Sastra Bakar Kuah Madu


Kemaren saya baru sempat baca bukunya Sapardi d.d., ‘Bilangnya Begini, Maksudnya Begitu’. Belinya sih udah lama, bacanya 6 bulan kemudian.. huehue. Biar keliatannya sibuk.. Jadi tambah pinter sayanya sedikit masalah dunia perpuisian.

Dulu, itu buku saya beli gara-garanya saya mulai kurang sreg (menghindari kata muak) dengan puisi anak-anak sekarang, baik yang di koran, majalah, juga grup dunia maya (judul Grupnya sih sastra, tapi isinya puisi doang). Ibarat nonton film tuh rasanya… flat-datar, ga ada twist, tanpa tragedi maupun happy ending, ga ada drama, acting nya dibikin sedih, menang di “special effect” doang sih.. hambar. Kayak nonton film naga terbang di Indosiar.

Special effect nya itu ya, kata-kata yang ke-tinggi-an (ga tau berapa meter tingginya, lagi males ngukur), tanpa idiom, tanpa satir, tanpa majas, juga konotasi. Baca puisi (dibikin) jadi males. Udah panjang, ‘jalan cerita’ sama ending nya udah ketebak. Dan yang bikin sedih, semua tulisan bermainstream-ria dalam plot yang sama. Rasanya tuh seperti sedang ngapalin nama-nama artis korea, samaaaaaa semua.

Ada beberapa juga yang belum bisa move on masih menggunakan kosakata KBBI tahun 60an. Bukan Kosakatanya sih yang salah, tapi penempatan sama isi konten nya kadang tidak sesuai sehingga kadang terlihat seperti ingin bikin Spageti tapi pakenya mie bihun.. Sedih..

Dari pada baca puisi anak-anak sekarang, saya lebih memilih dengerin lagu reggae. Saya sebenarnya kurang tertarik sama lagu regae? rege? reeagea? regea? Gimana sih tulisannya om bob Marley? Bingung sayanya.. Iya, itu saya walaupun kurang tertarik lagu reggae tapi sesekali saya dengerin juga, dan alhamdulillah banyak yang hapal..

Musik ini saya klasifikasikan sebagai musik paling jujur di Bumi. Tanpa perlu menambahkan hal-hal tidak perlu, liriknya tumpah begitu saja tanpa perlu dipermanis dengan sabda-sabda idealis ala kaum pemberontak. Terkesan santai tapi selalu ada ketegaran di balik lagunya. Bahkan beberapa lagu hanya memiliki beberapa baris kata dan di ulang-ulang terus sampai mencret. Mungkin sedikit mencoba mempropagandakan maksud hatinya..

Dari segi literatur, lirik dari musik reggae saya nyatakan menang dari puisi anak jaman sekarang. Tapi secara musikalitas, saya tetap kurang tertarik sama musik reggae dan akan kalah jika saya pertandingkan dengan SOAD, Nirvana, ataupun Sore dan Endank Soekamti. Maaf, om Bob..

Jadi begini, puisi itu anak kandung sastra, mbok ya sedikit nyastra gitu lhoo kalo bikin puisi. Dipikirkan dulu ceritanya, perbanyak perbendaharaan kata, pilah mana yang cocok  mana yang cocok banget, sesuaikan kosakata sama isi, rima-nya dipikir belakangan, ga usah dicocok-cocoking nanti kesannya dipaksa esensi puisinya jadi nyasar, dibaca lagi berulang-ulang, jangan lupa nulisnya pake perasaan, jangan pake nafsu. Nanti kalo hamil mau tanggung jawab?

sapardi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: