Pembelaan Sang Pemalas

31 Desember 2013

Kegiatan saya akhir-akhir ini membaca beberapa artikel online. Dan saya mulai tidak menyukai tulisan-tulisan orang-orang yang berhasil dan dengan hebatnya menginjak-injak yang gagal baik dengan sindiran langsung maupun denotasi yang agak keras.

Sebelumnya saya juga tidak terlalu menyukai buku-buku sejenis motivasi, bisnis, pencapai kesuksesan dan tips-tips menjadi hebat lainnya. Skripsi saya yang menyelami hubungan sastra dan psikologi tambah memperkuat keyakinan saya akan uniknya manusia sebagai individu dan terkutuklah Freud dan pengikutnya.

Generalisasi adalah hukum penjamakkan kejam yang amat subjektif. Hal ini biasanya terjadi kepada orang-orang yang malas berpikir atau orang-orang sok tau dengan info yang minim. Mental menghakimi memang tumbuh subur di negara serba kolektif ini. Asal ada temannya, melakukan kesalahanpun tak apa. Yang penting rame-rame.

Kembali ke masalah awal, saya mulai mengutuki orang-orang semacam ini. Mereka menulis kesuksesan (?) seolah kerja keras mereka telah terbayar. Dan mereka yang gagal akan dipinggirkan bahkan dianggap pemalas dan kurang berusaha. Sebagian akan menulis, bahwa mereka juga masih dalam proses (prase semacam ini saya pahami sebagai gaya bahasa untuk menghindari hinaan yang terlalu keras kepada target). Misalnya begini: “kebanyakan anak muda sekarang menyia-nyiakan masa muda mereka, malas berusaha dan tidak disiplin. Saya walaupun telah berprestasi, tetap saja akan terus berusaha blablabla….”. Tulisan semacam inilah yang saya maksud. Menjatuhkan, tapi pura-pura ikut sakit. Entah analoginya tepat apa tidak.

Orang-orang jenis ini, motivator, ataupun orang-orang yang merasa telah sukses dan berhak menggurui kaum yang gagal (saya sebut: belum sukses) mulai menjamur bersama buku dan berbagai tulisan. Untung saja saya sempat mempelajari Alfred Adler, jadi saya mulai mempunyai sudut pandang baru mengenai pemahaman tiap manusia. Menilai orang-perorang secara subjektif tentu saja salah. Apalagi menjamakkan. Tiap individu punya kisah hidup berbeda dan pemahaman akan dunia yang berbeda. Jika saja seorang pebisnis yang tentu saja sangat sibuk dibandingkan dengan seorang budhis, akan terlintas cepat mana yang malas mana yang pekerja keras. Inilah akibat sudut pandang satu aspek bila diamati secara subjektif. Penilaian hanya terbatas hitam dan putih..

Tulisan saya tentu saja tak pernah menawarkan solusi. Saya hanya pengamat sok keren saja. Namun yang harus diingat, semua ada waktunya, masanya. Momentum. Ada yang suksesnya diusia 30, ada yang 70. Ada yang gagalnya sekarang, ada yang gagalnya nanti. Nasib hanya permainan Yang Kuasa. Janganlah kita mengejek garis nasib. Berusaha atau tidak, tidak akan pernah ada yang tau. Karena hati dan pikiran, terlalu dalam untuk diselami hanya dengan logika. Dan kebanyakan orang sangat sibuk didalam pikirannya.. Dan juga, hanya orang-orang bernyali yang bisa mengejek ketika berada ‘di bawah’..


Otak Desember

20 Desember 2013

Karena saya sedang berada dipadang, saya akan membahas tentang kerbau. Kerbau adalah binatang sejenis sapi cuma dari kampung. Mainnya aja dilumpur, ga pernah dikandangin, tapi sering dicap negatif sama orang kota, kumpul kebo lah, dijadikan bahan ejekan juga, dan sering diasumsikan sebagai pemalas. Kasihan.

.

Jadi, ada 2 orang bego yang datang ke Padang. Yang satu orang Inggris, yang satu orang Jawa. Karena dua-duanya bego, jadi enak pas dijahilin. Terus saya tanya pendapat mereka tentang daging kerbau. Yang orang Inggris, bilang kalo daging kerbau itu a lot (banyak). Yang orang Jawa juga bilang alot (keras). Karena dua-duanya bego, saya ketawa aja.

.

Salahkah orang-orang ini? Meskipun jawabannya sama-sama “alot”, pemahaman keduanya ternyata berbeda. Saya menganalogikan kasus diatas sebagai bentuk kejadian dalam keseharian kita.

.

Ketika dua orang berdebat, keduanya menyakini apa yang mereka pahamilah yang benar. Mereka bersikeras bahwa pemahaman mereka yang paling benar. Dan tidak akan berhenti sampai salah satu dari mereka mengalah. Mengalah berarti kalah, kalah berarti kehilangan harga diri. Bukan begitu, kita?

.

Kenyataannya, dua orang bego diatas tidaklah salah, cuma mereka tidak sepenuhnya benar. Ibarat cerita 3 orang buta yang mencoba mengenal Gajah. Keduanya hanya belum dipertemukan titik tengah. Atau bisa jadi daging kerbau memang banyak yang keras, atau kerasnya lebih banyak.. Entahlah, saya belum pernah makan daging kerbau.

.

Perbedaan pemahaman yang didasari keyakinan masing-masing sering membuat kita menutup kemungkinan yang lainnya. Yang pada akhirnya mempersempit dunia kita sendiri. Karena benar bagi kita, selalu berbeda dengan benar dari orang lain. Pengalaman ikut campur disitu. Maka dari itu, pahamilah secarah objektif. Cari tau mengapa ada alasan lain yang berbeda dengan pemahaman kita.  Tidak lantas menolak mentah-mentah tanpa pengetahuan yang cukup, Sekian.

*Selamat Ulang Tahun, Ibu, Mama, Hatta, Yesus, Isa A.S, AIDS, Juga Kalender.


Polusi Tidak Hanya Terjadi Pada Lingkungan

9 Desember 2013

Lalu kita namakan saja anak kita, Tuan… atau Raja.. atau Majikan..

Biar teman-temannya, gurunya, orang-orang, bahkan presiden mampu membahagiakan hatinya.. Ini lebih baik ketimbang kritikan saya dibawah ini,….

 

Tapi janganlah berandai, wahai anak manusia..

Kau namakan anakmu Muhammad, Yesus, Agung, Ali, Nur, Akbar, atau apapun yang membuat mereka menanggung beban harapanmu. Sesungguhnya kau hanya menanam asa kosong atas mimpi-mimpi yang tak terbangunkan.

 

Segampang itukah membangun anakmu? Menamainya sekaligus Muhammad Ali Akbar akan membuatnya menjadi lebih dari segala-galanya bahkan pemilik asli nama tersebut?

 

Kembalikanlah logika. Tempat dimana kecerdasan seharusnya. Pendidikan orang tua dan lingkunganlah yang terpenting. Jangan buat nama menanggung beban segala harapan. Mungkin inilah maksud apalah arti dari sebuah nama – shakesphere. Karena manusia tidak dipandang dari nama yang ia bawa. Manusia berharga dari kehidupannya.

 

Kita ini terlalu berharap. Menamai anak tinggi-tinggi, dengan alasan si anak akan membawa kehebatan akan nama yang disandangnya. Pengaruhnya akan baik jika anak berkembang seperti yang diharapkan. Tapi jika kemungkinan terburuknya, si anak malah menjadi perusak nama yang sebelumnya disandang orang-orang hebat yang dibawanya, akankah mencemari, atau bahkan mengaburkan sejarah orang tersebut. Seorang koruptor dengan menyandang nama Muhammad bukankah memperburuk citra nabi yang agung tersebut? Lalu orang-orang menjadi tidak peduli dengan nama yang disandangnya.. Tak ada yang disalahkan. Harapan orang tua akan nama pupus sudah. Mengambang seperti kentut. Tak berbekas tapi malu juga.

Lalu, masihkah kita berharap pada sekedar nama? Saran saya, Jangan.


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: