Keberanian dan Uang Sama-sama Sulit Dikumpulkan


Sepertinya saya benar-benar butuh sebuah liburan yang tidak perlu memikirkan uang, libur kuliah, kapan pulang, dimana makan, dimana tidur, besok harus ngapain, atau kapan mau di mana..

Saya akhir-akhir ini mulai terjebak rutinitas, sebuah hal yang saya benci sejak kecil. Saya memang pemalas, tidak produktif, tapi saya sangat yakin saya punya banyak potensi. Mempercayai hal itu saja sudah bikin saya senang. Tapi masalahnya, saya tidak tahu kemana arah potensi saya.

Saya selalu berpikir bahwa saya salah jaman dan salah guru. Semua orang yang telah saya temui baik guru, dosen, atau orang-orang cerdas, hanya sedikit yang menurut saya benar-benar pantas untuk di gurui.

Otak saya terjebak dalam pemikiran bahwa dunia saya, dan teman-teman yang saya anggap cerdas, adalah korban keadaan. Saya jadi ingat tokoh Lintang dalam Sang Pemimpi, si jenius  yang hanya menjadi supir truk. Banyak teman saya yang saya anggap pantas untuk mendapat pendidikan yang layak (terutama guru yang tepat), harus berhadapan dengan keadaan yang memaksa mereka menjadi “terbelakang”. Dunia mereka (dan saya) menjadi tidak dinamis. Dipaksakan.

Ibaratnya, seseorang yang sebenarnya berpotensi menjadi jenius sebagai pemain bowling, tetapi seumur hidupnya tidak pernah menyentuh bola bowling. Maka tidak akan pernah ada yang akan tahu ia berpotensi jenius dalam hal tertentu. Sedangkan kita tahu Tuhan menciptakan tiap manusia dengan kelebihan akan potensi masing-masing individu.

Dan saya, tetap mencoba tiap hal yang menurut saya layak untuk saya kembangkan. Potensi yang akan membuka mata dunia bahwa pernah hidup seseorang seperti saya yang terlahir di dunia ini untuk dicatat sejarahnya. Seseorang yang nanti namanya akan disebut ditiap generasi, dari masa ke masa, ditiap buku pelajaran sekolah.

Sayangnya, saya sadar terlalu membenci banyak hal tanpa tahu cara meredamnya. Hingga saya beranggapan untuk menggapai mimpi, saya membutuhkan banyak uang untuk mencoba segala hal. Dan saya menyesal tidak pernah bisa menabung. Juga, saya selalu berharap bisa kembali ke masa saya masih berumur 5 tahun, dan mengulang hidup saya kembali dengan sempurna. Semoga teknologi mesin waktu sudah ditemukan sebelum saya meninggal nantinya. Aamiin.

Oya, mengenai liburan, saya benar-benar membutuhkannya sekarang. Apalagi saya sedang ada di Sumatera Barat, daerah dengan potensi wisata paling menjanjikan di Indonesia. Sayang kali ini saya terganjal masalah paling pelik bagi pengangguran, uang dan masa depan. Ya, benar-benar kampret. Lihatlah, suatu hari nanti akan saya buat puisi untuk pencipta uang! Sialan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: