Sastra Bakar Kuah Madu

15 Maret 2015

Kemaren saya baru sempat baca bukunya Sapardi d.d., ‘Bilangnya Begini, Maksudnya Begitu’. Belinya sih udah lama, bacanya 6 bulan kemudian.. huehue. Biar keliatannya sibuk.. Jadi tambah pinter sayanya sedikit masalah dunia perpuisian.

Dulu, itu buku saya beli gara-garanya saya mulai kurang sreg (menghindari kata muak) dengan puisi anak-anak sekarang, baik yang di koran, majalah, juga grup dunia maya (judul Grupnya sih sastra, tapi isinya puisi doang). Ibarat nonton film tuh rasanya… flat-datar, ga ada twist, tanpa tragedi maupun happy ending, ga ada drama, acting nya dibikin sedih, menang di “special effect” doang sih.. hambar. Kayak nonton film naga terbang di Indosiar.

Special effect nya itu ya, kata-kata yang ke-tinggi-an (ga tau berapa meter tingginya, lagi males ngukur), tanpa idiom, tanpa satir, tanpa majas, juga konotasi. Baca puisi (dibikin) jadi males. Udah panjang, ‘jalan cerita’ sama ending nya udah ketebak. Dan yang bikin sedih, semua tulisan bermainstream-ria dalam plot yang sama. Rasanya tuh seperti sedang ngapalin nama-nama artis korea, samaaaaaa semua.

Ada beberapa juga yang belum bisa move on masih menggunakan kosakata KBBI tahun 60an. Bukan Kosakatanya sih yang salah, tapi penempatan sama isi konten nya kadang tidak sesuai sehingga kadang terlihat seperti ingin bikin Spageti tapi pakenya mie bihun.. Sedih..

Dari pada baca puisi anak-anak sekarang, saya lebih memilih dengerin lagu reggae. Saya sebenarnya kurang tertarik sama lagu regae? rege? reeagea? regea? Gimana sih tulisannya om bob Marley? Bingung sayanya.. Iya, itu saya walaupun kurang tertarik lagu reggae tapi sesekali saya dengerin juga, dan alhamdulillah banyak yang hapal..

Musik ini saya klasifikasikan sebagai musik paling jujur di Bumi. Tanpa perlu menambahkan hal-hal tidak perlu, liriknya tumpah begitu saja tanpa perlu dipermanis dengan sabda-sabda idealis ala kaum pemberontak. Terkesan santai tapi selalu ada ketegaran di balik lagunya. Bahkan beberapa lagu hanya memiliki beberapa baris kata dan di ulang-ulang terus sampai mencret. Mungkin sedikit mencoba mempropagandakan maksud hatinya..

Dari segi literatur, lirik dari musik reggae saya nyatakan menang dari puisi anak jaman sekarang. Tapi secara musikalitas, saya tetap kurang tertarik sama musik reggae dan akan kalah jika saya pertandingkan dengan SOAD, Nirvana, ataupun Sore dan Endank Soekamti. Maaf, om Bob..

Jadi begini, puisi itu anak kandung sastra, mbok ya sedikit nyastra gitu lhoo kalo bikin puisi. Dipikirkan dulu ceritanya, perbanyak perbendaharaan kata, pilah mana yang cocok  mana yang cocok banget, sesuaikan kosakata sama isi, rima-nya dipikir belakangan, ga usah dicocok-cocoking nanti kesannya dipaksa esensi puisinya jadi nyasar, dibaca lagi berulang-ulang, jangan lupa nulisnya pake perasaan, jangan pake nafsu. Nanti kalo hamil mau tanggung jawab?

sapardi

Iklan

Hiduplah… Indonesia Ra…saiiiiiinnn..

6 Maret 2015

Indonesia sedang bergejolak. Panas dingin ibarat cowok mau nembak gebetan. Bikin deg-degan tiap baca berita. Mulai dari kasus begal-begalan yang terjadi di rakyat jelata, sampe ke kaum eksklusif dengan episode-episode laga semacam: KPK vs Polri, Ahok Vs DPRD, SBY, Lulung, vs Netizen, Bu Susi vs Nelayan (Pengusaha) Australia vs NKRI, Lion air vs Ngetem, Frans vs Dompetnya.. ih.. ih.. ih..

Kalo orang Medan bilang: Ngeri kali bah!

Saya sebenarnya ada niat mau ngebahas masalah di atas satu persatu. Soalnyakan seru. Tumben-tumben Indonesia ricuh tapi rakyat cuek gara-gara batu akik. Walaupun analisis saya seperti biasa, tidak empiris, cuma maen insting plus googling sana-sini. Tapi nanti tulisannya kepanjangan, jadi males. Lagian hampir semua masalah di atas berhubungan sama politik. Jenis bidang yang kalo di bahas tuh bikin ngantuk. Banget.. Hoaaaaannn… tuh kan, nulis kata politik aja udah bikin saya nguap..

Tapi dari sudut pandang saya sih, negeri ini memang perlu gejolak. Biar semua jadi awas. Ikut perhatian, bahwa ada yang sedang terjadi di tempat yang kita tinggali. Menurut calon Frans S.Hum, Indonesia sedang berbenah, dalam kapasitas yang walaupun tidak terlalu ekstrim dan masif, tapi cukup untuk membuat sebuah starting point yang bagus. Pembenahan yang tidak disadari rakyat banyak, yang dampaknya akan berjangka sangat panjang.

Karena negara yang adem ayem biasanya mengisyaratkan 2 hal : Kemakmuran menyeluruh, atau otoriterisasi massal. Salah satu dampak negatif dari demokrasi adalah bila berada di tangan yang salah. Ketika suara terbanyak menang dan arahnya salah, maka semua akan ikut jadi salah. Karena kadang, manusia tidak sadar bahwa yang mayoritas belum tentu benar. Hanya menang secara kuantitas. Tidak yang lain.

Ada pepatah begini, “Kebenaran pun akan ditinggalkan ketika ia dianggap merugikan”.

Demokrasi yang sudah mendarah daging ini jangan sampai dimanfaatkan orang-orang rusak hanya dengan beberapa lembar soekarno-hatta. Lihatlah itu batu akik, semua ingin punya batu. Blackberry muncul, semua ngin pake BB. Android muncul, semua ikutan. Tablet muncul, semua pake tablet. Boyband terkenal, semua mau bikin boyband. Celana pensil muncul, semua mau pake. Frans suka sama Aura Kasih, semua orang ikut-ikutan suka. Latahnesia.

Maksud saya, kita ini masih suka ikut-ikutan tanpa mengerti benar atau salah. Yang melekat di otak kita masih saja seputar untung dan rugi (efek keseringan miskin). Ada yang nyuruh demo, semua pengen ikutan karena ada duitnya. Tidak peduli yang didemo orang baik atau penjahat kelamin. Ada yang bikin #saveanu, semua pengen #saveanu juga..

Sebagai manusia sememangnya kita sulit membedakan mana yang benar dan salah. Tapi, kita kan sudah di kasih otak sama Tuhan, mbok ya dipake.. Minimal buat cari tahu. Jangan gara-gara sekali liat berita  sekilas info yang cuma 1 menit, kita langsung bisa ambil kesimpulan atas masalah yang bahkan mungkin sudah terjadi bertahun-tahun. Baru liat 1 link berita di website, sudah merasa jadi hakim sekaligus Tuhan. Disitu kadang saya merasa cuuiiih…

Sudahlah, ambil saja positifnya. Yang terjadi di Indonesia sekarang adalah Perubahan. Ikutlah dalam saf terdepan. Jangan cuma ngurusin batu. Negeri ini sedang ingin bangkit. Jangan sampe rakyat Indonesia nanti dikira penduduk Jakarta, yang sibuk maki-maki pemerintah atas macet dan banjir tapi beli kendaraan terus-terusan sama buang sampah di sungai tetap aja. ya.. ya.. ya?..

Goblog United

Goblog United


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: