Surga Itu Ada Di Dalam Tanah.

18 Desember 2014

Tadinya saya mau bikin puisi buat ulang tahun Mama saya. Tapi saya nya lagi buntu ide dan segala macam inspirasi. Pending lagi.. Mau bagi-bagi cerita masa lalu, tapi takutnya saya jadi sentimentil..

Yah, walaupun sebenarnya jikalau andaikata bilamana seumpama sekalipun saya bikin kan segala jenis karya sastra bercita rasa tinggi, rasa-rasanya masih kurang asik buat menggambarkan citra agung sosok seorang Ibu, terutama Ibu saya.

Yang terpikirkan oleh saya sekarang cuma kata Terima Kasih. Yang menurut kamus semantik saya artikan adalah ” Terimalah Kasih yang saya berikan ini semoga setara dengan kasih yang sudah saya terima “. Halah,, Jadi bingung sendiri kan sama kata-kata saya.. Mirip transletannya Google..

Yaudahlahyah, pokoknya pun Terima Kasih nya buat Ibu nya yang saya panggil Mama.. Semoga saya nya masih bisa membuat beliau tersenyum bangga ceria merona-rona hingga selamalamalamalamalamanya. Ammmiiin. Happy 59. Selamat 18 Desember…

Ibu ku sayang masih tetap berjalan, walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Ibu ku sayang masih tetap berjalan, walau tapak kaki penuh darah penuh nanah


Merah Putih Mulai Basi

12 Desember 2014

Wow, tadi malam saya mimpi ke luar negeri lho.. Ke yunani, tempat impian saya. Dan entah darimana tiba-tiba ada Backsound lagu Tanah Airku, jadi sedih terus kebangun..

Hmm.. Seperti yang Gie bilang, anak muda, pemimpin maupun semua anak Ibu Pertiwi haruslah terbiasa jalan-jalan. Harus mengenal isi negerinya. Harus mengenal daerah tempat ia berasal. Mengamati secara langsung kehidupan masyarakat. Merasakan atmospir bhineka tunggal ika yang penuh senyum diantara kesederhanaan pedesaan..

Dan saya mulai risih dengan kehidupan culture shock seperti sekarang. Masyarakat kini banyak menjadi babi-babi jalanan. Tau kan babi? Yang kalo jalan nunduk-nunduk cuek gitu.. Gara-gara sebiji smartphone, iPhone, tablet, HP, dsb. Banyak manusia-manusia sekarang terkena efek autis dan menjadi babi dimanapun mereka berada.

Agak sedih melihat mereka mengikat diri dengan dunia maya dan dengan sengaja membuat stagnan hidup yang sebenarnya. Mungkin iya mereka juga jalan-jalan, ke luar rumah, pergi ke berbagai tempat, tapi mereka kehilangan esensi dari kata “pergi/jalan” tersebut. Keterikatan akan dunia maya terus membebani kemanapun mereka pergi.

Di jaman sekarang, setiap orang harus punya HP. Tidak cukup satu, tapi dua. Atau minimal dual sim. Setelah demam HP, muncul laptop. Setiap orang jadi punya laptop. Tidak sanggup belipun minimal dapat netbook. Setelah demam netbook, muncul lagi tablet. Kemudian orang-orang berlomba-lomba lagi ingin memiliki. Sampai-sampai anak umur 5 tahun pun memiliki tablet sebagai pengganti orang tua.  Para orang tua yang berpikir praktis ini mungkin sekali tidak peduli dengan dampak psikologis yang anak alami. Dan Hilanglah kenangan masa kecil anak yang seharusnya indah..

Saya bukan pembenci teknologi. Tapi saya berusaha untuk tidak diperbudak dan saya memang rasional. Teknologi berguna untuk mempermudah pekerjaan, bukan mempermudah pikiran. Ketika manusia mulai menurunkan fungsi otaknya, maka dimulailah fase kemunduran mental bagi mereka. Dan terlalu banyak bukti kebodohan massal masyarakat yang diperbudak teknologi.

Begitu banyak buku-buku tentang budaya pop bertebaran mengisahkan seberapa besar ancaman teknologi. Beberapa film sci-fi juga dibuat untuk menyadarkan manusia masa kini. Tapi kebodohan dan kemunduran mental sudah mengakar jauh ke dalam otak. Serangan teknologi beberapa tahun terakhir ini membanjiri manusia dengan cara yang efektif, tak terkendali.

Sekitar 12 tahun lalu, pertama kalinya saya menyentuh benda bernama HP. Merk Siemens tipe 55. Saya kagum dengan ide si pembuatnya. 3 tahun kemudian akhirnya saya juga memiliki HP yang sama.   Dan sama seperti dulu, fitur hp tersering yang saya gunakan adalah alarm. Alarm adalah salah satu fitur hp yang membuat saya mampu memperbudak teknologi.

Entah berhubungan atau tidak, teknologi haruslah dikembalikan ke fungsinya semula. Sebagai pembantu manusia. Janganlah manusia menurunkan derajat mereka dengan membalik fungsi teknologi seperti sekarang, sehingga menjadi babi yang kemana-mana nunduk-nunduk cuek bersama teknologi tercintanya. Apalagi di negara sebagus Indonesia yang harusnya tidak dilihat hanya lewat layar touchscreen. Rugi sekali manusia yang mengacuhkan pandangan sekitarnya sementara ia dikelilingi hal-hal hebat untuk dinikmati..

Kapan lagi kita kemana?

Kapan lagi kita kemana?


Dunia Busa

8 Desember 2014

Tidak sekali dua kali saya pupus menulis puisi. Tapi tiga kali. Sejak Jaman bensin masih 750 Rupiah, saya seringkali membuat puisi. Saya tulis, lalu saya baca, kemudian saya coret, akhirnya saya buang..

Puisi adalah barang mewah bagi otak saya. Jangkauannya terlalu jauh untuk rasionalis kiri seperti saya ini. Saya mau saja, atau bisa saja menulis puisi bergelimpangan kata-kata wah bermutiara warna-warni, memuji kanan-kiri, mengagungkan kata-kata bijak, memuntahkan kata-kata cinta, tentang keindahan dunia sementara, gejolak muda akan kasih sayang, ataupun puja-puji bagi bidadari dan segala macam isi surga.. Tapi..

Seperti malam ini, saya tadi sedang baca buku dan menemukan frase “kebohongan bulan”. Seperti biasa, ketika menemukan kata-kata yang menarik otak saya langsung bersemangat ibarat mata yang dihalau rok mini. Dalam hitungan detik dan tanpa komando bekerja secara ikhlas…

Demi kata-kata tersebut, otak saya langsung mengambil frase tersebut untuk dijadikan essai, puisi, atau sajak di dalam kepala. Kata-kata yang bagus kadang memang menimbulkan ide. Otak saya sudah bekerja, sayangnya tangan saya sering malas.. huh (benar-benar tangan yang tidak bisa diandalkan). Seringkali ide nya cuma sebatas kepala, dan akan hilang setelah dibawa tidur..

Sayanya memang tidak berhenti membuat puisi. Tapi kadarnya saja yang kurang. Jika puisi yang saya buat terlalu bergelimang kata mewah dan “puitis”, maka akan saya buang. Karenanyalah kebanyakan puisi yang saya tulis kesannya seenak jidat dan berbentuk narasi tidak penting. Tapi saya tetap mempertahankan kedalaman makna dan multi interpretasi (cieee…) yang mana merupakan inti dari puisi. Berhubung saya juga suka teka-teki dan Puzzle, maka jangan terlalu mudah mengartikan tulisan saya :p

Dulu memang saya sering menulis kata-kata puitis nan tinggi. Tapi pengalaman akhirnya berbicara banyak. Semakin kita tahu bentuk dari hidup, semakin turun derajat akan puja-puji. Yang tersisa mungkin hanya kemarahan, sedikit asa, dan pemakluman akan hidup.

Makanya saya kurang sreg (anti) membaca puisi-puisi rumit dengan bahasa setinggi monas. Paling mentok juga puisinya Gibran atau Chairil. Sisanya kebanyakan model lirik lagu-lagu pop. Mengumbar kata-kata agung di daerah kumuh..

– salam likum –

Pengetahuan Adalah Harga Mati

Pengetahuan Adalah Harga Mati


Anak Muda Kere Garis Keras

6 Desember 2014

Beberapa minggu ini entah kenapa saya lebih malas daripada hari-hari malas sebelumnya. Baik itu malas menulis, malas baca komik dan buku, malas kuliah, malas mandi (yang ini permanen), malas makan, malas salto, malas sms sama Aura Kasih, juga malas isi pulsa..

Lalu otak saya mencari kambing hitam.. Yang terpikir pertama adalah “ini pasti gen keturunan..”, kata otak saya. Ah, tapi orang tua saya semuanya pekerja keras kok.. nggak mungkin ini. Hmm… Kalau begitu pasti karena cuaca, kan lagi musim ujan.. Yang ini hampir saya setuju, hingga akhirnya diberilah cuaca yang panas 3 hari berurut-turut oleh Tuhan. Dan saya tetap malas ngapa-ngapain..

Oh, mungkin gara-gara saya baru gajian kemaren, kata otak saya. Apa hubungannya?, kata mulut saya.. Kan kalo orang gajian biasanya semua masalah seolah hilang karena semua masalah bersumber uang.. Jadi habis gajian, hidup serasa ringan tanpa beban, terus karena nggak ada masalah jadinya malas ngapa-ngapain.. Hmmm.. boleh juga pemikiran otak saya kata hidung saya.. Tapi kan, duitnya ga seberapa, kata si mulut. Seminggu juga abis, balik jadi pemulung lagi .. Benar juga si mulut, tumben..

Hhmm mungkin gara-gara harga BBM naik? Atau gara-gara kebanyakan download lagunya Endang Soekamti? Atau, gara-gara beli sempak baru kemaren, pas dipakai kan nyaman banget tuh.. dih, apa hubungannya kata anu saya..

Terus apa ya? Saya kan bukan anggota DPR yang malasnya ga perlu alasan dan sebab akibat.. Saya kan laki-laki sejati, yang butuh alasan untuk sekedar menjadi malas.. Ada yang salah ini, kata dompet saya.. saya mengangguk mengiyakan..

Ah, benar dugaan dompet saya.. Ternyata saya belum jalan-jalan bulan ini. Gawat ini.. Pantesan kaki saya diam aja dari tadi. Lagi ngambek rupanya. Hmm.. ternyata oh ternyata.

Biasanya, untuk sebuah perjalanan saya harus menyiapkan 3 hal. Pertama, hari kosong. Tanpa gangguan kuliah, kerja, beban, kewajiban, tugas, dan undangan. Kedua, Uang. Masalah klasik, ga usah dibahas. Ketiga, Teman seperjalanan. Berhubung saya belum setahun di Padang, jadi saya butuh semacam guide atau translator. Dan ketiga-tiganya susah digabung dalam satu momen. Jadilah saya mangap sendiri di kasur sambil pura-pura mati. Tragis.

Ah, andai saja saya terima pinangan Aura Kasih waktu dulu, pasti saya tidak akan terlunta-lunta seperti sekarang. Yang sudah sudahlah. Besok semoga selalu ada. Ada untuk saya geluti. Selama sepatu saya masih Converse, selama celana saya masih Jeans, selama rokok saya masih Djarum.. Seperti yang Padi nyanyikan, namun aku masih tetap tersenyum….

Move.. move.. move...

Move.. move.. move…


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: