Indonesia Di Mata Video

28 Juni 2014

Barusan saya nonton film robocop yang terbaru, lumayan bagus, tapi saya sedang tidak mau membahas filmnya. Ada sesuatu yang menarik di akhir film, saya mendengarkan lagu Greenday. Setahu saya, Greenday adalah salah satu band yang dengan lantangnya terus mengkritisi pemerintah Amerika lewat lagu-lagunya. Walaupun lagunya dinyanyikan band lain, tapi ini cukup mengagetkan saya. Kita tahu bahwa pemerintah Amerika sangat sensitif terhadap kritik apalagi yang berasal dari anak bangsanya sendiri. Negara demokrasi paling tidak demokratis itu lewat hollywoodnya meloloskan film yang endingnya terdapat lagu pengkritik sekelas Greenday. Aneh, tidak peduli, terlewatkan atau kurang teliti?

Bicara tentang lagu, saya jadi teringat ketika di 2007 seorang teman menawarkan film indie Amerika yang ternyata didalamnya ada lagu Bengawan Solo. Waktu itu saya tidak terlalu peduli sebenarnya karya Gesang tersebut beredar dimanapun. Tapi mengingatnya sekarang, saya jadi kembali mengingat dimana Nama Indonesia pernah terlihat bahkan di film-film dengan level hollywood.

Beberapa minggu yang lalu, saya dapat tugas kuliah membuat makalah tentang literatur bangsa Australia. Saya agak terkejut karena produser yang saya cari biografinya ternyata pernah membuat film The Year of Living Dangerously, sebuah film tentang Indonesia di masa Soekarno pada tahun 1965. Meskipun saya pernah mendengar sebelumnya, tapi saya baru sadar sekarang. Sedikit telat memang..

Ada lagi Film Anaconda yang berlatar di hutan Kalimantan. Belum lagi film The Raid, FF6. Juga yang saya tonton kemaren, Man Of Tai Chi, ada Iko Uwais dan Keanu Reeves. Beberapa video musik berlatar belakang bali seperti MLTR. Bahkan Iklan pariwisata negeri maling Malaysia juga menampilkan Indonesia. Juga film yang cuma saya lihat iklannya seperti The Philosoper dengan Cinta Laura dan film yang settingnya di Jogja, Solo dan Dieng tentang penculikan putri keraton saya lupa judulnya. Ada juga film yang terkenal karena terdapat kapal yang bertuliskan Surabaya, tapi saya lupa filmnya. Ada juga katanya film Agnes Monica, tapi saya malas membahasnya. Juga Eat, love, and Pray. Beberapa saya ingat film yang menyebutkan Indonesia tapi saya lupa filmnya. Tapi yang pasti bukan film perang dan bukan kolosal. Kebanyakan hanya sekedar lewat dan bukan pemeran utama memang.

Kesimpulannya, yah lumayanlah daripada tidak dikenal. Dunia hanya ingin tahu daerah-daerah tertentu dengan ciri khas masing-masing. Mereka belum mengenal Indonesia sepenuhnya. Bahkan beberapa bule yang saya temui malah menganggap Indonesia adalah bagian dari Bali. Jakarta hanya Kota terpadat. Kalimantan isinya hanya hutan. Papua tempat sisa-sisa orang primitif. Dan Sumatra, hanyalah pemain cadangan.

Dan kita, hanya sedikit lebih tahu dari pada bule-bule tersebut. Sedikit. Hanya sedikit…. itupun hanya beberapa orang. Orang-orang kita, adalah bangsa yang masih saja berbangga bisa pergi ke luar negeri. Saya belum ke luar negeri. Anggap saja saya hanya iri. Tapi, pernahkah terpikir jika orang kita pergi keluar negeri dan ditanya oleh orang bule: Negara seperti apa Indonesia? Dan kita hanya bingung menjelaskan satu tempat yang hanya kita ketahui: BALI.

Kita adalah orang-orang yang melihat semut di seberang, tapi buta gajah di depan mata. Di negeri sendiri pun, kita hanya berwisata dan berfoto untuk kemudian disebarkan lewat media sosial. Kita tidak pernah tahu Ibu negara Fatmawati dan emas di Monas berasal dari Bengkulu. Ledakan terbesar di Indonesia adalah Gunung Rinjani. Papua adalah pulau dengan bahasa terbanyak di dunia. Negara kita punya bahasa dan suku terbanyak. Kita termasuk negara terluas, terkuat, terpintar, terpadat, terkaya, tertua, beragam, teramah, terhebat, dan terlunta-lunta.

Pernah membaca kata-kata Soe Hok Gie tentang bangsa kita? Saya malas menjelaskan. Pernah baca tentang Che Guevara bagaimana seorang anak bangsa seharusnya? Minimal kata-kata Soekarno tentang anak mudanya?

Kita adalah era degradasi. Satu-satunya yang maju di negara kita hanya teknologi. Anak mudanya tidak lebih baik dari 100 tahun yang lalu. Di otak mereka hanya gadget, fashion, dan tampil menarik di depan lawan jenis. Seperti kata Pak Jusuf Kalla, Hanya ada dua sebab bendera kita dikibarkan negara lain, presidennya datang, atau atlet kita menang.

Seharusnya kita memang dijajah sekali lagi. Agar kalian tahu tempat di mana kita berpijak. Tempat kita dilahirkan dan seharusnya mati. Tempat di mana kita adalah raja, yang tahu setiap jengkal tanah yang kita miliki. Indonesia tidak butuh kita. Kita yang terikat oleh tanah ini. Kalau kerja kita hanya makan tidur kerja kawin dan mati, lakukan ditempat lain sama saja. Hanya, kita cuma jadi debu yang datang dan hilang setelah angin bertiup. Mati hanya membawa nama. Mati tanpa kebanggaan. Mati yang sia-sia..

*SALAM

Iklan

Pelangi Itu Ada 2 Jenis, Salah Satunya Kamu..

14 Juni 2014

Kebetulan tadi kerumah temen bawa harddisk eksternal yang entah sudah berapa tahun tidak saya jamah. Rencananya sih tadi mau ngerampok foto-foto waktu jalan-jalan kemaren. Kebetulan dapet temen potograper amatiran, lumayan manis, anak orang kaya, sayang dia cowok.. huehue.

Terus dia buka itu folder foto, karena dia penasaran kalo dulu saya pernah cerita jadi backpacker kere 7 tahun. Dia terpana? terkejut? menyembah-nyembah sujud? kejang-kejang sambil salto? Enggak! Muka datarnya bilang begini: bagus sih, bang.. cuma, kok isinya gunung semua? *JREEENGGG

Sampai rumah saya cek lagi itu foto-foto di harddisk karena udah lama jablay dan tercuekkan. Foto-foto saya dikala muda begitu gagahnya menyentuh puncak langit. Hehe. Sambil menenteng carriel full-pack dengan atribut lengkap.

Wuih.. Saya ternyata dulu kuat juga ya ngangkut carriel isi mesin cuci begitu, pikir saya. FYI, carriel saya itu, kosongan aja beratnya 10 kg lebih, lho. Apalagi full-packnya yang 80 liter.. Darah muda memang ngeri!

Seingat saya, cuma beberapa gunung aja yang saya daki dengan carriel full-pack. Gunung Gede, Sumbing, Merbabu, Lawu sama Ungaran. Sisanya Summit Attack, Carrielnya tinggal di pos terakhir. Artinya, saya dulu kuatnya cuma dari tahun 2006-2008, cuma 2 tahun.. :p .

Selain malas olahraga, sayanya juga perokok berat sekarang. Makanya kalau diajak naik gunung saya mikir-mikir. Kalaupun jadi naiknya, saya mikir-mikir lagi apa mau sampai puncaknya.., paling cuma batas pos 2. Kalaupun cuma ngecamp di pos 2, saya mikir-mikir juga mau bawa carriel apa tidak, paling juga pake daypack. Entah kenapa pergi ke gunung jadi ga asik lagi kalo udah mikir barang bawaan..

Bukan masalah capeknya, tapi pegelnya. Belum lagi kram otot, salah urat, sama keseleo pinggang. Duh salep lapan-lapan..

Tapi kangen juga liat saya yang dulu. Pake iket kepala, slayer di tangan, ransel full, sarung tangan, sepatu tetep converse, jaket tebal, celana kargo, tidak lupa daleman juga, sambil keringetan ngisep rokok.. Aih, cakep pisan pokokmen mah.

Kalo bisa ya, saya udah jatuh cinta nih sama saya sendiri, tapi takut nanti dikira homo, saya ga jadi suka sama diri saya sendiri.. Hufftt. Pokoknya, saya yang dulu lumayan gagahlah kalo di gunung. Minimal, lebih gagah dari monyet gunung kebanyakan lah.. Jadi minder kalo dibandingin sama saya yang sekarang. Minder-minder asem gimanaaaaa, gitu. Untung saya pake biore, jadi jeleknya ketutupan sabun muka..

Ah, moga-moga niat olahraga saya bisa tumbuh lagi. Biar jadi anak sehat lagi. Dan bisa nenteng ransel sampai ke puncak lagi… Amin… Tolongin chacha, ibu periiiiiiiiiiii

.

life

ANJANI


Dulu Adalah Asik

10 Juni 2014

Malam-malam begini biasanya saya duduk berdua bersama kenangan di depan rumah sambil merokok dan ngopi. Hapenya saya hidupkan kemudian saya panggil beberapa grup band untuk saya suruh nyanyi di hape yang sudah disodomi headphone.

Malam ini spesial, karena apa? karena pulsa saya baru diisi. Dan karena spesial, saya panggil band-band khusus layaknya Efek Rumah Kaca, Payung Teduh, The Panas Dalam, Sore, Dialog Dini Hari, Mocca, sama Gugun Blues Shelter. Rokok sudah batang ke-3 dan saya masih duduk diam berdua kenangan.

Tiba-tiba kenangan tentang uang beberapa tahun lalu terlintas. Saya ingat betul, beberapa tahun yang lalu saya akrab sekali dengan uang. Kami seolah tak terpisahkan satu sama dua. Meskipun ia banyak datang dari tempat-tempat tak terduga, bahkan tempat sampah, tetap saja saya bisa menerimanya dengan tulus. Kami seolah tak terpisahkan kala itu.

Tapi lihatlah kini. Uang dan saya sudah mulai renggang, sering musuhan. Kadang gara-gara masalah sepele, ia sering meninggalkan saya. Saya juga bingung kalau dia lagi hilang, mau cari kemana padahal saya katanya sibuk kuliah. Ah, saya yang pemalas..

Hubungan kami akhir-akhir ini memang buruk. Saya tidak pernah bisa menjamin ia selalu bisa disamping saya. Saya seolah menjadi teman yang jahat bagi uang. Tak pernah bisa menjaganya dengan segenap kekuatan saya. Kadang ia “diculik” petugas pom bensin,  pemilik kios rokok, atau ibu kantin dan saya hanya bisa diam saja. Berdiri mematung meratapi nasib.

Aduh, tega nian saya ini. Sejenis teman tak bertanggung jawab saya jadinya. Harapan saya sih, semoga di masa depan kami bisa akrab kembali. Bisa berkumpul, selalu bersama dalam keadaan senang ataupun senang banget. Eh, ini tulisannya sesuai judul enggak ya?

 

– Padang, 10 Juni 2014, Waktu Indonesia Tidur –

 

 

Kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia!

Kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia!


Hey June..

7 Juni 2014

Bulan Juni banyak melahirkan tokoh-tokoh hebat semacam Sukarno, Che Guevara, Angelina Jolie ( :p ), Miyamoto Mushashi, BJ Habibie, juga Geronimo. Saya akui bulan ini adalah bulan baik lahirnya para pemberontak. Banyak para penentang lahir di bulan ini..

Termasuk ke empat saudara saya. Uniknya keluarga saya, punya anak dengan tahun lahir yang punya selang waktu 3 tahun, 2 tahun, 3, 2, 3 lagi. Jadi kami berlima punya jarak yang seolah-olah terencana dengan baik (mungkin orang tua saya berasal dari suku Maya? :p ). Dua diantaranya malah punya tanggal yang sama di bulan Juni.

Ke empat kakak saya lahir di bulan ini, dan saya seperti biasa, anti mainstream.. Saya malah lahir di bulan Maret yang konon malah di tanggal 29 Februari. Kata Ayah saya, karena kasihan saya ulang tahunnya 4 tahun sekali ( di tanggal tua pula), maka tanggalnya di majuin satu hari, jadinya tanggal 1 Maret. Ini konon, lho. Tidak tahu benar apa benar banget..

Uniknya bulan Juni juga, hampir semua presiden Indonesia lahir di Bulan ini. Salah satu kakak saya juga lahir di tanggal yang sama dengan Soeharto. BTW, Pemberontak-pemberontak yang saya sebut di atas selalu berhubungan dengan Amerika. Bahkan melakukan perlawanan terhadap Amerika.

Anggap saja Juni adalah Bulan Apatis. Bulan sial bagi kapitalis. Yang selalu melahirkan pemuda-pemuda kritis. Hebatnya orang-orang tersebut dihormati secara simbolis. Dengan gambar wajah yang selalu optimis. Penanda perjuangan tak kan pernah habis.

Semoga kakak-kakak saya juga mewarisi semangat bulan Juni ini. Agar nantinya saya bisa bercerita sambil membanggakan mereka kelak di depan anak-cucu saya.. Ya, semoga.

Selamat Bulan Juni, brothers..!

 


Rencananya sih, Ini Puisi

3 Juni 2014

Di hadapanmu hatiku jatuh.
Jatuh berdebum, keras, tanpa pikir panjang.
Untungnya hatiku adalah hati seorang pejuang.
Pejuang yang bangkit tiap kali terjatuh.

Hah, wanita..

Sadari juga aku tak bisa terus bersamamu.
karena aku pun juga harus ke WC dan kadang jumatan.
Cukuplah kita saling merasa..

Semoga bencimu bertepuk sebelah tangan..


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: