Saya Bukan, Ya?

17 Februari 2015

Ada lho orang yang ng-share kata-kata bagus, kata-kata motivasi yang aduhai, kalimat-kalimat indah yang ia yakini sesuai perasaannya. Kalimat-kalimat yang dirasa menjadi perwakilan dirinya.. Tapi tidak pernah bercermin, jarang diaplikasikan, tidak dipraktekkan, cuma dibagi-bagi. Biar orang lain baca dan tahu, Ada..

smbdy

Iklan

Ibukota Mulai Rabun

15 Februari 2015

Dulu, saya pernah bikin status pesbuk yang kira-kira isinya begini, “Wajar aja Ibukota banyak mall dan juga sering ribut-ribut, namanya juga ibu-ibu”..

Ibukota kita itu, Jakarta, sudah macet, banjir, penat, mahal, padat, panas, tidak ramah, rawan, kriminalitas tinggi, dan sangat tidak aman sebagai tempat untuk hidup, sekalipun untuk binatang. ih..ih..ih..

Pantaslah Sheila on7 sama Jokowi malas tinggal di sana.. Saya pun, selama bertahun-tahun di tanah Jawa sangat menghindari Jakarta sebagai tujuan destinasi wisata maupun tempat singgah. Sangat tidak disarankan bagi para pencari ketenangan. Yakin.

Waktu saya masih imut, dari 2006 – 2009 saya sering keliling Jawa sendirian. Backpackeran nekat. Kadang numpang mobil, truk, fuso, ambulan. Kalo ada duit naik kereta api. Saya akan singgah di suatu tempat jika di daerah tersebut saya punya kawan. Mulai dari Banten, Bekasi, Bogor, Sumedang, Cirebon, Brebes, Tegal, Kebumen, Pekalongan, Jogja, Solo, Sby, Malang, Kediri, sampai Banyuwangi. Tapi tak pernah Jakarta.

Ada beberapa teman saya di Jakarta, tapi saya tidak sudi singgah karena saya masih waras. Gita Gutawa juga betah di Jakarta kan ikut bapaknya.. Coba kalo engga, pasti udah ikut program transmigrasi ke Bengkulu.. tanya deh kalo ga percaya.

Saya sering ke Jakarta, tapi bukan buat plesiran atau kontemplasi. Kebanyakan terpaksa. Saya kalo mudik mau tidak mau harus ke Bandara Soetta, atau senen, atau pulo gadung. Seringnya juga ke rumah sakit cek up Orang tua. Atau saya main ke tempat sodara di bekasi atau bogor, eh diajaknya ke Jakarta juga..

Pernah saya beberapa kali ke Jakarta bahkan tinggal hampir satu bulan gara-gara teman saya ada yang kerja di sana. 2 minggu juga pernah saya habiskan di RS Jakut. Semua hampir tidak membangkitkan insting jalan-jalan saya. Dan hampir semuanya bukanlah pengalaman kunjungan yang menyenangkan. Tapi entahlah dengan dunia malamnya. Saya pikir, hanya dunia malamlah hiburan orang-orang Jakarta..

Dunia orang Jakarta hanya diisi dengan kerja, kepenatan, tekanan, omelan, dan tipu-menipu. Tidak ada tempat bagi para idealis. Makanya filsuf sekelas Gusdur dan Pram jarang lahir di tempat ini. Masih untung ada Chairil.. Tempat yang cocok bagi mereka yang ingin mati menangis.

Dengarlah itu Lagu Slank, Iwan Fals, sama Benyamin.. Jakarta memang membakar emosi. Tengoklah isi TV. Kalo bukan kriminalitas, berita Jakarta penuh dengan trik-trik culas para pedagang. Itu baru penduduknya, pejabatnya ga usah ditanya.. Terlalu lama tinggal di sana memang akan menumpuk beban mental. Mereka yang bertahan pun akan dipecundangi dengan keadaan.

Saya juga pernah berpikir tidak akan kerja ataupun tinggal di Jakarta kecuali Aura Kasih memaksa. Kalopun di suruh memilih tinggal, saya akan lebih memilih Solo, Pinggiran Jogja, Batu-Malang, Atau Bali Utara. Tempat-tempat dimana orang-orang masih tegas mengenal identitas diri mereka sendiri. Tempat asik yang penuh hiburan untuk panca indera. Tempat yang juga dimana harga senyuman murah semurahmurahnya..

Selayaknya Ibukota, Jakarta merupakan dunia super sibuk. Ditambah lagi tata kota dan birokrasi yang semrawut,.. voila.. jadilah Jakarta yang keras. Bahkan untuk menuju ke tempat yang jaraknya 1km, kadang harus di tempuh lebih dari satu jam. Belum lagi banyaknya tukang tipu, artis karbitan, pejabat songong, preman, koruptor (imbas dari pecundang-pecundang yang bermimpi terlalu besar), membuat Jakarta menjadi kota ter……… di Dunia. Udah ah.. Sumpek ngomongin Batavia..

y


Perrrrrriiiihhhhhhhh Bahasa

3 Februari 2015

Sayanya yang lagi nganggur terlentang di pucuk kasur laknat ini akhirnya memutuskan untuk membahas masalah konvensional tidak bermutu yang jarang di apdet bahkan oleh Menteri Pendidikan. Peribahasa, yang sebenarnya digunakan sebagai sebuah majas perbandingan atau pengandaian atau anekdot atau beragam jenis kiasan lainnya ini ternyata sudah tidak sesuai dengan jaman dan beberapa bahkan masih menjadi misteri bagi saya..

Dikarenakan beberapa unsur seperti masa, budaya, cara penyampaian dan sosial yang terus berubah dan menjadi dinamis, maka saya berasusmsi bahwa sesungguhnya beberapa atau sebagian besar peribahasa sudah tidak layak mengisi klasemen di buku pelajaran dan harus segera digulingkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya..

Karena apa? Karena saya kesal lulusnya masih lama masalah ini di cuekkan bertahun-tahun tanpa adanya kejelasan dan pembaharuan dari guru, sekolah dan institusi terkait.. Ini saya bedah dulu beberapa yang saya ingat, sisanya nanti saya apdet kalo saya dibeliin android sama pak Ahok, cekidot ah:

  • Air susu dibalas air tuba – Terus terang, saya dari pertama kali mendengar peribahasa ini sampai sekarang juga tidak tau dan tidak pernah mau tau apa itu air tuba. Kata “air tuba” pun sangat jarang digunakan dalam kalimat bahasa Indonesia. Bentuknya sudah pasti air. Hanya saja air yang bagaimana saya tidak tau. Kesimpulan otak saya sih itu sebenarnya air ketuban. Tuba dan ketuban kan engga beda jauh tuh :v . Selain itu kalimatnya juga aneh, air susu di balas air tuba.. terlepas dari susu atau sekalipun itu madu, kalo disiram air pasti dibalas dong ya. Bodo amat disiramnya pake apa, yang penting balas aja.. Lha orang sms aja di balas, apalagi disiram… ya kan? ya kan?
  • Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui – Peribahasa ini juga jadul banget. Hellloooo… sekarang udah 2015 kalik. Orang-orang udah pada mau jalan-jalan ke bulan, emang masih ada perahu yang pake dayung? Kasarnya sih begitu. Karena secara logika sih tidak mungkin dalam sekali mendayung bisa melampaui sebuah pulau kecuali Hercules yang minum extra joss. Atau mendayungnya sekali, tapi sisanya pake layar atau mungkin pake mesin.. Seperti Speedboat yang ga sengaja kebawa dayung? Mungkin saja.. Jadi, asumsi otak saya begini, si nelayan, setelah dayungan pertama ternyata perahunya dimakan Godzilla terus diseret jauh sampai 2-3 pulau..Mudah-mudahan saya salah.
  • Gajah di pelupuk mata tak nampak, kuman/semut di seberang lautan nampak – Pertama, kemungkinan ini peribahasa orang rabun dekat. Kedua, ia sedang menggunakan teropong. Sudah pasti betul ini jawaban saya. Yakin.
  • Tak ada rotan, akarpun jadi – Jadi berdarah iya.. Lha ini peribahasaya untuk apa dulu.. Kalo tentang ikat mengikat, tentu akar dan rotan bukan pilihan yang baik. Selain keras, juga susah diambilnya. Untuk di gantungin? Jadi mainan auo ala Tarzan? Lha itu rotan durinya udah kayak ular kaktus mau dipegang gimana?  Untuk bahan bakar? Kan ada kayu… Untuk dijual? Akar ya nggak laku, kecuali gingseng sama akar wangi. Buat bahan kerajinan? akar ya belum ada sih.. Terus ini  peribahasa rotan sama akar ini di fungsikan ke arah mana??
  • Buruk muka, cermin dibelah – Ini saya yakin adalah sebuah peribahasa yang muncul dari seorang samurai sekelas Musashi.. Membelah cermin, saya pastikan bukanlah pekerjaan sepele yang mampu dilakukan orang sekelas Chef Juna. Perlu tehnik tingkat tinggi dan juga banyak kesabaran untuk melakukan hal ini. Kecuali ia punya pedang laser Jedi.
  • Berakit-rakit ke hulu, Berenang-renang ke tepian – Sudah pasti rakit bikinan orang ini tidak sempurna dan kurang kuat. Saya simpulkan, ketika ia sampai di hulu baru ia sadar kalau rakitnya  mulai rusak dan tenggelam. Dasar amatir..
  • Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit – Sama seperti peribahasa akar dan rotan, peribahasa ini kurang jelas dalam hal apa. Yang terpikirkan oleh saya, yang sedikit lama-lama jadi bukit kemungkinan tanah. Berarti ini peribahasa tukang cangkul? buat apa dia bikin bukit? hmmm… agak sukar diterima akal. Kalau begitu uang? Manusia mana yang mau menimbun uang sampai menjadi bukit? Bisa-bisa dirampok. Lagian jaman udah modern, orang sudah kenal Bank dan saham.. Hmmm… misteri ini.
  • Berat sama difficult, ringan sama dijinjing – Ah, ini pasti peribahasa cowok yang ngikut ceweknya belanja di mall. Pasti ini. Tidak yang lain. Habis perkara.
  • Bermain api hangus, bermain air basah – Lebih baik jangan bermain. Ini pasti peribahasa yang muncul dari orang tua yang parno anaknya kenapa-napa.
  • Harimau mati meninggalkan belang, Gajah mati meninggalkan gading – Pemerintah sebaiknya merevisi peribahasa ini. Entah ada korelasinya atau tidak, sejak terbitnya peribahasa ini, banyak pemburu malah lebih memilih belang (kulit) harimau dan gading gajah untuk dijual ke kolektor daripada meninggalkannya. Peribahasa ini selain salah (terbukti harimau dan gajah mati tidak meninggalkan apa-apa), juga telah mempropagandakan para pemburu untuk memungut sisa-sisa yang ditinggalkan para binatang tersebut.. satu kata: LAWAN!
  • Kalah jadi abu, menang jadi arang – Sama-sama rugi? Hah! Peribahasa ini sok tau sekali.. Pasti tidak pernah diajakin Idul Adha. Setiap acara qurban atau bakar ikan, semua umat manusia di bumi ini memakai arang, bung. Orang bakar sate juga pake arang. Makanya, sering-sering main ke masjid, biar dapet daging… Jadi arang untungnya masih banyak, bung..
  • Ada api, pasti ada asap – Lagi-lagi sok tau sekali bung peribahasa ini.. Api cinta, api cemburu, api asmara, api amarah semua tidak ada asapnya, bung.. API di Indosiar juga tidak ada asap, bung. Jangan sok tau, tidak ada yang pasti di dunia ini.
  • Malu bertanya sesat di jalan – Malu pada manusia itu normal. Masih wajar. Apalagi malu bertanya.. Siapa tahu yang mau ditanyai adalah dosen pembimbing skripsi. Tapi tidak lantas perkara malu orang jadi tersesat. Ndeso sekali Peribahasa yang satu ini. Peradaban sudah maju, orang sudah menciptakan GPS, Google Map. Dan banyak aplikasi penunjuk arah lainnya. Makanya, beli android.. Ooo Kere.
  • Bagai pungguk merindukan Bulan – Karena nila setitik rusak susu sebelanga – Baik pungguk maupun nila, saya belum pernah sekalipun melihat ataupun tahu bentuknya serta status asmaranya. Saya dari dulu tidak pernah tahu apa itu pungguk dan nila. Tidak pernah bertanya pun tidak pernah mau tahu. Lagipula kata “rindu” digunakan kalau objek dan subjek pernah bersama sebelumnya (Bener ga sih?). Kalo bener, apakah artinya si pungguk ini merupakan mantan astronot yang sudah pernah ke bulan, terus kembali ke Bumi dan terjadilah kangenisasi dan dibuatkanlah sebuah peribahasa untuknya..? Kok enak??

Untuk sementara itu dulu kebimbangan yang mau saya tuliskan. Mohon saya jangan di bully kalo salah. Saya bukan presiden.. Lagipula kalaupun saya benar saya juga tidak dapat hadiah kok. Juga semoga menteri pendidikan bisa membaca tulisan saya ini :v Udah, ah. Saya mau stalking Scarlett Johanson dulu. Siapa tau… ehem ehem..

bbl


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: