Mari Mendaki


Saya ingat sebuah kejadian ditahun 2009 dulu di sebuah kucingan depan kampus sastra undip, sedikit malam waktu itu. Ketika itu saya sedang makan mie rebus dengan ganasnya karena seharian belum makan. Saya lagi nongkrong sama anak-anak belakang yang tiba-tiba datang satu orang lagi yang ikut duduk di lesehan sambil cengar-cengir.

“Aku udah ke 37 lho, kapan kowe-kowe nyusul?”, katanya.. Terus temannya bilang “Itu si Frans udah 38 malah”. Pertamanya saya bodo amat percakapan mereka karena saya nggak ngeh bahasa kode mereka, tapi karena nama saya sudah disebut, saya harus ikut campur dalam obrolan itu dan meninggalkan sejenak mie rebus saya.

Ternyata mereka lagi bicara tentang gunung-gunung yang sudah didaki. 37 adalah kode untuk Rinjani (3726 mdpl), dan 38 untuk Kerinci (3805 mdpl). Saya ingat betul ditahun-tahun itu banyak teman saya yang seperti berkompetisi dalam mendaki gunung. Tidak hanya gunung tertinggi yang mereka incar, tapi juga pendakian / gunung terbanyak. Momen itulah yang kadang membuat saya tersadar tujuan semula saya mendaki gunung…

Pertama kali saya naik gunung itu ketika kelas 2 SMP, saya diajak kakak saya sama rombongan organisasinya yang mahasiswa. Waktu itu saya buta sama sekali seperti apa naik gunung. Makanya barang bawaan saya waktu itu cuma jaket, coklat silverqueen, dan komik dragon ball nomer 42. Waktu SMP saya belum merokok, ditambah dari kecil saya memang anak kampung yang sering keluar masuk hutan, jadilah saya orang kedua yang sampai puncak bersama seorang mahasiswi cantik meninggalkan rombongan perokok di belakang.

Di situlah saya berkenalan dengan tenda gunung (bukan tenda pramuka), kompor lapangan, sleeping bag,  carriel, slayer, scebo, dan diri saya yang satu lagi.

Seringkali banyak orang bertanya buat apa naik gunung. Meskipun saya sudah mempersiapkan jawaban “naiklah ke gunung, dan temukan sendiri jawabannya”, tapi saya selalu saja diam ketika ditanya seperti itu. Seolah saya sendiri masih mencari jawaban atas pertanyaan yang sama..

Benar, saya puas saat mendaki dan sampai ke puncak, saya senang saat berhasil menaklukkan ego saya, saya menikmati saat menjadi diri saya yang lain, saya bersyukur mengetahui batas-batas kemampuan saya, saya suka saat-saat berkeringat dan tertawa lepas. Tapi saya belum yakin itulah yang saya cari. Saya masih menyisakan kekosongan di daerah sekitar hati. Seolah ada yang kurang.

Setelah 2010, saya meyakini bahwa jawabannya adalah saya ingin berdiskusi dengan Tuhan. Semakin tinggi gunungnya, semakin dekat saya mendengar-Nya. Jadilah saya pendaki yang religius. Religius saya tidak lantas bawa-bawa kain dan sejadah dan sholat di gunung, atau cari jurang buat tempat mati syahid. Saya hanya melontarkan banyak pertanyaan hidup dan berdiskusi satu arah kepada Tuhan. Lucu juga kalau ingat kejadian itu sekarang..

Saya yang sekarang sedikit rasional. Saya tidak lagi mencari jawaban-jawaban tersebut. Saya senang saja naik gunung. Saya juga senang berdiam di pantai. Atau masuk gua, atau menyelam di laut, mandi di sungai, atau jalan-jalan ke mall, tidur di kamar, atau sekedar jalan-jalan kaki. Biarlah pertanyaan itu terjawab di saat yang tepat. Di saat saya bisa memandang hidup lebih bijak dan adil..

Tidak ada lagi gunung yang lebih tinggi, gunung terbanyak di daki. Makanya saya tersenyum saja ketika kawan saya banyak yang berbicara Semeru, Rinjani, Raung, Kerinci, Leuser, bahkan Himalaya. Saya cukup senang bisa sekedar keluar rumah. Saya mencoba memaknai tiap langkah yang saya ambil. Saya adalah seorang pengamat Tuhan. Sebuah profesi yang aneh memang. Karenanya, semoga Tuhan juga maklum, menciptakan mahkluk yang seperti saya.. Hehe

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: