Sastra Kaki Lima


sas

.

Keabsenan saya dalam membaca koran kebetulan terobati di hari minggu yang berhujan kemaren.  Si kakak saya yang kebetulan beli koran yang entah untuk apa, akhirnya bisa saya gunakan sebagai pengganti informasi setelah internet saya yang tetiba sedang ingin berada dalam kondisi sakratul maut.

Dengan kondisi keuangan yang menyamai perekonomian Yunani, maka sejak beberapa tahun lalu sudah saya tetapkan bahwa membeli koran adalah salah satu sikap bermewah-mewah diri. Perkara duniawi yang sebisa mungkin harus dihindari.

Layaknya koran di hari minggu, hampir semua koran di jagat Indonesia selalu diselingi dengan rubrik-rubrik sastra. Biasanya terisi 2 halaman penuh atau lebih. Saya, sebagai salah seorang mahasiswa penjilat sastra, sudah sepatutnya -minimal melirik- membaca tulisan tersebut.  Biasanya 2 halaman tersebut berisi cerpen, sajak, essai, kritik, dan tentu saja ikon sastra sepanjang masa: puisi.

Saya pribadi, sudah sejak lama berhenti membaca puisi dan sajak di koran-koran dan majalah. Alasannya sepele, karena tidak seiman. Tidak usah dibahas.

Untuk cerpen, dua paragraf sudah cukup. Biasanya ceritanya mudah ditebak. Atau kemungkinan karena terlalu terbiasa dengan bacaan-bacaan panjang sejenis Musashi atau buku-buku Dan Brown, saya jadi kurang suka dengan cerpen-cerpen yang ceritanya pasti menggantung. Yah, walaupun saya kadang-kadang juga suka bikin flash story..

Nah, saya lebih suka membaca pendapat orang di dalam essainya. Apalagi tulisannya kece semacam Prie GS atau Seno GA. Juga saya suka baca kritiknya. Karena saya juga terkadang suka mengkritik kritikan orang lain. Kritik yang dikritik itu ibarat meramu anti-teori. Apalagi memakai senjatanya si seniman kata, J. Deridda: Dekonstruksi. Ditambah lagi yang menulis artikel adalah seorang dosen, makin senang saya kritik.. hehe

Ya, saya suka berseberangan. Meskipun, misalnya ada dua orang berdebat masalah hitam atau putih, saya lebih suka memilih posisi sebagai merah, menjadi musuh keduanya. Saya bukannya senang mencari musuh, hanya menawarkan jenis perspektif baru. Dengan dekonstruksi, saya mencoba menghancurkan bangunan kolot dan klise dengan pandangan absurd yang kadang memang ambigu.. hah!.

Oya, sebenarnya saya sedang ingin membahas masalah eksklusivisme. Masalah yang lebih besar dari kritik sastra yang dituliskan di artikel koran tersebut. Entah kenapa tulisan ini jadi bercabang begini… kebiasaan.

***

Dari membaca rubrik sastra dikoran tersebut, saya tersadar akan sesuatu. Saya menyadari akan existnya sebuah eksklusivisme dalam pemakaian bahasa dalam menyampaikan sastra.

Memang, dalam urusan mencipta sastra dan pembedahan teori bisa kita maklumi pemakaian bahasa yang setinggi monas itu. Tapi, untuk urusan essai atau penjelasan atau bahkan informasi, ada baiknya digunakan bahasa yang lebih ringan dan umum. Bahasa yang mampu diserap mulai dari anak SD hingga pengusaha, lintas otak, bahasanya pribumi, kaum inlander..

Di koran tersebut, si dosen menulis essai tentang hubungan sejarah dan sastra. Tulisannya panjang, setengah halaman koran. Saya malas bacanya.

Kata “sejarah” ia ganti dengan “historisme”. Belum lagi menggunakan kata-kata semacam arbitrer, signified, serta kiasan-kiasan dan istilah yang sepertinya ingin menjelaskan posisinya sebagai seorang dosen. Seolah-olah: “Ini lho guweh, dosen sastra, bahasa guweh ya harus akademisi gitu lho..” Kemudian terjadilah Vickinisasi..

Si dosen lupa, bahwa tulisannya dimuat di koran nasional yang bahkan mungkin dibaca petani kopi di pedalaman Ujung Kulon, dan bukannya di koran kampus yang berisi mahasiswa-mahasiswa siap demo yang hanya ikut agar terpampang fotonya di sosial media..

Pemakaian bahasa masih merupakan masalah utama dalam miskomunikasi dalam mendapat informasi. Coba misal, apa jadinya kalau tiap informasi kesehatan yang biasanya kita dapat, berisi bahasa kedokteran yang njelimet itu?

Di media sosial, kita bisa dengan mudah membaca artikel tentang mengobati sakit perut secara alami, atau membersihkan muka dengan cara herbal. Hal-hal yang sepele ini coba saja dipakaikan bahasa kedoteran dengan istilah-istilah bahasa Latinnya yang naudzubillah rumitnya itu.. Misalnya begini: Gastro Oesophageal Reflux. Kemungkinan hanya sedikit orang yang tau artinya. Padahal itu adalah bahasa kedokteran untuk sakit perut atau simpelnya, kata lain dari mules..

Bayangkan ini terjadi di dunia sastra. Penggunaan bahasa rumit untuk kalangan tertentu dalam sebuah media nasional yang dibaca khalayak umum. Pantaslah orang malas berurusan dengan dunia sastra. Bukan hanya bahasanya yang rumit, tapi ambigu juga tak terjelaskan. Kadang, hal ini juga berimbas ke malasnya anak muda untuk membaca buku, lebih-lebih novel. Dan terkutuklah orang-orang yang meremehkan kekuatan dari sebuah buku..

Eksklusivisme pada sastra telah lama terjadi dan memang seperti dibiarkan saja. Hal ini juga pernah terjadi kepada batik. Batik yang awalnya adalah pakaian khusus Raja-raja jaman dulu, pada hari ini jadi busana pasaran yang sempat diributkan kepemilikannya dan bahkan sudah didaftarkan ke UNESCO.

Batik menjadi kebanggan yang bahkan dipakai petani-petani kampung di desa. Bahkan menjadi busana formal sekolah dan PNS juga acara kawinan. Yang terbaru bahkan batik juga muncul dengan varietas baru seperti jaket, celana, sepatu dan lain-lain. Kreatifitas membuatnya dinamis. Karena Kreatifitas juga bisa muncul dari minat pasar.

Sabun, garam, teh, wig, es, sepatu, dan bantal juga pernah mengalami eksklusivisme. Namun pada akhirnya, eksklusivisme itu runtuh dan menyenangkan segala kalangan karena bisa digunakan siapa saja.

Mungkin pemikiran ini terlalu sosialis. Tapi saya tidak terlalu yakin. Saya hanya merasa, eksklusivisme hanya akan membuat kita terkotak-kotak. Kalo kata teman-teman kuliah saya, itu mereka namakan “rai kubus”, atau muka kubus. Semacam membuat geng-gengan di masa SMA.

Saat ini, peta sastra bahkan dikalangan sendiri lebih diperketat lagi. Sastra ingin dibuat menjadi lebih eksklusif lagi, dengan munculnya wacana bahwa sastra adalah gagasan besar yang memuat nilai-nilai utama suatu peradaban.

Jadi, sastra yang hanya memuat keluhan, isi hati, cinta dan penghianatan, solidaritas, segala bentuk imagery, berbagai hal sejenis status pesbuk dan juga tidak mewartakan tentang sebuah peradaban, akan dianggap bukan sastra. WAW

Saran saya sih, sastra biarkanlah eksklusif di kalangan sendiri saja. Jangan jadi katrok ketika dibawa keluar. Jangan ndeso ketika jadi jajanan massal. Jadi, biarkan saja presiden yang menulis lagu sampai 5 album itu. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Hanya saja, salahnya, lagu tersebut diwajibkan bahkan untuk acara kenegaraan, lebih-lebih jadi soal tes PNS..

Jadilah Eistein, atau Gus Dur. Memang pencitraan otak bisa terlihat lewat pemakaian bahasa. Sastra di jaman Yunani Kuno juga pernah ditinggikan statusnya. Karena, jaman dulu, semakin njelimet bahasanya orang akan dianggap semakin pintar. Tapi sekarang jaman sudah beda. Tidak perlu meninggikan bahasa agar terlihat pintar. Jangan jadi Vicki. Nanti diketawain orang.

Banyak cara lain untuk menunjukkan kepintaran. Karya, misalnya. Tidak perlulah mentang-mentang lulusan S3 Harvard, terus ngomongnya Partikel Tuhanlah, Atom hidrogenlah, Determinasi chauvinismelah, Kloning naturalisasilah, Kuartal brutolah, Kontra epidemiklah.. Bukannya orang pintar menyederhanakan yang rumit?

Makanya para Wali nyebarin agama Islam dulu pakai wayang, pakai gamelan, pakai puisi, pakai lagu. Karena memakai alat rakyat. Menggunakan bentuk umum yang bisa diterima segala kalangan. Bukannya menggunakan telunjuk terus dengan seenaknya mengkhafirkan yang tidak sejalan… eh..

.

Maaf Lahir Batin

Maaf Lahir Batin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: