Bagai Sang Djarum Menyinari Dunia…


Di suatu hari yang lalu saya tergelitik membaca sebuah tulisan Cak Nun, seorang ulama kontroversial yang saya suka dan saya yakin ia satu spesies dengan Gus Dur. Beliau pernah mengatakan: Beribadah itu, kalau bisa orang lain jangan sampai tahu. Lebih ekstrim lagi, bahkan kalau memungkinkan, Tuhan pun harus jangan sampai tahu (walaupun tidak mungkin). Keren.

Beribadahnya itu tidak harus selalu sholat dan ngaji. Buang batu di tengah jalan juga ibadah, tidur di bulan puasa juga, bantu orang tua, atau seperti saya, selalu tersenyum meski di dalam hati.

Keresahan saya muncul karena banyaknya terjadi perbuatan baik yang hanya menjadi kosmetik sosial terutama di bulan Ramadhan ini.

Kita ambil contoh umum, misalnya partai. SETIAP ada bencana nasional, partai akan berlomba-lomba memberikan bantuan bahkan dihari setelah terjadinya bencana. Tentu hal ini tidaklah salah. Sayang ada beberapa bagian yang tidak perlu karena sedikit mencemari amal baik ini. Misalnya, menegakkan bendera, lambang, bahkan foto pejabat partainya disekitar tenda posko bantuan.

Parahnya lagi, ketika pemilu terjadi, partai akan kembali mengungkit perihal bantuan tersebut dengan menyiarkan kembali rekaman/video bantuan atau foto-foto pemberian bantuan tersebut sebagai alat kampanye untuk disiarkan di TV nasional.

Tidak hanya partai. Perusahaan, organisasi, lembaga dan institusi, kelompok daerah, klub kendaraan, komunitas apalah, perkumpulan entahlah, asosiasi anulah, dan lain sesiapalah..

Tidak usah menertawai yang saya sebut di atas tersebut. Karena kita pun juga sering melakukannya. Diantara kita ini pun banyak para pemberi bantuan yang memposting foto kegiatannya di media sosial dan berbagai forum. Kalau dalam agama saya, perbuatan seperti itu kemungkinan besar termasuk riya’. Dan ketika shutter foto telah berbunyi “klik”, saat itulah hilang lenyap semua pahala yang diharapkan.

Dari kecil pun kita sudah diajari, jika tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu. Atau menurut asumsi saya, si pemberi ini sudah terlanjur ikhlas sehingga tidak membutuhkan pahala karena lebih mementingkan rasa kemanusiaan. Tidak apa tidak dapat pahala, yang penting orang yang diberi bantuan bisa tertolong. Hmmm, tipe yang sangat humanis.

Saya jadi teringat kakak saya. Dulu, setiap menjelang lebaran kakak saya itu menyiapkan beberapa amplop berisi uang. Kemudian ia pergi ke kampung-kampung dan bertanya ke orang sekitar dimana ia bisa menemui anak yatim. Ia tidak memberi langsung amplop tersebut. Tapi menitipkan ke orang yang ditanyanya itu, untuk di berikan ke anak yang dimaksud. Kemudian pergi tanpa meninggalkan nama. Begitu setiap tahunnya.

Tidak usah bertanya balik ke saya. Tentang pernah tidaknya saya yang memberikan bantuan, biarlah jadi rahasia abadi tangan kanan saya. Juga kalau bisa, ini pun kalo bisa sih.. mulai tanggalkanlah embel-embel nama, lambang, merk, tanda, simbol, logo, dan segala rupa eksistensi yang terkait dengan imej. Beneran, itu tidak ada gunanya. Karena apa? Karena tumben saya sedang sedikit serius..

.

Ada yang lebih nganu dari sekedar harga diri, cuk..

Ada yang lebih nganu dari sekedar harga diri, cuk..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: