DEWA


 

Fanatisme. Unsur kausal yang membabi-buta. Adalah pandangan ekstrim dengan menutup kemungkinan kedua dan tak kan menerima alasan yang berbeda sudut. Dunia fanatisme mengerucut hanya pada satu tujuan. Terjadi tanpa objektifitas. Ketika seorang manusia melahap fanatisme, ia menjadi seekor katak. Katak dalam tempurung yang berada di bawah sumur tua kering di kedalam 1000 meter di daerah Uganda. Mereka-mereka yang telah dirasuki pandangan ini, serta merta berubah menjadi manusia yang darahnya menghitam dialiri ego dan ketidakpuasan.

Untuk itulah manusia-manusia sejenis ini saya sebut dewa. Manusia otoriter yang tidak akan nyaman hidup sendiri tanpa ada yang bisa ia jadikan teman untuk melalui setapak yang sama. Ia muncul dengan kemauan besar yang sayangnya menutup kemungkinan akan kebenaran. Dunia individu-individu ini hanya satu. Dunia dewa mereka, dunia bagi dewanya dewa.

Tulisan ini muncul dari perenungan saya akan Oi (Orang Indonesia), fans club terbesar jagad musik terbesar tanah air, Iwan Fals.

Dunia mereka hanya seputar Iwan Fals, sang dewa. Alasan terbesar mereka mengagungkan sosok Iwan Fals tidak lain karena resistansi sang idola atas pemerintahan korup jaman orba pimpinan Soeharto. Sejak kemunculannya, Iwan Fals memang keras terhadap percaturan politik ibu pertiwi. Ia merasa jengah dan tertekan atas kepemimpinan ala militer dari Soeharto. Sebagai musisi miskin, perlawanannya saat itu hanya sebatas teriakan berirama yang sekarang kita sebut musik. Lagu-lagu bernada protes mulai menyentil sisi hitam pemerintah. Bahkan hingga saat ini, Iwan Fals masih bergelut dengan dunia musisi pemberontak.

Disisi lain, Oi, para penggemarnya, serta merta mendewakan Iwan Fals tanpa melihat sisi perjuangan yang ia suarakan. Para Oi berteriak lantang menyebut nama sang legenda di tiap konser. Poster terpajang di belahan sudut pintu dan dinding. Alat pemutar musik diisi lagu-lagu kesayangan. Tapi mereka lupa apa yang sang legenda perjuangan. Mereka menutup mata pada apa yang menjadikan Iwan Fals legenda. Mereka menangis ketika mendengar lagu yang ia suka. Ia tertawa melihat TV dipenuhi pejabat-pejabat menikung uang rakyat tertangkap di hotel dengan artis dangdut karbitan.

Bangsa kita yang mayoritas adalah penggila konsumsi akan apa saja. Semua yang mainstream akan dilahap tanpa babibu lagi. Santap tanpa tanya, libas tanpa peduli. Ah… saya bingung mau nulis apa lagi.. Entah tersampaikan atau tidak maksud saya..

Oiya, kebodohan ini banyak di perulang oleh suporter bola kebanyakan. Kencur-kencur pahit borok sepakbola tanah air. Yang mereka lakukan tidak lebih dari sekedar pamer pantat. Sama seperti kasus Oi mereka hanya peduli pada nama klub, tanpa melihat sisi yang harus dicapai. Bagi mereka nama klub adalah harga mati. Dengan mempersetankan sisi kedewasaan. Saya pasrah, dan terus mengutuki. dan muncullah kalimat kunci: BODO AMAT.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: