Uang-uang Nista


Saya adalah termasuk orang yang membenci uang. Tidak mungkin saya bermainstream-ria menjadi pemuja uang. Saya lebih memilih menjadi minoritas. Meskipun konsekuensinya sangat sering tidak menyenangkan.

Kebencian saya berawal dari susahnya mendapat uang ketika kecil. Dunia anak-anak selalu mengharuskan kita harus memiliki apa yang kita lihat. Waktu kecil saya suka sekali majalah BOBO. Sedangkan ke kota hanya sekali seminggu, karena jarak rumah saya yang jauh. Jadi seminggu sekali saya harus berakting anak teraniaya demi mendapat apa yang saya inginkan. kesempatan saya cuma satu kali dalam 7 hari. Untunglah waktu kecil saya jarang jajan sana-sini, jadi permintaan saya membeli majalah kadang-kadang dipenuhi, minimal satu majalah dalam sebulan. Perjuangan yang panjang memang. Bukannya orang tua saya pelit, tapi karena harga majalah pada waktu itu tidaklah murah dibanding kebutuhan-kebutuhan primer lainnya. Selain itu, masih ada empat kepala lainnya yang harus dihidupi selain saya. Karena itulah, bahan bacaan adalah harta paling berharga bagi saya hingga sekarang.

Kebencian akan uang terus berlanjut dengan mengharuskan kita melakukan apapun dengan uang. Hingga ke urusan WC. Seolah tanpa uang kita tidak bisa hidup. Belum lagi kehidupan modern yang mewajibkan masyarakatnya harus bekerja demi uang, dan hidup demi uang. Uang menjadi lingkaran setan ketika hidup untuk mencari uang, dan uang dipakai untuk hidup..

Uang menjadi momok pengikat rutinitas manusia. Saya juga sering merasakan tidak ingin keluar rumah ketika tidak sedang memegang uang. Dan anak kost adalah kaum dominan yang sering diperbudak masalah ini. Apalagi kalau kirimannya telat. Dunia terbatas hanya pada masalah nominal dan angka-angka. Dunia yang sering dilewati orang-orang miskin dengan jalan tol kematian.

Karena menjadi kebutuhan primer dan mendapatkannya yang susah, uang akhirnya saya benci. Saya buang. Saya tidak ingin melihatnya. Untuk itulah setiap mendapat uang pasti segera saya habiskan. Karena kebencian inilah, saya pura-pura terlihat boros. Saya dianggap tidak suka menabung. Banyak juga yang menganggap saya tidak pandai menyimpan uang. Padahal mereka salah. Mereka termakan trik murahan. Saya berpura-pura seperti itu sebenarnya sudah saya rencanakan. Karena saya membenci uang. Maka dari itu, uang akan menjadi musuh utama saya. Ketika bertemu akan langsung saya habiskan. Akan saya buang. Saya campakkan, dengan senang hati tentunya. Tanpa penyesalan. Bahagia Mungkin. Semakin banyak yang saya buang, semakin senang hati saya..

Dan sekarang lihat, saya sedang membakar uang dikegelapan malam. saya bakar dengan senang -ria. Saya tersenyum dan terbatuk. Oh, ternyata kemasukan asap.. Dan inilah saya. Si kaum minoritas nan aduhai..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: