Euforia et Academica


Kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang dunia pendidikan demi menyambut hari pendidikan yang akan tiba sebentar lagi.. Masih lama? 2 mei itu mah sebentar, yang lama itu lulusnya saya.. jleeeb.

Dalam hidup saya, dunia pendidikan khususnya universitas, sangat membantu dalam perjalanan karir saya sebagai tukang tanjak gunung. Beberapa diantaranya banyak menghadirkan kisah lucu yang tentu saja malas saya bagi di sini karena takut tulisannya jadi kepanjangan..

Banyak kampus-kampus yang entah sepertinya terpaksa telah mengijinkan saya untuk singgah bahkan menginap dalam rangka tempat saya melepas lelah seusai mendaki gunung.

Pertama tentu saja kampus negara saya, Bengkulu. Pertama kali saya ke kampus bernama UNIB (Univ. Bengkulu) ini ketika saya SMP dan bersiap mendaki Gunung Kaba bersama anggota mapalanya. Kampusnya besar, tapi tempatnya tersudut. Terpinggirkan layaknya sebagian besar Universitas Negeri yang ada di Indonesia, di buang ke ujung kota.

Lalu ada sebuah kampus di daerah Sungai Penuh, Jambi. Saya lupa nama kampusnya. Tapi nama mapalanya Mata Angin kalau tidak salah. Waktu itu saya ditampung di tengah perjalanan saya menuju Gunung Kerinci. Kebetulan saya diberhentikan di tengah jalan ketika sedang mencari tumpangan truk antar provinsi.

Di Banten, saya kebetulan di tumpangi anak-anak Untirta di kampusnya selama 2 minggu ketika habis dari Baduy. Di sini saya juga “dipinjamkan” ke kampus lain di Pandeglang selama 2 hari.

Lanjut ketika saya akan mendaki Gede-Pangrango, saya yang kebetulan numpang truk dari Semarang akhirnya tersesat sampai ke Sumedang. Dan di Jatinangorlah akhirnya saya berhasil numpang di kampus Unpad bersama anak Komunikasinya yang icik icik ehem-ehem. Sunda home made, boy..

Di Jogja, pernah saya diajak numpang makan seharian di UGM. Tapi tidak menginap. Mengingat betapa “sangar”nya anak mapala di Jogja pada jaman itu.. Sedangkan saya adalah anak baik-baik lagi polos dompetnya..

Habis turun dari Gunung Lawu, saya yang kebetulan waktu itu sedang menumpang truk namun hari sudah terlalu malam, akhirnya menitahkan seorang junior untuk menghubungi temannya di UNS Solo agar dicarikan tempat menginap. Akhirnya dikasihlah kami kamar di suatu fakultas tehnik yang konon paling berhantu basecampnya.

Di Semarang sendiri, saya sudah terlalu banyak menumpang. 2 tahun di FIB, 1 tahun di Hukum, beberapa kali di perikanan, Polines, Udinus, Untag, dan beberapa kampus lain yang tidak bisa saya sebutkan karena lupa.

Di Jawa Timur, pernah saya ke ITS Surabaya meski tidak sampai menginap sepulang saya dari Kalimantan. Lalu ke UMM Malang, waktu saya jalan-jalan ke Batu.

Di Lombok, saya tidak menginap di kampusnya meskipun saya sempat numpang makan di salah satu rumah mahasiswanya yang kebetulan bertemu di perjalanan ke puncak Rinjani.

Terakhir, perjalanan paling asoy dalam sejarah petualangan saya, Kalimantan. Ketika itu saya mendaki gunung Halau-halau. Beberapa hari di perkampungan Dayak, pesta penerimaan tamu dan makan gratis. Saya ditampung di kampus Iwapalamika, Stmik Banjarmasin selama sebulan penuh. Di sini, saya tidak hanya ikut Ospeknya (jadi senior impor), tapi saya juga dibawa ke beberapa kampus lain seperti Kampus Islam, Unlam, dan beberapa fakultas lainnya.

Memang, sebagian besar petualangan saya mengharuskan saya untuk melibatkan dunia pendidikan di Indonesia agar bisa numpang tidur dan makan gratis. Tapi tetap, rokoknya beli sendiri. Hal inilah yang membuat budget jalan-jalan saya tidak pernah melewati angka 6 digit, meskipun tempatnya jauh dan berminggu-minggu.

Sering saya bercerita pada orang-orang tentang jalan-jalan murah yang saya lakukan ini. Tapi, yang bagian menumpang di kampus-kampus ini sering saya sensor karena takut ditiru. Bisa bahaya kalau kampusnya tekor terus sistem menumpang ini di hapuskan..

Adik-adik saya pun jarang saya beritahukan perihal jurus menumpang ini. Karena selain takut mereka keenakan, nanti juga title tukang numpang terbaik tahun ini saya cemas akan mereka rebut. Untuk itulah saya terhadap adik-adik sering memberi nasehat: ilmu itu sulit didapat, maka tidak mudah pula untuk menurunkannya. Begitulah saya berkilah..

Karena itu, saya ingin berterima kasih atas telah dibangunnya kampus-kampus di seluruh Indonesia. Karena fungsinya tidak hanya digunakan untuk mencerdaskan kehidupan sebangsa, namun juga untuk membantu petualang-petualang tidak modal seperti saya ini.

Saya juga berharap, Menteri dan para Rektor sekalian agar bisa mencabut saja aturan yang melarang mahasiswa untuk menginap di kampus. Ini bukan ancaman, tapi permintaan dengan senyuman. Jangan sampai saya harus jadi presiden cuman agar peraturan ini dicabut ya.. Okeh. Sip.

.

DSCF2927

Power Renjer Masa Muda

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: