Perrrrrriiiihhhhhhhh Bahasa


Sayanya yang lagi nganggur terlentang di pucuk kasur laknat ini akhirnya memutuskan untuk membahas masalah konvensional tidak bermutu yang jarang di apdet bahkan oleh Menteri Pendidikan. Peribahasa, yang sebenarnya digunakan sebagai sebuah majas perbandingan atau pengandaian atau anekdot atau beragam jenis kiasan lainnya ini ternyata sudah tidak sesuai dengan jaman dan beberapa bahkan masih menjadi misteri bagi saya..

Dikarenakan beberapa unsur seperti masa, budaya, cara penyampaian dan sosial yang terus berubah dan menjadi dinamis, maka saya berasusmsi bahwa sesungguhnya beberapa atau sebagian besar peribahasa sudah tidak layak mengisi klasemen di buku pelajaran dan harus segera digulingkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya..

Karena apa? Karena saya kesal lulusnya masih lama masalah ini di cuekkan bertahun-tahun tanpa adanya kejelasan dan pembaharuan dari guru, sekolah dan institusi terkait.. Ini saya bedah dulu beberapa yang saya ingat, sisanya nanti saya apdet kalo saya dibeliin android sama pak Ahok, cekidot ah:

  • Air susu dibalas air tuba – Terus terang, saya dari pertama kali mendengar peribahasa ini sampai sekarang juga tidak tau dan tidak pernah mau tau apa itu air tuba. Kata “air tuba” pun sangat jarang digunakan dalam kalimat bahasa Indonesia. Bentuknya sudah pasti air. Hanya saja air yang bagaimana saya tidak tau. Kesimpulan otak saya sih itu sebenarnya air ketuban. Tuba dan ketuban kan engga beda jauh tuh :v . Selain itu kalimatnya juga aneh, air susu di balas air tuba.. terlepas dari susu atau sekalipun itu madu, kalo disiram air pasti dibalas dong ya. Bodo amat disiramnya pake apa, yang penting balas aja.. Lha orang sms aja di balas, apalagi disiram… ya kan? ya kan?
  • Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui – Peribahasa ini juga jadul banget. Hellloooo… sekarang udah 2015 kalik. Orang-orang udah pada mau jalan-jalan ke bulan, emang masih ada perahu yang pake dayung? Kasarnya sih begitu. Karena secara logika sih tidak mungkin dalam sekali mendayung bisa melampaui sebuah pulau kecuali Hercules yang minum extra joss. Atau mendayungnya sekali, tapi sisanya pake layar atau mungkin pake mesin.. Seperti Speedboat yang ga sengaja kebawa dayung? Mungkin saja.. Jadi, asumsi otak saya begini, si nelayan, setelah dayungan pertama ternyata perahunya dimakan Godzilla terus diseret jauh sampai 2-3 pulau..Mudah-mudahan saya salah.
  • Gajah di pelupuk mata tak nampak, kuman/semut di seberang lautan nampak – Pertama, kemungkinan ini peribahasa orang rabun dekat. Kedua, ia sedang menggunakan teropong. Sudah pasti betul ini jawaban saya. Yakin.
  • Tak ada rotan, akarpun jadi – Jadi berdarah iya.. Lha ini peribahasaya untuk apa dulu.. Kalo tentang ikat mengikat, tentu akar dan rotan bukan pilihan yang baik. Selain keras, juga susah diambilnya. Untuk di gantungin? Jadi mainan auo ala Tarzan? Lha itu rotan durinya udah kayak ular kaktus mau dipegang gimana?  Untuk bahan bakar? Kan ada kayu… Untuk dijual? Akar ya nggak laku, kecuali gingseng sama akar wangi. Buat bahan kerajinan? akar ya belum ada sih.. Terus ini  peribahasa rotan sama akar ini di fungsikan ke arah mana??
  • Buruk muka, cermin dibelah – Ini saya yakin adalah sebuah peribahasa yang muncul dari seorang samurai sekelas Musashi.. Membelah cermin, saya pastikan bukanlah pekerjaan sepele yang mampu dilakukan orang sekelas Chef Juna. Perlu tehnik tingkat tinggi dan juga banyak kesabaran untuk melakukan hal ini. Kecuali ia punya pedang laser Jedi.
  • Berakit-rakit ke hulu, Berenang-renang ke tepian – Sudah pasti rakit bikinan orang ini tidak sempurna dan kurang kuat. Saya simpulkan, ketika ia sampai di hulu baru ia sadar kalau rakitnya  mulai rusak dan tenggelam. Dasar amatir..
  • Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit – Sama seperti peribahasa akar dan rotan, peribahasa ini kurang jelas dalam hal apa. Yang terpikirkan oleh saya, yang sedikit lama-lama jadi bukit kemungkinan tanah. Berarti ini peribahasa tukang cangkul? buat apa dia bikin bukit? hmmm… agak sukar diterima akal. Kalau begitu uang? Manusia mana yang mau menimbun uang sampai menjadi bukit? Bisa-bisa dirampok. Lagian jaman udah modern, orang sudah kenal Bank dan saham.. Hmmm… misteri ini.
  • Berat sama difficult, ringan sama dijinjing – Ah, ini pasti peribahasa cowok yang ngikut ceweknya belanja di mall. Pasti ini. Tidak yang lain. Habis perkara.
  • Bermain api hangus, bermain air basah – Lebih baik jangan bermain. Ini pasti peribahasa yang muncul dari orang tua yang parno anaknya kenapa-napa.
  • Harimau mati meninggalkan belang, Gajah mati meninggalkan gading – Pemerintah sebaiknya merevisi peribahasa ini. Entah ada korelasinya atau tidak, sejak terbitnya peribahasa ini, banyak pemburu malah lebih memilih belang (kulit) harimau dan gading gajah untuk dijual ke kolektor daripada meninggalkannya. Peribahasa ini selain salah (terbukti harimau dan gajah mati tidak meninggalkan apa-apa), juga telah mempropagandakan para pemburu untuk memungut sisa-sisa yang ditinggalkan para binatang tersebut.. satu kata: LAWAN!
  • Kalah jadi abu, menang jadi arang – Sama-sama rugi? Hah! Peribahasa ini sok tau sekali.. Pasti tidak pernah diajakin Idul Adha. Setiap acara qurban atau bakar ikan, semua umat manusia di bumi ini memakai arang, bung. Orang bakar sate juga pake arang. Makanya, sering-sering main ke masjid, biar dapet daging… Jadi arang untungnya masih banyak, bung..
  • Ada api, pasti ada asap – Lagi-lagi sok tau sekali bung peribahasa ini.. Api cinta, api cemburu, api asmara, api amarah semua tidak ada asapnya, bung.. API di Indosiar juga tidak ada asap, bung. Jangan sok tau, tidak ada yang pasti di dunia ini.
  • Malu bertanya sesat di jalan – Malu pada manusia itu normal. Masih wajar. Apalagi malu bertanya.. Siapa tahu yang mau ditanyai adalah dosen pembimbing skripsi. Tapi tidak lantas perkara malu orang jadi tersesat. Ndeso sekali Peribahasa yang satu ini. Peradaban sudah maju, orang sudah menciptakan GPS, Google Map. Dan banyak aplikasi penunjuk arah lainnya. Makanya, beli android.. Ooo Kere.
  • Bagai pungguk merindukan Bulan – Karena nila setitik rusak susu sebelanga – Baik pungguk maupun nila, saya belum pernah sekalipun melihat ataupun tahu bentuknya serta status asmaranya. Saya dari dulu tidak pernah tahu apa itu pungguk dan nila. Tidak pernah bertanya pun tidak pernah mau tahu. Lagipula kata “rindu” digunakan kalau objek dan subjek pernah bersama sebelumnya (Bener ga sih?). Kalo bener, apakah artinya si pungguk ini merupakan mantan astronot yang sudah pernah ke bulan, terus kembali ke Bumi dan terjadilah kangenisasi dan dibuatkanlah sebuah peribahasa untuknya..? Kok enak??

Untuk sementara itu dulu kebimbangan yang mau saya tuliskan. Mohon saya jangan di bully kalo salah. Saya bukan presiden.. Lagipula kalaupun saya benar saya juga tidak dapat hadiah kok. Juga semoga menteri pendidikan bisa membaca tulisan saya ini :v Udah, ah. Saya mau stalking Scarlett Johanson dulu. Siapa tau… ehem ehem..

bbl

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: