Boleh Bodoh tapi, Jangan Kelewatan..


Tumbenlah saya hari ini mau mengantarkan matahari pulang. Di senja yang tenang menjelang hujan, saya hidupkan sebatang rokok sebagai tanda perpisahan.. Sebelumnya saya juga masak mie rasa Tom Yang (huek!) yang saya kawinkan dengan segelas kopi hitam agak manis. Tidak cocok memang. Mie dan kopi adalah pasangan aneh. Namun, karena mereka ada di Indonesia, mereka harus memegang teguh bhineka tunggal ika dan bersatu padu di perut saya..

Setelah sedikit kenyang, saya lanjutkan mengetik tulisan ini sambil nonton Marsha and The Bear. Jadilah saya manusia multitasking dengan rokok, kopi, ngetik, nonton, dan dengerin lagu piyu yang baru. Habis sudah indera saya. Semua terpakai tanpa ampun, pantesan saya ga pinter-pinter..

Oya, tadi saya sekilas baca sajak Khalil Gibran. Ada yang aneh dengan terjemahannya, mungkin terbitan lama.. Tapi agak mengganggu, jadi saya coba-coba memaknai dengan bahasa inggris. Ternyata sama sulitnya. Interpretasinya jadi aneh. Saya menyerah, mungkin belum waktunya saya membedah yang sekelas Gibran. Karena kesal, saya pandangi luar jendela agak lama. Bukan mencari inspirasi, tapi tumben saya memikirkan otak saya.

Agak lucu memikirkan bahwa otak saya disuruh memikirkan tentang otak, tentang dirinya sendiri. Saya mulai bertanya, apa sih yang otak saya bisa? Ingatan saya buruk, tapi keingintahuan saya begitu besar. Dan saya mulai meragukan kinerja otak saya. Otak saya seperti makan gaji buta. Kata para ilmuwan, otak manusia saat ini rata-rata hanya terpakai kurang dari 10 persen dari kemampuan maksimalnya. Kata si Freud, Otak manusia akan mampu melewati batas 10 persennya jika berada di alam bawah sadar.

Nabi Adam, dengan title-nya sebagai manusia sempurna, pasti kemampuan otaknya mencapai 100 persen. Lantas, kenapa sekarang manusia hanya dapat angka dibawah 10 persen..? Korupsi? Ah, pasti bukan, itu kan kerjaan pejabat.. Evolusi? Evolusi itu meningkat bukan menurun.. Karma? Dosa apa hingga otak jadi turun derajat.. Kesengajaan? Hmmm.. bisa jadi.

Mungkin, lebih tepatnya, ketika manusia mampu menghasilkan benda-benda yang mempermudah kinerjanya, ia akan menurunkan fungsi otaknya. Contohnya: kalkulator. Semenjak barang ini ditemukan, entah berapa banyak manusia yang masih mau berpikir untuk menghitung. Komputer, Handphone, TV, Mobil, Pesawat, dan semua tekhnologi sama saja. Sejak roda ditemukan, manusia sepertinya mulai dengan sengaja menurunkan fungsi otaknya.. Kemajuan jaman yang berdampak kebodohan massive.

Untuk itulah kemudian muncul peribahasa modern: HP nya smartphone, Orangnya goblok. Banget. Tekhnologi yang diagungkan untuk mempermudah manusia, ternyata berdampak besar terhadap kemalasan kerja otak. Hingga sekarang kita cuma mampu mengakses 2-7 persen kemampuan otak. Padahal otak manusia termasuk senjata berbahaya, lho. Karena manusia punya akal dan nafsu, ditambah potensi otak yang tak terbatas, membuat Bumi ini seperti tempat kecil saja. Dan sayangnya, hanya sedikit orang yang mau sadar akan potensi otaknya. Kebanyakan orang mengira membaca banyak buku, menghapal teori-teori, rajin berhitung, berlatih debat-debat, akan membuat kemampuan otaknya meningkat..

Padahal pintar dan cerdas itu sangat berbeda. Pintar, itu hanya masalah ingatan. Seberapa kuat otakmu bisa mengingat apa yang pernah dibaca, dihitung, dan dirapalkan. Dan ibarat memori di komputer, otak seperti itu hanya menjadi tempat penyimpanan data.. Kau hanya mengeluarkan apa yang pernah masuk di otakmu. Sedangkan Cerdas, adalah bagaimana seseorang menggali lagi potensi otaknya. Ibarat memori di komputer, cerdas adalah harddisk eksternal tambahan. Otak dibuat berevolusi. Melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Kecerdasan lebih kearah menghadirkan sesuatu yang sebelumnya tak terpikirkan. Melampaui imajinasi. Otak tidak hanya dipakai berpikir dan mengingat, tetapi juga berimajinasi, mencipta, menambah, juga mensiasati.

Kecerdasan manusia memang infinite. Sayangnya, itu bisa terjadi jika otak berada di kemampuan maksimalnya. Dan semenjak tekhnologi menjadi jajanan massa, otak kita menjadi turun kelas. Bagaimana dengan kemajuan jaman? Kita membandingkan manusia 100 tahun yang lalu belum punya mobil, pesawat, handphone, komputer, blablabla.. Sekarang gedung sudah mulai menjadi Icarus, Dewa yang mencoba meraih matahari, mobil hampir punya sayap, kabel mulai ditinggalkan, dunia nyata hanya sebesar kotak 21 inchi, dll.

Kita tidak menjadi semakin pintar, hanya segelintir orang yang menjadi cerdas. Kita hanya kebetulan hidup dan ada di antara mereka. Kita hanya penikmat kecerdasan mereka. Kita hanya menjadi konsumen dunia mereka. Manusia di jaman 100 tahun yang lalu pun, jika hidup di jaman sekarang tidak kalah hebatnya jika cuma ingin mengoperasikan handphone atau komputer.. Kita hanya kebetulan ada di jaman yang maju. Maju karena kerja otak segelintir orang. Jaman dimana kita hanya menjadi penonton yang merasa telah berbuat banyak hanya karena telah membeli tiket masuk ke pertandingan.

Ah, filmnya sudah habis. Dan hujan mulai menunjukkan taringnya ala anak STM, keroyokan.. Baiknya saya berhenti dulu menulis dan ingin berkencan dengan hujan dulu. Biarlah masalah otak kita selesaikan masing-masing. Toh, Tuhan sudah memberikan jatah satu orang satu otak.. Cobalah sesekali pergi ke gunung. Otak pun merupakan bagian tubuh yang harus diolah, agar segar dan lebih jernih dengan udara yang bersih. Siapa tau juga nanti ketemu saya di sana.. hehe

 

*hati-hati dengan racikan kopi yang terlalu manis, lihatlah tulisan di atas sebagai akibatnya.. Atau gara-gara kuah mie Tom Yang? Ah, yang penting jangan lagi..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: