You may say i’m a dreamer. But I’m NOT the only one..

26 Mei 2014

Ini tentang dunia saya, dunia petualangan.

Seumur hidup, bahkan saya tidak pernah terpikir dan membayangkan untuk mendaki Everest, Seven Summit, bahkan Jaya Wijaya. Meskipun ada keinginan untuk berada di puncak gunung-gunung tersebut, tapi saya tidak pernah terpikir untuk mendakinya. Mungkin, saya pengecut. Atau bisa jadi saya tau diri.

Saya yang sekarang, untuk mendaki gunung di atas 2500 MDPL saja saya berpikir 5 kali. Mulai dari masalah keuangan, kaki, paru-paru, sampai masalah hari libur.

Saya masih ingat, saat-saat menaiki puncak Rinjani, gunung tertinggi yang pernah saya daki, berdua dengan kawan lama, membawa Carriel terberat yang pernah saya pikul, bermodal nekat uang 200rb, pergi bertahan selama 2 minggu di Lombok dan Bali, sambil menahan sakit gigi mulai dari basecamp pertama hingga pulang ke Semarang.

Uang 200rb yang saya dapat dari uang hasil bekerja sebagai penerjemah borongan. Pergi meninggalkan bangku kuliah, membawa alat seadanya, cuma berdua, tanpa satupun petunjuk dan informasi daerah tujuan, dan tanpa sepengetahuan orang tua.

Saat itu, dunia saya begitu sempit. Hanya terbagi Iya atau Tidak. Jalan atau berhenti. Saya menjadi diri saya yang paling Hyper Ego. Keinginan saya sederhana, menginjakkan kaki di puncak. Hingga akhirnya saya tersadar banyak hal yang saya lewati begitu saja, saya sepelekan. Lihat dan buang. Sesederhana itu. Saya terlalu naif sebagai anak muda. Terlalu angkuh sebagai petualang. Dan terlalu acuh sebagai anak.

Salah satu hal yang paling saya sukai dalam mendaki gunung adalah saat saya memandangi gunung yang akan saya daki dari jalan raya. Saya perhatikan baik-baik dari jauh, betapa tingginya tujuan saya itu. Begitu kokoh, indah, dan tak terjangkau. Dan setelah saya tiba di puncaknya dan turun gunung, saya perhatikan lagi gunung tersebut dari jalan raya yang sama, sambil tersenyum saya berterima kasih dalam hati.

Memang, udara pegunungan sangat saya sukai. Saat-saat diterpa hujan, bergumul keringat, bertemu pendaki-pendaki lain, perang mental, terlihatnya sifat asli kawan-kawan, menahan dingin, berada di ketinggian, tidur beratap bintang, menahan lapar dan haus, menggigil, tersengat matahari, bau-bauan khas, gerah, sempit, membayangkan rumah, kasur dan makanan hangat. Saya rindu semua itu ketika berada di rumah. Tapi saya agakjengkel juga kalau hal itu sedang saya alami. Benci tapi rindu, kata lagu.

Dunia seperti itu telah saya rencanakan untuk terus ada hingga saya punya cucu. Saya ingin saya terus mengenang setiap langkah yang saya ambil, meskipun ingatan saya buruk. Saya tidak ingin rugi banyak atas waktu-waktu yang telah saya korbankan. Dari dulu saya telah berencana untuk membuat setiap perjalanan saya terekam baik lewat tulisan maupun gambar. Sayangnya saya teramat malas melakukan hal-hal besar. Dan semoga imajinasi saya masih bagus, begitupun dengan sudut pandang saya.

Ketika semua ada saatnya, manusia pasti merindukan masa lalu dan berharap bisa membalikkan waktu. Setiap kita pasti pernah berharap sama. Kembali untuk mengulang atau memperbaiki. Ingatan menjadi sahabat. Kenangan merajai otak. Dan saya, masih berharap akan masa lalu.. KAMU.


Keberanian dan Uang Sama-sama Sulit Dikumpulkan

24 Mei 2014

Sepertinya saya benar-benar butuh sebuah liburan yang tidak perlu memikirkan uang, libur kuliah, kapan pulang, dimana makan, dimana tidur, besok harus ngapain, atau kapan mau di mana..

Saya akhir-akhir ini mulai terjebak rutinitas, sebuah hal yang saya benci sejak kecil. Saya memang pemalas, tidak produktif, tapi saya sangat yakin saya punya banyak potensi. Mempercayai hal itu saja sudah bikin saya senang. Tapi masalahnya, saya tidak tahu kemana arah potensi saya.

Saya selalu berpikir bahwa saya salah jaman dan salah guru. Semua orang yang telah saya temui baik guru, dosen, atau orang-orang cerdas, hanya sedikit yang menurut saya benar-benar pantas untuk di gurui.

Otak saya terjebak dalam pemikiran bahwa dunia saya, dan teman-teman yang saya anggap cerdas, adalah korban keadaan. Saya jadi ingat tokoh Lintang dalam Sang Pemimpi, si jenius  yang hanya menjadi supir truk. Banyak teman saya yang saya anggap pantas untuk mendapat pendidikan yang layak (terutama guru yang tepat), harus berhadapan dengan keadaan yang memaksa mereka menjadi “terbelakang”. Dunia mereka (dan saya) menjadi tidak dinamis. Dipaksakan.

Ibaratnya, seseorang yang sebenarnya berpotensi menjadi jenius sebagai pemain bowling, tetapi seumur hidupnya tidak pernah menyentuh bola bowling. Maka tidak akan pernah ada yang akan tahu ia berpotensi jenius dalam hal tertentu. Sedangkan kita tahu Tuhan menciptakan tiap manusia dengan kelebihan akan potensi masing-masing individu.

Dan saya, tetap mencoba tiap hal yang menurut saya layak untuk saya kembangkan. Potensi yang akan membuka mata dunia bahwa pernah hidup seseorang seperti saya yang terlahir di dunia ini untuk dicatat sejarahnya. Seseorang yang nanti namanya akan disebut ditiap generasi, dari masa ke masa, ditiap buku pelajaran sekolah.

Sayangnya, saya sadar terlalu membenci banyak hal tanpa tahu cara meredamnya. Hingga saya beranggapan untuk menggapai mimpi, saya membutuhkan banyak uang untuk mencoba segala hal. Dan saya menyesal tidak pernah bisa menabung. Juga, saya selalu berharap bisa kembali ke masa saya masih berumur 5 tahun, dan mengulang hidup saya kembali dengan sempurna. Semoga teknologi mesin waktu sudah ditemukan sebelum saya meninggal nantinya. Aamiin.

Oya, mengenai liburan, saya benar-benar membutuhkannya sekarang. Apalagi saya sedang ada di Sumatera Barat, daerah dengan potensi wisata paling menjanjikan di Indonesia. Sayang kali ini saya terganjal masalah paling pelik bagi pengangguran, uang dan masa depan. Ya, benar-benar kampret. Lihatlah, suatu hari nanti akan saya buat puisi untuk pencipta uang! Sialan!


Semua yang berawal, pasti berakhir.

11 Mei 2014

Lalu, kepada siapa lagi jari tengah ini harus kutujukan? Sedang beberapa nasib telah memilih tuannya. Aku terpucat dikeheningan pantai. Meringkuk di darat, atau berjibaku dengan laut. Ayahku kini mentari, datangnya hanya setengah hidup. Jejaknya hanya ditandai terang. Sedang aku, kehadiranku semu. Tak banyak membawa perubahan pada pohon, air dan udara. Tiap detik yang kulewati hanya ku pakai berburu harap. Rajaman ego memaksa ku berputar haluan mencari sepi. Aku terjebak kebisingan paru-paru ku sendiri. Entah mengapa kaki kanan ku berlari. Karena kaki kiri ku mengejar? Ah, itu urusan mereka. Aku harus mengatur bernapas, agar cukup sampai ketujuan. Untunglah lelah belum mendekat. Detak nadiku telah meningkat, pertanda dunia sudah mulai memanggil malam. Rotasi bumi membuat langkahku semakin berat. Aku ingin istirahat sejenak bersama jantungku. Tapi, malam telah membutakan mataku. Arahku lenyap. Aku lepaskan saja emosi ke berbagai arah. Aku murka, merasa tapi teracuhkan. Redaman ego menghajarku balik. Ia menjadi musuh ketika aku buta. Ia tertawa ketika ku bangkit. Katanya, hasilnya akan sama saja, bodoh! Kau hanya bayang! Tak kan dunia memperdulikanmu. Kau hanya anak matahari! Aku tersenyum sinis, bangkit. Kuludahi ego dengan sisa darah di mulut. Aku tertawa dan melepaskan baju cahayaku. Lantas berlari masuk kehutan, dan tak pernah muncul hingga bulan memangggil..

 

– Padang, 11 Mei 2014 –

Waktu adalah musuh kebahagiaan


Sejenis Harap

10 Mei 2014

Lantas, kenapa awan begitu sedih hari ini, ma?

Tidak cukupkah dengan gelap malam saja?

Aku yang mulai takut menciut sampai tertunduk.

Keberanianku koyak perlahan ditelan sejak lama.

Meringkuk luluh bersama perih di bayang-bayang sebuah meja.

Aku terpejam. Bersama cemas yang bersiap lepas bersama bulu halus di tengkuk.

Ma! Cepatlah datang!

Sebentar lagi petirnya akan muncul!

Jantung ini belum siap lagi untuk sebuah kejutan..

Tapi, kenapa kamar mu masih kosong?

Aku cari engkau hingga kaca itu pecah ku pukul.

Ternyata petir menculikmu, yang juga menjadi alasan menangisnya awan..

 

 

– Padang, 10 Mei 2014 –

Aku masih laki-laki yang hidup di masa lalu.


Lagi-lagi Tulisan yang Aneh

6 Mei 2014

“Bolehkah aku bercanda dengan kehidupan?”, tanya otak saya di suatu hari yang panas..

Oke, umur saya tidak muda lagi. Tapi dari beberapa bidang, umur menjadi relatif. Ibaratnya, di kampus, pemuda seumuran saya mungkin akan dianggap tua. Tapi, dalam dunia politik, umur 40 pun masih dianggap muda. Begitu juga pelatih bola. Bahkan dalam dunia sufi, umur 70 pun mungkin dianggap masih amatir.

Jadi, masihkah aku boleh bercanda dengan kehidupan?

Mereka bilang saya harus mulai serius dalam memikirkan masa depan. Umur semakin bertambah dan blablabla.. Sedang saya adalah jenis manusia yang hanya serius ketika berpikir tentang kematian, bukan tentang hidup. Kehidupan sepertinya terlalu membosankan untuk dilalui dengan cara pandang yang lurus, konvensional, stagnan, statis, kaku, rapi, teratur, rutin, dan aman juga monoton.

Saya menggunakan kata ‘sepertinya’, karena tidak tau pasti rasanya hidup serius itu bagaimana karena jarang menggunakan metode tersebut. Pernah sesekali, tapi tidak sering dan sudah lama sekali rasanya..

Selalu saya dengungkan hidup santai adalah cara hidup yang lebih baik. Hidup santai tidak harus berleha-leha di kursi goyang sambil minum jus dan nonton TV, ya.. Kalo hidup santai selalu di bayangkan dengan orang berkacamata  duduk di kursi pinggir pantai di bawah payung lebar besar, berarti kita beda pemahaman.

Layaknya seorang komedian yang cerdas, seperti Chaplin dan Mr.Bean, sudut pandang akan dunia akan jadi lebih menarik, imajinatif, dan tak terduga jika kita bisa menemukan posisi tempat duduk yang tepat. Bukankah lebih berwarna lebih bagus? Seperti kata prie GS, “Dunia ini keras, maka gebuklah..”. Makanya saya sering gampang kagum dengan pelawak-pelawak cerdas macam Jim Carey, Rowan Atkinson, Warkop DKI, dan Benyamin.

Kepekaan seseorang dalam mencerna sifat duniawi sangat berhubungan erat dengan tingkat kecerdasan seseorang. Karena bagi saya, kecerdasan adalah tolak ukur seberapa besar harga dari seorang manusia untuk pantas hidup. Cerdas beda dengan pintar ya.. Dan ingat, kecerdasan telah dibagi 7 jenis dan kemungkinan akan bertambah.

Maksud saya, bercanda dalam menghadapi hidup tidak berarti tertawa-tawa lucu seperti lawak di TV. Humor dalam hidup sebenarnya dapat dilihat secara eksplisit. Terdapat disisi lainnya. Makanya jangan jadi terlalu subjektif. Mentang-mentang teman, keluarga sendiri, grup sendiri, organisasi sendiri, kalo ribut sama orang lain pasti nyalahin orang lain gara-gara terbebani solidaritas..

Yah, intinya jangan membatasi seseorang. Karena manusia itu hakikatnya makhluk dengan sejuta ekspresi, makanya jangan berpikir kaku. Kita bukan malaikat yang hidupnya penuh remote control. Jadi, serius itu penting. Tapi dampaknya buruk. Buruk di muka, buruk pula di otak. Stay cooll keep calm ajalah yah. Toh, makan nasi kan lebih banyak lauk malah lebih enak, walaupun kadang ada yang kepedesan, kegigit jahe, kunyit, ketelan tulang, kegigit lidah, dapet batu, rambut, kutu, keselek.. Pada akhirnya kan untuk mengenyangkan perut kita juga..


Rendezvous

4 Mei 2014

Setahun sudah semenjak pertemuan terakhir kita.

Kau masih belum berubah, masih tak ada.

Setahun juga kita tak saling tatap, tak bersentuh, tak berbicara, tak bersuara.

Ada rindu pada pasar-pasar pagi yang dilalui berdua, ketika kita masih di bawah langit yang sama.

Ada tawa pada warung-warung yang kita jaga, ketika kasih berbalas hanya lewat mata.

Pada pagi yang kau bangunkan, pada sore yang kau jahit, pada malam saat merindu-Nya.

Balutan kenangan terlepas perlahan, selalu membuka cerita yang sama.

Cerita yang tak pernah habis untuk terus diulang, berharap kembali adalah satu-satunya cara.

Kemudian tawa, tangis, sendu, marah, cemas, dan ke 32 rasa lainnya

Bersatu membentuk memori lama yang berputar tak habis hingga bersatunya kita.

Masa lalu yang agung tak pernah lelah menutup pintunya.

Seakan setuju akan lepasnya bendungan rindu pada kenangan lama.

Dunia sudah berhenti saat kau hilang lenyap bersama duka.

Perih yang robek hanya menyisakan jarum tanpa benang untuk dijahit pada akhirnya.

Tak pernah terpikir untuk lupa,

Tak pernah bisa bertanya mengapa,

Tak bisa berhenti untuk berharap kembali ke semula,

Ketika bintang tak lagi sampai ke mata,

Langit masih biru, dan tempat berpijak kita masih tanah yang sama.

Reruntuhan itu masih kehilangan pondasinya.

Terbengkalai lelah diterpa sengatan matahari dan deras hujan sekian lama.

Masih menunggu keputusan Sang Pencipta.

 

 

– Padang, 2 Mei 2014 –

Tidurlah yang nyenyak, hingga aku yakin bisa membawakan mu senyum.


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: