sebenarnya.. hah.

Kamar dengan jendela rendah ini memungkinkan saya berinteraksi dengan dunia luar tanpa harus keluar yang akhirnya membuat saya betah berjam-jam mengurung diri tanpa harus mengkhawatirkan kehidupan di luar kotak. Saya suka zona nyaman. Dan anggaplah saya masih berpikiran di dalam kotak.

Karena bagi saya, kotak saya masih jauh lebih besar daripada out of the box orang-orang kebanyakan. Seperti kata Pidi Baiq yang entah berkorelasi atau tidak: Your Idol is my fans. Yang mereka pikir sudah berpikir di luar kotak mereka, ternyata masih berada di dalam kotak saya. Yang artinya juga, standar out of the box saya tidak main-main.

Sama dengan selera humor saya. Saya punya selera humor yang tinggi. Sangat tinggi. Monas kalah, yakin. Jadi humor yang garing atau sudah ketinggalan jaman, tolong jangan dibawa-bawa lagi. Takutnya, yang saya tertawakan adalah kapasitas otaknya, bukan humornya. Makanya saya suka jadi pendiam. Orang pendiam lebih senang mengamati. Kemudian menilai, dan beradaptasi. Kekuatan orang-orang pendiam berada pada alam bawah sadarnya. Dan hati-hati bertingkah laku kalau tidak mau di nilai “rendah”, karena orang-orang ini punya penilaian yang tajam. Jadi, waspadalah..

Karena lagi bulan puasa, saya cuma menulis yang ringan-ringan saja. Musik pun saya setel yang indie akustik. Untuk buku, mumpung keadaannya mendukung, saya mau baca Nietzche sama Ekky Al-Malaky. Puisi saya coba memahami Gibran lagi. Untuk gitarnya, saya mau coba belajar lagu blues, walaupun saya tahu hasilnya menakutkan. Filsafat saya tetap mencoba memahami filsafat barat walaupun terdengar agak mustahil untuk diterapkan. Film, saya masih suka animasi dan film-film yang tidak terlalu berat semacam film-film super hero.

Yah, namanya juga belajar.. Apalagi keadaannya lumayan mendukung. Belajar apa saja untuk membuat otak saya ada kerjaan. Biar tidak terlalu membebani isi dompet. Karena menurut pengalaman, satu-satunya hal yang mampu mengikat saya dari keliaran saya akan dunia luar adalah kamar yang nyaman.

Dan saya entah mengapa, sedikit takut keluar dari zona nyaman. Bukannya saya takut akan ketidaknyamanannya, tapi saya takut saya terlalu betah di zona tidak nyaman saya. Saya takut saya kembali lagi ke dunia luar. Saya takut menjadi angin yang pergi ke sana-kemari tanpa henti. Saya takut mengorbankan banyak hal lagi. Saya takut mengulang hal yang banyak mengecewakan orang-orang. Saya takut menjadi liar, tak terkendali, terlalu dinamis, dan saya takut keluar dari kotak saya…


Indonesia Di Mata Video

28 Juni 2014

Barusan saya nonton film robocop yang terbaru, lumayan bagus, tapi saya sedang tidak mau membahas filmnya. Ada sesuatu yang menarik di akhir film, saya mendengarkan lagu Greenday. Setahu saya, Greenday adalah salah satu band yang dengan lantangnya terus mengkritisi pemerintah Amerika lewat lagu-lagunya. Walaupun lagunya dinyanyikan band lain, tapi ini cukup mengagetkan saya. Kita tahu bahwa pemerintah Amerika sangat sensitif terhadap kritik apalagi yang berasal dari anak bangsanya sendiri. Negara demokrasi paling tidak demokratis itu lewat hollywoodnya meloloskan film yang endingnya terdapat lagu pengkritik sekelas Greenday. Aneh, tidak peduli, terlewatkan atau kurang teliti?

Bicara tentang lagu, saya jadi teringat ketika di 2007 seorang teman menawarkan film indie Amerika yang ternyata didalamnya ada lagu Bengawan Solo. Waktu itu saya tidak terlalu peduli sebenarnya karya Gesang tersebut beredar dimanapun. Tapi mengingatnya sekarang, saya jadi kembali mengingat dimana Nama Indonesia pernah terlihat bahkan di film-film dengan level hollywood.

Beberapa minggu yang lalu, saya dapat tugas kuliah membuat makalah tentang literatur bangsa Australia. Saya agak terkejut karena produser yang saya cari biografinya ternyata pernah membuat film The Year of Living Dangerously, sebuah film tentang Indonesia di masa Soekarno pada tahun 1965. Meskipun saya pernah mendengar sebelumnya, tapi saya baru sadar sekarang. Sedikit telat memang..

Ada lagi Film Anaconda yang berlatar di hutan Kalimantan. Belum lagi film The Raid, FF6. Juga yang saya tonton kemaren, Man Of Tai Chi, ada Iko Uwais dan Keanu Reeves. Beberapa video musik berlatar belakang bali seperti MLTR. Bahkan Iklan pariwisata negeri maling Malaysia juga menampilkan Indonesia. Juga film yang cuma saya lihat iklannya seperti The Philosoper dengan Cinta Laura dan film yang settingnya di Jogja, Solo dan Dieng tentang penculikan putri keraton saya lupa judulnya. Ada juga film yang terkenal karena terdapat kapal yang bertuliskan Surabaya, tapi saya lupa filmnya. Ada juga katanya film Agnes Monica, tapi saya malas membahasnya. Juga Eat, love, and Pray. Beberapa saya ingat film yang menyebutkan Indonesia tapi saya lupa filmnya. Tapi yang pasti bukan film perang dan bukan kolosal. Kebanyakan hanya sekedar lewat dan bukan pemeran utama memang.

Kesimpulannya, yah lumayanlah daripada tidak dikenal. Dunia hanya ingin tahu daerah-daerah tertentu dengan ciri khas masing-masing. Mereka belum mengenal Indonesia sepenuhnya. Bahkan beberapa bule yang saya temui malah menganggap Indonesia adalah bagian dari Bali. Jakarta hanya Kota terpadat. Kalimantan isinya hanya hutan. Papua tempat sisa-sisa orang primitif. Dan Sumatra, hanyalah pemain cadangan.

Dan kita, hanya sedikit lebih tahu dari pada bule-bule tersebut. Sedikit. Hanya sedikit…. itupun hanya beberapa orang. Orang-orang kita, adalah bangsa yang masih saja berbangga bisa pergi ke luar negeri. Saya belum ke luar negeri. Anggap saja saya hanya iri. Tapi, pernahkah terpikir jika orang kita pergi keluar negeri dan ditanya oleh orang bule: Negara seperti apa Indonesia? Dan kita hanya bingung menjelaskan satu tempat yang hanya kita ketahui: BALI.

Kita adalah orang-orang yang melihat semut di seberang, tapi buta gajah di depan mata. Di negeri sendiri pun, kita hanya berwisata dan berfoto untuk kemudian disebarkan lewat media sosial. Kita tidak pernah tahu Ibu negara Fatmawati dan emas di Monas berasal dari Bengkulu. Ledakan terbesar di Indonesia adalah Gunung Rinjani. Papua adalah pulau dengan bahasa terbanyak di dunia. Negara kita punya bahasa dan suku terbanyak. Kita termasuk negara terluas, terkuat, terpintar, terpadat, terkaya, tertua, beragam, teramah, terhebat, dan terlunta-lunta.

Pernah membaca kata-kata Soe Hok Gie tentang bangsa kita? Saya malas menjelaskan. Pernah baca tentang Che Guevara bagaimana seorang anak bangsa seharusnya? Minimal kata-kata Soekarno tentang anak mudanya?

Kita adalah era degradasi. Satu-satunya yang maju di negara kita hanya teknologi. Anak mudanya tidak lebih baik dari 100 tahun yang lalu. Di otak mereka hanya gadget, fashion, dan tampil menarik di depan lawan jenis. Seperti kata Pak Jusuf Kalla, Hanya ada dua sebab bendera kita dikibarkan negara lain, presidennya datang, atau atlet kita menang.

Seharusnya kita memang dijajah sekali lagi. Agar kalian tahu tempat di mana kita berpijak. Tempat kita dilahirkan dan seharusnya mati. Tempat di mana kita adalah raja, yang tahu setiap jengkal tanah yang kita miliki. Indonesia tidak butuh kita. Kita yang terikat oleh tanah ini. Kalau kerja kita hanya makan tidur kerja kawin dan mati, lakukan ditempat lain sama saja. Hanya, kita cuma jadi debu yang datang dan hilang setelah angin bertiup. Mati hanya membawa nama. Mati tanpa kebanggaan. Mati yang sia-sia..

*SALAM


Pelangi Itu Ada 2 Jenis, Salah Satunya Kamu..

14 Juni 2014

Kebetulan tadi kerumah temen bawa harddisk eksternal yang entah sudah berapa tahun tidak saya jamah. Rencananya sih tadi mau ngerampok foto-foto waktu jalan-jalan kemaren. Kebetulan dapet temen potograper amatiran, lumayan manis, anak orang kaya, sayang dia cowok.. huehue.

Terus dia buka itu folder foto, karena dia penasaran kalo dulu saya pernah cerita jadi backpacker kere 7 tahun. Dia terpana? terkejut? menyembah-nyembah sujud? kejang-kejang sambil salto? Enggak! Muka datarnya bilang begini: bagus sih, bang.. cuma, kok isinya gunung semua? *JREEENGGG

Sampai rumah saya cek lagi itu foto-foto di harddisk karena udah lama jablay dan tercuekkan. Foto-foto saya dikala muda begitu gagahnya menyentuh puncak langit. Hehe. Sambil menenteng carriel full-pack dengan atribut lengkap. Wuih.. Saya ternyata dulu kuat juga ya ngangkut carriel isi mesin cuci begitu, pikir saya. FYI, carriel saya itu, kosongan aja beratnya lebih 10 kg lebih, lho. Apalagi full-packnya yang 80 liter.. Darah muda memang ngeri!

Seingat saya, cuma beberapa gunung aja yang saya daki dengan carriel full-pack. Gunung Gede, Sumbing, Merbabu, Lawu sama Ungaran. Sisanya Summit Attack, Carrielnya tinggal di pos terakhir. Artinya, saya dulu kuatnya cuma dari tahun 2006-2008, cuma 2 tahun.. :p .

Selain malas olahraga, sayanya juga perokok berat sekarang. Makanya kalau diajak naik gunung saya mikir-mikir. Kalaupun jadi naiknya, saya mikir-mikir lagi kalau mau sampai puncaknya, paling cuma batas pos 2. Kalaupun cuma ngecamp di pos 2, saya mikir-mikir juga kalau bawa carriel, paling juga pake daypack. Entah kenapa pergi ke gunung jadi ga asik lagi kalo udah mikir barang bawaan.. Bukan masalah capeknya, tapi pegelnya. Belum lagi kram otot, salah urat, sama keseleo pinggang. Duh salep lapan-lapan..

Tapi kangen juga liat saya yang dulu. Pake iket kepala, slayer di tangan, ransel full, sarung tangan, sepatu tetep converse, jaket tebal, celana kargo, tidak lupa daleman juga, sambil keringetan ngisep rokok.. Aih, cakep pisan pokokmen mah. Kalo bisa ya, saya udah jatuh cinta nih sama saya sendiri, tapi takut nanti dikira homo, saya ga jadi suka sama diri saya sendiri.. Hufftt.

Pokoknya, saya yang dulu lumayan gagahlah kalo di gunung. Minimal, lebih gagah dari monyet gunung kebanyakan lah.. Jadi minder kalo dibandingin sama saya yang sekarang. Minder-minder asem gimanaaaaa, gitu. Untung saya pake biore, jadi jeleknya ketutupan sabun muka.. Ah, moga-moga niat olahraga saya bisa tumbuh lagi. Biar jadi anak sehat lagi. Dan bisa nenteng ransel sampai ke puncak lagi… Amin… Tolongin chacha, ibu periiiiiiiiiiii

 

life

DIA ANJANI


Dulu Adalah Asik

10 Juni 2014

Malam-malam begini biasanya saya duduk berdua bersama kenangan di depan rumah sambil merokok dan ngopi. Hapenya saya hidupkan kemudian saya panggil beberapa grup band untuk saya suruh nyanyi di hape yang sudah disodomi headphone.

Malam ini spesial, karena apa? karena pulsa saya baru diisi. Dan karena spesial, saya panggil band-band khusus layaknya Efek Rumah Kaca, Payung Teduh, The Panas Dalam, Sore, Dialog Dini Hari, Mocca, sama Gugun Blues Shelter. Rokok sudah batang ke-3 dan saya masih duduk diam berdua kenangan.

Tiba-tiba kenangan tentang uang beberapa tahun lalu terlintas. Saya ingat betul, beberapa tahun yang lalu saya akrab sekali dengan uang. Kami seolah tak terpisahkan satu sama dua. Meskipun ia banyak datang dari tempat-tempat tak terduga, bahkan tempat sampah, tetap saja saya bisa menerimanya dengan tulus. Kami seolah tak terpisahkan kala itu.

Tapi lihatlah kini. Uang dan saya sudah mulai renggang, sering musuhan. Kadang gara-gara masalah sepele, ia sering meninggalkan saya. Saya juga bingung kalau dia lagi hilang, mau cari kemana padahal saya katanya sibuk kuliah. Ah, saya yang pemalas..

Hubungan kami akhir-akhir ini memang buruk. Saya tidak pernah bisa menjamin ia selalu bisa disamping saya. Saya seolah menjadi teman yang jahat bagi uang. Tak pernah bisa menjaganya dengan segenap kekuatan saya. Kadang ia “diculik” petugas pom bensin,  pemilik kios rokok, atau ibu kantin dan saya hanya bisa diam saja. Berdiri mematung meratapi nasib.

Aduh, tega nian saya ini. Sejenis teman tak bertanggung jawab saya jadinya. Harapan saya sih, semoga di masa depan kami bisa akrab kembali. Bisa berkumpul, selalu bersama dalam keadaan senang ataupun senang banget. Eh, ini tulisannya sesuai judul enggak ya?

 

- Padang, 10 Juni 2014, Waktu Indonesia Tidur -

 

 

Kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia!

Kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia!


Hey June..

7 Juni 2014

Bulan Juni banyak melahirkan tokoh-tokoh hebat semacam Sukarno, Che Guevara, Angelina Jolie ( :p ), Miyamoto Mushashi, BJ Habibie, juga Geronimo. Saya akui bulan ini adalah bulan baik lahirnya para pemberontak. Banyak para penentang lahir di bulan ini..

Termasuk ke empat saudara saya. Uniknya keluarga saya, punya anak dengan tahun lahir yang punya selang waktu 3 tahun, 2 tahun, 3, 2, 3 lagi. Jadi kami berlima punya jarak yang seolah-olah terencana dengan baik (mungkin orang tua saya berasal dari suku Maya? :p ). Dua diantaranya malah punya tanggal yang sama di bulan Juni.

Ke empat kakak saya lahir di bulan ini, dan saya seperti biasa, anti mainstream.. Saya malah lahir di bulan Maret yang konon malah di tanggal 29 Februari. Kata Ayah saya, karena kasihan saya ulang tahunnya 4 tahun sekali ( di tanggal tua pula), maka tanggalnya di majuin satu hari, jadinya tanggal 1 Maret. Ini konon, lho. Tidak tahu benar apa benar banget..

Uniknya bulan Juni juga, hampir semua presiden Indonesia lahir di Bulan ini. Salah satu kakak saya juga lahir di tanggal yang sama dengan Soeharto. BTW, Pemberontak-pemberontak yang saya sebut di atas selalu berhubungan dengan Amerika. Bahkan melakukan perlawanan terhadap Amerika.

Anggap saja Juni adalah Bulan Apatis. Bulan sial bagi kapitalis. Yang selalu melahirkan pemuda-pemuda kritis. Hebatnya orang-orang tersebut dihormati secara simbolis. Dengan gambar wajah yang selalu optimis. Penanda perjuangan tak kan pernah habis.

Semoga kakak-kakak saya juga mewarisi semangat bulan Juni ini. Agar nantinya saya bisa bercerita sambil membanggakan mereka kelak di depan anak-cucu saya.. Ya, semoga.

Selamat Bulan Juni, brothers..!

 


Rencananya sih, Ini Puisi

3 Juni 2014

Di hadapanmu hatiku jatuh.
Jatuh berdebum, keras, tanpa pikir panjang.
Untungnya hatiku adalah hati seorang pejuang.
Pejuang yang bangkit tiap kali terjatuh.

Hah, wanita..

Sadari juga aku tak bisa terus bersamamu.
karena aku pun juga harus ke WC dan kadang jumatan.
Cukuplah kita saling merasa..

Semoga bencimu bertepuk sebelah tangan..


You may say i’m a dreamer. But I’m NOT the only one..

26 Mei 2014

Ini tentang dunia saya, dunia petualangan.

Seumur hidup, bahkan saya tidak pernah terpikir dan membayangkan untuk mendaki Everest, Seven Summit, bahkan Jaya Wijaya. Meskipun ada keinginan untuk berada di puncak gunung-gunung tersebut, tapi saya tidak pernah terpikir untuk mendakinya. Mungkin, saya pengecut. Atau bisa jadi saya tau diri.

Saya yang sekarang, untuk mendaki gunung di atas 2500 MDPL saja saya berpikir 5 kali. Mulai dari masalah keuangan, kaki, paru-paru, sampai masalah hari libur.

Saya masih ingat, saat-saat menaiki puncak Rinjani, gunung tertinggi yang pernah saya daki, berdua dengan kawan lama, membawa Carriel terberat yang pernah saya pikul, bermodal nekat uang 200rb, pergi bertahan selama 2 minggu di Lombok dan Bali, sambil menahan sakit gigi mulai dari basecamp pertama hingga pulang ke Semarang.

Uang 200rb yang saya dapat dari uang hasil bekerja sebagai penerjemah borongan. Pergi meninggalkan bangku kuliah, membawa alat seadanya, cuma berdua, tanpa satupun petunjuk dan informasi daerah tujuan, dan tanpa sepengetahuan orang tua.

Saat itu, dunia saya begitu sempit. Hanya terbagi Iya atau Tidak. Jalan atau berhenti. Saya menjadi diri saya yang paling Hyper Ego. Keinginan saya sederhana, menginjakkan kaki di puncak. Hingga akhirnya saya tersadar banyak hal yang saya lewati begitu saja, saya sepelekan. Lihat dan buang. Sesederhana itu. Saya terlalu naif sebagai anak muda. Terlalu angkuh sebagai petualang. Dan terlalu acuh sebagai anak.

Salah satu hal yang paling saya sukai dalam mendaki gunung adalah saat saya memandangi gunung yang akan saya daki dari jalan raya. Saya perhatikan baik-baik dari jauh, betapa tingginya tujuan saya itu. Begitu kokoh, indah, dan tak terjangkau. Dan setelah saya tiba di puncaknya dan turun gunung, saya perhatikan lagi gunung tersebut dari jalan raya yang sama, sambil tersenyum saya berterima kasih dalam hati.

Memang, udara pegunungan sangat saya sukai. Saat-saat diterpa hujan, bergumul keringat, bertemu pendaki-pendaki lain, perang mental, terlihatnya sifat asli kawan-kawan, menahan dingin, berada di ketinggian, tidur beratap bintang, menahan lapar dan haus, menggigil, tersengat matahari, bau-bauan khas, gerah, sempit, membayangkan rumah, kasur dan makanan hangat. Saya rindu semua itu ketika berada di rumah. Tapi saya agakjengkel juga kalau hal itu sedang saya alami. Benci tapi rindu, kata lagu.

Dunia seperti itu telah saya rencanakan untuk terus ada hingga saya punya cucu. Saya ingin saya terus mengenang setiap langkah yang saya ambil, meskipun ingatan saya buruk. Saya tidak ingin rugi banyak atas waktu-waktu yang telah saya korbankan. Dari dulu saya telah berencana untuk membuat setiap perjalanan saya terekam baik lewat tulisan maupun gambar. Sayangnya saya teramat malas melakukan hal-hal besar. Dan semoga imajinasi saya masih bagus, begitupun dengan sudut pandang saya.

Ketika semua ada saatnya, manusia pasti merindukan masa lalu dan berharap bisa membalikkan waktu. Setiap kita pasti pernah berharap sama. Kembali untuk mengulang atau memperbaiki. Ingatan menjadi sahabat. Kenangan merajai otak. Dan saya, masih berharap akan masa lalu. KAU.


Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: