Ga ada lo, Ga pa pa (No You, No Father)

20 Januari 2015

Karena beberapa sebab dan upaya, saya harus merelakan diri liburan di rumah. Tanpa jalan-jalan. Meskipun cuaca cerah dan dompet kosong, saya akan tetap bertahan di atas kasur. Dan oleh sebab itu, saya cuma bisa cerita tentang jalan-jalan aja.. T.T

Untuk laki-laki bertipe penyendiri seperti saya, bepergian dengan anggota tim seminim mungkin adalah yang terbaik. Dengan sesedikit mungkin orang yang ikut, kemungkinan bingung di jalan akan semakin berkurang. Karena konon katanya, semakin banyak kepala semakin banyak keinginan.. Semakin banyak keinginan, semakin demokratis. Alhasil tim akan mengikuti suara terbanyak. Dan yang minoritas akan tersingkir. Dan, meskipun cuma satu orang, perpecahan di dalam sebuah tim bukanlah kejadian yang bagus untuk meneruskan sebuah perjalanan. Yakin..

Karena itulah ekspedisi saya tak pernah lebih dari tiga orang. Kalau lebih, biasanya cuma buat kemping-kemping ceria, hiking, touring, jalan-jalan santai, piknik, ataupun kemah semalam. Karena dalam ekspedisi, saya selalu punya kemungkinan nyasar, minim dana, nekat, tanpa jadwal pasti, kurang informasi, tidur sembarangan, numpang kendaraan dan tempat tinggal, juga melepaskan imej anak baik-baik (IYKWIM).

Dimulai dari tahun 2005, saya merantau berdua dari bengkulu-jogja-semarang buat magang kerja. Sampai akhirnya saya ketagihan dan memulai tour solo menggunakan kereta api keliling Jawa sendirian berbulan-bulan. Terus 2006, saya ekspedisi bertiga merbabu-merapi (jalur petani). Baduy, Banten. Berdua – Rinjani, NTB. Berdua – Kerinci, Jambi. Bertiga – Halau-halau, Kalsel. Berdua – Argopuro, Jatim. Bertiga – Kuta, Bali. Berdua – Unpad, Jatinangor. Berdua. Dan beberapa ekspedisi jarak dekat sekitaran Jawa Tengah.

Sebuah perjalanan nekat memang kadang diharuskan beranggotakan tim yang minim. Pengalaman ini saya dapat ketika menjadi penumpang gelap dari Bali-Mataram. Menumpangi truk Fuso, kami Berempat (2 orang lainnya penumpang tujuan Bima) diharuskan bersembunyi di belakang bangku supir (area terpanas, yakin.) selama melewati jalan raya agar tidak terlihat polisi. Sejak itu saya mulai merenungi Aura Kasih, eh, maksudnya merenungi keefektivitasan sebuah perjalanan..

Memang sih, sebuah perjalanan seperti ini idealnya tidak lebih dari dua orang. Karena, ketika kita mau numpang kendaraan, si supir pasti mikir-mikir kalo yang diangkutnya gerombolan tukang nyampah atau tukang rampok atau perusak barang (bajing loncat). Belum lagi nambah beban yang berdampak ke bertambahnya pemakaian bahan bakar (supir truk biasanya sangat sensitif terhadap pengeluaran di jalan).

Belum lagi masalah tidur. Biasanya sih saya numpang di kampus-kampus. Iya kalo daerahnya ada kampus, kalo di tengah hutan atau desa terpencil, malam-malam lagi.. Kadang-kadang saya juga tidur di masjid atau Pom Bensin. Tapi kalo yang tidur rame, penjaganya suka rese. Makanya sedikit orang lebih baik karena akan efisien saat numpang-numpang.

Nah, masalah isi kepala. Waktu saya ke Argopuro, anggota tim ada yang sakit terus minta ijin bikin tenda sendirian di pos danau, terus nyuruh sisa tim lanjut aja. Waktu itu saya mikirnya : “ini anak bego apa bego banget ya? Argopuro jaman segitu kan masih banyak berita macan kumbangnya..”. Trus anggota tim lain minta nunggu sampai sakitnya sembuh. Padahal saya ada jadwal ujian, ga bisa ditunda sehari lagi perjalanannnya. Nah, Baru tiga orang aja udah njlimet bikin keputusan, apalagi rombongan. kan kan kan?

Untuk piknik atau kemping ceria sememangnya semakin banyak orang semakin asik. Tapi kalo udah masuk ranah ekspedisi, usahakan anggotanya sesedikit mungkin. Biar nggak ribet. Nggak njlimet. Pengalamannya juga asik. Konyolnya pasti banyak. Layak buat dikenang. Lucu buat bahan cerita masa depan. Biar nanti anak-anak saya bisa ketawa dengar bapaknya yang keren bisa jadi pelawak juga..

Makanya, Kalo mau jalan-jalan tuh ajak saya, eh..

Hari lalu adalah kenangan, hari ini adalah hari selasa dan hari esok adalah hari rabu.

Hari lalu adalah kenangan, hari ini adalah hari selasa dan hari esok adalah hari rabu.

Iklan

Kembali ke Jaman Batu

13 Januari 2015

Dulu, waktu smp, ada masa dimana seorang teman meminta teman lainnya untuk mengisi biodata di buku sejenis diary, notebook atau buku catatan. Biodata umum yang berisikan nama, alamat, makanan dan minuman favorit, jumlah pacar, agama, artis idola, blablabla dan lain sebagainya.

Saya dulu juga sering diminta mengisi, dan selalu saja tergagap ketika mengisi kolom tentang hobi. Meskipun masih remaja, dulu saya juga remaja garis keras, sangat anti mainstream. Jadi saya bingung untuk mengisi kolom hobi tersebut dengan jawaban: makan/ tidur/ baca/ jalan-jalan/ salto seperti anak lainnya. Menurut saya dulu, “ah, hobinya sama semua. Kalo udah umum, jadinya ga asik. Jadi pasaran, cenderung biasa.. “.

Sampai sekarang pun saya masih diminta mengisi kolom hobi, baik itu dari registrasi di berbagai website, maupun permintaan dari mahasiswa baru (gara-gara ospek). Tapi saya yang sekarang tidak bingung lagi. Saya cuek saja mengisi hobi dengan jawaban seperti nyuci motor atau  beli rokok atau sikat gigi atau main sudoku. Karena saya bukanlah jenis manusia fanatik yang harus mempunyai hobi. Semua yang senang dan sering dilakukan akan segera dianggap hobi. Toh, saya ini cuma pemikir sekaligus pengamat. Walau spesialisasi utamanya di bidang wanita dan cinta. Saya jarang tertarik kepada sesuatu yang mengikat (kecuali Game seru).

Berbicara mengenai hobi, sebenarnya topik utama yang saya mau ajukan di tulisan ini adalah mengenai boomingnya batu akik (lagi). Gara-gara SBY yang kedapatan memakai batu akik (Bacan? Bacan tutul?), seluruh Indonesia mulai menggeliat beramai-ramai menyuarakan kemerdekaan berbatu akik.. hedeh.

Sebetulnya, sejak kecil di Bengkulu saya sudah sering melihat orang yang memakai cincin batu akik. Banyak malah. Tapi, semenjak pindah ke Padang kemaren, saya baru sadar kalau masyarakat di sini ternyata mempunyai ketertarikan tersendiri kepada batu akik, bahkan hingga kalangan anak mudanya. Saya pikir dulu batu akik hanya hobi kalangan aki-aki (kakek-kakek), makanya dinamakan batu akik, pikir saya. Eh, ternyata anak mudanya doyan juga… (secara fashion ngga banget, sumpah).

Dari semua jenis aksesoris, batu akik adalah yang paling saya hindari. Kedua adalah topi. Terus sepatu pantofel, celana bahan, pakaian pink, piercing, kawat gigi, jilbab, eh.. Yah pokoknya, batu akik ga modislah.. old school banget kalo kata anak gaul. Jadul.

Nah, sekarang masuk ke ranah bisnisnya.. Merujuk kepada pengalaman-pengalaman seperti barang latah lainnya, batu akik memang diperkirakan hanyalah booming musiman. Tidak jauh beda seperti Ikan Lou han, Tanaman Atherium (gelombang cinta), Tokek, Gelang sama kalung batu kesehatan (entah apa namanya), Uang receh emas tahun 93, dll.

Apa persamaan dari musim-musim di atas? Pertama, sama-sama benda koleksi. Terus, katanya langka dan susah di dapat. Terus, harganya kadang ada yang tembus milyaran. Terus banyak yang cari. Terus, ada yang nawar tinggi tapi ditolak. Terus, barang sempat hilang dari peredaran. Terus, munculnya varietas benda yang berbeda yang diyakini harganya lebih mahal. Terus, Aura kasih kok belum nikah. Terus munculnya daerah supplier yang konon sumber barangnya cuma ada di daerah itu saja. Terus, kompetisi dimulai, masyarakat mulai berlomba pamer. Terus, Tiba-tiba musimnya meredup, barangnya jadi pasaran, sebagian tidak ada harganya lagi, tercuekkan, menjadi murahan, dan masyarakat menjadi lupa.

Di dalam dunia bisnis khususnya di bidang saham, ada sebuah istilah untuk merujuk ke musim-musim di atas yang dinamakan Monkey Business. Penjelasannya cari sendiri di internet. Tapi intinya, adalah pembodohan massal yang dilakukan orang-orang kaya sebagai sebuah trik untuk mengeruk/mengumpulkan uang dari masyarakat dengan jalan buaian psikologi. Trik culas ini jelas menuntut kesadaran, kecerdasan, dan kehati-hatian. Banyak orang terpropaganda hanya karena latah. Bangsa latah. Latahnesia.

Karena tipe orang Indonesia yang merasa benar melakukan sesuatu hanya karena banyak orang yang juga melakukan hal yang sama terlepas dari baik-buruk / salah-benar tindakan tersebut. Intinya, masyarakat kita adalah spesies yang senangnya ikut-ikutan tanpa peduli kiri atau kanan.

Makanya jangan kaget tingginya tingkat penipuan di negeri ini. Yang tertipu pun banyaknya bukan main. Mulai dari pemulung sampai pejabat. Cobalah cari di google dengan kata kunci penipuan. Entah berapa halaman yang sanggup google sertakan..

Tiap manusia memang di kasih fitur yang bernama nafsu oleh Tuhan. Tapi kita juga diberi hati dan otak untuk mengontrolnya (cieilah… bahasamu, Frans!).  Hobi memang tidak salah, yang salah memang Mulan Jameelah yang merebut Dhani Dari Maya. Tapi, baiknya sebagai negara berkembang dengan masyarakat sok borjuisnya, kita sebaiknya memang dahulukan urusan sandang, pangan, papan, dan Mulan. Bisa membedakan kebutuhan dan kemauan.. ya ya ya?

Menurut saya sih, kalau memang mau mengoleksi barang, pikirkan kelangsungannya ke depan, bukan untung ruginya, tapi kemaslahatannya (Uooppoo iki..). Carilah barang seperti emas, permata, batu mulia ataupun sepatu converse. Benda-benda yang tak lekang waktu. Tak termakan zaman. Jangan termakan arus di dunia keras sejenis bisnis. Tambah wawasan. Timbang kelayakannya. Prioritaskan urusan hidup. Tahan nafsu. Jangan sms aura kasih. Rajin menabung. Olahraga setiap minggu. Tinggalkan Mario Teguh. Berhenti masturbasi. Makan-makanan organik.. dan ingat, tidak ada yang abadi kecuali Sang Hyang Widi… Amin.

Sukur, diketawain ama mastur...

Sukur, diketawain ama mastur…


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: