Sejenis Harap


Lantas, kenapa awan begitu sedih hari ini, ma?

Tidak cukupkah dengan gelap malam saja?

Aku yang mulai takut menciut sampai tertunduk.

Keberanianku koyak perlahan ditelan sejak lama.

Meringkuk luluh bersama perih di bayang-bayang sebuah meja.

Aku terpejam. Bersama cemas yang bersiap lepas bersama bulu halus di tengkuk.

Ma! Cepatlah datang!

Sebentar lagi petirnya akan muncul!

Jantung ini belum siap lagi untuk sebuah kejutan..

Tapi, kenapa kamar mu masih kosong?

Aku cari engkau hingga kaca itu pecah ku pukul.

Ternyata petir menculikmu, yang juga menjadi alasan menangisnya awan..

 

 

– Padang, 10 Mei 2014 –

Aku masih laki-laki yang hidup di masa lalu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: