Karantina Mimpi


Saya itu sering kali kepikiran tiap kali ngeliat tukang-tukang di jalanan. Baik itu tukang bangunan, mamang roti, buruh pasar, pemulung, tukang sol sepatu, bahkan pengemis. Seringkali saya perhatikan bapak-bapak berwajah lusuh dengan beban hidup yang melewati batas, kadang kasihan, kadang cemas. Saya takut seandainya nanti, saya menjadi salah satu dari mereka..

Memang sih, jaman sekarang uang sudah jadi berhala yang mewabah. Apalagi sekarang semua jadi serba waw harganya. Apalagi kalo liat berita prostitusi artis yang cuma sekali colok ‘USB’ tagihannya bisa 200 juta (duit segitu seumpama dibeliin kuaci, kamu 3 kali ganti agama juga nggak bakalan habis). Semua kebutuhan hidup tidak lepas dari uang. Bahkan, sisi kemanusiaan pun bisa dilindasnya dengan lumrah seperti kejadian yang banyak diberitakan di rumah sakit-rumah sakit.

Saya sering kepikiran, kalau suatu hari nanti saya menjadi pemulung, dan saya pesimis untuk mempunyai sebuah rumah, hidup saya terlunta-lunta dengan beban pikiran tiap harinya hanya untuk urusan perut, menggadaikan mimpi-mimpi, mengkhayal tanpa henti, berharap Tuhan melirik walau sebentar, berdoa sepanjang waktu, menyesali putus dengan Maudy Ayunda, menyalahkan segala keputusan yang lampau, merenungi kesalahan-kesalahan, mencibir orang-orang yang bernasib lebih baik, dan lain sebagainya..

Saya takut akan masa depan yang kurang menjanjikan seperti itu, sedangkan mimpi-mimpi saya banyak yang juga berhubungan dengan uang. Saya bahkan sudah mereka-reka bentuk rumah dan fitur-fitur sekeliling yang ingin saya buat. Saya juga berencana mendesign sendiri bentuk rumah, halaman, warna, bahkan membuat rak-rak buku yang saya ingini.

Namun di sisi lain, saya juga takut menjadi orang yang ambisius terhadap sesuatu, khususnya uang. Orang ambisius adalah salah satu jenis manusia yang saya benci dalam hidup. Tipikal individu yang menjalani hidup dengan berlari sambil memakai teropong. Orang-orang yang memburu target dengan mengacuhkan sekelilingnya.

Orang ambisius biasanya tampil dengan wajah optimis dengan keinginan yang satu dan mengubur rasa pasrah, solidaritas dan keikhlasan akan hidup yang banyak diajarkan kebanyakan agama. Mereka hidup dengan satu tujuan pasti, tujuan yang siap membumihanguskan rintangan tanpa kompromi. Orang ambisius saya asumsikan sebagai orang yang sudah kalah ketika ia sudah menetapkan targetnya.

Saya hanya cemas dengan masa depan yang buruk. Tapi saya pun tidak mau menjadi robot hanya untuk sesuatu yang wah. Seperti kata Ipang:

Kalau untuk bisa kaya hatiku harus membatu, aku pilih tetap sederhana.

Untuk bisa raih mimpi hatiku jadi membeku, aku pilih apa adanya.

Dan individu yang terlampau santai sekelas saya tentu sangat menghindari menjadi karakter tersebut. Yah, walaupun menjadi ambisius merupakan salah satu jalan tercepat untuk mendapatkan keinginan, untunglah hingga saat ini saya belum tergoda. Tercepat belum tentu teraman kan? Juga kenyamanan.. Hidup yang bahagia bukankah hidup yang nyaman untuk dijalani kan kan kan?

.

Siap grak!

Siap grak!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: