Mimpi Suatu Hari Nanti

7 Maret 2013

Suatu hari nanti, kita akan membangun sebuah rumah kecil, tak lebih dari dua kamar.

Rumah kayu berdinding anyaman rotan dengan halaman luas bertanah kering keras kecokelatan yang berdiri beberapa pohon buah dengan daun rimbun yang kamu sapu setiap pagi. Halaman belakangnya berderet hamparan sawah sejauh mata memandang.. Lalu kamu kubuatkan sebuah warung kecil di depan rumah agar nanti kau tak bosan. Kita akan punya 2 ekor kucing dan 4 ekor burung merpati. Aku beternak ayam dan membuat kolam-kolam ikan di dekat sawah. Disamping rumah nanti akan kamu tanami dengan tumbuhan-tumbuhan obat, juga bumbu-bumbu masakan.

Lalu kita punya 3 anak yang masing beda 3 tahun umurnya. Laki-laki yang tertua, perempuan, kemudian laki-laki lagi. Kita mengajarkan mereka kesederhanaan. Tidak lupa sholat dan bersyukur setiap pagi sebelum memulai hari. Tak ada satupun teknologi di dalam rumah kecuali radio usang pemutar musik. Kita biarkan anak-anak kita bermain dengan alam, dengan lingkungan alaminya. Biar mereka berteman dengan siapa saja, dengan tetangga, dengan pohon, dengan kerbau, dengan lumpur, dengan hujan, juga dengan matahari.

Di pagi hari, setelah sholat subuh dah kamu habis menyapu, kita mandi beramai-ramai disungai pinggir sawah, lalu kita berjemur diatas batu besar sambil bermain. Bersama-sama menatap matahari sambil mendengarkan keinginan anak-anak jika sudah besar nanti.

Setiap sore aku akan mengajari mereka mengaji di balai beranda rumah. Ku kumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membangun musholah di dekat rumah. Aku ajarkan anak-anak kita kejujuran dan cita-cita. Sebelum tidur selalu saja mereka akan kutanya, “Hari ini, hal baik apa yang sudah kalian lakukan?”.

Oya, aku akan beli satu gitar akustik murah untuk kumainkan pada hari sabtu dan minggu. Biar anak-anakku tahu aku bukan orang tua kaku yang membenci duniawi. Akan kupaksa mereka menyukai musik, apapun jenisnya. Agar mereka tahu semangat hidup itu datang melalui suara..

Di akhir bulan, kita akan makan daging walaupun sedikit. Satu orang hanya dapat satu iris. Daging yang didapat dari hasil panen buah dan ikan, juga telur ayam. Kalau sedang musim mudik, kolam ikan akan kujadikan kolam pemancingan umum untuk orang-orang kota yang bosan berada di desa. Anak-anak kita akan menyewakan alat pancing dan kursi. Biarpun sedikit-sedikit mereka mengerti bagaiman mencari uang.

Anak-anakku akan kuajari hidup sehat dan makan teratur. Aku tidak ingin anak-anakku berurusan dengan dokter ataupun rumah sakit.  Jangan membenci makanan apapun kecuali yang haram, itu selalu pesanku di meja makan kita yang bentuknya seperti meja tulis sekolah. Aku juga akan membeli 2 buah sepeda untuk kendaraan sehari-hari dan juga untuk mengantar anak-anak ke sekolah.

Kalau ada waktu senggang, aku akan membuatkan anak-anak mainan dari bambu di dekat sawah. Kadang-kadang kubikin kuda, enggrang, mobil-mobilan, kadang juga gantungan kunci yang bagus, agar mereka bisa pamer ke teman-teman di sekolahnya.. Kuajarkan juga mereka bagaimana merawat hewan, menyayangi sesama makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

Di rumah, anak-anak cukup bermain saja. Kadang kupaksa juga banyak membaca buku. Tapi bukan buku sekolah. Biarlah urusan sekolah diselesaikan di sekolah, di rumah mereka harus menjadi anak-anak ku lagi.. Aku tidak ingin anak-anakku jadi robot dengan kecerdasan luar biasa yang punya daya ingat sekelas super komputer. Biarlah mereka menjadi anak-anak pada masanya, dan menjadi pintar menurut keinginannya.

Karena kalau mereka menuruti keinginan manusia kebanyakan, standar kepintaran tentu akan terus naik dari tahun ketahun. Mungkin nanti, anak-anak dimasa depan, harus punya gelar doktor di umur 7 tahun, dan wajib. Lalu jika anak-anak sudah hilang masa kanak-kanaknya, siapa lagi yang akan bermain dan meriangkan hati orang tuanya?

Sebisa mungkin aku tidak ingin menunjukkan kemewahan pada keluargaku. Agar ketika mereka menghasilkan uang walau hanya 5 ribu, kebahagiaan yang terpancar sungguh meneduhkan daripada anak-anak konglomerat yang tetap cemberut walau uang jajannya 1 juta.

Hidupku akan terus begini.. Terus sampai anak-anakku besar dan tinggallah hanya aku dan kamu saja dirumah. Akan terus begini sampai suatu hari nanti anak-anak kita akan tahu, bahwa ayahnya ini adalah seorang pengusaha sukses yang mempunyai aset 60% disetiap kota di Indonesia, yang akhirnya memilih mengasingkan diri dan mengatur semua perusahaannya dari sebuah desa terpencil di tanah kelahiraannya…

263939_586194688073042_440881090_nkid

kids

Iklan

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: