You may say i’m a dreamer. But I’m NOT the only one..


Ini tentang dunia saya, dunia petualangan.

Seumur hidup, bahkan saya tidak pernah terpikir dan membayangkan untuk mendaki Everest, Seven Summit, bahkan Jaya Wijaya. Meskipun ada keinginan untuk berada di puncak gunung-gunung tersebut, tapi saya tidak pernah terpikir untuk mendakinya. Mungkin, saya pengecut. Atau bisa jadi saya tau diri.

Saya yang sekarang, untuk mendaki gunung di atas 2500 MDPL saja saya berpikir 5 kali. Mulai dari masalah keuangan, kaki, paru-paru, sampai masalah hari libur.

Saya masih ingat, saat-saat menaiki puncak Rinjani, gunung tertinggi yang pernah saya daki, berdua dengan kawan lama, membawa Carriel terberat yang pernah saya pikul, bermodal nekat uang 200rb, pergi bertahan selama 2 minggu di Lombok dan Bali, sambil menahan sakit gigi mulai dari basecamp pertama hingga pulang ke Semarang.

Uang 200rb yang saya dapat dari uang hasil bekerja sebagai penerjemah borongan. Pergi meninggalkan bangku kuliah, membawa alat seadanya, cuma berdua, tanpa satupun petunjuk dan informasi daerah tujuan, dan tanpa sepengetahuan orang tua.

Saat itu, dunia saya begitu sempit. Hanya terbagi Iya atau Tidak. Jalan atau berhenti. Saya menjadi diri saya yang paling Hyper Ego. Keinginan saya sederhana, menginjakkan kaki di puncak. Hingga akhirnya saya tersadar banyak hal yang saya lewati begitu saja, saya sepelekan. Lihat dan buang. Sesederhana itu. Saya terlalu naif sebagai anak muda. Terlalu angkuh sebagai petualang. Dan terlalu acuh sebagai anak.

Salah satu hal yang paling saya sukai dalam mendaki gunung adalah saat saya memandangi gunung yang akan saya daki dari jalan raya. Saya perhatikan baik-baik dari jauh, betapa tingginya tujuan saya itu. Begitu kokoh, indah, dan tak terjangkau. Dan setelah saya tiba di puncaknya dan turun gunung, saya perhatikan lagi gunung tersebut dari jalan raya yang sama, sambil tersenyum saya berterima kasih dalam hati.

Memang, udara pegunungan sangat saya sukai. Saat-saat diterpa hujan, bergumul keringat, bertemu pendaki-pendaki lain, perang mental, terlihatnya sifat asli kawan-kawan, menahan dingin, berada di ketinggian, tidur beratap bintang, menahan lapar dan haus, menggigil, tersengat matahari, bau-bauan khas, gerah, sempit, membayangkan rumah, kasur dan makanan hangat. Saya rindu semua itu ketika berada di rumah. Tapi saya agakjengkel juga kalau hal itu sedang saya alami. Benci tapi rindu, kata lagu.

Dunia seperti itu telah saya rencanakan untuk terus ada hingga saya punya cucu. Saya ingin saya terus mengenang setiap langkah yang saya ambil, meskipun ingatan saya buruk. Saya tidak ingin rugi banyak atas waktu-waktu yang telah saya korbankan. Dari dulu saya telah berencana untuk membuat setiap perjalanan saya terekam baik lewat tulisan maupun gambar. Sayangnya saya teramat malas melakukan hal-hal besar. Dan semoga imajinasi saya masih bagus, begitupun dengan sudut pandang saya.

Ketika semua ada saatnya, manusia pasti merindukan masa lalu dan berharap bisa membalikkan waktu. Setiap kita pasti pernah berharap sama. Kembali untuk mengulang atau memperbaiki. Ingatan menjadi sahabat. Kenangan merajai otak. Dan saya, masih berharap akan masa lalu.. KAMU.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: