Fix Me


Malam ini berulang-ulang saya setel itu lagu Perahu Kertas yang dicover Sind3ntosca. Liriknya saya suka. Novelnya juga. Tapi filmnya saya kasih rating 6 saja, itupun gara-gara Maudy Ayunda yang main. Novel ini salah satu yang bisa bikin saya “tersentuh”. Tidak banyak novel yang bikin saya jadi sentimentil. Salah satu novel cinta yang rasanya kekanakan tapi cocok dengan saya. Sedikit picisan memang. Tapi entah kenapa rasanya saya ingin menjadi pemeran Keenan.

Sudah lama saya suka dengan karakter pelukis. Dari dulu saya juga sering mengandaikan diri menjadi seorang pelukis yang menyepi dan menikmati ruang imajinasi sebesar kanvas itu. Lalu tinggal di sebuah gubuk ditemani rokok, Ferrari, Revalina dan khayalan setinggi langit tentang apa saja.

Tidak perlu sedetail Da Vinci Atau sehidup Dali. Cukup seabstrak Picasso. Kemudian menertawai interpretasi orang-orang terhadap karya saya yang sebetulnya saya sendiri tidak tahu artinya. Mengeluarkan isi otak melalui gambar dan warna. Semenyenangkan masa ketika kanak-kanak. Berkonsentrasi penuh terhadap karya tanpa peduli sekitar termasuk rambut yang menggondrong, celana yang kian lusuh, dan perut yang kian langsing. Saya juga kepikiran, kok pelukis-pelukis ga ada yang gemuk ya? Apa memang kurang makan atau tidak terpikir untuk makan?

Lalu saya tersentak dengan pengalaman menggambar saya yang tak pernah dikasih nilai di atas 7 ketika sekolah. Dulu sering juga dapat nilai 8, tapi itu gambar mekanik saya waktu di STM. Gambar-gambar rancang rumah, PCB dan detail tehnik lainnya. Bukan gambar bebas.

Di lain waktu sering juga saya bermimpi menjadi pengukir kayu, atau pemain biola, atau pandai besi. Saya suka menjadi orang-orang keren tersebut. Orang keren dengan profesi menakjubkan. Tapi, dengan menilik potensi saya saat ini, kemungkinan saya hanya akan jadi nelayan. Tidak bermaksud merendahkan para nelayan. Mereka menakjubkan, tapi tidak keren. Kalo kata Pidi Baiq: Ganteng itu sementara, keren itu abadi..

Iya, keren itu harga diri. Bukan masalah gaya, tapi lebih ke eksistensi. Pikiran, sifat, sikap, karya, pengetahuan, pengalaman, itu semua termasuk eksistensi menurut saya. Menilai manusia dari dalam. Dari sinar matanya. Dari goresan teduh di bibirnya. Dari kerutan di pinggir matanya. Dari hembusan asap rokoknya.

Makanya saya lebih suka Che Guevara ketimbang Soe Hok Gie. Chairil Anwar ketimbang HB Jassin. Pram Ketimbang Sapardi. Soekarno ketimbang Hatta. Entah kapan saya jadi salah satunya.. AH!

.

Nasip.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: