Blue – Sayanya yang lagi melow

16 Oktober 2013

Akhir-akhir ini saya seringkali iri hati melihat teman-teman saya yang bekerja atau berkeluarga. Juga iri dengan adek-adek saya yang naik gunung ataupun sedang menjelajah ketempat-tempat terpencil. Mereka senang sekali menikmati dunia tampaknya. Seolah mendiami dunia bebas dan terus mengejar mimpi.

Saya yang sekarang, jangankan mimpi, mau tidur saja susahnya minta ampun. Tiap hari tidur jam 2 pagi dan bangun pas sholat subuh. Tubuh saya seolah berontak ingin bergerak. Kembali menjalani hari-hari layaknya dulu. Saya bebas kemana pergi, kemana pulang, karena seluruh negri adalah tanah saya. Saya bebas tidur di masjid, pom bensin, pos satpam, kantor polisi, rumah sakit, hutan, danau, pinggir jalan, pantai, sekolah, basecamp, numpang sana-situ, pernah juga tidur di depan rumah orang.

.

Tapi sekarang saya hanya bisa iri dan menikmati kenangan. Karena saya tahu, melakukan hal-hal seperti dulu terlalu banyak resiko yang dikorbankan, dan yang pasti merugikan. Saya sadar betul kerugian yang dampaknya bukan hanya terjadi pada saya tapi juga pada orang-orang yang memikirkan saya. Resiko yang tampaknya terlalu besar diambil untuk kapasitas otak saya yang sekarang.

Kadang saya tersenyum getir melihat foto-foto mereka yang tersenyum memeluk kebahagiaan. Jujur saja kaki saya sudah gatal sejak bertahun belakangan. Saya yang bosan untuk menetap disatu tempat dalam waktu yang lama. Saya yang sedang mencari, mencari apa saja yang bisa saya temui.

.

Niat mengejar mimpi itu masih ada, masih saya rawat baik-baik di dada yang saya bungkam dengan kesabaran yang tidak tahu sampai kapan. Saya memberikan harapan palsu bagi diri saya sendiri. Saya selalu berkata dalam hati, “Suatu hari, pasti… Nanti.”


Tempo

16 Oktober 2013

Diantara kita, tidak sedikit yang bingung membedakan warna musik atau yang biasa disebut genre. Saya dulu juga pernah bingung. Tapi sekarang tidak lagi. Apakah karena saya rajin minum panadol? Oh, bukan.. Tetapi sekarang saya lebih tambah bingung. diakibatkan dengan kemajuan jaman, teknologi serta budaya, kemampuan improvisasi kita dibidang nada juga ikut terseret deras berjalan maju dengan mengatasnamakan inovasi.

.

Yang sedang saya bicarakan disini adalah jenis-jenis musik layaknya pop, rock, dangdut, metal dll. Jenis musik yang banyak diperdebatkan karena perbedaan laju nadanya. Ada yang bilang ini musik rock, itu musik rock, ini rock alternative, itu rock dangdut (??), ini rock siapa dikamar mandi?

.

Sebagai penikmat musik (bukan pengamat), tentunya saya bodo amat dengan genre-genre yang ada, selama musik yang dengar adalah harmonisasi nada yang baik. Sebuah lagu akan tetap terasa enak didengar jika dinyanyikan lewat mulut, bukan lewat hati (seperti yang banyak juri bilang). Karena lagu yang dinyanyikan melalui hati adalah egois, yang bisa menikmati hanya yang bernyanyi saja. Dan orang egois biasanya tidak disayang Tuhan.

.

Seperti yang tulisan ngawur diatas katakan, saya memang bodo amat dengan yang namanya genre. Kita ambil contoh Dangdut. Musik ini banyak sekali alirannya, sampai-sampai penyanyinya saja malas membedakannya, ini terbukti dengan semua penyanyi dangdut yang menyanyikan apa saja, semua jenis genre, mulai dari yang mendayu-dayu sampai dangdut yang remix buat ajeb-ajeb seolah-olah tidak punya ciri khas saja.

.

Adalagi musik pop. Asal kata populer. Musik Mainstream. Pasaran tapi tidak murahan. Hanya dinikmati anak-anak muda. Musik ini ada juga genre popdut. Pop-dangdut, musik pop yang terseret aliran melayu. Ada lagi pop balada, country, hip-hop dan lain sebanyaknya. Jenis musik pop sering membuat bingung karena batasannya yang kabur, bukan karena dikejar polisi, tapi karena musik ini seolah bisa di sandingkan dengan segala jenis musik.

.

Musik rock sering diidentifikasikan musik keras. Semua musik yang menghentak awamnya dianggap musik rock. Semua yang menggunakan gitar listrik juga dianggap musik rock. Yang menegangkan juga gara-gara rock. Batasannya pun mulai suram. Seperti jika Band rock yang menyanyi akustikan apa masih dianggap rock? atau rock alternatif, atau slowrock. Ada lagi Punk, Funk, grunge, ska, blues,  jazz, rock n roll, rock progress, rock simfoni, metal, undrground, cadas, blablabla.

.

Karena saya orangnya males ribet, akhirnya saya memutuskan, bahwa musik hanya dibagi tiga menurut kecepatannya, atau tempo. Musik pelan, musik keras, dan musik au au..
Selama musiknya enak, akan saya dengarkan. Tidak peduli dengan genrenya. Tapi musiknya harus menjiwai, jangan cuma dibantu alat atau kebanyakan curhat ketimbang pendalaman lirik. Ambil contoh band The Panasdalam, baik lirik maupun musiknya agak susah dipahami, tapi saya suka, saya suka waktu pidi baiq nyanyi amat menjiwai walau suaranya ga sekeren axl rose, saya suka musiknya yang lepas seperti nirvana. Ada juga band-band yang saya suka cuma karena vokalisnya nyanyinya bagus, seperti so7, /rif, bondan, kunci, edane, dll. Ada juga band yang tidak terlalu pusing dengan genre selama musik yang dihadirkannya enak, seperti payung teduh, slank, iwan fals, sore,  juga dll.

.

Musik pelan adalah musik dengan tempo lambat yang mampu mengalun membelai dan menghangatkan.. halah! Layaknya musik payung teduh atau lagunya foo fighters-walking after you, atau sore atau idris sadri dan beberapa lagu padi.

Ada lagi musik keras, yaitu musik dengan kekuatan yang membakar semangat. Lagu-lagu menghentak dengan dentuman yang memberikan efek energi lebih kepada para pendengarnya. Dengar lah itu nirvana, atau metallica, atau guns n roses, atau boleh juga edane atau foo fighters dan SOAD juga jamrud.

Musik au au adalah jenis musik yang membutuhkan telinga lebih untuk mendengarkannya. Saya lebih mengidentifikasikan musik ini dengan musik ribut. Karena hanya mengedepankan lirik dan suara dengungan alat musik saja. Dengan Volume bass yang lebih dominan daripada suara vokalisnya. Hanya beberapa musik saja yang saya dengarkan dari genre seperti ini, seperti Soad, metallica, silverchair, burgerkill, iron maiden, kadang-kadang juga saya cuma menghapal liriknya saja tanpa peduli musiknya.

.

Musik memang berpengaruh besar dalam hidup manusia. Ibarat makan sayur tanpa garam, tanpa ajinomoto, tanpa pasangan, makan sayur sendiri, di kost, ga pake piring, mati lampu, tanggal tua, besoknya ujian, pulsa habis, dan lainnya. Ya begitulah hidup tanpa musik, suram, ga ada enak-enaknya. Yakin.

.

Musik adalah seni suara yang berkomunikasi langsung melalui musisi ke para pendengar untuk saling berbicara tentang kenikmatan harmoni duniawi. Saya menulis seperti ini bukan karena saya paling ahli dalam memahami musik. tetapi lebih kearah bahwa ini adalah blog pribadi saya, jadi suka-suka saya mau menuliskan apa. Dan juga bodo amat dengan pendapat kalian. Wek!


Inilah ini, Jawa dan Segala Keunikannya

12 Oktober 2013

Karena beberapa hari lagi saya akan move on dari kota terpanas ini, ada baiknya saya berterima kasih dengan menuliskan sedikit tentang Semarang beserta kenangannya, khususnya etnis Jawa disini.

.

Dulu, pertama kali saya ke Semarang sekitar tahun 2005. Dulu ketika dinosaurus juga masih punah. Kala itu saya kebetulan dapat kerja magang demi mengisi kartu nilai di sekolah, salah satu syaratnya harus magang. Dan dengan santainya saya pilih Semarang cuma untuk merakit komputer. Jauh-jauh dari Bengkulu ke Semarang cuma buat pegang obeng. Cerdas sekali. Namun begitu, tujuan utama saya memang bukan buat magang, saya cuma mencoba sedikit membuka wawasan tentang negeri dimana saya tinggal. Untuk pertama kalinya saya waktu itu menginjak Jawa, kawasan yang digadang-gadang sebagai pusatnya peradaban Indonesia. Dunia baru yang begitu wah dimata seorang pemuda tanggung berwajah keren seperti saya.

.

Semua yang terlihat serasa dunia baru. Tiap langkah yang dijejakkan serasa begitu mendebarkan. Seolah memulai sebuah petualangan baru yang selama ini hanya bisa dilihat melalui tabung kaca bergerak laknat candu murahan, yang diberi nama  sebagai TV.

.

Tulisan ini jadi salah arah.. Saya sebenarnya cuma ingin bercerita mengenai pandangan tentang orang Jawa di mata seorang Sumatra khususnya antara bangsa Melayu dan Jawa.

Dan saya bingung harus mulai dari mana..

.

TIKUS

Waktu pertama kali saya tinggal di sebuah rumah kontrakan, saya kaget melihat bayangan sebesar kucing yang berjalan cepat bergeriliya di gelap malam. Dengan cemas saya panggil kakak saya kalo ada kucing yang dengan sigapnya masuk selokan. Sambil tertawa dia bilang itu tikus.. Dan saya baru pertama kalinya melihat tikus sebesar kucing seumur-umur. Mungkin itu tikus mutasi hasil kerja orang pintar di Jawa pikir saya.. Dan yang bikin risih, setelah hidup bertahun-tahun disini, saya menyadari hewan yang menjadi wabah ini sudah sangat biasa dalam kehidupan masyarakat disini sehari-hari. Bahkan sudah tidak aneh jika di keesokan paginya banyak terlihat mayat-mayat bertebaran dengan pose-nya masing-masing, kebanyakan korban tabrak lari.

.

ARAH

Seringnya saya berkeliaran di gunung dan jalan-jalan di Jawa membuat saya tidak terelakan dari kejadian nyasar. Untuk itulah datang pepatah “malu bertanya sesat dijalan, telanjang di jalan juga bikin malu”. Lalu dengan inisiatif yang tinggi saya mulai bertanya. Dan orang-orang Jawa yang terkenal akan kesantunannya tentu saja akan menjawab dengan penuh senyum.. “Oh, ning wetan, mas.. Ngidul sithik. Terus ning blablabla..” Dan ternyata orang Jawa lebih sering menunjukkan arah menurut mata angin, dan saya bingung.

.

BAHASA

Di Jawa sendiri, bahasanya tidak serta merta sama semua. Baik logat, istilah maupun imbuhan tiap daerah pun bisa berbeda. Dan saya lumayan sulit membedakannya. Jawa Tengah sendiri banyak macamnya, ada jawa brebes, tegal, pekalongan, cilacap, cirebon, kendal, pati jepara, demak, jogja, solo, dan lain sebingungnya. Yang saya tahu, Di Semarang sendiri ada imbuhan “ik” sebagai tambahan seperti “dong”. Ada juga yang saya tak mengerti perbedaannya seperti kata “loro” yang bisa berarti “dua”, atau “luka”. Telas artinya habis, Teles artinya basah. Kadang Huruf B jadi W: Batu jadi Watu, Baca jadi Waca (Woco), Biru jadi Wiru. Belum lagi membedakan bahasa kromonya. Dan saya tetap bingung.

.

ISTILAH

Sama seperti daerah lainnya, semarang juga punya keunikan tersendiri dalam masalah penyebutan beragam hal. Seperti kata-kata yang ditambah “m”, atau “ng”. Seperti Montor, Bengsin,. Ada juga istilah buat kendaraan, pit buat sepeda, sepeda/honda buat motor, dan ada juga istilah buat angkot tapi saya lupa.

.

KEBIASAAN

Banyak kebiasaan yang sangat berbeda dari kebiasaan tanah kelahiran saya. Mungkin Karena sopannya orang Jawa, jadi mereka lebih banyak berbasa-basi sehingga tercermin dan terbawa dalam keseharian mereka. Pertama masalah Sungkeman ketika lebaran. Saya pernah diajak teman berlebaran di rumah mbah/neneknya. Dan proses sungkemannya membuat saya takjub, mereka masih menganut tradisi keraton dengan bertekuk lutut lalu mengucapkan berbagai macam kata doa dan maaf menggunakan bahasa kromo yang lumayan panjang. Ketika tiba giliran saya, saya bingung apa yang harus diucapkan, lalu saya sungkem sama si mbah dan bilang “mbah mohon maaf lahir batin 1430 Hijriyah ya..”.

Ada lagi ketika saya ikut proses pemakaman, dan pernikahan, Banyak sekali basa basinya orang Jawa ini, pikir saya. Lama dan bertele-tele. Begitu juga proses sebelum dan sesudah kelahiran. Entahlah..

.

Mungkin itu saja dulu yang bisa saya ingat, untuk kelanjutannya mungkin nanti saya teruskan, karena saya sekarang juga bingung dan akan terus bingung dengan misteri-misteri dibalik peradaban Jawa ini,. Sekian dan Aura Kasih.


DEWA

10 Oktober 2013

 

Fanatisme. Unsur kausal yang membabi-buta. Adalah pandangan ekstrim dengan menutup kemungkinan kedua dan tak kan menerima alasan yang berbeda sudut. Dunia fanatisme mengerucut hanya pada satu tujuan. Terjadi tanpa objektifitas. Ketika seorang manusia melahap fanatisme, ia menjadi seekor katak. Katak dalam tempurung yang berada di bawah sumur tua kering di kedalam 1000 meter di daerah Uganda. Mereka-mereka yang telah dirasuki pandangan ini, serta merta berubah menjadi manusia yang darahnya menghitam dialiri ego dan ketidakpuasan.

Untuk itulah manusia-manusia sejenis ini saya sebut dewa. Manusia otoriter yang tidak akan nyaman hidup sendiri tanpa ada yang bisa ia jadikan teman untuk melalui setapak yang sama. Ia muncul dengan kemauan besar yang sayangnya menutup kemungkinan akan kebenaran. Dunia individu-individu ini hanya satu. Dunia dewa mereka, dunia bagi dewanya dewa.

Tulisan ini muncul dari perenungan saya akan Oi (Orang Indonesia), fans club terbesar jagad musik terbesar tanah air, Iwan Fals.

Dunia mereka hanya seputar Iwan Fals, sang dewa. Alasan terbesar mereka mengagungkan sosok Iwan Fals tidak lain karena resistansi sang idola atas pemerintahan korup jaman orba pimpinan Soeharto. Sejak kemunculannya, Iwan Fals memang keras terhadap percaturan politik ibu pertiwi. Ia merasa jengah dan tertekan atas kepemimpinan ala militer dari Soeharto. Sebagai musisi miskin, perlawanannya saat itu hanya sebatas teriakan berirama yang sekarang kita sebut musik. Lagu-lagu bernada protes mulai menyentil sisi hitam pemerintah. Bahkan hingga saat ini, Iwan Fals masih bergelut dengan dunia musisi pemberontak.

Disisi lain, Oi, para penggemarnya, serta merta mendewakan Iwan Fals tanpa melihat sisi perjuangan yang ia suarakan. Para Oi berteriak lantang menyebut nama sang legenda di tiap konser. Poster terpajang di belahan sudut pintu dan dinding. Alat pemutar musik diisi lagu-lagu kesayangan. Tapi mereka lupa apa yang sang legenda perjuangan. Mereka menutup mata pada apa yang menjadikan Iwan Fals legenda. Mereka menangis ketika mendengar lagu yang ia suka. Ia tertawa melihat TV dipenuhi pejabat-pejabat menikung uang rakyat tertangkap di hotel dengan artis dangdut karbitan.

Bangsa kita yang mayoritas adalah penggila konsumsi akan apa saja. Semua yang mainstream akan dilahap tanpa babibu lagi. Santap tanpa tanya, libas tanpa peduli. Ah… saya bingung mau nulis apa lagi.. Entah tersampaikan atau tidak maksud saya..

Oiya, kebodohan ini banyak di perulang oleh suporter bola kebanyakan. Kencur-kencur pahit borok sepakbola tanah air. Yang mereka lakukan tidak lebih dari sekedar pamer pantat. Sama seperti kasus Oi mereka hanya peduli pada nama klub, tanpa melihat sisi yang harus dicapai. Bagi mereka nama klub adalah harga mati. Dengan mempersetankan sisi kedewasaan. Saya pasrah, dan terus mengutuki. dan muncullah kalimat kunci: BODO AMAT.


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: