Dunia Telinga


Kita tinggalkan sejenak ‘kedunguan harap maklum’ yang terjadi di DPR nun jauh di Amrik sana. Sudah seharusnya kita terbiasa dengan kebodohan rutin yang terjadi kepada orang-orang yang menilai tinggi diri mereka sendiri itu.

Jika DPR melakukan kebodohan, baik itu berjamaah maupun single fighter, segera maklumkan pikiran anda bahwa hal tersebut adalah normal, wajar dan telah menjadi tradisi harian.. Selain itu, Mereka pun sepertinya, jika tidak idiot sehari kemungkinan akan kejang-kejang dangdut.

Ada masalah yang lebih pelik nan urgent terjadi di negeri kita sekarang ini, seperti kekeringan air di daerah timur dan selatan, kabakaran hutan di barat dan utara. Kabakaran gunung-gunung di daerah tengah. Belum juga dipecatnya menteri-menteri tidak kompeten. Munculnya Go-jek sebagai standar kota penguji kesabaran berlalu-lintas. Penggusuran sekolah Master. Pertalite, Kurs rupiah, Kereta cepat, Pilkada, Kuliah saya, belum lagi Chelsea Islan yang terus mendesak untuk segera dilamar… fiuhhh.

Dan dari kesemuamuanya, yang menduduki posisi puncak tangga masalah akhir-akhir ini adalah *jreng… jreng.. jreng…
Musik Orang Padang…. yeah..!

Masalah ini begitu kompleks sehingga butuh sebuah forum kajian lembaga teruji untuk diajak berdiskusi.. Latar belakangnya, akhir-akhir ini kemanapun saya pindah rumah, selalu saja lagu minang bertoa sekeras-kerasnya.

Tidak sampai disitu, lagunya pun diulang itu-ituuuu saja untuk durasi 6 jam kedepan. Ditambah lagi, kadang pemilik rumah dengan pedenya ikut berkaraoke tanpa menghiraukan tiga ekor kucing yang sudah kejang-kejang berbusa di halaman.

Musik, semestinya punya titel sebagai bahasa yang universal. Mangsutnya, tidak peduli anda suku aborigin ataupun batak, namun ketika mendengarkan sebuah musik, anda akan terbuai dan hanyut, marah dan tersenyum, joget atau sekedar angguk-angguk kalem, karena keasikan bermusik bisa dinikmati hanya dengan syarat nan simpel, punya telinga.

Tapi, lain hal dengan musik khas minang. Sejak kecil, saya yang tinggal di Bengkulu ini kadang sesekali juga terdengar lagu minang dari tetangga sebelah. Atau ketika sedang makan di warung makan Padang. Tentu yang paling terkenal adalah lagu Takana Jo Kampuang nan jauh dimatonyo siapo. Tidak sedikit manusia Indonesia yang pernah juga mendengar musik minang ini.

Lagu minang, menurut dari bank data dunia paling populer, Google, adalah produsen pesaing terberat bagi musik Bollywood kuch kuch hotaheee. Bayangkan saja, film India di tv-tv itu dalam 1 kali tayang filmnya, kita bisa didengarkan 5 sampai 15 lagu.. Itu baru satu film.

Dan film India adalah no.2 di dunia setelah Hollywood sebagai produsen film teraktif. Bayangkan berapa banyak lagu yang diproduksi negara tesebut tiap tahunnya..

Dan lagu minang, yang sebetulnya hanya sekelas lagu provinsi, mampu menyaingi tingkat produksi lagu India yang sudah sebegitu bejibunnya itu.. MasyaAllah…

Titik masalahnya adalah, sepanjang saya hidup di Sumatra dan kali ini terdampar lebih dari 1 tahun di Padang, belum pernah sekalipun saya mendengar lagu minang yang bernada cerah ceria dan suka cita.
Sulit untuk membayangkan jika terjadi konser lagu minang. Penonton akan ragu untuk berjoget atau tidak ketika sedang diiringi lagu sendu penyayat hati.. Raga mana yang mampu bergoyang dikala hati sedang menanggung pilu… Aih.

Jadi, semisalnya saya ikut kuis 100 milyar dan sampai pada pertanyaan terakhir:

Taylor Swift (Host): Jadi, aa’ Frans.. ini pertanyaan terakhirnya..
Sebutkan….(terdengar musik masuk, sedikit mendramatisir suasana)…. lagu minang yang TIDAK bernada sedih..
Saya (Mahasiswa Lucu): *mikir 17 jam…
Kalo bisa memilih, mbak, mending saya push-up 500 kali aja deh di punggung buaya, mbak Tay.. (panggilan sayang saya ke Taylor Swift)

Begitulah. Lagu minang itu, sesok tau saya, selalu saja muram, marah benci, rindu, php, sakit hati, ga ada gembira-gembiranyalah pokoknya. Liriknya berisi ditinggal kekasih, ngga dianggap mertua, kekasih lupa pulang, runtuhnya LDR kami, cinta tak berbalas, pacar selingkuh, istri lupa nyuci piring, kucing belum dikasih makan, teman makan tanaman, ipar numpang makan dan lain semurungnya.

Selalu saja lagu cinta dari sisi tersakiti. Cinta dan benci. Cinta dan penghianatan. Cinta dan Rupiah. Cinta… cinta.. cinta.. Padahal setau saya isi otak orang Padang mah Duit. Mungkin ketika Tuhan menginstal program tentang cinta, ya begini ini jadinya.

Musiknya itu, semisal diaransemen pake instrumen biola Idris Sardi, ibarat luka kena pisau yang baru mengkilap dibeli dari Lazada, tambahi sedikit lemon dan merica bubuk, juga jangan lupa, rendam dengan air garam hingga mendidih… voila… Pedih, Jendral !!!

Orang padang punya kebiasaan untuk selalu mendengarkan musik lokal sebagai bentuk tumpahan rindu bagi para perantaunya. Semakin banyak perantaunya, semakin banyak pula produksi lagunya. Semakin banyak lagunya, makin keras pula speakernya agar tidak kalah dengan lagu tetangga. Semakin keras speakernya, makin lantang pula karaokeannya. Makin melengking karaokenya, makin banyak kucing yang kejang-kejangnya.

Tidak hanya dirumah-rumah, dipinggir jalan tempat vcd bajakan bersarang juga sering. Hingga ke tranportasi umum dan angkot-angkot. Pengalaman saya sebagai anggota penumpang angkot teladan 2014, angkot di Padang menjadikan mobil mereka sebagai fashion center.

Eksterior dikasih stiker dan tempelan juga tulisan-tulisan kadang lucu, Interior dihias ala diskotik, sasis rendah, pelek dimodif, dashboard di pasang fitur-fitur metal, ditambah LCD mini dan gadget musik, dan yang ter-Wah adalah speaker kudu wajib dipasang. Hukumnya Fardhu ain. Setingkat sholat 5 waktu.

Semuram-muramnya bentuk angkot, speaker adalah inti dari seni menarik penumpangnya. Mobil sepi tanpa hiburan, jangan harap penumpang bakal datang. Itu kepercayaan dikalangan supir sih..
Namun, lagu di angkot sedikit modern dan kekinian. Sejadul-jadulnya paling mentok lagu rock lawas malaysia era 90’an yang sempat menggegerkan dunia musik tanah air dengan hits macam gerimis mengundang, isabela, cinta kita, dll yang sebagian besar dinyanyikan Amy search.

Saya malah lebih suka lagu daerahnya ketimbang lagu minang versi sekarang. Kuantitasnya sih oke. Tapi cuma sebatas itu saja sih. Saat ini, yang bisa saya lakukan cuma menutup pintu dan jendela ketika tetangga sudah mulai kumat dengan lagu yang disertai volume maksimal plus karaoke. Toh, saya tidak punya hak untuk protes. Di mana bumi dipijak, di situ djarum super harus menyala..

Sejujurnya, baik lirik maupun musik lagu minang belum bisa saya nikmati sampai sekarang. Selain karena cuma sebentuk kisah cinta picisan yang berbalut orgen tunggal curhatan ala abg, saya tidak menemui keasikan dalam lagu bergenre pedih-pedih syahdu tersebut. Masalah selera aja sih.

Maaf sebelumnya, seperti kata Einstein, tidak ada yang pasti di dunia ini. Begitu juga dengan musik. Tidak semuanya universalable. Ada kalanya selera terlibat. Dan terima kasih untuk penemu earphone.

Put it on, close your eyes, feel your own world….

.

gm

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: