Boleh Bodoh tapi, Jangan Kelewatan..

25 April 2014

Tumbenlah saya hari ini mau mengantarkan matahari pulang. Di senja yang tenang menjelang hujan, saya hidupkan sebatang rokok sebagai tanda perpisahan.. Sebelumnya saya juga masak mie rasa Tom Yang (huek!) yang saya kawinkan dengan segelas kopi hitam agak manis. Tidak cocok memang. Mie dan kopi adalah pasangan aneh. Namun, karena mereka ada di Indonesia, mereka harus memegang teguh bhineka tunggal ika dan bersatu padu di perut saya..

Setelah sedikit kenyang, saya lanjutkan mengetik tulisan ini sambil nonton Marsha and The Bear. Jadilah saya manusia multitasking dengan rokok, kopi, ngetik, nonton, dan dengerin lagu piyu yang baru. Habis sudah indera saya. Semua terpakai tanpa ampun, pantesan saya ga pinter-pinter..

Oya, tadi saya sekilas baca sajak Khalil Gibran. Ada yang aneh dengan terjemahannya, mungkin terbitan lama.. Tapi agak mengganggu, jadi saya coba-coba memaknai dengan bahasa inggris. Ternyata sama sulitnya. Interpretasinya jadi aneh. Saya menyerah, mungkin belum waktunya saya membedah yang sekelas Gibran. Karena kesal, saya pandangi luar jendela agak lama. Bukan mencari inspirasi, tapi tumben saya memikirkan otak saya.

Agak lucu memikirkan bahwa otak saya disuruh memikirkan tentang otak, tentang dirinya sendiri. Saya mulai bertanya, apa sih yang otak saya bisa? Ingatan saya buruk, tapi keingintahuan saya begitu besar. Dan saya mulai meragukan kinerja otak saya. Otak saya seperti makan gaji buta. Kata para ilmuwan, otak manusia saat ini rata-rata hanya terpakai kurang dari 10 persen dari kemampuan maksimalnya. Kata si Freud, Otak manusia akan mampu melewati batas 10 persennya jika berada di alam bawah sadar.

Nabi Adam, dengan title-nya sebagai manusia sempurna, pasti kemampuan otaknya mencapai 100 persen. Lantas, kenapa sekarang manusia hanya dapat angka dibawah 10 persen..? Korupsi? Ah, pasti bukan, itu kan kerjaan pejabat.. Evolusi? Evolusi itu meningkat bukan menurun.. Karma? Dosa apa hingga otak jadi turun derajat.. Kesengajaan? Hmmm.. bisa jadi.

Mungkin, lebih tepatnya, ketika manusia mampu menghasilkan benda-benda yang mempermudah kinerjanya, ia akan menurunkan fungsi otaknya. Contohnya: kalkulator. Semenjak barang ini ditemukan, entah berapa banyak manusia yang masih mau berpikir untuk menghitung. Komputer, Handphone, TV, Mobil, Pesawat, dan semua tekhnologi sama saja. Sejak roda ditemukan, manusia sepertinya mulai dengan sengaja menurunkan fungsi otaknya.. Kemajuan jaman yang berdampak kebodohan massive.

Untuk itulah kemudian muncul peribahasa modern: HP nya smartphone, Orangnya goblok. Banget. Tekhnologi yang diagungkan untuk mempermudah manusia, ternyata berdampak besar terhadap kemalasan kerja otak. Hingga sekarang kita cuma mampu mengakses 2-7 persen kemampuan otak. Padahal otak manusia termasuk senjata berbahaya, lho. Karena manusia punya akal dan nafsu, ditambah potensi otak yang tak terbatas, membuat Bumi ini seperti tempat kecil saja. Dan sayangnya, hanya sedikit orang yang mau sadar akan potensi otaknya. Kebanyakan orang mengira membaca banyak buku, menghapal teori-teori, rajin berhitung, berlatih debat-debat, akan membuat kemampuan otaknya meningkat..

Padahal pintar dan cerdas itu sangat berbeda. Pintar, itu hanya masalah ingatan. Seberapa kuat otakmu bisa mengingat apa yang pernah dibaca, dihitung, dan dirapalkan. Dan ibarat memori di komputer, otak seperti itu hanya menjadi tempat penyimpanan data.. Kau hanya mengeluarkan apa yang pernah masuk di otakmu. Sedangkan Cerdas, adalah bagaimana seseorang menggali lagi potensi otaknya. Ibarat memori di komputer, cerdas adalah harddisk eksternal tambahan. Otak dibuat berevolusi. Melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Kecerdasan lebih kearah menghadirkan sesuatu yang sebelumnya tak terpikirkan. Melampaui imajinasi. Otak tidak hanya dipakai berpikir dan mengingat, tetapi juga berimajinasi, mencipta, menambah, juga mensiasati.

Kecerdasan manusia memang infinite. Sayangnya, itu bisa terjadi jika otak berada di kemampuan maksimalnya. Dan semenjak tekhnologi menjadi jajanan massa, otak kita menjadi turun kelas. Bagaimana dengan kemajuan jaman? Kita membandingkan manusia 100 tahun yang lalu belum punya mobil, pesawat, handphone, komputer, blablabla.. Sekarang gedung sudah mulai menjadi Icarus, Dewa yang mencoba meraih matahari, mobil hampir punya sayap, kabel mulai ditinggalkan, dunia nyata hanya sebesar kotak 21 inchi, dll.

Kita tidak menjadi semakin pintar, hanya segelintir orang yang menjadi cerdas. Kita hanya kebetulan hidup dan ada di antara mereka. Kita hanya penikmat kecerdasan mereka. Kita hanya menjadi konsumen dunia mereka. Manusia di jaman 100 tahun yang lalu pun, jika hidup di jaman sekarang tidak kalah hebatnya jika cuma ingin mengoperasikan handphone atau komputer.. Kita hanya kebetulan ada di jaman yang maju. Maju karena kerja otak segelintir orang. Jaman dimana kita hanya menjadi penonton yang merasa telah berbuat banyak hanya karena telah membeli tiket masuk ke pertandingan.

Ah, filmnya sudah habis. Dan hujan mulai menunjukkan taringnya ala anak STM, keroyokan.. Baiknya saya berhenti dulu menulis dan ingin berkencan dengan hujan dulu. Biarlah masalah otak kita selesaikan masing-masing. Toh, Tuhan sudah memberikan jatah satu orang satu otak.. Cobalah sesekali pergi ke gunung. Otak pun merupakan bagian tubuh yang harus diolah, agar segar dan lebih jernih dengan udara yang bersih. Siapa tau juga nanti ketemu saya di sana.. hehe

 

*hati-hati dengan racikan kopi yang terlalu manis, lihatlah tulisan di atas sebagai akibatnya.. Atau gara-gara kuah mie Tom Yang? Ah, yang penting jangan lagi..

Iklan

Untuk Itulah Otak Ada di Atas

24 April 2014

Iklan adalah salah satu bentuk hiperbola perfeksionis tersering yang kita temukan. Selain lebay, ploduk-ploduk yang ditawarkan iklan juga sering melampaui imaji kita. Ada yang percaya, ada yang acuh, kadang banyak yang terlena. Ego kita diuji dengan tipuan yang terlalu sering. Saking seringnya, bahkan kita terlampau tak peduli dengan iklan-iklan yang berseliweran di Tipi-tipi. Yang paling kita ingin ketahui cuma 2: iklan baru, atau produk baru yang ditawarkan..

Kadang, ketidaksadaran inilah yang membuat hal-hal lucu jadi bermakna. Iklan-iklan di tipi layaknya kerikil dijalanan. Banyak, sering kita jumpai, tapi tak diperhatikan, tercuekkan. Salah satu momen yang membuat kita tersadar akan kehadirannya, adalah saat ia menghilang.

Hal-hal yang terjadi terlalu sering kadang memang menjemukan, bikin bosan. Membuat kita cuek dan kadang tak peduli. Hal-hal sama yang terjadi berulang dan monoton, de javu, juga rutinitas. Kita sadar, tapi lebih banyak tak perduli. Beberapa bertahan, sebagian keluar..

Semua hal yang terlalu sering akan membuat jemu, dan membuat kita jadi antipati bahkan muak. Untuk itu seringkali kita tidak perdulikan. Dan baru akan kita sadari ketika hal yang terlalu sering itu akhirnya menghilang. Lalu perlahan menumbuhkan rindu. Rindu dan ditunggu..

Artinya, ada dua peran di sini. Objek dan Subjek. Saya seperti biasa, menjadi tidak keduanya.. Saya hanya rimbun pohon yang meneduhkan kerikil, atau saya adalah tanah yang menjadi tempat berpijak saja..

Saran saya, jangan jadikan segala sesuatu menjadi terlalu sering, sama, monoton, atau berulang. Kalo kata Chairil: “Sekali, kemudian berarti”. Kuncinya adalah makna. Seberapa dalam bisa memberi arti. Seberapa kuat akar dapat tertanam. Seberapa kuat kesan terlekat. Karena sering, hanya akan menjadi basa-basi..

Dunia memang terus bergerak, banyak menghadirkan hal yang sama dan terus berulang. Tugas kita bukan hanya mengambil kano untuk mengikuti arus. Terkadang kita harus mengambil cangkul membuat jalur sungai sendiri, untuk mencoba hal-hal baru, mencoba merasakan aliran yang kita buat sendiri. Merasakan buah kerja keras yang tercipta dari butiran keringat kita sendiri. Sekalipun cangkul yang kita pakai harus berlumur darah hingga menggesek tulang.

 

Berjalanlah Kawan temukan pemandangan diluar jendela kamarmu,…

 


Saya adalah Neutronboy

14 April 2014

Kita adalah orang-orang yang masih belajar, jadi jangan takut salah. Terkadang, kesalahan diulangi karena memang asik. Bukan karena tidak jera, tapi lebih kepada nilai kerelaan. Atau dalam bahasa saya pantas untuk dilakukan, karena resiko yang bakal terjadi sudah siap saya tanggung.

Dunia yang katanya sebentar ini haruslah dinikmati tiap detik dan detailnya. Dengan begitu, kita bisa memperpanjang waktu yang sebentar ini.

Ada dua jenis manusia yang saya konsepkan dalam pikiran: manusia normal dan manusia baik. tidak ada penjahat atau manusia yang tidak baik. Manusia baik lebih kearah manusia yang hidupnya mempunyai nilai-nilai lebih kepada sifat dan sikap ikhlas dan rela. Terkadang mereka melepaskan keduniawian. Sedangkan manusia normal, hadir dengan segala atribut kemanusiaan mereka. Nafsu yang memang ‘diisi’ Tuhan, merupakan bagian dari sifat alami manusia. Ketika mereka berbuat jahat, itu karena mereka normal. Mereka manusia. Manusia yang menggunakan kenafsuan mereka untuk menjalankan hidup.

Kedua jenis manusia ini, terlanjur dihakimi berdasarkan keduniawian manusia. Kemunculan ”manusia jahat” tidak terlepas dari penghakiman manusia baik. Kalau saya bilang, mereka terperosok pada propaganda para mayoritas.

Sialnya, saya memasukkan diri saya tidak pada kedua konsep yang saya pikirkan ini. Karena saya malas sekali dikelompokkan. Jadi saya menjadi manusia ketiga saja, Manusia normal yang baik. Itu saya sebutkan, karena saya orang teregois dan kalian tidak boleh protes. Saya cuma ingin sendiri dan bisa menjadi bagian apapun. Bisa menjadi siapapun tanpa harus bergabung dengan salah satu bagian.

Hidup kadang menuntut seseorang untuk menjadi sesuatu. Dan saya akan berlaku sama kepada hidup. Saya mencoba memaksa hidup untuk menciptakan sesuatu. Karena apa? Karena saya tidak percaya takdir. Mungkin saya percaya nasib, tapi takdir biar saya buat sendiri.. :p

 

*tulisan hasil bangun tengah malam. Makanya, hati-hati dengan otak yang sudah lelah kalo tidak mau kejadian seperti saya..


Muramnya sang Dompet

12 April 2014

Belakangan mendung menjadi dominan.. Dunia jadi ga asik, tiada gairah, hantu kemalasan merasuk permanen. Isi TV politik terus. Gitar patah, suaranya sembar. Duit cekak, ga bisa kemana-mana. Maen game udah tamat semua. Dan kerajaan bosan terbentuk lagi..

Sudah hampir 3 bulan saya ga pernah lagi beli buku. Jadi aneh rasanya. Selain memang ga ada duit, buku bagi saya sekarang jadi kebutuhan ke 112. Ga penting-penting amat. Padahal dulu saya bela-belain wajib beli buku tiap bulan walau harus ngutang. Sekarang, jangankan beli pesawat, ngerokok aja seret.. HAH!

Tuhan sepertinya mulai menguji keimanan dompet saya.. Pemuda seperti saya memang kebanyakan bermasalah dengan keuangan, masalah global. Jadi males nulis… Gimana mau nulis, membaca saja aku sulit?

Hutang saya makin menumpuk, makin menguatkan tekad saya untuk jadi TKI setelah lulus kuliah. Sebuah perjalanan diatas kapal bakalan asik kayaknya. Saya bisa jalan-jalan gratis sambil menulis. Semoga saja tidak disetrika majikan :p

Sebenarnya banyak sekali yang mau saya tulis untuk dicermati dan dikaji seperti biasa, tapi malas ini sudah selevel gembel, malaaaaaass sekali. Jadi saya cuma tulis judul tema yang saya mau tulis saja di hp.

Dan lihatlah, lama-lama catatan ini akhirnya jadi diary. Sebuah bentuk catatan yang ingin saya hindari, karena terlalu bersifat melow dan mengikis tingkat kejantanan tiap lelaki. Diary biasanya berkonsep menye-menye dan keluhan. Sangat tidak dianjurkan bagi umum, karena karakter seseorang dapat terbaca. Dan hilanglah sisi kemisteriusan dari seorang laki-laki. :v .

Ya sudah, semoga 2 tahun ini saya sudah menemukan diri saya. Menjadi seseorang yang dapat mengejutkan dunia. Mendapat pengetahuan yang selalu saya cari. Dan melunasi hutang-hutang saya yang seperti air bendungan. Amin.

Oya, ternyata Ultraman ada yang warna hitam lho… Saya baru tau.


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: