Mafia Pulsa

30 Juni 2015

Dulu, di jaman sebelum presidennya Jokowi, ada salah seorang menteri yang dengan percaya dirinya menantang kelompok terbesar di negeri ini, yaitu para netizen dengan bertanya: “memang kalo internetnya kencang, mau buat apa???”.

Dengan hormat, Pak mantan menteri. Saya ini seorang mahasiswa tanpa pemasukan tetap yang tiap harinya harus memilih, hari ini uang saya dipakai untuk makan atau untuk ongkos berangkat ke kampus? Karena saya setiap ke kampus harus menaiki angkot sebanyak 4 kali. Ditambah jalan kaki sejauh 1 km.

Ketika BBM naik, ongkos angkot tanpa persetujuan Organda pun langsung naik dengan cepatnya selang satu hari setelah pemberitaan di TV-TV. Tapi, ketika harga BBM turun, jangankan ongkos angkotnya diturunkan, isunya pun tak pernah terdengar sampai sekarang. Seolah-olah mereka bersiul sambil pura-pura tidak tahu. Jadilah saya sebagai pelanggan tetap harus mengeluarkan ongkos 15 ribu sehari cuma untuk ongkos.

Pemasukan saya hanya dari hibah orang-orang iseng dan pekerjaan saya sebagai translator freelance juga sebagai tukang edit Thesis mahasiswa S2. Karena saya yang tersendat mobilitas, jadilah saya hanya mampu bekerja di rumah. Bisa saja sih cari pekerjaan di luar rumah, tapi menurut pengalaman saya, hal itu bisa mengganggu urusan akademik saya. Sedangkan ini kesempatan terakhir saya untuk menyelesaikan kuliah saya. Karena itulah saya hanya menerima pekerjaan di dalam rumah.

Baru-baru ini saya dapat pemasukan juga dari salah satu website di internet. Sayang, modem dan dompet saya tidak terlalu mendukung. Untuk membeli paket internet termurah pun saya harus mengorbankan uang makan beberapa hari. Setelah diisi pun, internet provider ini sinyalnya megap-megap layaknya ikan kekurangan air. Itupun sudah dilakukan di atas jam 12 malam dimana traffic internet seharusnya mampu mencapai klimaks.

Dan provider keparat ini bukannya memperbaiki kualitas sinyalnya, malah menambahmahalkan harga paket yang kualitasnya setara WC terminal itu. Tak dinyana, mahasiswa kere sejenis saya hanya bisa pasrah dan plonga-plongo atas kebijakan pelaku-pelaku bisnis maupun pemerintahannya sendiri.  Dan sepertinya, saya tidak sendiri. Ada ratusan atau mungkin ribuan manusia-manusia selevel saya yang menggantungkan hidupnya juga di internet.

Jadi Pak mantan menteri, untuk menjawab pertanyaan anda di atas, mungkin, bagi anda, internet yang cepat tidak ada gunanya secara umum di negara ini. Namun, jika seandainya internet bisa anda tambahkan kecepatannya sedikiiiiiiiiiiit saja, setidaknya anda bisa menyelamatkan satu entitas bernama Frans yang telah mengorbankan uang makannya berhari-hari untuk mendapatkan salah satu sumber pendapatannya dari internet yang digunakan untuk menutupi ongkos angkot yang kian mahal demi menuju kampusnya dalam hal menuntut ilmu dan InsyaAllah akan menerapkan seluruh hasil pengetahuannya untuk mencerdaskan kehidupan seluruh bangsa agar bisa MENGGANTIKAN ANDA.

Sekian dan Aura Kasih.

Iklan

Fix Me

26 Juni 2015

Malam ini berulang-ulang saya setel itu lagu Perahu Kertas yang dicover Sind3ntosca. Liriknya saya suka. Novelnya juga. Tapi filmnya saya kasih rating 6 saja, itupun gara-gara Maudy Ayunda yang main. Novel ini salah satu yang bisa bikin saya “tersentuh”. Tidak banyak novel yang bikin saya jadi sentimentil. Salah satu novel cinta yang rasanya kekanakan tapi cocok dengan saya. Sedikit picisan memang. Tapi entah kenapa rasanya saya ingin menjadi pemeran Keenan.

Sudah lama saya suka dengan karakter pelukis. Dari dulu saya juga sering mengandaikan diri menjadi seorang pelukis yang menyepi dan menikmati ruang imajinasi sebesar kanvas itu. Lalu tinggal di sebuah gubuk ditemani rokok, Ferrari, Revalina dan khayalan setinggi langit tentang apa saja.

Tidak perlu sedetail Da Vinci Atau sehidup Dali. Cukup seabstrak Picasso. Kemudian menertawai interpretasi orang-orang terhadap karya saya yang sebetulnya saya sendiri tidak tahu artinya. Mengeluarkan isi otak melalui gambar dan warna. Semenyenangkan masa ketika kanak-kanak. Berkonsentrasi penuh terhadap karya tanpa peduli sekitar termasuk rambut yang menggondrong, celana yang kian lusuh, dan perut yang kian langsing. Saya juga kepikiran, kok pelukis-pelukis ga ada yang gemuk ya? Apa memang kurang makan atau tidak terpikir untuk makan?

Lalu saya tersentak dengan pengalaman menggambar saya yang tak pernah dikasih nilai di atas 7 ketika sekolah. Dulu sering juga dapat nilai 8, tapi itu gambar mekanik saya waktu di STM. Gambar-gambar rancang rumah, PCB dan detail tehnik lainnya. Bukan gambar bebas.

Di lain waktu sering juga saya bermimpi menjadi pengukir kayu, atau pemain biola, atau pandai besi. Saya suka menjadi orang-orang keren tersebut. Orang keren dengan profesi menakjubkan. Tapi, dengan menilik potensi saya saat ini, kemungkinan saya hanya akan jadi nelayan. Tidak bermaksud merendahkan para nelayan. Mereka menakjubkan, tapi tidak keren. Kalo kata Pidi Baiq: Ganteng itu sementara, keren itu abadi..

Iya, keren itu harga diri. Bukan masalah gaya, tapi lebih ke eksistensi. Pikiran, sifat, sikap, karya, pengetahuan, pengalaman, itu semua termasuk eksistensi menurut saya. Menilai manusia dari dalam. Dari sinar matanya. Dari goresan teduh di bibirnya. Dari kerutan di pinggir matanya. Dari hembusan asap rokoknya.

Makanya saya lebih suka Che Guevara ketimbang Soe Hok Gie. Chairil Anwar ketimbang HB Jassin. Pram Ketimbang Sapardi. Soekarno ketimbang Hatta. Entah kapan saya jadi salah satunya.. AH!

.

Nasip.


Cerutu Disorder

23 Juni 2015

Taufiq Ismail menyebutnya sebagai “Tuhan 9 centimeter”. Sedang Che Guevara mengandaikannya sebagai pendamping istirahat yang baik bagi prajurit soliter. Dan saya, menganggapnya sebagai penemuan terhebat setelah api dan roda..

Kebanyakan orang tak suka akan kehadirannya, baunya, asapnya, dan harganya. Saya termasuk spesies terakhir itu. Terlebih lagi kaum hawa. Bahkan ada yang dengan lantangnya menghubung-hubungkannya dengan penolakan cinta: “males ah, dia perokok”, “dia cakep, cuma perokok”, “nyari pacar tuh jangan yang perokok”… Saya sih santai saja, toh namanya pendapat memang harus subjektif.

 

Tulisan ini bukan pembelaan. Ini adalah bagian dari keseimbangan. Saya tidak akan menjabarkan betapa pentingnya rokok di negeri ini sebagai penyumbang devisa terbesar kedua, sumber penghidupan ribuan petani tembakau, pembangun industri nasional, atau sebagai salah satu produk perusahaan lokal yang mendunia.

Rokok sudah pasti berdampak negatif. Banyak peneliti sudah berbusa-busa menjelaskan akibatnya. Saya pun sudah kenyang mendengarkannya. Kami pun sudah di isolasi di banyak tempat dengan tulisan “dilarang anu” dan perda juga UU di berbagai daerah, instansi dan Universitas. Gambar-gambar tidak penting pun sudah banyak tertempel bersama tulisan-tulisan yang kami anggap sia-sia.

Masih ingat tragedi dilarangnya pergi ke Pulau Sempu? Lucunya, yang berkoar untuk melarang adalah yang sebagian besar sudah pernah ke sana. Kasus ini sama halnya dengan para perokok. Dengan sistem pembuktian terbalik, kegiatan merokok sebaiknya dihakimi setelah rokok dicoba. Sama seperti analogi cabe, seseorang harus tahu cabe itu pedas atau tidak dengan memakannya terlebih dahulu.

Bagaimana dengan hasil riset para ilmuwan? Banyak negatifnya itu betul. Tapi manusia hidup tidak hanya bermodal raga. Tubuh kita juga dilengkapi dengan jiwa. Salah satu bagian yang sering para ilmuwan lupakan. Para filsuf, sebagai kontra-ilmuwan, sudah lama hadir sejak filsafat pertama dibunyikan mengistimewakan keadaan jiwa manusia. Filsuf menjadikan jiwa sebagai bagian primer dari manusia dengan hasil akhir kebahagiaan.

Rokok sebagai budaya telah menjelma lama dalam keseharian masyarakat terlebih di Indonesia. Di Amerika kuno, suku Indian melambangkannya sebagai simbol perdamaian. Di benua hitam, khususnya para pemberontak, rokok menjadi lambang kebebasan. Karena itulah rokok banyak digunakan oleh para pemikir sejenis Soekarno, Castro, Pram, Kennedy, bahkan oleh Che yang seorang dokter.

Secara psikologis, rokok mampu membahagiakan penghisapnya lebih lama ketimbang intensitas penyakit yang ditimbulkannya. Perokok adalah para pemikir yang telah membuang tubuhnya untuk memaksimalkan jiwanya. Mereka tidak menyebutnya sebagai pengorbanan. Tapi pencarian. Maka dari itu, jangan heran ketika ada dua manusia yang hanya berdiam diri berjam-jam tanpa kata hanya bertemankan rokok.

Kondisi ini tentu saja tidak dialami semua perokok. Namanya juga pencarian, ada yang ketemu ada yang tidak. Keadaan jiwa masing-masing adalah bagian pentingnya. Seberapa dalam seorang individu mau menyelami keadaan jiwanya sendiri.

Tak perlu marah atau sakit hati. Kami suatu saat juga kami akan berhenti. Baik karena kesadaran diri, atau habisnya pencarian, atau bertemunya kebahagiaan, atau karena pemakaman. Ruang kami tidak sesempit duniawi. Batas kami adalah imajinasi. Meskipun kebahagiaan kami adalah halusinasi, tapi kami beli pakai uang sendiri… (puisi apalah ini… -__-).

Sudah ah, paket internet curian ini nanti ketauan orangnya.. Mumpung baru sahur, saya mau ibadah dulu. Jangan dibangunin…

.

Ada kalanya dalam hidupmu, kamu ingin sendiri saja bersama angin.
Lalu menceritakan semua rahasia rahasiamu, dan meneteskan air mata.
(Bung Karno, Ende-1933).

.

Dengerin tuh..

Dengerin tuh..


BENGKULU – Bukan Surga, Tapi Tetap Tersembunyi

21 Juni 2015

Tulisan ini sebenarnya adalah bentuk asli tulisan yang saya ingini dari tulisan saya yang sudah diterbitkan. Karena dirasa tulisan saya yang “itu” hanya untuk memenuhi permintaan editor saja. Padahal mah, aslinya begini ini:

.

Karena saya memang belum pernah ke surga, wajar jika saya belum berani memberikan tagline “surga tersembunyi” layaknya beberapa artikel travelling lain terutama kepada salah satu provinsi penghasil koruptor terbanyak di Indonesia ini.

Tersembunyi karena provinsi ini memang kurang dikenal oleh penduduk Indonesia lainnya. Bahkan tidak sedikit yang bahkan tidak tahu kalau provinsi ini exist. Sering saya jalan-jalan ke berbagai daerah dengan memperkenalkan diri sebagai orang Bengkulu, namun fakta lapangan berkata beberapa orang ada yang mengira bengkulu ada di Kalimantan. Bahkan ada yang bertanya dengan menyakitkannya: Listriknya udah masuk? JLEEEBB. BANGET.

.

  1. Sejarah Daerah

Menurut mitos, saya lahir di pinggir pantai. Tidak heran jika hampir semua orang Bengkulu dalam hidupnya selalu berhubungan dengan pantai. Karena Bengkulu, merupakan salah satu kota dengan garis pantai terpanjang di Indonesia. Ditambah lagi bentuk propinsinya yang memanjang dan langsing seperti saya, jadilah Bengkulu mempunyai satu pantai yang lurus tanpa sekat.

Saya kecil, tinggal di sebuah rumah dinas persis di bawah kaki Benteng Marlborough, Sebuah benteng peninggalan Inggris terbesar di Indonesia. Waktu itu saya tidak sadar kalau halaman belakang rumah saya adalah sebuah benteng bersejarah yang mendunia. Saya pikir, karena bapak saya orang kaya, dia iseng saja membangun sebuah benteng di belakang rumah.

Juga, benteng inilah yang membuat Inggris dengan berat hati membarter Bengkulu dengan Singapura kepada VOC. Jadi jangan heran orang-orang Bengkulu menggunakan beberapa kata bahasa Belanda dan Inggris yang sudah dinaturalisasi sesuai lidahnya masing-masing.

Provinsi Bengkulu, yang jika dilihat dari peta berbentuk ramping-memanjang ini, memiliki bentuk geografis unik dengan bagian pantai di barat dayanya (Samudera Hindia), dan pegunungan di timur lautnya (Bukit Barisan). Kondisi ini memungkinkan hampir di tiap daerahnya dikelilingi oleh pantai dan gunung. Potensi wisata alam yang cukup menjanjikan. Tapi sayang, potensi wisata alam yang begitu besar hanya ditelantarkan tanpa ada kemajuan berarti.

Yang dibuat maju hanyalah kebun kelapa sawitnya. Tanaman perusak tanah itu kini menjalar dengan gilanya di setiap lahan kosong yang kedepannya mungkin akan bernasib sama dengan Riau yang telah tertutupi sawit. Saya yang tiap pulang ke Bengkulu selalu sedih melihat dari atas pesawat digundulinya hutan-hutan karena gampangnya ijin mendirikan kebun dan perusahaan sawit di Bengkulu. Ah, Mahasiswa Kehutanan Universitas Bengkulu, semoga kalian diberikan hidayah di bulan yang suci ini.. Amin.

Di Bengkulu, orang-orangnya terlatih efisien. Mungkin karena propinsi ini pernah dijarah VOC, maka kehidupan mereka terpaksa hemat dan efisien. Salah satu contohnya adalah penamaan kepada daerah dan tempat. Di sini, ada gunung tertinggi di dunia. Namanya Gunung Bungkuk. Leluconnya, masih bungkuk saja sudah tinggi, apalagi kalau gunungnya berdiri.. Begitu katanya.

Ada lagi Danau Dendam Tak Sudah. Namanya ngeri, sangar, brutal. Mitosnya, ada putri raja yang diajak nikah sama seorang pria yang karena alasan klise (tidak disetujui orang tua, sinetron banget ga sih..), akhirnya si putri bunuh diri dengan cara mencelupkan diri ke dalam danau dan mati. Dan si pria inilah yang akhirnya mengobarkan semangat dendam tak sudah hingga menjadi nama danau ini. Makanya, mulai sekarang berhentilah nonton sinetron…

Ada juga Pantai Panjang. Dari ketidakkreatifan namanya saja orang mungkin sudah bisa menebak keunggulan dari pantai ini. Yup, sebuah pantai yang… panjang. Sesimpel itu. Meskipun begitu, pantai ini juga dipenuhi berbagai fasilitas seperti mall, sport center, jogging track, diskotik, cafe, guest house, lounge, hotel, andong, ATV, berbagai wisata air, TPA, dan outbound field (benar-benar pantai yang sibuk) ditambah lagi biaya masuk kawasan yang gratis (Gratis! ini yang penting). Tapi parkir tetap bayar, sesuai prinsip orang Indonesia: Di mana ada keramaian di situ ada parkiran. Pantai ini sudah sering diliput TV, tapi entah kenapa yang dibangun hanya hiburannya, bukan kelangsungan hidup pantainya. Kesian…

Juga ada Bukit Kaba. Kaba bukan Ka’bah di Mekkah. Dan entah kenapa ada kata bukit  tersemat di situ, padahal ini adalah sebuah Gunung. Berapi. Aktif. Dan mitosnya, karena udaranya yang amat dingin, tempat ini menjadi saksi bisu atas hilangnya setengah populasi perawan di kota Bengkulu. Gunung ini terletak di cool-zone propinsi. Sebagai negara tropis, tiap daerah di Indonesia selalu ada tempat model begini seperti Puncak di Bogor atau Batu di Malang atau Bandungan di Semarang. Saya senangnya menyebut daerah sejenis ini sebagai Cool-zone.

Bahkan, Soekarno juga menyumbang nama karena pernah diasingkan di sini. Bermula dari nama bengkel furnitur yang dibangunnya di Bengkulu, akhirnya nama bengkel tersebut jadi nama sebuah daerah: Suka Merindu. haissshhyaaah… picisan banget.

Di Bengkulu juga ada nama-nama daerah lain seperti: Bali, Semarang, Surabaya. Ada juga nama-nama praktis nan keren seperti Padang Harapan, Pagar Dewa, Tanah Patah, Sumur Meleleh, Ujung Bintang, Pondok Besi, Sungai Hitam, Pintu Batu, dll. Sepertinya si pembuat nama terlalu sering dicekoki film-film klenik kolosal.

.

  1. Benteng Marlborough

Benteng ini adalah salah satu situs terkenal yang ada di Bengkulu. Letaknya persis di pinggir pantai. Yang bangun orang Inggris. Yang pakai orang Belanda. Yang ngerusak orang Indonesia. Umurnya 300 tahun. Bentuknya seperti Kura-kura raksasa. Benteng ini selalu bersih dan terawat. Tempatnya asik, buat nongkrong juga buat pacaran. Di sini pusatnya muda-mudi Bengkulu bersatu. Full of entertainment and Traditional Food. Buat para pencari Jodoh, ini adalah salah satu spot terbagus untuk merubah takdir kalian. Bersegeralah.. Jodoh mungkin di tangan Tuhan, tapi kalau tidak diambil-ambil, tetap saja jodoh akan di tangan Tuhan.

.

  1. Peninggalan Bung Karno di Bengkulu

Dahulu, bengkulu merupakan salah satu daerah penghasil nyamuk demam berdarah tertinggi di Indonesia. Kondisi inilah yang mungkin memberikan ide bagi para penjajah untuk mengasingkan banyak tokoh pejuang di tempat ini.

Salah satunya adalah Bung Karno. Playboy satu ini sempat merancang sebuah masjid berciri khas Jawa, Masjid Jami’ namaya. Masjid ini terlihat mencolok karena sangat berbeda dengan masjid kebanyakan di Kota Bengkulu. Masjid ini terletak tepat di tengah-tengah persimpangan paling sibuk di Bengkulu. Jadilah tempat ini salah satu tempat melatih konsentrasi paling tinggi di Kota Bengkulu.

Peninggalan Bung Karno lainnya adalah Rumah Pengasingannya yang berada tidak jauh dari pusat kota. Banyak barang Bung Karno yang masih terawat baik dan dipajang seperti museum. Beberapa foto dan bukunya juga tersimpan rapi di sini. Yang menarik adalah sebuah sumur yang terletak di belakang rumah. Air dari sumur ini menurut beberapa orang punya khasiat yang blablabla sama seperti gentong air di puncak Gunung Muria. Mitos yang beredar banyak di seluruh penjuru nusantara, air dengan sumber tidak jelas dengan khasiat blablabla.

Oya, di kota inilah Bung Karno cinlok dengan Ibu Fatmawati. Rumah Ibu Fatmawati juga di jadikan museum di pusat kota. Bedanya rumah ini berbentuk rumah adat panggung, dan sayangnya saya belum pernah masuk.

  1. Bunga Rafflesia Arnoldi

Fakta: Bunga ini memang berbau tidak sedap, tapi BUKAN bunga Bangkai. Beda. CATET. Bunga ini sering sekali tumbuh di jalan lintas Kepahiyang. Kepahiyang itu nama sebuah daerah yang penuh jalan berliku-liku layaknya kelok 9 di Sumbar. Waktu kecil, saya sangat tidak suka jika diajak ke daerah ini karena jalan yang berliku tersebut terus saja membuat saya mabuk darat dan muntah.

Makanya banyak bis dan mobil patas daerah ini sering menyediakan minyak angin dan kantong plastik. Jangan kaget juga kalau mobil yang melewati daerah ini mempunyai bekas seperti muntahan memenuhi beberapa spot di dekat jendela mobil.

Saya berasumsi bahwa istilah mabuk kepayang adalah sebuah istilah yang diciptakan di sini, karena daerah ini. Mungkin inilah juga alasan Bunga Rafflesia sering tumbuh di sini. Menurut sejarah, penemu bunga ini seorang botanist bernama Arnoldi. Dan kebetulan si Raffles adalah gubenur Bengkulu waktu itu. Jadi nama si Raffles tersemat di bunga ini kemungkinan hanya karena ia adalah pejabatnya, bukan penemunya.

Dan Faktanya, saya belum sekalipun menyentuh bahkan melihat secara langsung bunga ini. Menyedihkan memang. Padahal itu adalah sumber nama saya berasal. Saya jadi merasa seperti kacang yang lupa petaninya. Durhaka tingkat agrikultur. Ya maap…

.

  1. Festival Tabot

Di Bengkulu ada Festival tahunan yang bernama Tabot. Intinya sih peringatan ini dipersembahkan untuk meninggalnya cucunya nabi, Hussein, di Perang apalah lupa. Selain Bengkulu, Sumatera Barat juga punya festival yang sama. Bedanya, Festival ini di Bengkulu perlahan-lahan sudah meninggalkan embel-embel agamanya. Karena dirasa terlalu Syiah. Jadilah ini akhirnya murni festival budaya.

Selama 10 Hari masyarakat Bengkulu akan ditontonkan sebuah arak-arakan (bukan minuman arak) yang berkeliling di pusat kota. Acara ini hanya berlangsung dari sore hingga malam. Ramainya minta ampun. Satu kota menjadi riuh dan menyenangkan. Orang-orang ikhlas berjalan berkilo-kilo meter (motor dan angkot dilarang karena macet) untuk menikmati festival ini.

Sejarahnya, kalau saya tidak salah, tabot diadakan oleh 9 keluarga tabot yang diyakini merupakan para keturunan Hussein. Tabot sendiri berbentuk candi 2-5 meter yang terbuat dari kayu/papan/triplek yang dihias warna-warni menggunakan berbagai aksesoris. Semua Tabot akan dipamerkan dilapangan besar selama beberapa malam dengan di tambahkan dol (alat musik tradisional sejenis bedug besar) di atasnya.

Tabot ini akan diarak dari lapangan menuju ke kuburan yang entah makam siapa, di daerah bernama karballa (namanya sama seperti tempat Hussein gugur), setelah berdoa dan beberapa ritual, tabot diarak menuju pantai/laut dan akhirnya dibuang (jadi ingat si mantan).

Di lapangan inilah semua orang tumpah-ruah. Baik penjual makanan, pedagang baju, berbagai mamang, semua tukang, ada juga ditambahkan panggung untuk kompetisi musik tradisional dan lomba-lomba ikan-ikanan dan lainnya. Dan ingat, karena ini acara massal yang menuntut berjejalan, berdesakan, saling dempet dan berjalan dengan berjinjit-jinjit bertumpuk, hati-hati dengan dompet, sandal dan pacar.

.

Dan itulah sebagian tentang Bengkulu yang sebenarnya ingin saya tulis. Namun pihak editor punya keinginan sendiri yang membuat saya harus menulis tentang yang ingin pembaca dengar, bukan yang ingin saya katakan. Saya tidak menentang, saya membuat jalan keluar dengan menulis keduanya. Semoga maksud saya tersampaikan.

Btw, saya sekarang sedang melakukan balas dendam. Soekarno yang notabene adalah orang jawa, telah merebut orang Bengkulu sebagai pendampingnya. Kini saatnya saya membalas dendam sebagai orang Bengkulu yang akan merebut gadis Jawa. Hati-hati hei kalian gadis-gadis Jawa, ini adalah peringatan. Yang janda juga jangan merasa aman saja..

.

Untitled-1


Viva La Sensoria

13 Juni 2015

Pagi-pagi sayanya tumben nonton Dr. OZ di TV. Tentu saja alasan saya menonton tidak lain karena pagi ini acaranya sedang membahas tentang payudara (uhuk, yes !!).. Yang mau saya bahas bukan mengenai intrinsik seputar payudaranya (ugh, padahal ini bahan bahasan yang amat sangat menarik), tapi saya hanya membahas unsur-unsur yang acaranya sajikan saja.

Begini. Ehem.., pertama, mereka menggunakan berbagai macam properti sebagai alat peraga semacam balon, pudding, air, dll. Padahal, bintang tamu dan co-hostnya sendiri adalah wanita (muda, cantik, menarik, istriable, cantik, mulus, bersih, cantik, manis, kencang, anggun, cantik, yah begitulah..). Benar-benar aktivitas yang membuang-buang waktu dan tidak efisien pikir saya. Kenapa tidak menggunakan alat peraga yang sudah tersedia (bintang tamu dan co-host) yang nyata-nyata ada di acaranya. Kan bisa lebih efisien dan detail.. Ya kan?

Selain hemat biaya produksi, banyak pemirsa yang akan suka dan saya yakin, hanya sedikit yang akan perotes termasuk FPI, PKS, HTI, MUI, FBR dan ISIS. Lagipula rating akan semakin naik sesuai ambisi semua TV-TV di Indonesia.

Anak-anak pun saya rasa tidak akan menonton TV di jam segini. Karena anak-anak sudah sibuk dengan internet, smartphone, tablet, iphone dan semua gadget pengganti orangtua mereka..

Kalopun dapet nonton, itu bocah-bocah paling juga dapet acara alay atau acara busuk tidak penting dengan durasi berjam-jam. Saya ingat jaman dulu jadinya, dimana tiap pilm kartun saya apal semua Ost atau lagu pembuka sejenis Dragon Ball atau Shinchan. Tapi anak sekarang kesian, jangankan ost film kartun, filmnya aja gak dapet.. Apalagi lagu anak.. duh, miris euy.

Pertentangan kemungkinan terjadi di badan sensor Indonesia. Karena nampaknya, badan sensor sekarang mulai plin-plan dan kurang riset. Mulai dari belahan dada, rokok, pisau, pistol, darah, hantu, pakaian dalam, adegan perkelahian, dan lambang-lambang tertentu. Saya rasa, kalau film sejenis Game of Throne tayang di TV Indonesia, jangan kaget jika mulai dari season 1 sampai tamat itu isinya semut semua. Habis semua di sensor. Mulai dari adegan orang ngupil sampai kartun. K A R T U N sodara-sodara…

Kalau sudah begini, jangan harap progam KB berjalan lancar. Juga program pemerintah tentang sex education. Padahal, manusia sudah kodratnya diciptakan dengan sifat penasarannya. Kalau semua disensor, secara instingtif, tentu manusia akan mencari dengan sendirinya tanpa terkontrol.

Lucunya, ketika terjadi hal-hal negatif karena TV, maka acaranya yang disalahkan. Analoginya begini, saya bikin pesawat-pesawatan pakai kertas# Pesawatnya terbang masuk kamar mandi wanita# Terus yang disalahkan pesawatnya#. Kan aneh. Yang salah kan gendernya? Ya nggak?

Ah, kesal sekali saya gara-gara nonton acara DR. OZ ini. Kecewa saya. Sampai-sampai tulisan ini bercabang seperti rambut di iklan shampoo kakak Sunsilk berbaju kuning di konser itu. Kemungkinan nanti malam saya tidak bisa tidur ini, bukan gara-gara kopi seperti biasa, tapi gara-gara mengigau: “Kenapa harus balon?? Kenapa harus Pudding? Kenapa?? KENAPAAAA…???

.

MIKIR !

MIKIR !

 


Status: Waspada Hujan

10 Juni 2015

Sejak kemunculan saya di Padang, entah mengapa status saya yang Sudra ini tiba-tiba terjun bebas menjadi kaum Paria.

Saya yang semula miskin dan dimiskinkan negara akhirnya ikhlas terdegradasi ke urutan buncit dalam ekosistem manusia. Sedikit mirip dengan pengungsi Rohingya, tapi alhamdulillah saya tidak hitam dan meminta-minta.

Ditambah sebentar lagi akan Puasa, dimana fenomena bernama mudik akan terjadi. Dan status saya sebagai orang buangan akan menjadi bingung akibat hilangnya tempat yang akan dituju selain ke hati dik Nabila.

Kenapa bukan Aura Kasih? Karena tadi siang saya sempat menonton acara gosip di TV. Di sana diberitakan Aura dan Glenn Fredly sedang pacaran. Kurang ajar betul jong Ambon satu ini. Cuma modal bisa nyanyi, suara merdu, uang banyak, muka eksotis, pinter bikin lagu, baik hati, punya pengaruh besar di dunia musik, produser, berani-beraninya menggoda Aura Kasih. Padahal, kalo Aura mau mempertimbangan masalah kulit, saya yakin saya lebih putih dari Glenn..

Untunglah saya adalah orang yang terlanjur ikhlas. Jadi Aura saya bebaskan untuk memilih saingan saya yang tidak sehat karena banyak kelebihannya dibandingkan saya itu. Dan untuk itu, jadilah saya bingung tahun ini akan mudik kemana..

Selayaknya pemudik, saya diharuskan mempunyai sesuatu yang harus bisa dipamerkan. Peliknya, saya orangnya tidak suka pamer (bahasa halus untuk tidak punya yang akan dipamerkan). Ditambah lagi pertanyaan hidup saya juga banyak. Pertanyaan hidup itu semisal: kapan lulus? kapan nikah? kapan kaya? kapan kerja? kapan boker? kapan beli sempak baru? kapan gantengnya? dan lain-lainnya.

Ah, entah sejak kapan mudik jadi semembosankan ini.. Ibu peri, tolongin chacha…

.

100 !!!

100 !!!


Masa-Masa Lalu

5 Juni 2015

Tadi malam, saya yang bosan merapal sandi rumput karena besoknya harus ujian bahasa Jerman, akhirnya buka-buka buku agenda lama jaman STM saya. Dimana dulu saya masih naifnya membaca dunia. Masih panas akan hal-hal klise dan belum mengenal Aura Kasih.

Sebuah kertas bercoret pensil saya temukan terlipat dengan sobekan di sana-sini. Umurnya setelah diteliti menggunakan karbon didapati berasal dari masa sekitar 10 tahun lalu. Saya cengar-cengir membaca tulisan diatasnya, yang mungkin saja kertas inilah awal mula pondasi seluruh tulisan saya..

.

Awal Dentum Terakhir

Menghujam dengan kata-kata
Menusuk dalam berbalut idiom kiri
Menghunus puisi sebagai senjata

Berkonotasi mengumbar imajinasi
Berperang memakai sastra
Bersajak menggantikan materi

Lontarkan kata panas, kritik hingga jemu
Lepaskan ide-ide romantis, propaganda sekitarmu
Lantunkan  paragraf sinis, berteriaklah!!!

Jangan mau berdamai saja
Jalan lurus hanya untuk kaum kikir
Jadi liar dan terbakarlah. Berperang, wahai penyair!

– Bengkulu, di malam senin, Maret 2005 –

.

Hidup Ujian!

Hidup Ujian!


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: