Bunga Edelweis menurut calon Prof. Dr. DR. Frans Cihuy MBA, M.Sc, M.Pdu.

25 Agustus 2014

Jadi, karena dari kemaren saya liat dunia maya sedang ribut sebuah artikel koran yang berisi tulisan cewek pemetik edelweis, mau tidak mau saya sebagai pembela kaum wanita cantik harus segera angkat bicara. Hal ini saya lakukan agar tidak punahnya spesies wanita cantik nan aduhai apalagi dalam industri Mountaineering yang memang fakir wanita kece.

Karena info yang saya ketahui cuma sedikit, akhirnya saya googling juga tentang edelweis. Sebenarnya malas sekali membuka wikipedia… huh. Dari yang saya dapat, beberapa jenis bunga ini memang endemik di gunung-gunung Indonesia. Yang artinya cuma ada di Jawa, Lombok,  Sumatra, dan Sulawesi. Laporan sementara, yang di daerah Bromo-Tengger sudah punah, yang di Gede-Pangrango sudah mulai dijaga ketat, seketat celana pensil..

Kabar baiknya, bunga ini sudah mulai bisa dikembangbiakkan seperti yang dilakukan di Dieng. Makanya di sana banyak yang jual sampai kiloan. Jadi ga usah marah-marah kalo liat edelweis dijual di daerah sana. Dan Faktanya, Bunga Edelweis sebenarnya cuma bertahan 3 hari, sedangkan yang abadi itu cuma kelopaknya.

Juga kalau tidak saya lupa, Bunga edelweis memang harus di potong sebagian (tangkai bunganya, bukan cabangnya), untuk mengurangi populasi liar katanya. Nih kata Oom Wiki:

Dalam batas tertentu dan sepanjang hanya potongan-potongan kecil yang dipetik, tekanan ini dapat ditoleransi.

Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa edelweis dapat diperbanyak dengan mudah melalui pemotongan cabang-cabangnya. Oleh karena itu potongan-potongan itu mungkin dapat dijual kepada pengunjung untuk mengurangi tekanan terhadap populasi liar.

 

Dulu, tahun 2006 saya juga pernah metik edelweis di Surya Kencana, Gede-Pangrango. Tapi itu karena saya tidak tahu kalo bunga itu dilindungi. Karena dulu walaupun saya cakep, saya tidak ubahnya sosok lugu yang masih sangat polos dan menggemaskan. Saya juga metiknya masih dalam batas toleransi, cuma muat di selipan dompet. Maka dari itu, maafkanlah..

Sebenarnya sih saya juga risih sama peraturan pelarangan mengambil bunga. Toh bukannya bunga sama kayak mangga? Yang kalopun diambil hari ini, tahun depan juga bakal berbuah? Atau, sepunah-punahnya bunga tersebut bukankah kita sudah punya cara mengembangbiakkannya seperti yang dilakukan orang-orang dieng?

Tapi saya tau diri kok, InsyaAllah saya sekarang tidak akan mengambil apa yang bukan hak saya. Meskipun bunga ini diklaim abadi, lambang cinta suci nan murni (tsaaahhhh,.. susu kali murni..), bahkan orang jaman dulu menganggap edelweis simbol keberanian karena untuk ngedapetinnya harus bertaruh nyawa di gunung, tapi biarlah dia abadi di mana dia seharusnya..

Seperti yang hukum ekonomi bilang: Barang yang semakin susah di dapat, akan semakin tinggi nilainya..

Jadi, biarlah mereka yang berani naik gunung yang hanya bisa melihat edelweis. Biar mereka naik gunung kalo mereka benar-benar rindu dan kangen akan edelweis. Btw, edelweis saya yang di dompet, yang saya colong di Gede-Pangrango, yang sudah saya simpan 7 tahun, hilang kemana ya?

 

 

Oiya, selamat merdeka  ya buat Indonesia. , Maaf telat. soalnya sibuk maen game buatan Jepang..

Oiya, selamat merdeka ya buat Indonesia. , Maaf telat. Soalnya sibuk maen game buatan Jepang kemaren..


Gombalanashyu

22 Agustus 2014

Dan seumpama, di suatu saat nanti rembulan tak sudi lagi membagi sinarnya ke bumi,
Yakinlah ini, kamu boleh melihat mataku selama yang kau mau..

22::34:22-08-14


Ini Rutinitas Pagi

14 Agustus 2014

Bangun setengah 6.

Sholat

Hidupkan Laptop

Bikin Kopi

Nongkrong (rokok + kopi + musik)

Bersih Rumah (DepartemenTempat Tidur dan Halaman)

Panasin Motor

NgGame Sebentar

Bikin To Do List hari ini di HP

Makan

Persiapan (Tas + HP + Earphone + Rokok + Zippo + Dompet)

Mandi

Berangkuuuut !!

 

DSC03743


Poli.tik(us)

13 Agustus 2014

Karena saya sedang senang akibat IP saya tembus 3.2, maka saya mau menulis bebas..

Kali ini saya mau membahas masalah politik. Tapi yang ringan-ringan saja. Demi pengetahuan umat..

Terlepas dari pendukung Prabowo atau Jokowi, saya melihat pemilu kali ini adalah titik balik sejarah anak bangsa. Saya tidak netral, toh netral anggotanya tidak ada yang bernama Frans, anggaplah saya adalah musuh kedua kubu. Saya adalah kritikus permanen.

Di pemilu kali entah kenapa saya sangat senang juga sedih melihat sebagian besar orang akhirnya aktif (meninggalkan golput) dan menjadi pintar politik meskipun dadakan. Beberapa dari mereka menyadari arti penting berpolitik. Beberapa kembali lagi menelusuri jejak sejarah politik negeri ini, beberapa juga menjadi Tuhan politik yang pendapatnya selalu benar dan yang tidak sejalan adalah salah. Ada juga yang merasa ini saatnya mengenal negara ini..

Saya sendiri tidak berminat terjun ke dalam kubangan politik. Meskipun begitu, bukan berarti saya masa bodoh dengan politik. Paling tidak, saya tahu pergerakan negeri ini. Minimal, saya tahu tentang politik. Tidak ikut, tapi saya belajar sekedar untuk mengenal.

Pemilu kali ini juga membawa dampak besar terhadap ramainya gaung politik yang selama ini hanya memperdengarkan masalah korupsi dan anggota DPR. Masyarakat akhirnya menyadari ada sisi lain dari politik. Mereka seolah bergairah untuk mengikuti setiap langkah perubahan yang terjadi. Sangat berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya.

Tumbenlah saya dengar ada tukang becak, tukang jamu, buruh, petani, nelayan dan tukang ojek begitu antusias ikut campur dalam zona yang digadang-gadang khusus kaum elit. Ada perasaan bersemangat melihat mereka begitu sadar ingin ikut mewarnai perubahan negeri ini. Beda kasus dengan jaman-jaman sebelumnya yang keterlibatan orang-orang tersebut hanya sebatas barter suara dengan kaos dan uang beberapa puluh ribu.

Politik kini menjadi bahan pembicaraan yang umum tanpa sekat. Saya kemaren juga sempat ketemu teman lama dengan pertanyaan pembuka : “Pilih Jokowi apa Prabowo?”, katanya.. Dampak yang begitu besar hingga jadi obrolan warung kopi di desa-desa. Meskipun saya kurang yakin bangsa ini tambah pintar. Mereka hanya mengurangi kebodohan atas pembodohan.

Banyak orang-orang mencari tahu agar menjadi tambah pintar dalam berdebat ataupun sekedar untuk komentar. Ditambah lagi media sosial yang bagai tsunami. Begitu banyak orang menjadi kebenaran. Bahkan Tuhan pun kalah benar. Saya pun juga membenci politik yang mengait-ngaitkan dengan agama. Ibarat berenang sambil melukis, mungkin saja tapi akan sangat sulit.

Untuk saya sendiri, saya juga bergairah sejak lama akan politik. Tapi tidak dengan kasusnya, saya tertarik hanya kepadah biografi tokoh-tokoh politik dan sejarah dibalik peristiwa-peristiwa perubahan negara ini.Tapi gara-gara pemilu kemaren, saya kembali membuka arsip-arsip mulai dari awal masuknya VOC (buku Sejarah Tanah Jawa/JJ. Stockdale), berdirinya Freeport, Gestok, Malari, Tragedi 98, Timor-timur, sampai ke terbentuknya pemuda pancasila, dan juga dibalik layar presiden-presiden Indonesia..

Politik bagi saya adalah pembentuk corak negeri ini. Boleh dianggap, politik adalah bagian dari budaya. Hanya saja, politik pada masa-masa kini terlalu kotor untuk didekati. Politik juga yang menjadikan saya membodoh-bodohi banyak orang.  Politik juga turut andil atas lahirnya banyak pemuda macam saya dan teman-teman.

Maka dari itu, utamakan belajar terlebih dahulu. Politik menuntut orang yang benar-benar berkualitas baik sebagai pemain maupun penonton. Jangan setengah matang ataupun amatiran, nanti kalau kotor susah dibersihkannya..

 

 

pol


Mari Mendaki

12 Agustus 2014

Saya ingat sebuah kejadian ditahun 2009 dulu di sebuah kucingan depan kampus sastra undip, sedikit malam waktu itu. Ketika itu saya sedang makan mie rebus dengan ganasnya karena seharian belum makan. Saya lagi nongkrong sama anak-anak belakang yang tiba-tiba datang satu orang lagi yang ikut duduk di lesehan sambil cengar-cengir.

“Aku udah ke 37 lho, kapan kowe-kowe nyusul?”, katanya.. Terus temannya bilang “Itu si Frans udah 38 malah”. Pertamanya saya bodo amat percakapan mereka karena saya nggak ngeh bahasa kode mereka, tapi karena nama saya sudah disebut, saya harus ikut campur dalam obrolan itu dan meninggalkan sejenak mie rebus saya.

Ternyata mereka lagi bicara tentang gunung-gunung yang sudah didaki. 37 adalah kode untuk Rinjani (3726 mdpl), dan 38 untuk Kerinci (3805 mdpl). Saya ingat betul ditahun-tahun itu banyak teman saya yang seperti berkompetisi dalam mendaki gunung. Tidak hanya gunung tertinggi yang mereka incar, tapi juga pendakian / gunung terbanyak. Momen itulah yang kadang membuat saya tersadar tujuan semula saya mendaki gunung…

Pertama kali saya naik gunung itu ketika kelas 2 SMP, saya diajak kakak saya sama rombongan organisasinya yang mahasiswa. Waktu itu saya buta sama sekali seperti apa naik gunung. Makanya barang bawaan saya waktu itu cuma jaket, coklat silverqueen, dan komik dragon ball nomer 42. Waktu SMP saya belum merokok, ditambah dari kecil saya memang anak kampung yang sering keluar masuk hutan, jadilah saya orang kedua yang sampai puncak bersama seorang mahasiswi cantik meninggalkan rombongan perokok di belakang.

Di situlah saya berkenalan dengan tenda gunung (bukan tenda pramuka), kompor lapangan, sleeping bag,  carriel, slayer, scebo, dan diri saya yang satu lagi.

Seringkali banyak orang bertanya buat apa naik gunung. Meskipun saya sudah mempersiapkan jawaban “naiklah ke gunung, dan temukan sendiri jawabannya”, tapi saya selalu saja diam ketika ditanya seperti itu. Seolah saya sendiri masih mencari jawaban atas pertanyaan yang sama..

Benar, saya puas saat mendaki dan sampai ke puncak, saya senang saat berhasil menaklukkan ego saya, saya menikmati saat menjadi diri saya yang lain, saya bersyukur mengetahui batas-batas kemampuan saya, saya suka saat-saat berkeringat dan tertawa lepas. Tapi saya belum yakin itulah yang saya cari. Saya masih menyisakan kekosongan di daerah sekitar hati. Seolah ada yang kurang.

Setelah 2010, saya meyakini bahwa jawabannya adalah saya ingin berdiskusi dengan Tuhan. Semakin tinggi gunungnya, semakin dekat saya mendengar-Nya. Jadilah saya pendaki yang religius. Religius saya tidak lantas bawa-bawa kain dan sejadah dan sholat di gunung, atau cari jurang buat tempat mati syahid. Saya hanya melontarkan banyak pertanyaan hidup dan berdiskusi satu arah kepada Tuhan. Lucu juga kalau ingat kejadian itu sekarang..

Saya yang sekarang sedikit rasional. Saya tidak lagi mencari jawaban-jawaban tersebut. Saya senang saja naik gunung. Saya juga senang berdiam di pantai. Atau masuk gua, atau menyelam di laut, mandi di sungai, atau jalan-jalan ke mall, tidur di kamar, atau sekedar jalan-jalan kaki. Biarlah pertanyaan itu terjawab di saat yang tepat. Di saat saya bisa memandang hidup lebih bijak dan adil..

Tidak ada lagi gunung yang lebih tinggi, gunung terbanyak di daki. Makanya saya tersenyum saja ketika kawan saya banyak yang berbicara Semeru, Rinjani, Raung, Kerinci, Leuser, bahkan Himalaya. Saya cukup senang bisa sekedar keluar rumah. Saya mencoba memaknai tiap langkah yang saya ambil. Saya adalah seorang pengamat Tuhan. Sebuah profesi yang aneh memang. Karenanya, semoga Tuhan juga maklum, menciptakan mahkluk yang seperti saya.. Hehe

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: