Inilah ini, Jawa dan Segala Keunikannya


Karena beberapa hari lagi saya akan move on dari kota terpanas ini, ada baiknya saya berterima kasih dengan menuliskan sedikit tentang Semarang beserta kenangannya, khususnya etnis Jawa disini.

.

Dulu, pertama kali saya ke Semarang sekitar tahun 2005. Dulu ketika dinosaurus juga masih punah. Kala itu saya kebetulan dapat kerja magang demi mengisi kartu nilai di sekolah, salah satu syaratnya harus magang. Dan dengan santainya saya pilih Semarang cuma untuk merakit komputer. Jauh-jauh dari Bengkulu ke Semarang cuma buat pegang obeng. Cerdas sekali. Namun begitu, tujuan utama saya memang bukan buat magang, saya cuma mencoba sedikit membuka wawasan tentang negeri dimana saya tinggal. Untuk pertama kalinya saya waktu itu menginjak Jawa, kawasan yang digadang-gadang sebagai pusatnya peradaban Indonesia. Dunia baru yang begitu wah dimata seorang pemuda tanggung berwajah keren seperti saya.

.

Semua yang terlihat serasa dunia baru. Tiap langkah yang dijejakkan serasa begitu mendebarkan. Seolah memulai sebuah petualangan baru yang selama ini hanya bisa dilihat melalui tabung kaca bergerak laknat candu murahan, yang diberi nama  sebagai TV.

.

Tulisan ini jadi salah arah.. Saya sebenarnya cuma ingin bercerita mengenai pandangan tentang orang Jawa di mata seorang Sumatra khususnya antara bangsa Melayu dan Jawa.

Dan saya bingung harus mulai dari mana..

.

TIKUS

Waktu pertama kali saya tinggal di sebuah rumah kontrakan, saya kaget melihat bayangan sebesar kucing yang berjalan cepat bergeriliya di gelap malam. Dengan cemas saya panggil kakak saya kalo ada kucing yang dengan sigapnya masuk selokan. Sambil tertawa dia bilang itu tikus.. Dan saya baru pertama kalinya melihat tikus sebesar kucing seumur-umur. Mungkin itu tikus mutasi hasil kerja orang pintar di Jawa pikir saya.. Dan yang bikin risih, setelah hidup bertahun-tahun disini, saya menyadari hewan yang menjadi wabah ini sudah sangat biasa dalam kehidupan masyarakat disini sehari-hari. Bahkan sudah tidak aneh jika di keesokan paginya banyak terlihat mayat-mayat bertebaran dengan pose-nya masing-masing, kebanyakan korban tabrak lari.

.

ARAH

Seringnya saya berkeliaran di gunung dan jalan-jalan di Jawa membuat saya tidak terelakan dari kejadian nyasar. Untuk itulah datang pepatah “malu bertanya sesat dijalan, telanjang di jalan juga bikin malu”. Lalu dengan inisiatif yang tinggi saya mulai bertanya. Dan orang-orang Jawa yang terkenal akan kesantunannya tentu saja akan menjawab dengan penuh senyum.. “Oh, ning wetan, mas.. Ngidul sithik. Terus ning blablabla..” Dan ternyata orang Jawa lebih sering menunjukkan arah menurut mata angin, dan saya bingung.

.

BAHASA

Di Jawa sendiri, bahasanya tidak serta merta sama semua. Baik logat, istilah maupun imbuhan tiap daerah pun bisa berbeda. Dan saya lumayan sulit membedakannya. Jawa Tengah sendiri banyak macamnya, ada jawa brebes, tegal, pekalongan, cilacap, cirebon, kendal, pati jepara, demak, jogja, solo, dan lain sebingungnya. Yang saya tahu, Di Semarang sendiri ada imbuhan “ik” sebagai tambahan seperti “dong”. Ada juga yang saya tak mengerti perbedaannya seperti kata “loro” yang bisa berarti “dua”, atau “luka”. Telas artinya habis, Teles artinya basah. Kadang Huruf B jadi W: Batu jadi Watu, Baca jadi Waca (Woco), Biru jadi Wiru. Belum lagi membedakan bahasa kromonya. Dan saya tetap bingung.

.

ISTILAH

Sama seperti daerah lainnya, semarang juga punya keunikan tersendiri dalam masalah penyebutan beragam hal. Seperti kata-kata yang ditambah “m”, atau “ng”. Seperti Montor, Bengsin,. Ada juga istilah buat kendaraan, pit buat sepeda, sepeda/honda buat motor, dan ada juga istilah buat angkot tapi saya lupa.

.

KEBIASAAN

Banyak kebiasaan yang sangat berbeda dari kebiasaan tanah kelahiran saya. Mungkin Karena sopannya orang Jawa, jadi mereka lebih banyak berbasa-basi sehingga tercermin dan terbawa dalam keseharian mereka. Pertama masalah Sungkeman ketika lebaran. Saya pernah diajak teman berlebaran di rumah mbah/neneknya. Dan proses sungkemannya membuat saya takjub, mereka masih menganut tradisi keraton dengan bertekuk lutut lalu mengucapkan berbagai macam kata doa dan maaf menggunakan bahasa kromo yang lumayan panjang. Ketika tiba giliran saya, saya bingung apa yang harus diucapkan, lalu saya sungkem sama si mbah dan bilang “mbah mohon maaf lahir batin 1430 Hijriyah ya..”.

Ada lagi ketika saya ikut proses pemakaman, dan pernikahan, Banyak sekali basa basinya orang Jawa ini, pikir saya. Lama dan bertele-tele. Begitu juga proses sebelum dan sesudah kelahiran. Entahlah..

.

Mungkin itu saja dulu yang bisa saya ingat, untuk kelanjutannya mungkin nanti saya teruskan, karena saya sekarang juga bingung dan akan terus bingung dengan misteri-misteri dibalik peradaban Jawa ini,. Sekian dan Aura Kasih.

Iklan

4 Responses to Inilah ini, Jawa dan Segala Keunikannya

  1. hilman berkata:

    Oh ya sekedar tambahan info juga, kalau kita mau menyebut ‘Jawa’, maka harus spesifik.

    Misalnya menyebut “orang Jawa”, itu artinya adalah suku Jawa. Suku Jawa ini ada yang berada di pulau Jawa, ada pula yang diluar pulau Jawa.

    Makanya orang-orang Sunda, Betawi, atau Cirebon tidak mau disebut “orang Jawa”, karena itu berarti adalah suku Jawa, karena mereka bukanlah suku Jawa. Tapi kalau mereka disebut “orang (dari) pulau Jawa”, tidak masalah, karena itu nama pulau, bukan suku.

    Jadi arti dari kata “orang Jawa” dan “orang pulau Jawa/pulau Jawa” adalah berbeda.

    Suka

  2. hilman berkata:

    Sekedar masukan saja, Cirebon itu bukan Jawa, bukan pula Sunda. Memang bahasanya ada kemiripan dengan Jawa, dan ada pula dengan Sunda.

    Cirebon itu bisa dikatakan sebagai perpaduan antara (The Big Two) Sunda dan Jawa, tapi mereka tidak mau disebut Sunda atau Jawa, mereka sudah memiliki bahasa dan kebudayaan sendiri yang berbeda dari kedua suku besar tersebut diatas.

    Jadi jangan mengatakan bahwa Cirebon adalah bagian dari Jawa, atau pula bahasanya dikatakan sebagai dialek bahasa Jawa. Cirebon ya Cirebon.

    Suka

    • Frans Cihuy berkata:

      Kalau sekedar perpaduan bahasa, di Indonesia ini banyak banget mas. Bukan cuma cirebon, cilacap pun juga sama campuran sunda-jawa. Belum lagi yang sekelas propinsi seperti bengkulu, Sumbar, Jakarta. Bahasa Indonesia juga begitu.
      Lagi pula tulisan saya tidak sedang membahas asal muasal bahasa. Tulisan ini cuma menerangkan secara geografis bahwa di jawa ada bermacam bahasa, istilah dan imbuhan. bukan artinya semua yang ada didalam jawa adalah bahasa jawa dan variasinya.
      Oya, kalo cirebon tidak mau dikatakan sebagai jawa (berdasarkan geografisnya?), perbatasannya biar jelas dibentuk sungai aja. BIar keliatan kalau misah sama pulau jawa..

      Suka

      • hilman berkata:

        Iya… saya hanya memberikan koreksi dari tulisan:

        “Jawa Tengah sendiri banyak macamnya, ada jawa brebes, tegal, pekalongan, cilacap, cirebon, kendal, pati jepara, demak, jogja, solo, dan lain sebingungnya.”

        Jadi tidak ada Jawa Cirebon.

        Memang secara geografis, Cirebon berada di pulau Jawa. Sama seperti Tangerang, Jakarta, Bekasi, Indramayu, Bandung, dll.

        Tapi maksud saya “Jadi jangan mengatakan bahwa Cirebon adalah bagian dari Jawa”, adalah sukunya beserta kebudayaan-kebudayaannya. Jadi di pulau Jawa itu ada suku Sunda, Betawi, Cirebon, Jawa, dan Madura. Dan sekarang dengar-dengar katanya Indramayu juga ingin mendaulatkan dirinya sebagai suku tersendiri. Tapi itu masih belum jelas.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: