Tai Jatuh Tidak Jauh Dari Lobangnya


teach

.

Sabtu kemaren si ponakan saya ikut ujian (?) masuk SD.. Ngeri euy, Masuk SD udah pake ujian segala. Ujiannya juga ga main-main, test Al Qur’an ama Psikotes. *glek.. Emang sih sekolahnya elit, tapi kan tapi…

Dulu, pertama kalinya saya di tes untuk masuk sekolah itu waktu saya daftar di STM (Sekolah Tawuran Mantap). Saat itulah pertama kalinya saya ketemu yang namanya psikotes. Walaupun itu pertemuan pada pandangan pertama saya dengan psikotes, alhamdulillah saya terhindarkan dari jatuh cinta. Untunglah saya waktu itu anak yang cerdas dan terampil dan cakep dan rendah hati, jadi bisa cepat lulus.

Ironis sekali jika 2 kasus di atas diperbandingkan. Untuk kasus saya, sudah sewajarnya saya dites karena sekolah tehnik yang akan saya masuki memang bidang kejuruan yang memerlukan keahlian dan kekerenan khusus dan segala macam perkaranya. Lha, yang untuk anak SD, what the….

.

lololol

———————————————————————————————–

Sebenarnya saya mau ngebahas masalah ini dari sudut pendidikan, mulai dari mengkritisi kurikulum dan program pembodohan massal, pembentukan karakter guru, hasil akhir pendidikan negara ini, teori-teori usang, guru biologi yang cantik, pelajaran-pelajaran yang minor dan sekunder, hingga kurang updatenya pelajaran sejarah kita. Tapi sayang, sayanya sendiri masih bego soal pendidikan (dibuktikan dengan masa kuliah saya yang seumur bajaj), ga jadi lah.. huehue.

Saya mau bahas pertarungan antara anak versus masa saja…

Menurut negara dengan pendidikan terbaik dunia, si Finlandia, Ujian nasional hanya terjadi 1 kali. Yaitu pada saat si anak berumur 16 Tahun, minim PR, dan waktu istirahat yang 3 kali lebih panjang. Di Indonesia, bahkan di jaman saya dulu yang menggunakan sistem belajar caturwulan, ujian terjadi setahun tiga kali. Belum lagi di tambah UN dan ujian masuk.. ih, wow..

Belum lagi anak sudah disekolahkan pra-SD, baik itu TK (ada enol besar, ada enol kecil, saya tidak tau bedanya karena saya waktu TK sudah di DO ketika baru masuk 3 bulan *jangan ketawa), juga PAUD (yang lagi booming beberapa tahun belakangan). Karena orang tua menghadapi ketakutan bahwa anaknya tidak mendapat SD, SMP, Dan SMA yang bagus.

Dari SD kita sudah dicekoki waktu belajar 5-8 jam sehari. Kalo PNS, dengan waktu kerja selama itu udah jadi pegawai teladan, yakin. Belum lagi waktu yang digunakan untuk pulang dan pergi sekolah, ditambah waktu belajar di rumah, ditambah les, ditambah tugas dan PR, ditambah pesta bikini, ditambah main game, ditambah nonton spongebob, kapan tidurnya coba?

.

indokid

Kapasitas anak yang seharusnya bermain pada masa unyu-unyunya, sudah diwajibkan menghadapi momok macam PR, ujian dan tugas-tugas.. Ditambah lagi anak harus ikut les sana-sini, bimbel, private, juga tryout.. Hingga waktu si anak habis dibantai pendidikan hingga ke masa SMA. Sayangnya, sekolah hanya menghargai otak, tanpa peduli akan minat dan bakat.

Lihatlah betapa stresnya anak-anak SMA sekarang menjelang UN, hilir-mudik ikut bimbel, les, dan mendatangi dukun. Bahkan ada yang bikin pengajian bersama tiap hari. Ada yang memuja foto perintis pendidikan, ada yang memuja internet, melafalkan buku siang-malam, sisi positifnya mereka jadi rajin sholat.. Tak ada waktu santai, tak ada rileksasi, hanya ketakutan hingga memucat deg-degan sampai hari H yang tergambar di mukanya.

Dahulu kala, saya sama kawan-kawan masih sempat naik gunung H-3 menjelang UN. Hidup kami santai dan ringan, walaupun tidak sampai terbang. Bukannya kami songong, tapi kami tau kapasitas kami. Padahal, sekolah kejuruan mempunyai beban tambahan selain UN. Kami juga diwajibkan mengikuti Ujian Tehnik (sejenis UN dalam bidang kejuruan), dan membuat produk siap jual sesuai jurusan masing-masing.

Memang, beberapa anak kita ada yang mampu melewati itu semua. Konsekuensinya, mereka banyak yang memakai kacamata dan mati kutu dalam pergaulan. Mereka terus mengasah otak sampai-sampai kehilangan minat terhadap potensi dan bakatnya. Mereka menjadi zombie angka-angka yang bahkan tidak pernah merasakan indahnya masa SMA (sialan, saya masuk STM). Mereka tidak tau rasanya jatuh cinta, tidak tau rasanya bergandengan tangan kala hujan *ehem!, tidak tau rasanya lari-lari karena dikejar guru, juga tidak tau betapa indahnya dunia tanpa gadget..

.

childhood

Bahkan ada pepatah yang bilang, umur kita (warga Indonesia) lebih banyak dihabiskan dibangku pendidikan. Kita lebih banyak mengenyam pendidikan ketimbang menikmati pendidikan. Kita dipaksa minum bergalon-galon air tanpa disediakan toilet dan wc. Kita diubah menjadi robot yang hanya memproduksi apa yang pernah kita telan. Padahal, menurut bapaknya para ilmu, Filsafat, Ilmu pengetahuan tidak hanya didapat lewat indera, tapi juga rasio dan intuisi.

Jadi, berhentilah menghabiskan waktu anak, kita, dan orang lain untuk hal-hal sejenis sekolah. Belajar bisa dimana saja. Otak itu cuma salah satu organ tubuh. Jangan remehkan organ lain yang sama menakjubkannya. Pintar memang penting, tapi kecerdasan yang ada 7 jenis itu jangan dilupakan. Lihatlah ini, meskipun saya tidak terlalu pintar, paling tidak saya berbakat dalam berbohong..

.

Woohoo

Woohoo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: