Indonesia Di Mata Video


Barusan saya nonton film robocop yang terbaru, lumayan bagus, tapi saya sedang tidak mau membahas filmnya. Ada sesuatu yang menarik di akhir film, saya mendengarkan lagu Greenday. Setahu saya, Greenday adalah salah satu band yang dengan lantangnya terus mengkritisi pemerintah Amerika lewat lagu-lagunya. Walaupun lagunya dinyanyikan band lain, tapi ini cukup mengagetkan saya. Kita tahu bahwa pemerintah Amerika sangat sensitif terhadap kritik apalagi yang berasal dari anak bangsanya sendiri. Negara demokrasi paling tidak demokratis itu lewat hollywoodnya meloloskan film yang endingnya terdapat lagu pengkritik sekelas Greenday. Aneh, tidak peduli, terlewatkan atau kurang teliti?

Bicara tentang lagu, saya jadi teringat ketika di 2007 seorang teman menawarkan film indie Amerika yang ternyata didalamnya ada lagu Bengawan Solo. Waktu itu saya tidak terlalu peduli sebenarnya karya Gesang tersebut beredar dimanapun. Tapi mengingatnya sekarang, saya jadi kembali mengingat dimana Nama Indonesia pernah terlihat bahkan di film-film dengan level hollywood.

Beberapa minggu yang lalu, saya dapat tugas kuliah membuat makalah tentang literatur bangsa Australia. Saya agak terkejut karena produser yang saya cari biografinya ternyata pernah membuat film The Year of Living Dangerously, sebuah film tentang Indonesia di masa Soekarno pada tahun 1965. Meskipun saya pernah mendengar sebelumnya, tapi saya baru sadar sekarang. Sedikit telat memang..

Ada lagi Film Anaconda yang berlatar di hutan Kalimantan. Belum lagi film The Raid, FF6. Juga yang saya tonton kemaren, Man Of Tai Chi, ada Iko Uwais dan Keanu Reeves. Beberapa video musik berlatar belakang bali seperti MLTR. Bahkan Iklan pariwisata negeri maling Malaysia juga menampilkan Indonesia. Juga film yang cuma saya lihat iklannya seperti The Philosoper dengan Cinta Laura dan film yang settingnya di Jogja, Solo dan Dieng tentang penculikan putri keraton saya lupa judulnya. Ada juga film yang terkenal karena terdapat kapal yang bertuliskan Surabaya, tapi saya lupa filmnya. Ada juga katanya film Agnes Monica, tapi saya malas membahasnya. Juga Eat, love, and Pray. Beberapa saya ingat film yang menyebutkan Indonesia tapi saya lupa filmnya. Tapi yang pasti bukan film perang dan bukan kolosal. Kebanyakan hanya sekedar lewat dan bukan pemeran utama memang.

Kesimpulannya, yah lumayanlah daripada tidak dikenal. Dunia hanya ingin tahu daerah-daerah tertentu dengan ciri khas masing-masing. Mereka belum mengenal Indonesia sepenuhnya. Bahkan beberapa bule yang saya temui malah menganggap Indonesia adalah bagian dari Bali. Jakarta hanya Kota terpadat. Kalimantan isinya hanya hutan. Papua tempat sisa-sisa orang primitif. Dan Sumatra, hanyalah pemain cadangan.

Dan kita, hanya sedikit lebih tahu dari pada bule-bule tersebut. Sedikit. Hanya sedikit…. itupun hanya beberapa orang. Orang-orang kita, adalah bangsa yang masih saja berbangga bisa pergi ke luar negeri. Saya belum ke luar negeri. Anggap saja saya hanya iri. Tapi, pernahkah terpikir jika orang kita pergi keluar negeri dan ditanya oleh orang bule: Negara seperti apa Indonesia? Dan kita hanya bingung menjelaskan satu tempat yang hanya kita ketahui: BALI.

Kita adalah orang-orang yang melihat semut di seberang, tapi buta gajah di depan mata. Di negeri sendiri pun, kita hanya berwisata dan berfoto untuk kemudian disebarkan lewat media sosial. Kita tidak pernah tahu Ibu negara Fatmawati dan emas di Monas berasal dari Bengkulu. Ledakan terbesar di Indonesia adalah Gunung Rinjani. Papua adalah pulau dengan bahasa terbanyak di dunia. Negara kita punya bahasa dan suku terbanyak. Kita termasuk negara terluas, terkuat, terpintar, terpadat, terkaya, tertua, beragam, teramah, terhebat, dan terlunta-lunta.

Pernah membaca kata-kata Soe Hok Gie tentang bangsa kita? Saya malas menjelaskan. Pernah baca tentang Che Guevara bagaimana seorang anak bangsa seharusnya? Minimal kata-kata Soekarno tentang anak mudanya?

Kita adalah era degradasi. Satu-satunya yang maju di negara kita hanya teknologi. Anak mudanya tidak lebih baik dari 100 tahun yang lalu. Di otak mereka hanya gadget, fashion, dan tampil menarik di depan lawan jenis. Seperti kata Pak Jusuf Kalla, Hanya ada dua sebab bendera kita dikibarkan negara lain, presidennya datang, atau atlet kita menang.

Seharusnya kita memang dijajah sekali lagi. Agar kalian tahu tempat di mana kita berpijak. Tempat kita dilahirkan dan seharusnya mati. Tempat di mana kita adalah raja, yang tahu setiap jengkal tanah yang kita miliki. Indonesia tidak butuh kita. Kita yang terikat oleh tanah ini. Kalau kerja kita hanya makan tidur kerja kawin dan mati, lakukan ditempat lain sama saja. Hanya, kita cuma jadi debu yang datang dan hilang setelah angin bertiup. Mati hanya membawa nama. Mati tanpa kebanggaan. Mati yang sia-sia..

*SALAM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: