Evolusi Batin

29 November 2013

Agama mengkalkulasi individu dari Tingkatan keimanan yang dimiliki penganutnya. Kita hanya berperan tanpa harus menjadi sutradara. Kalau kalian sudah pasti berada di list penghuni surga, bolehlah menggunakan hak untuk men-Judge orang lain. Fungsi agama adalah sebagai penunjuk jalan, bukan penghukum. Itu urusan Tuhan. Daripada memikirkan surga yang belum tentu kita masuki, lebih baik menciptakan surga kita sendiri di dunia ini, mumpung masih ada waktu. Selagi sempat dan nuklir belum beterbangan. Damaikan hati, bukan demi Tuhan, hanya demi surga kecil terbatas kita, dan juga untuk pendewasaan spiritual.. Tranformasi kesadaran. Jangan berprasangka kepada Tuhan. Tanpa prasangka, tanpa ketakutan.


Uang-uang Nista

18 November 2013

Saya adalah termasuk orang yang membenci uang. Tidak mungkin saya bermainstream-ria menjadi pemuja uang. Saya lebih memilih menjadi minoritas. Meskipun konsekuensinya sangat sering tidak menyenangkan.

Kebencian saya berawal dari susahnya mendapat uang ketika kecil. Dunia anak-anak selalu mengharuskan kita harus memiliki apa yang kita lihat. Waktu kecil saya suka sekali majalah BOBO. Sedangkan ke kota hanya sekali seminggu, karena jarak rumah saya yang jauh. Jadi seminggu sekali saya harus berakting anak teraniaya demi mendapat apa yang saya inginkan. kesempatan saya cuma satu kali dalam 7 hari. Untunglah waktu kecil saya jarang jajan sana-sini, jadi permintaan saya membeli majalah kadang-kadang dipenuhi, minimal satu majalah dalam sebulan. Perjuangan yang panjang memang. Bukannya orang tua saya pelit, tapi karena harga majalah pada waktu itu tidaklah murah dibanding kebutuhan-kebutuhan primer lainnya. Selain itu, masih ada empat kepala lainnya yang harus dihidupi selain saya. Karena itulah, bahan bacaan adalah harta paling berharga bagi saya hingga sekarang.

Kebencian akan uang terus berlanjut dengan mengharuskan kita melakukan apapun dengan uang. Hingga ke urusan WC. Seolah tanpa uang kita tidak bisa hidup. Belum lagi kehidupan modern yang mewajibkan masyarakatnya harus bekerja demi uang, dan hidup demi uang. Uang menjadi lingkaran setan ketika hidup untuk mencari uang, dan uang dipakai untuk hidup..

Uang menjadi momok pengikat rutinitas manusia. Saya juga sering merasakan tidak ingin keluar rumah ketika tidak sedang memegang uang. Dan anak kost adalah kaum dominan yang sering diperbudak masalah ini. Apalagi kalau kirimannya telat. Dunia terbatas hanya pada masalah nominal dan angka-angka. Dunia yang sering dilewati orang-orang miskin dengan jalan tol kematian.

Karena menjadi kebutuhan primer dan mendapatkannya yang susah, uang akhirnya saya benci. Saya buang. Saya tidak ingin melihatnya. Untuk itulah setiap mendapat uang pasti segera saya habiskan. Karena kebencian inilah, saya pura-pura terlihat boros. Saya dianggap tidak suka menabung. Banyak juga yang menganggap saya tidak pandai menyimpan uang. Padahal mereka salah. Mereka termakan trik murahan. Saya berpura-pura seperti itu sebenarnya sudah saya rencanakan. Karena saya membenci uang. Maka dari itu, uang akan menjadi musuh utama saya. Ketika bertemu akan langsung saya habiskan. Akan saya buang. Saya campakkan, dengan senang hati tentunya. Tanpa penyesalan. Bahagia Mungkin. Semakin banyak yang saya buang, semakin senang hati saya..

Dan sekarang lihat, saya sedang membakar uang dikegelapan malam. saya bakar dengan senang -ria. Saya tersenyum dan terbatuk. Oh, ternyata kemasukan asap.. Dan inilah saya. Si kaum minoritas nan aduhai..


Emang Kenape???

18 November 2013

Judul nya asik. Ini saya sedang mau cerita kebiasaan orang indonesia yang bisa bikin jadi ga asik.

Belakangan ini berita koruptor lagi booming gila-gilaan. Sampai yang nonton muak ngeliat muka pejabat. Praktek KKN sangat dibenci di negeri ini. Sayangnya, yang bikin aturan dan yang menghukum sama-sama pejabat, ibarat main game uler2 di HP Nokia, jadi disuruh makan ekornya sendiri. Apa mau?

 

Balik lagi ke judulnya..

Btw, saya sering dibeginiin nih:

“Itu ibunya si anu (artis), tinggalnya dekat rumah tante aku lho…”.

“Eh, tau nggak, rumah si anu (pejabat) kan cuma beda dua gang dari masjid tempat temen aku..“.

“Dia (nunjuk orang di TV) kan kenal sama neneknya sepupu aku..”. Dan blablabla….

Beberapa cuma basa basi, tapi ga sedikit yang bangga-banggain salah tempat. Sebenarnya saya maklum dengan sifat orang Indonesia ini, rata-rata bangsa kita memang suka berbasa-basi, makanya sering dibilang bangsa yang ramah. Tapi kan…

 

Oke, tulisan ini memang kurang nasionalis. Saya juga ga bisa minta dimana saya dilahirkan. Makanya saya anggap ini adalah gagasan perindividu.

Saya agak males kalo seseorang udah mulai berbasa-basi dengan menggunakan kalimat andalan diatas. “Teman saya satu sekolah loh dulu sama artis anu..”. Terus kenapa? Emang nape? Ngaruh?

Ada lagi yang begini: wah band itu bagus tuh, vokalisnya kakak kelasku dulu/ dia itu orang tegal lho (bangga karena sekampung)/ anaknya artis itu kerja sekantor sama abangku lho dulu… blablabla..

Agak janggal rasanya seseorang membanggakan orang hanya karena masalah geografis dan bahkan hanya kenal nama. Saya sering bertanya sendiri, apa gunanya berbangga dengan orang lain, apakah cuma dapat cipratannya aja udah cukup? Dapat sedikit suntikan pamor? Jadi ikut merasa membantu karirnya? Kenapa bukan kamu saja yang jadi dia?

Tulisan ini bukan untuk fans dan idolanya ya. Beda. Ini buat orang terkenal dan orang yang mencoba “meminta” ikut terkenal.

Agak kasar? Memang, saya sengajai biar yang sering begini pada sadar. Karena orang-orang seperti ini akhirnya sengaja atau tidak sengaja akan melahirkan sifat nepotisme. Semisal: tenang aja, Om ku polisi kok/ sepupu ku tentara kok/ masukin lamaran kesitu aja, ada kakaknya temenku kok/ bikin surat ke situ aja, yang ngurus kenal kok sama bapakku…

Sama seperti kita yang muak dengan praktek korupsi di TV, tapi kita sendiri sering “menyisihkan” uang kembalian ajinomoto buat jajan waktu kecil, ngambil duit spp ketika sekolah, menggelembungkan dana proposal organisasi waktu kuliah, dan ngambil sisa proyek barengan waktu kerja.. Coincidence?

Untuk kesekian kalinya saya minta, sesuaikan perilaku sama otak. Biar hidup tidak diburu nafsu.


Don’t Play With My Brain

10 November 2013

Sayanya hari-hari ini sedang asik main sudoku. Di Blackberry.

Iya, satu-satunya alasan saya memegang BB adalah sudoku. Tidak lain. Bukan pula Aura Kasih. Permainan yang menggabungan kekuatan puzzle dan ketakutan matematika. Combo yang aduhai bagi otak. Otak saya khususnya. Otak yang sepertinya di desain khusus oleh Tuhan untuk tidak bersentuhan dengan angka-angka laknat. Angka-angka yang banyak dizhalimi manusia pada umumnya jika tidak berbentuk uang. Ibarat suku baduy disuruh nyetir mobil F1. Mungkin saja, tapi rugi banyak. Tekor.

Oh, tulisan saya jadi bercabang, jadi kayak rambut di iklan shampoo.  Jadi banyak pilihan yang mau dibahas.. Ada BB, Sudoku, angka-angka dan otak. Karena saya suka rujak, maka saya pilih membahas suku baduy saja..

Jadi, ketika saya bermain sudoku, dengan santainya saya pilih level genius. Ini bukan karena saya sombong sodara-sodara. Tapi lebih kepada karena iman. Karena saya percaya akan Tuhan saya. Akan otak yang diciptakannya. Jadi saya percaya saja pada kemampuan otak saya ini. Hasilnya? Selama 1 minggu bermain, akhirnya saya bisa mengalahkan sudoku level genius di BB pada menit ke 18 tanpa terjadi perpanjangan waktu, apalagi pinalti!

Saya senang. Saya tertawa dalam hati. Saya tersenyum licik seperti tokoh ibu-ibu antagonis dalam sinetron malam (tolong jangan dibayangkan). Bahkan orang sejenius Einstein pun tidak pernah menyelesaikan sudoku di dalam BB. Seumur hidupnya! Yakin!

Yah, apa mau dikata..

Inilah hasil dari bertahun-tahun makan nasi dan indomie, hai orang Amerika! Jangan sombong hanya karena bisa bikin bom atom.. bikin mobil, bikin lampu, bikin roket,.. saya disini telah berhasil memecahkan puzzle sudoku yang kalian buat dengan susah payah itu. Camkan itu!

Laknatlah para penghafal angka!!


Hujan mu Bukan Hujan ku

10 November 2013

Entah kenapa saya menulis judul yang seperti FTV ini. Bikin rindu masa muda saja.. Tapi, mungkin saya memang merindukan masa lalu. Saya sendiri sering tersindir dengan tulisan saya. Kelihatan sekali kalau saya ini sering membanding-bandingkan yang satu dengan yang dua. Apalagi perbandingan tentang jaman.

Saya sering sekali mendengar orang-orang yang membandingkan jaman. Biasanya kalimat ini dibuka dengan “waktu jaman aku dulu,.. blablabla”. Kita sadar, ada rasa kompetisi dalam kalimat tersebut. Selalu tentang menang-kalah, baik-buruk. Kita selalu membela jaman yang kita lalui meskipun terkadang kita sering menyesal terlahir di waktu yang kurang tepat.

Saya juga pernah membangga-banggakan jaman yang pernah saya lewatkan, lalu biasanya akan saya poles dengan sedikit tehnik hiperbola dan membuang beberapa yang buruk untuk kemudian saya bungkus menjadi sebuah jaman sempurna dimana yang mendengarkan akan menyesali mereka tidak terlahir duluan. Kitalah orang-orang yang ingin selalu tampak hebat. Ingin menang dan mengharamkan kalah. Kita manusia yang dibentuk oleh pusaran waktu yang pada akhirnya bingung sendiri menemukan kenyataan yang harus dihadapi. Kita masih merasa masa lalu selalu menjadi milik kita. Tertanam penuh di bagian terdalam otak.

Yang saya curigai, bukan masalah kompetisi menang-kalah, baik-buruk, ataupun terlihat hebat-bodoh. Mungkinkah kita ingin menutupi rasa malu? Sebuah kenyataan yang berdampak pada sebuah harga diri? Mungkin kita memang telah melewati jaman yang berbeda. Melewati kondisi dan keadaan yang tidak sama. Tapi apa yang kita bicarakan adalah hari ini. Jaman sekarang. Waktu yang sama. Masihkah mau berpaling? Menyangkal kebodohan dan rasa malu? Meskipun yang lalu kita adalah beda, tapi yang sekarang kita adalah sama. Masa lalu biarlah menjadi air. Mengalir, di belakang, dengan arusnya sendiri, dan perlahan terlupakan.

Tapi saya adalah orang yang keras kepala. Saya mencoba berbeda. Menjadi minoritas. Dan saya akan tetap berjalan dengan kesombongan jaman saya..

Padang, 5 November 2013


K

10 November 2013

Musim hujan tanpa musik sungguh haram hukumnya. Ibarat ingin makan indomie goreng, tapi mie nya tetap saja direbus, tidak pernah digoreng.. Aneh, bingung, dan terlalu biasa.

Saya kemaren coba-coba bikin cerpen. Diiringi hujan nan syahdu, akhirnya mata jadi layu, untung tidak melambay unyu..

Di hari pertama, hujan berhasil menghipnotis saya. Benar-benar kekuatan alam yang dasyat. Mampu menidurkan mata saya. Saya sempat saja tak percaya hujan melakukan itu kepada saya. Hufth.. Hari kedua, saya tertidur lagi! Bukan main… tapi bukan karena hujan, tapi habis nguras bak mandi, jadi capek. Tak terhindarkan memang. Gagal juga.. Hari ketiga, saya main angry bird. Dan lupa mau nulis cerpen apa. Gak penting memang.. Dan hari-hari berlanjut tanpa ingatan akan cerpen.. ah, akhirnya saya tidak jadi menulis pertarungan sikomo vs ultraman di planet namec.. Sayang sekali, memang. Kurang ajar sekali kepala saya ini.

Lalu mengapa tiba-tiba saya ingat sosok kugy?


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: