Dunia Busa


Tidak sekali dua kali saya pupus menulis puisi. Tapi tiga kali. Sejak Jaman bensin masih 750 Rupiah, saya seringkali membuat puisi. Saya tulis, lalu saya baca, kemudian saya coret, akhirnya saya buang..

Puisi adalah barang mewah bagi otak saya. Jangkauannya terlalu jauh untuk rasionalis kiri seperti saya ini. Saya mau saja, atau bisa saja menulis puisi bergelimpangan kata-kata wah bermutiara warna-warni, memuji kanan-kiri, mengagungkan kata-kata bijak, memuntahkan kata-kata cinta, tentang keindahan dunia sementara, gejolak muda akan kasih sayang, ataupun puja-puji bagi bidadari dan segala macam isi surga.. Tapi..

Seperti malam ini, saya tadi sedang baca buku dan menemukan frase “kebohongan bulan”. Seperti biasa, ketika menemukan kata-kata yang menarik otak saya langsung bersemangat ibarat mata yang dihalau rok mini. Dalam hitungan detik dan tanpa komando bekerja secara ikhlas…

Demi kata-kata tersebut, otak saya langsung mengambil frase tersebut untuk dijadikan essai, puisi, atau sajak di dalam kepala. Kata-kata yang bagus kadang memang menimbulkan ide. Otak saya sudah bekerja, sayangnya tangan saya sering malas.. huh (benar-benar tangan yang tidak bisa diandalkan). Seringkali ide nya cuma sebatas kepala, dan akan hilang setelah dibawa tidur..

Sayanya memang tidak berhenti membuat puisi. Tapi kadarnya saja yang kurang. Jika puisi yang saya buat terlalu bergelimang kata mewah dan “puitis”, maka akan saya buang. Karenanyalah kebanyakan puisi yang saya tulis kesannya seenak jidat dan berbentuk narasi tidak penting. Tapi saya tetap mempertahankan kedalaman makna dan multi interpretasi (cieee…) yang mana merupakan inti dari puisi. Berhubung saya juga suka teka-teki dan Puzzle, maka jangan terlalu mudah mengartikan tulisan saya :p

Dulu memang saya sering menulis kata-kata puitis nan tinggi. Tapi pengalaman akhirnya berbicara banyak. Semakin kita tahu bentuk dari hidup, semakin turun derajat akan puja-puji. Yang tersisa mungkin hanya kemarahan, sedikit asa, dan pemakluman akan hidup.

Makanya saya kurang sreg (anti) membaca puisi-puisi rumit dengan bahasa setinggi monas. Paling mentok juga puisinya Gibran atau Chairil. Sisanya kebanyakan model lirik lagu-lagu pop. Mengumbar kata-kata agung di daerah kumuh..

– salam likum –

Pengetahuan Adalah Harga Mati

Pengetahuan Adalah Harga Mati

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: