Cita-cita yang Tiba-tiba

24 Maret 2014

Senja sore yang berhujan mulai menawarkan rindu pada ramainya mimpi. Rintiknya membawa jatuh ingatan waktu yang telah tergerus dan perlahan menumbuhkan tanya. Pelan-pelan kenangan mengalir disela air-air yang tergenang.

Mimpiku yang sederhana, akhirnya terbayang seiring rintik yang mulai menderas..

 

INI MIMPI SEMOGA JADI

Mimpi ku sederhana.

Aku cuma ingin bermain Angry birds bersamamu.

Iya, cuma itu.

Berdua saja.

Di dalam kamar.

Di samping garasi mobil Ferrari kita.

Tiap sehabis pulang liburan dari Italia.

Di dalam rumah Enam tingkat kita.

Kita bahagia.

Bersama anak, dan 43 pembantu…

Amin.


Kacang Yang Tidak Butuh Kulit

9 Maret 2014

Tadi saya baru saja nonton film Jepang di tv berbayar, lumayan bagus. Ceritanya tumben ga pake romansa-romansa ala Asia Timur. Filmnya tentang berandalan yang dari kecil sudah dicampakkan orang tua, masyarakat dan orang-orang terdekatnya. Hidupnya diisi kemarahan, bahkan di penjara pun ia pukuli semua polisinya (saya suka adegan polisi dipukuli ūüôā . Satu-satunya hal yang ia percaya cuma kepalan tangannya.

Sampai suatu hari ia bertemu tahanan seorang petinju profesional. Di dalam penjara ia mulai melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.. Hasrat! Dia mulai mempunyai keinginan. Belum pernah ia merasa sehidup itu ketika ia naik ke atas ring tinju. Sampai ia menggeluti tinju dengan serius hanya untuk bertarung lagi dengan si petinju profesional. Kali ini tanpa amarah, tak ada dendam.. ia cuma merasa hidup ketika melakukannya..

Dasyat sekali film ini, pikir saya. Storytelling nya bagus. Alurnya, anti-klimaks nya, cuma kualitas gambarnya yang kurang memadai, mungkin gara-gara menyesuaikan settingnya yang tahun 60-an..

Lalu saya “tersentil” setelah menyadari pesan yang ingin disampaikan penulisnya. Saya mulai berpikir menimbang benar-salah dalam pesan cerita film ini. Seorang berandal yang sebatang kara dan dibuang kehidupan saja mempunyai hasrat untuk merasakan hidup. Ia berusaha untuk mempunyai sebuah keinginan.

Hah! Tersinggung sekali saya rasanya.. Saya seolah ditantang lagi untuk merasakan hidup. Merebut apa yang seharusnya saya punya.  Sudah beberapa tahun saya melepaskan hidup. Melangkah tanpa hasrat, seolah tak ada keinginan. Entah kapan terakhir kali saya tertawa. Saya juga lupa kapan terakhir saya menjadi hiperaktif. Hidup menjadi monoton, tidak dinamis, maya, dan tanpa tantangan..

Saya kehilangan hidup ketika terjadi momentum yang terlalu rapuh untuk dikembalikan. Dan butuh momentum juga untuk menghapusnya. Dan sepertinya saya juga tidak berusaha untuk menciptakan momentum tersebut. Karena saya sadar, resikonya yang terlalu tinggi untuk di barter. Dan ini bukan saatnya. Walau bukan anak ekonomi, tapi saya tau terlalu banyak ruginya. Yasudah, semoga momentum saya segera datang dan dunia masih terang..


Gerilya dengan-Mu

7 Maret 2014

Kehidupan akhir-akhir ini mulai keras.. Saya terpaksa dibikinnya sedikit serius. Kemampuan beradaptasi saya mulai tumpul. Sedikit nostalgia kembali membuat saya terlena. Menjadi kurang waspada..

Sebenarnya malas sekali membuat diri saya serius. Selain menghabiskan banyak energi, keseriusan bisa membuat hidup terlalu gersang, garing, tidak punya warna, dan kaku. Mode serius kadang saya aktifkan jika hanya ada kejadian-kejadian penting saja. Seringnya jika saya menghadapi masalah dalam kesendirian tanpa campur tangan siapapun.

Saya mungkin tipe yang intovert perfectionist. Menjadikan semua hal tentang saya tidak mudah dibaca. Keadaan seperti ini perlu diterapkan ketika menghadapi semua hal baru untuk beradaptasi. Sisi buruknya, saya menjadi single fighter atas apapun yang saya hadapi. Dunia seperti ini harus saya geluti ditiap harinya. Sendirian.

Untuk itulah saya tak bisa lepas dari rokok. Teman sejati para penyendiri..

Beberapa kali saya coba untuk menulis namun gagal.. Ide-ide banyak berdatangan ketika saya mendekati tidur, tapi tetap saja malas sekali menuliskannya, ditambah lagi ingatan saya buruk. Sehingga keesokan harinya, ide-ide tersebut bubar entah kemana.

Dengan beban sebagai seorang mahasiswa sastra, tentu saja saya mempunyai keharusan menelurkan sebuah karya. Karya yang layak. Bertahun-tahun saya mencoba berproduksi, sayang gagal. Semua buntu akibat harga diri. Gara-gara sayanya terlalu anti-mainstream, menuju kelas minor. Dunia yang sebenarnya utopia itu, entah sanggup atau tidak saya membuatnya..

Ah, kembali ke masalah serius tadi.. Saya sebenarnya sedang dililit masalah anak muda kebanyakan, masalah masa depan. Mau tidak mau akhirnya kepikiran juga. Kampret sekali rasanya kalau di ingat-ingat. Saya yang cuma ingin hidup santai ini, ternyata juga harus memikirkan masa depan. Walaupun masa depan yang saya pikirkan tetap saja tentang menciptakan kehidupan yang santai..

Sepertinya, sudah saatnya saya harus meninggalkan adaptasi ini.. Topeng ini layak dibuka, saya perlu udara segar. Sepertinya saya harus kembali merangkul si ransel sekali lagi, kembali lebih dekat ke Illahi. Karena ada beberapa hal yang harus saya diskusikan lagi kepada Tuhan. Semoga jalan keluar yang diberikannya kali ini tak terduga seperti biasa, Amin.

 

And i hope there is a place for me to call home..


Sialan Rendra ! Sialan Chairil !

7 Maret 2014

Mendengar lagi sajak-sajak mereka berdua kembali membuat saya menumpahkan amarah. Emosi saya meninggi karena saya bahkan tidak bisa mendekati mereka. Marah saya meluap lagi-lagi menyadari kalau saya begitu jauh dari mereka. Mengapa kalian bisa sehebat itu, inspirasi?

Mungkin jika mereka berdua masih hidup, malu sekali saya yang sekarang bertemu mereka. Bisa-bisa saya di bodoh-bodohin..  Sungguh, telak sekali saya memikirkan karya-karya mereka dibanding pemikiran saya. Kurang ajar betul. Mengapa bukan saya saja yang membuat lebih dulu..

Dan sialnya, kematian membuat kalian tambah hebat saja. Makin banyak saja yang menunggu rindu. Sial! Entah marah seperti apalagi yang harus dibuat. Agar emosi ini menuai percikan untuk bangkit. Karena ada sesuatu yang telah jatuh dan berusaha naik. Jatuh yang disembunyikan untuk tidak diperlihatkan. Kembangkitan yang memerlukan momentum.. Momentum yang lebih keras daripada sekedar kematian..

Jangkauan ini terlalu berbeda.. Ini bukan masalah sepele. Ini  tidak sekedar masa depan. Ini harga diri! Harga yang dibawa nama dan tubuh ini. Ini masalah MATI! Sepantas apa seseorang untuk meninggalkan hidup. Tapi saya belum menyerah, hei kalian! Suatu hari. Pasti. Nanti. Kalian yang akan mengejar punggung ini..

 

Padang, 25 Februari yang kebetulan Selasa. 2014

– Frans A –


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: