Mimpi Yang Kelewatan

27 September 2015

Ngggg… Jadi begini. Mumpung lagi kemping, saya jadi pingin bikin rencana masa depan..

Pertama, lulus kuliah dulu. Pindah ke Solo, jadi PNS. Dikuliahin sampe S3. Umur 40 Pensiun dini atau jual SK. Bikin bisnis kebun buah, atau ternak tambak ikan dan udang. Punya anak 3. Bikin rumah 3 tingkat. Tingkat atas buat perpustakaan. Beli sawah di belakang rumah. Pungut anak-anak terlantar. Jadikan anak asuh sekaligus pegawai. Umur 60an pergi haji dan tinggal di Mekkah sampai mati. Tamat..

NB: Semoga Raline Syah baca ini.


Tabrak Qurban Lari

20 September 2015

Menjelang H-3 Idul Adha, saya yang kali ini berperan sebagai peramal amatir, akan mencoba membeberkan sedikit masa depan akan berita-berita yang akan disajikan televisi nanti.

Bukan…, bukan karena berita-berita ini rutin terdengar seperti-siaran ulang-tiap tahun-yang-sampai-bikin-muak-karena-selalu-saja-sama tiap ada Idul Adha, tapi karena saya memang peramal hebat berpotensi yang suatu hari kelak akan menjadi tumpuan negara ini..

***

– Biasanya berita dimulai pada H-1, dimana ada beberapa umat Islam beda aliran yang mencuri start terlebih dahulu dalam memulai sholat Ied. Saya ramalkan berita ini akan mengekspose beberapa aliran yang akan membeberkan alasannya. Mulai dari pencarian hilal yang terus-terusan hilang, keyakinan yang sudah turunan, atau Imamnya telah mendapat petunjuk pada malam sebelumnya.

Kalo stasiun TV-nya sedang bersemangat, biasanya akan segera dihadirkan seorang pemuka agama terkenal untuk dimintai pendapat terkait perbedaan hari pelaksanaan ini, biasa, dibumbui teleconference. Dan jangan lupa, akan ada acara begini: Pemirsa inilah… “7 aliran berbeda di Indonesia yang melaksanakan Idul Adha” ala on the spot

 

– Ramalan selanjutnya adalah tepat di hari H-nya. Tentang berita Sholat Ied negara seperti biasa. Dimana Masjid Istiqlal sebagai setting tempat permanen, dengan posisi peserta: semakin tinggi jabatan, semakin depan saf yang didapat. Entah kenapa susunannya selalu seperti ini. Presiden tepat di belakang Imam, tepat di spot kamera terbaik. Ketua partai dan ketua DPR-MPR di samping mendampingi. Kemudian berderet jendral dan mantan presiden juga menteri-menteri. Pose lawas yang cuma ganti pemeran..

Seingat saya dulu ketika mendengarkan ceramah KH. Zainuddin MZ di dalam khutbah salah satu kaset tape, tidak peduli jabatan atau muka, siapa duluan, saf terdepan adalah hak nya… Ah, saya negative thinking lagi..

 

– Sorenya bagian berita tidak penting mulai muncul, berita tentang Qurban. Mulai dari Sapi jenis apa yang di qurbankan presiden? Berapa kilo beratnya? Berapa ekor? Oh.. Sapi Lokal, Oh.. umurnya 5 tahun. Oh .. Bisa baca tulis?

Lalu diikuti pertanyaan sama namun beda pejabat. Arau kadang publik figur terkenal. Didatengin rumahnya, diwawancara, ditanya beli dimana, dll. Giliran ditanya sejarahnya qurban pada diem. Niatnya pun tidak tau. “Udah tiap tahun”, jawabnya. Beh!

 

– Lalu yang paling bikin kesal, berita tentang orang-orang tidak mampu yang ikut berqurban.  Misalnya: “seorang pemulung berqurban seekor sapi”, “Pengemis qurban kambing setelah menabung setahun”, “Si Frans jangan qurban perasaan mulu, sekali-kali kambinglah..”, “Seorang anak rela jualan pulsa demi ikut qurban”, “Seorang pengemudi GO-Jek tertabrak kambing qurban yang lepas”, dan blablabla…

Kenapa harus ada embel-embel “perendah” yang mendampingi. Dulu juga ada berita begini: “Seorang Mahasiswi Cantik Rela Jadi OB Demi Kuliah”. Ga penting banget. Kenapa harus ada kata Cantik? Sebagai penyeimbang Kata “OB” yang mungkin diartikan hina? Media kita sering sekali menjatuhkan martabat orang dengan melakukan perbandingan tidak bermutu..

Ada lagi: “Seorang anak tukang becak lulus kuliah Cum Laude”. Kenapa harus pakai tukang becak? Anggapan tukang becak “rendah”? Kenapa harus Ironi? Kenapa lulus duluan tidak nungguin saya? Ah, wanita memang hatinya susah setia…

Mungkin gara-gara standar hidup kita mulai meninggi. Seseorang yang dianggap rendah, yang mampu melakukan hal yang tidak mungkin menurut orang yang lebih tinggi, karena dirasa hanya bisa dilakukan orang-orang eksklusif.

Bahasa sederhananya, ada makna “meremehkan” disana. Ditempat yang media yakini ada didalam tiap benak manusia di negeri ini.. Media yakin bahwa para penonton mereka sadar bahwa manusia Indonesia itu hanya menilai dari luar. Makanya media sering sekali menyandingkan kata dari sisi yang dianggap rendah dengan sesuatu perbuatan yang tinggi.

OB – Mahasiswa cantik, Anak tukang becak – Cumlaude, Pengemis – Qurban, Tukang Siomay – Haji, dll. Perendahan martabat terselubung kalau saya bilang. Entah apa istilahnya di dalam dunia jurnalis. Tapi meremehkan manusia dari satu sisi ini benar-benar bikin saya kesal.. hah!

 

– Dan yang paling miris adalah, berita dimana para penerima wajib daging qurban yang berbalut saling desak, terhimpit, terinjak-injak, pingsan, menerobos pagar mesjid, membawa anak kecil, meraung-raung, memelas, dan berebutan dalam antrian. Mental pejuang membuat para pengharap daging ini tak kenal lelah 3 jam non-stop teriak-teriak memelas sambil membawa anak dan terhimpit diantara ketiak yang keringatan. Walaupun kita tahu dagingnya bakal dijual lagi, tapi kesian juga liat berita begini..

Tragedi ini selalu saja sama ketika menyangkut antrian. Mulai dari pembagian daging, pembagian kupon, pembagian THR, pembagian zakat, pembagian bantuan, juga pembagian sembako. Entah salah panitianya, entah salah perebutnya. Seolah kejadian pasti tahunan ini belum menemukan solusinya. Kenapa tidak disuruh duduk teratur dan panitianya saja yang membagikan? Kenapa tidak dibagikan dilapangan terbuka? Kenapa tidak menggunakan sistem jemput bola? Kenapa Revalina kok tau-tau sudah hamil?

Ini bukan lagi tragedi, tetapi fenomena. Berita pilu yang selalu akan terjadi. Kejadian yang sudah pasti terjadi tanpa tau pencegahannya. Miris.

 

– Berita lain biasanya dari media lain. Kebanyakan media sosial akan penuh dengan pornografi kuliner, dimana orang-orang sibuk melakukan pameran makanan hasil qurban. Meme dan tulisan lucu tentang qurban juga akan berseliweran selama seminggu. TV juga akan memberikan tips-tips memasak daging yang baik. Dan beberapa mulai menyiarkan hukum qurban beserta ayat-ayat dengan host yang bergaya seislami mungkin. Demi apa? RATING.
Ting.. ting.. ting.. kemana.. kemana.. kemana.. hikmahnya…

.

tv


Ninja-Ninja Sumatra

19 September 2015

Ada yang lucu terjadi beberapa hari ini tersebar di berbagai media baik sosial maupun nasional. Sebagai manusia penikmat mayawi (bersifat dunia maya), sudah barang tentu saya harus apdet masalah yang booming beginian.

Masalah lucunya adalah kebakaran hutan yang sedang terjadi di Sumatra. Ibaratkan saja kejadian ini seolah fenomena kentut. Kentut itu, bunyinya kencang mendebarkan, baunya busuk menyengat, semua orang terkena dampaknya, para korban mulai saling tunjuk mencari si tersangka, namun sial, berdasarkan pengalaman, sangat langka sekali orang mengaku sebagai pelaku.

Begitu juga perihal kebakaran ini. Ada yang menasehati, ada yang menyindir, ada yang diem, ada juga yang jadi ninja jalanan dengan memakai masker. Dan ini, ada saya rangkum beberapa lawakan tentang kebakaran:

 

  1. Istilah Kabut Asap

Banyak berita di televisi memakai istilah ini. Berdasarkan tingkat kecerdasan saya, (maap sebelumnya, blog saya memang bukan tulisan ilmiah, jadi kalau mencari data yang valid, empiris, dan objektif, berarti kalian salah tempat) idiom “kabut asap” ini merupakan sesuatu yang aneh menurut saya. Aneh karena kabut dan asap adalah 2 fenomena yang saling bertentangan. Seolah-olah kamu sedang pesan minuman es teh anget. Ga nyambung banget.

Kabut, biasanya terjadi di daerah-daerah pegunungan dan dataran tinggi. Kadang juga dipakai di tempat-tempat dengan temperatur rendah seperti kulkas atau hatinya mantan. Bisa dikatakan, kabut muncul karena dingin.

Sedangkan asap, lebih sering dipakai manakala terjadinya sebuah proses berubahnya sebuah zat bila terkena suhu tinggi. Asap kadang juga terjadi ketika naruto sedang melakukan beberapa jutsunya. Saya anggap, asap muncul dari panas.

Ada juga sih Asap di daerah dingin, seperti kencing di pagi hari atau ketika kita bernapas di daerah pegunungan. Tapi tetap saja asap tersebut muncul dari suhu badan yang muncul sebagai bentuk imun bagi adaptasi tubuh. Aklimatisasi istilahnya. Jadi sedikit aneh saja ketika dua kata yang saling musuhan ini dikawinkan. Emangnya pasangan cinta di FTV?

 

  1. Nasehat SBY

Masih ingat presiden kalian yang ini? Yang cuma bikin 5 album lagu selama 10 tahun karirnya (Sepuluh tahun itu bukan waktu yang sebentar, kawan. Banyak musisi menghilang bahkan sebelum membuat album! Dan Sby sanggup bertahan meskipun digempur boyband dan KPop.. eh, dia musisi kan?).

Ingat juga bahasa tubuhnya yang terinspirasi dari gerakan robot era 90’an itu. Juga senyumnya yang baik terjaga.. (aktingnya tak pernah mengharuskan dia tertawa, senyum pun ada batas-batas toleransi tertentu di bibir yang tak boleh dilewati demi menjaga imej). Muka datar tanpa ekspresi ini suatu hari harus kita ikutkan dalam lomba menahan tawa di TV-TV kebanyakan, dan semoga menang..

Beberapa hari yang lalu di media sosialnya, ia memberikan saran dan nasehat untuk pemerintah yang sekarang ini menyangkut kebakaran yang terjadi di Riau. Isinya saya tidak tahu, saya tidak pernah twitteran dan tidak lagi punya pesbuk. Saya cuma baca headline salah satu artikel berita di dunia maya. Tapi, saya tahu dia mengungkit masalah yang sama yang terjadi di zamannya 10 tahun yang lalu.

Ya, kebakaran hutan ini telah terjadi lama bahkan sebelum internet lahir ke dunia ini. Sayangnya, masalah ini justru hinggap ke dunia internasional saat SBY memimpin. Dan sekarang ia memberi nasehat? Waw sekali pak.. Kalo pepatah bilang tuh, mendulang air terpercik muka sendiri. Kalau kata pengomentar di internet: “10 tahun ngapain aja pak? Jualan pulsa?”

Menjamurnya pembakaran hutan di zaman sby terjadi sangatlah lancar abadi nan jaya. Jika kamu pernah ke Sumatra naik pesawat, lihat saja sendiri dari atas sana ribuan hektar tanahnya sudah disulap menjadi kerajaan kebun sawit. Jambi, Riau, Bengkulu, Palembang, Sumbar, Lampung dan di beberapa kepulauan.

Dan jangan lupa bahwa si anak, kangmas Ibas, juga punya ribuan hektar beserta pabrik sawit di Kalimantan sana. Hubungannya? Kebakaran hutan ini, setelah beritanya mereda, jangan heran bila 2 bulan kemudian akan berubah menjadi kebun sawit tepat di lokasi kebakaran ini.

Dan tanaman sawit, sodara-sodara.. adalah salah satu perusak tanah terbaik setelah tambang. Karena kabarnya, tanah yang setelah ditanami sawit akan sulit ditanami tanaman apapun.. Yang lebih lucu, Sby membela diri dengan keberhasilannya atas kemenangan laporan kasusnya di pengadilan 6 tahun lalu.

Jadi, ia dulu “menerima laporan” dari anak buahnya adanya kebakaran, terus ia gugat perusahaannya, 6 tahun kemudian baru ia dinyatakan menang. 300an milyar ia pikir cukup sebagai ganti rugi hektaran hutan rusak? Di medsos juga ia bangga bisa menangani kasus yang sekarang dengan cepat. Di masanya, ia cuma terima laporan dan menunggu lebih dari 6 tahun dan sekarang mencoba menasehati pemerintahan yang baru seumur bayi? Oh, perbandingan yang aduhai sekali.. Cermin, pak.. beli.

Dari 10 tahun pemerintahannya, prestasi terkait kebakaran di jaman sby mampu mengundang National Geographic dan Harrison Ford untuk bikin film di Indonesia tentang kebakaran ini.. Memang multitalenta bapak kita satu ini.. ih..ih..ih..

 

3.Sindiran  Singapura dan Malaysia

#terimakasihindonesia, kira-kira begitulah hastag yang sedang trend di negara tetangga sana. Duo mantan jajahan Inggris ini selalu saja kompak kalau berhubungan dengan Indonesia. Gara-garanya, asap dari Riau ternyata ingin go internasional. Tambah lagi, akan adanya perlehatan kelas dunia di singapura sana pada ajang balap F1. Malaysia yang juga dendam menahun ke Indonesia seperti mendapat momen yang pas untuk bersatu dalam membully.

Dikalangan orang Sumatra sendiri, bukan rahasia lagi bahwa beberapa bos pabrik perusahaan sawit berasal dari kedua negara tersebut. Bukan hanya minyak, ikan, TKI, seni, dan pulau yang ingin direbut, tapi juga tanah.

Tutorialnya begini, bayar tanah untuk ditanami sawit ke pemda yang korup, bakar hutannya dimusim panas, dirikan pabrik dengan iming-iming menambah lahan kerja penduduk sekitar, tanami sawit dengan pekerja murah dari budak lokal, nunggu panen beberapa tahun, ambil hasilnya, buat minyak dan jual lagi ke Indonesia dengan harga tinggi, tinggalkan tanah yang telah hancur unsur haranya, putar lagi uangnya untuk digunakan di Kalimantan. Dst.. dst..

***

Belajar dari kasus timah di Riau dan Babel, hendaknya kita sadar kenikmatan sesaat itu membawa neraka bagi sekitar. Pemerintah juga Universitas semacam IPB sebaiknya segera mencari solusi masalah ini. Jangan tanya saya. Saya cuma mahasiswa sastra yang belajar kritik dan cinta. Bukan tentang tanah dan kepentingan negara. Ada baiknya ini disegerakan karena semakin lama dibiarkan lahan sawit ini akan semakin luas dan tanah yang tak bisa ditanami lagi secara permanen akan meluas.

Jangan suruh rakyat memecahkan masalahnya sendiri, mereka hanya belajar untuk hidup, tidak mengerti masalah politik bisnis dan perkara pidana. Cukuplah bagi mereka bisa makan dan sedikit menabung. Lagipula kita tidak ingin petani bergerak seperti di Bolivia dulu kan?

***

Ada yang menarik dari kejadian ini. Hutan Indonesia, sebagai salah satu paru-paru terbesar dunia merupakan penyedia oksigen ‘gratis’ bagi para negara-negara industri yang tengah mengembangkan pabrik dan gedung tinggi ketimbangan hutan. Dengan kata lain, hutan Indonesia merupakan penyeimbang di antara derasnya arus pembangunan yang terjadi di seluruh dunia. Dikasih oksigen gratis nggak terima kasih. Dikasih asap, cengeng..

Analoginya, negara industri yang merokok, Indonesia yang bayar uang berobat. Ketika uang habis, Indonesia kena omel, seperti bawang putih yang disiksa Ibu tiri..

Belum lagi begitu banyaknya kawasan yang dijadikan suaka alam, margasatwa, hutan lindung, taman nasional, dan berbagai kawasan perlindungan alam lain yang membatasi pergerakan nafsu manusia. Hal ini dimanfaatkan negara lain dengan melakukan pembangunan gila-gilaan di negaranya sendiri. Ibaratnya, Indonesia “dipaksa” merawat hutannya demi kepentingan negara lain, secara gratis, atas nama paru-paru dunia. Adil? Tak ada keadilan di menu kapitalis, tuan..

NB: Malaysia dan Singapura, #samasama.
.
image


Dunia Telinga

10 September 2015

Kita tinggalkan sejenak ‘kedunguan harap maklum’ yang terjadi di DPR nun jauh di Amrik sana. Sudah seharusnya kita terbiasa dengan kebodohan rutin yang terjadi kepada orang-orang yang menilai tinggi diri mereka sendiri itu.

Jika DPR melakukan kebodohan, baik itu berjamaah maupun single fighter, segera maklumkan pikiran anda bahwa hal tersebut adalah normal, wajar dan telah menjadi tradisi harian.. Selain itu, Mereka pun sepertinya, jika tidak idiot sehari kemungkinan akan kejang-kejang dangdut.

Ada masalah yang lebih pelik nan urgent terjadi di negeri kita sekarang ini, seperti kekeringan air di daerah timur dan selatan, kabakaran hutan di barat dan utara. Kabakaran gunung-gunung di daerah tengah. Belum juga dipecatnya menteri-menteri tidak kompeten. Munculnya Go-jek sebagai standar kota penguji kesabaran berlalu-lintas. Penggusuran sekolah Master. Pertalite, Kurs rupiah, Kereta cepat, Pilkada, Kuliah saya, belum lagi Chelsea Islan yang terus mendesak untuk segera dilamar… fiuhhh.

Dan dari kesemuamuanya, yang menduduki posisi puncak tangga masalah akhir-akhir ini adalah *jreng… jreng.. jreng…
Musik Orang Padang…. yeah..!

Masalah ini begitu kompleks sehingga butuh sebuah forum kajian lembaga teruji untuk diajak berdiskusi.. Latar belakangnya, akhir-akhir ini kemanapun saya pindah rumah, selalu saja lagu minang bertoa sekeras-kerasnya.

Tidak sampai disitu, lagunya pun diulang itu-ituuuu saja untuk durasi 6 jam kedepan. Ditambah lagi, kadang pemilik rumah dengan pedenya ikut berkaraoke tanpa menghiraukan tiga ekor kucing yang sudah kejang-kejang berbusa di halaman.

Musik, semestinya punya titel sebagai bahasa yang universal. Mangsutnya, tidak peduli anda suku aborigin ataupun batak, namun ketika mendengarkan sebuah musik, anda akan terbuai dan hanyut, marah dan tersenyum, joget atau sekedar angguk-angguk kalem, karena keasikan bermusik bisa dinikmati hanya dengan syarat nan simpel, punya telinga.

Tapi, lain hal dengan musik khas minang. Sejak kecil, saya yang tinggal di Bengkulu ini kadang sesekali juga terdengar lagu minang dari tetangga sebelah. Atau ketika sedang makan di warung makan Padang. Tentu yang paling terkenal adalah lagu Takana Jo Kampuang nan jauh dimatonyo siapo. Tidak sedikit manusia Indonesia yang pernah juga mendengar musik minang ini.

Lagu minang, menurut dari bank data dunia paling populer, Google, adalah produsen pesaing terberat bagi musik Bollywood kuch kuch hotaheee. Bayangkan saja, film India di tv-tv itu dalam 1 kali tayang filmnya, kita bisa didengarkan 5 sampai 15 lagu.. Itu baru satu film.

Dan film India adalah no.2 di dunia setelah Hollywood sebagai produsen film teraktif. Bayangkan berapa banyak lagu yang diproduksi negara tesebut tiap tahunnya..

Dan lagu minang, yang sebetulnya hanya sekelas lagu provinsi, mampu menyaingi tingkat produksi lagu India yang sudah sebegitu bejibunnya itu.. MasyaAllah…

Titik masalahnya adalah, sepanjang saya hidup di Sumatra dan kali ini terdampar lebih dari 1 tahun di Padang, belum pernah sekalipun saya mendengar lagu minang yang bernada cerah ceria dan suka cita.
Sulit untuk membayangkan jika terjadi konser lagu minang. Penonton akan ragu untuk berjoget atau tidak ketika sedang diiringi lagu sendu penyayat hati.. Raga mana yang mampu bergoyang dikala hati sedang menanggung pilu… Aih.

Jadi, semisalnya saya ikut kuis 100 milyar dan sampai pada pertanyaan terakhir:

Taylor Swift (Host): Jadi, aa’ Frans.. ini pertanyaan terakhirnya..
Sebutkan….(terdengar musik masuk, sedikit mendramatisir suasana)…. lagu minang yang TIDAK bernada sedih..
Saya (Mahasiswa Lucu): *mikir 17 jam…
Kalo bisa memilih, mbak, mending saya push-up 500 kali aja deh di punggung buaya, mbak Tay.. (panggilan sayang saya ke Taylor Swift)

Begitulah. Lagu minang itu, sesok tau saya, selalu saja muram, marah benci, rindu, php, sakit hati, ga ada gembira-gembiranyalah pokoknya. Liriknya berisi ditinggal kekasih, ngga dianggap mertua, kekasih lupa pulang, runtuhnya LDR kami, cinta tak berbalas, pacar selingkuh, istri lupa nyuci piring, kucing belum dikasih makan, teman makan tanaman, ipar numpang makan dan lain semurungnya.

Selalu saja lagu cinta dari sisi tersakiti. Cinta dan benci. Cinta dan penghianatan. Cinta dan Rupiah. Cinta… cinta.. cinta.. Padahal setau saya isi otak orang Padang mah Duit. Mungkin ketika Tuhan menginstal program tentang cinta, ya begini ini jadinya.

Musiknya itu, semisal diaransemen pake instrumen biola Idris Sardi, ibarat luka kena pisau yang baru mengkilap dibeli dari Lazada, tambahi sedikit lemon dan merica bubuk, juga jangan lupa, rendam dengan air garam hingga mendidih… voila… Pedih, Jendral !!!

Orang padang punya kebiasaan untuk selalu mendengarkan musik lokal sebagai bentuk tumpahan rindu bagi para perantaunya. Semakin banyak perantaunya, semakin banyak pula produksi lagunya. Semakin banyak lagunya, makin keras pula speakernya agar tidak kalah dengan lagu tetangga. Semakin keras speakernya, makin lantang pula karaokeannya. Makin melengking karaokenya, makin banyak kucing yang kejang-kejangnya.

Tidak hanya dirumah-rumah, dipinggir jalan tempat vcd bajakan bersarang juga sering. Hingga ke tranportasi umum dan angkot-angkot. Pengalaman saya sebagai anggota penumpang angkot teladan 2014, angkot di Padang menjadikan mobil mereka sebagai fashion center.

Eksterior dikasih stiker dan tempelan juga tulisan-tulisan kadang lucu, Interior dihias ala diskotik, sasis rendah, pelek dimodif, dashboard di pasang fitur-fitur metal, ditambah LCD mini dan gadget musik, dan yang ter-Wah adalah speaker kudu wajib dipasang. Hukumnya Fardhu ain. Setingkat sholat 5 waktu.

Semuram-muramnya bentuk angkot, speaker adalah inti dari seni menarik penumpangnya. Mobil sepi tanpa hiburan, jangan harap penumpang bakal datang. Itu kepercayaan dikalangan supir sih..
Namun, lagu di angkot sedikit modern dan kekinian. Sejadul-jadulnya paling mentok lagu rock lawas malaysia era 90’an yang sempat menggegerkan dunia musik tanah air dengan hits macam gerimis mengundang, isabela, cinta kita, dll yang sebagian besar dinyanyikan Amy search.

Saya malah lebih suka lagu daerahnya ketimbang lagu minang versi sekarang. Kuantitasnya sih oke. Tapi cuma sebatas itu saja sih. Saat ini, yang bisa saya lakukan cuma menutup pintu dan jendela ketika tetangga sudah mulai kumat dengan lagu yang disertai volume maksimal plus karaoke. Toh, saya tidak punya hak untuk protes. Di mana bumi dipijak, di situ djarum super harus menyala..

Sejujurnya, baik lirik maupun musik lagu minang belum bisa saya nikmati sampai sekarang. Selain karena cuma sebentuk kisah cinta picisan yang berbalut orgen tunggal curhatan ala abg, saya tidak menemui keasikan dalam lagu bergenre pedih-pedih syahdu tersebut. Masalah selera aja sih.

Maaf sebelumnya, seperti kata Einstein, tidak ada yang pasti di dunia ini. Begitu juga dengan musik. Tidak semuanya universalable. Ada kalanya selera terlibat. Dan terima kasih untuk penemu earphone.

Put it on, close your eyes, feel your own world….

.

gm


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: