Pembelaan Sang Pemalas


Kegiatan saya akhir-akhir ini membaca beberapa artikel online. Dan saya mulai tidak menyukai tulisan-tulisan orang-orang yang berhasil dan dengan hebatnya menginjak-injak yang gagal baik dengan sindiran langsung maupun denotasi yang agak keras.

Sebelumnya saya juga tidak terlalu menyukai buku-buku sejenis motivasi, bisnis, pencapai kesuksesan dan tips-tips menjadi hebat lainnya. Skripsi saya yang menyelami hubungan sastra dan psikologi tambah memperkuat keyakinan saya akan uniknya manusia sebagai individu dan terkutuklah Freud dan pengikutnya.

Generalisasi adalah hukum penjamakkan kejam yang amat subjektif. Hal ini biasanya terjadi kepada orang-orang yang malas berpikir atau orang-orang sok tau dengan info yang minim. Mental menghakimi memang tumbuh subur di negara serba kolektif ini. Asal ada temannya, melakukan kesalahanpun tak apa. Yang penting rame-rame.

Kembali ke masalah awal, saya mulai mengutuki orang-orang semacam ini. Mereka menulis kesuksesan (?) seolah kerja keras mereka telah terbayar. Dan mereka yang gagal akan dipinggirkan bahkan dianggap pemalas dan kurang berusaha. Sebagian akan menulis, bahwa mereka juga masih dalam proses (prase semacam ini saya pahami sebagai gaya bahasa untuk menghindari hinaan yang terlalu keras kepada target). Misalnya begini: “kebanyakan anak muda sekarang menyia-nyiakan masa muda mereka, malas berusaha dan tidak disiplin. Saya walaupun telah berprestasi, tetap saja akan terus berusaha blablabla….”. Tulisan semacam inilah yang saya maksud. Menjatuhkan, tapi pura-pura ikut sakit. Entah analoginya tepat apa tidak.

Orang-orang jenis ini, motivator, ataupun orang-orang yang merasa telah sukses dan berhak menggurui kaum yang gagal (saya sebut: belum sukses) mulai menjamur bersama buku dan berbagai tulisan. Untung saja saya sempat mempelajari Alfred Adler, jadi saya mulai mempunyai sudut pandang baru mengenai pemahaman tiap manusia. Menilai orang-perorang secara subjektif tentu saja salah. Apalagi menjamakkan. Tiap individu punya kisah hidup berbeda dan pemahaman akan dunia yang berbeda. Jika saja seorang pebisnis yang tentu saja sangat sibuk dibandingkan dengan seorang budhis, akan terlintas cepat mana yang malas mana yang pekerja keras. Inilah akibat sudut pandang satu aspek bila diamati secara subjektif. Penilaian hanya terbatas hitam dan putih..

Tulisan saya tentu saja tak pernah menawarkan solusi. Saya hanya pengamat sok keren saja. Namun yang harus diingat, semua ada waktunya, masanya. Momentum. Ada yang suksesnya diusia 30, ada yang 70. Ada yang gagalnya sekarang, ada yang gagalnya nanti. Nasib hanya permainan Yang Kuasa. Janganlah kita mengejek garis nasib. Berusaha atau tidak, tidak akan pernah ada yang tau. Karena hati dan pikiran, terlalu dalam untuk diselami hanya dengan logika. Dan kebanyakan orang sangat sibuk didalam pikirannya.. Dan juga, hanya orang-orang bernyali yang bisa mengejek ketika berada ‘di bawah’..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: