Randomize Past-Future

25 Juli 2014

Pagi tadi, saya kepikiran buat bikin biografi sendiri. Metodenya tulis di ms.word dulu, jadi kapan ingat bisa di up-date. Nanti dibagi waktu-waktunya. Ada masa kecil, SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, sampai nanti nikah ama Aura Kasih..

Saya mulai membayangkan ini gara-gara sering ingat beberapa kejadian masa lalu tapi tidak berurutan. Dari pada saya bikin diary, mending saya bikin autoboigrafi.

Selain saya suka masa lalu, ingatan saya juga buruk. Jadi lumayanlah kalo ada tulisan sendiri, sukur-sukur ada fotonya. Yah, untuk kapasitas otak saya saat ini, cuma inilah mesin waktu yang mampu saya buat. Semoga Jayalah sendiri Indonesia!!

 

————————————————————————————————

NB: Sorenya setelah pagi memikirkan ini, saya juga kepikiran masalah nama. Tiap akun media sosial, forum ataupun website dunia maya yang saya daftar kan (FB, twitter, blog, wordpress, goodreads, soundcloud, kaskus, ymail, gmail, kompasiana, skype, 4shared, bubblews, pinterest, kwikku, duolingo, dsb) saya menggunakan nama lain dan terkadang tidak melampirkan foto diri.

Ada dua alasan yang bisa saya berikan atas perbuatan saya itu. Pertama, saya tidak ingin di masa depan nanti anak, cucu, dan seluruh keturunan saya tahu seberapa alay dan anehnya saya di masa ini. Ketika nanti teknologi semakin canggih, informasi semakin mudah, dan anak saya serta keturunannya membaca apa yang pernah saya tulis di internet dan dunia maya, maka habislah saya. Dan kemungkinan teman-temannya juga akan membaca dan habislah anak saya di bully.

Alasan kedua, menggunakan biodata decoy (bukan akun palsu, tapi disamarkan) membuat orang jenis ambivert seperti saya nyaman menjalankan kehidupan di dunia maya. Tidak perlu cemas, dan tidak ketahuan kalau sedang senang.

Dan sungguhpun, alasan pertama memang menjadi kekhawatiran saya. Apalagi kalau keturunan saya menemukan dan membaca blog ini, hancur sudah rencana saya membangun imej sebagai bapak yang bijaksana nan rendah hati. Ah, masa depan memang menakutkan..

 

_MG_0279


Moooeeeediiiiikk…!!!

24 Juli 2014

Setelah bertahun-tahun di tanah rantau, tumbenlah saya tahun ini bisa ikut mudik. Sayangnya, orang yang paling menjadi alasan saya untuk mudik sudah tidak ada lagi. Ah, mama saya memang orang hebat. Bisa-bisanya membuat anak sekeren saya ini rindu berlebihan. Sekarang, walaupun senang untuk mudik, tapi kurang menarik. Entah kenapa rumah yang besar itu kini makin suram. Dunia di rumah itu kini mendekati black hole.

Terlalu banyak peninggalan mama yang tersisa dirumah. Seumur-umur, di rumah belum pernah ada kursi roda, tabung oksigen, selang pernafasan, dan Buku Yassin bergambar beliau. Suasana rumah jadi ikut terkubur meski telah lewat satu tahun.

Padahal saya dulu selalu berusaha sekuat tenaga untuk bisa mudik. Sayangnya saya sadar, untuk mudik tidak hanya dibutuhkan sekedar tenaga.. Selalu harapan saya cuma untuk merasakan suasana rumah. Untuk menyimpan kenangan lebih lama. Sekalinya bisa mudik, keadaan rumah tak lebih baik daripada tanah perantaun. Sepi, senyap, hening, dan miskin tawa.

Ada beban yang tak ingin dibagi. Banyak tumpukan yang harus diselesaikan sendiri. Nilai-nilai yang diajarkan masih tersusun rapi, nasehat bijak tetap terjaga di dada kini, keinginan satu masih menanti, semoga kau di sana tersenyum hingga ke hati..

 

tour de magelang


WC

11 Juli 2014

Saya itu, setiap harinya bisa 5 sampai 10 kali ke WC. Tapi keadaan ini tidak lantas menjadi hobi, atau membuat saya mencintai WC, atau menjadi kesenangan, atau menjadi tempat paling menarik, atau bahkan juga tidak menjadikan WC sebagai tempat ibadah. Yah, meskipun di sini tempat biasanya saya menyucikan diri (mandi wajib dan berwudhu), buang air (kecil, besar, sangat besar), nyuci baju, dan berbagai aktivitas air lainnya.

Di WC seringkali terjadi perenungan-perenungan nasib, pendalaman-pendalaman teori, munculnya berbagai pertanyaan hidup, melintasnya kenangan-kenangan lama, harapan-harapan akan masa depan, dan terbukanya otak ke bagian yang paling luas. Disadari atau tidak, di WC lah kita menyadari bermacam-macam hal.

WC adalah tempat terhormat di mana ia menerima baik dan buruk dari manusia. WC menjadi tameng sebagai pembersih dari rutinitas manusia. Ia hadir sebagai pelengkap norma-norma kehidupan. Tak pernah mengeluh dan selalu berurusan dengan air dan kotoran. Saling melengkapi. WC tanpa kotoran tak ada fungsinya. Begitupun juga WC tanpa air, ibarat dompet tanpa uang, tak ada gunanya.

Apalah arti kehidupan manusia tanpa WC?… Bau? Bergelimpangan kotoran? Punahnya indera penciuman? Murahnya harga mawar? Oh, dan tentu bangkrutnya pabrik parfum.. Sedasyat itukah pengaruh WC? Saya berani bilang YA!!

Banyak peneliti yang telah menyatakan 47 % perkataan saya ini benar berdasarkan fakta. Karena apa? Karena yang 53% lagi malah pilih Jokowi..

 

 

Ini adalah filosofi foto, jangan di pandang mentah-mentah! (*ngeles)

Ini adalah filosofi foto, jangan di pandang mentah-mentah!
(*ngeles)


Bilik Bambu Beratap Jerami, Kata Godbless

1 Juli 2014

Saya pindah ke rumah baru. Dapat kamar paling depan, yang mengharuskan saya berhadapan langsung dengan matahari mulai dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore. Kamar dengan suasana seperti ini pernah saya dapat ketika umur 4 tahun. Samar-samar saya masih mengingat sensasi cahaya oranye dengan senja redup perlahan turun ketika dulu. Sayangnya dulu ada suasana keriangan masa kecil, kebersamaan keluarga, kesenangan tanpa uang, dan banyak bibit kebahagiaan.

Kamar ini sekarang sangat mendukung berbagai aktivitas malas saya semacam tidur sambil berhujan sinar matahari, baca buku jenis filsafat atau kategori ilmiah lainnya, nulis sambil ngopi, ngetik dengan pose aduhai, main/meracau dengan gitar, mempelajari peta, imajinasi puisi, menghapal kenangan, merokok sambil dengar musik klasik, melupakan teknologi, nonton film animasi, merapal kamus jepang-jerman, atau kadang-kadang membaca buku yang sudah di baca untuk dicari kata-kata bagusnya. Semua saya lakukan agar terlihat cerdas sebenarnya.. hah.

Kamar dengan jendela rendah ini memungkinkan saya berinteraksi dengan dunia luar tanpa harus keluar yang akhirnya membuat saya betah berjam-jam mengurung diri tanpa harus mengkhawatirkan kehidupan di luar kotak. Saya suka zona nyaman. Dan anggaplah saya masih berpikiran di dalam kotak.

Karena bagi saya, kotak saya masih jauh lebih besar daripada out of the box orang-orang kebanyakan. Seperti kata Pidi Baiq yang entah berkorelasi atau tidak: Your Idol is my fans. Yang mereka pikir sudah berpikir di luar kotak mereka, ternyata masih berada di dalam kotak saya. Yang artinya juga, standar out of the box saya tidak main-main.

Sama dengan selera humor saya. Saya punya selera humor yang tinggi. Sangat tinggi. Monas kalah, yakin. Jadi humor yang garing atau sudah ketinggalan jaman, tolong jangan dibawa-bawa lagi. Takutnya, yang saya tertawakan adalah kapasitas otaknya, bukan humornya. Makanya saya suka jadi pendiam. Orang pendiam lebih senang mengamati. Kemudian menilai, dan beradaptasi. Kekuatan orang-orang pendiam berada pada alam bawah sadarnya. Dan hati-hati bertingkah laku kalau tidak mau di nilai “rendah”, karena orang-orang ini punya penilaian yang tajam. Jadi, waspadalah..

Karena lagi bulan puasa, saya cuma menulis yang ringan-ringan saja. Musik pun saya setel yang indie akustik. Untuk buku, mumpung keadaannya mendukung, saya mau baca Nietzche sama Ekky Al-Malaky. Puisi saya coba memahami Gibran lagi. Untuk gitarnya, saya mau coba belajar lagu blues, walaupun saya tahu hasilnya menakutkan. Filsafat saya tetap mencoba memahami filsafat barat walaupun terdengar agak mustahil untuk diterapkan. Film, saya masih suka animasi dan film-film yang tidak terlalu berat semacam film-film super hero.

Yah, namanya juga belajar.. Apalagi keadaannya lumayan mendukung. Belajar apa saja untuk membuat otak saya ada kerjaan. Biar tidak terlalu membebani isi dompet. Karena menurut pengalaman, satu-satunya hal yang mampu mengikat saya dari keliaran saya akan dunia luar adalah kamar yang nyaman.

Dan saya entah mengapa, sedikit takut keluar dari zona nyaman. Bukannya saya takut akan ketidaknyamanannya, tapi saya takut saya terlalu betah di zona tidak nyaman saya. Saya takut saya kembali lagi ke dunia luar. Saya takut menjadi angin yang pergi ke sana-kemari tanpa henti. Saya takut mengorbankan banyak hal lagi. Saya takut mengulang hal yang banyak mengecewakan orang-orang. Saya takut menjadi liar, tak terkendali, terlalu dinamis, dan saya takut keluar dari kotak saya…


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: