Kacang Yang Tidak Butuh Kulit


Tadi saya baru saja nonton film Jepang di tv berbayar, lumayan bagus. Ceritanya tumben ga pake romansa-romansa ala Asia Timur. Filmnya tentang berandalan yang dari kecil sudah dicampakkan orang tua, masyarakat dan orang-orang terdekatnya. Hidupnya diisi kemarahan, bahkan di penjara pun ia pukuli semua polisinya (saya suka adegan polisi dipukuli 🙂 . Satu-satunya hal yang ia percaya cuma kepalan tangannya.

Sampai suatu hari ia bertemu tahanan seorang petinju profesional. Di dalam penjara ia mulai melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.. Hasrat! Dia mulai mempunyai keinginan. Belum pernah ia merasa sehidup itu ketika ia naik ke atas ring tinju. Sampai ia menggeluti tinju dengan serius hanya untuk bertarung lagi dengan si petinju profesional. Kali ini tanpa amarah, tak ada dendam.. ia cuma merasa hidup ketika melakukannya..

Dasyat sekali film ini, pikir saya. Storytelling nya bagus. Alurnya, anti-klimaks nya, cuma kualitas gambarnya yang kurang memadai, mungkin gara-gara menyesuaikan settingnya yang tahun 60-an..

Lalu saya “tersentil” setelah menyadari pesan yang ingin disampaikan penulisnya. Saya mulai berpikir menimbang benar-salah dalam pesan cerita film ini. Seorang berandal yang sebatang kara dan dibuang kehidupan saja mempunyai hasrat untuk merasakan hidup. Ia berusaha untuk mempunyai sebuah keinginan.

Hah! Tersinggung sekali saya rasanya.. Saya seolah ditantang lagi untuk merasakan hidup. Merebut apa yang seharusnya saya punya.  Sudah beberapa tahun saya melepaskan hidup. Melangkah tanpa hasrat, seolah tak ada keinginan. Entah kapan terakhir kali saya tertawa. Saya juga lupa kapan terakhir saya menjadi hiperaktif. Hidup menjadi monoton, tidak dinamis, maya, dan tanpa tantangan..

Saya kehilangan hidup ketika terjadi momentum yang terlalu rapuh untuk dikembalikan. Dan butuh momentum juga untuk menghapusnya. Dan sepertinya saya juga tidak berusaha untuk menciptakan momentum tersebut. Karena saya sadar, resikonya yang terlalu tinggi untuk di barter. Dan ini bukan saatnya. Walau bukan anak ekonomi, tapi saya tau terlalu banyak ruginya. Yasudah, semoga momentum saya segera datang dan dunia masih terang..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: