Kelas Biologi Pagi


Entah kenapa manusia indonesia akhir-akhir ini senang sekali jadi juri kehidupan. Mereka menkafirkan inilah, mengharamkan itulah, menjustifikasikan individu lain masuk nerakalah, seolah mereka sudah pasti berada didaftar teratas penghuni surga. Seolah kavlingan surga sudah mutlak mencatat namanya.

Layaknya superhero Hollywood, mereka menjadi hakim jalanan yang dengan gampangnya mengeluarkan keputusan baik-buruk / layak-tidak dengan seenak jidat tinggal tunjuk ke muka si tersangka. Bermodalkan massa pendukung yang terorganisir mereka secara mendadak membuka pengadilan alam atas apa yang mereka kehendaki. Dan lagi-lagi saya harus mengeluarkan kata kunci “tidak semua”. Ya, memang tidak semuanya begitu. Tapi kebanyakan (selalu saja kalimat klise pembelaan ini keluar).

Dengan santainya orang-orang ini (sebut saja oknum, atau bunga?), mengkritisi keputusan langit dengan logika bumi. Menafsirkan kitab suci secara literal dan sesuai kadar otak sangat fatal akibatnya. Mereka memahami Tuhan layaknya bikin indomie. Tinggal baca petunjuk masak, voila, indomie siap disantap. Segampang itu.

Dihadapan orang-orang model begini dunia serasa begitu sempit layaknya kos-kosan harga 100 ribu. Kebenaran dihadapan mereka adalah absolut. Dan yang berbeda jalan adalah setan. Lucu. Dan mereka numpang hidup di tanah demokrasi? Lawakan macam apa ini?

Interpretasi masalah moral, akhlak, norma dan etika menjadi begitu dangkal dan buram. Sifat yang seperti ini menjadi ironis ketika mereka menjadikan kekerasan sebagai jalan Tuhan, dan mengatasnamakannya sebagai perang melawan kejahatan padahal agama yang dianutnya berpegang teguh akan toleransi dan kasih sayang.

Dan lihatlah saya yang masih pagi begini sudah ngoceh masalah etika dan moral gara-gara semalam kebanyakan ngopi. Keparat betul kakak cantik yang bikin kopi. Ini pasti disengaja. Ini pasti konspirasi. Ini pasti sudah direncanakan untuk menambah dosa saya ngomongin orang sebelum acara gosip pagi di TV dimulai. Ah, kakak.. namamu lupa saya bertanya..

.

“Jika ada manusia yang merasa selalu tahu, selalu benar, tak menerima pendapat orang seakan kebenarannya adalah absolut. Hati-hati, mungkin saja dia adalah Tuhan.”

.

kopi (2)

Kami sibuk, sibuk mengatur jadwal tidur..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: