Imej Penenteng Buku

19 Oktober 2015

Oke, anggap saja saya sebagai pembaca buku nan budiman. Senajis-najis saya sebagai seorang pembaca, ga sampe juga sih baca buku sampe ke angkot, di pinggir pantai, di resto,  dibawa mendaki gunung, atau ketika sedang pacaran sama Isyana.

Bukan, bukannya saya takut dianggap “nerd”. Tapi, kegiatan yang membawa buku kemanapun pergi itu saya anggap sebagai perbuatan percuma yang sia-sia. Mending bawa bantal timbang bawa buku kan.. Kalaupun pernah saya membawa buku kemana-mana, itu adalah komik Dragon Ball, dulu, jaman SMP, ketika predikat anak ngegemesin se-Indonesia masih ditangan..

Bagi saya membaca, terutama buku, adalah sebuah ritual suci yang butuh suasana dan keintiman khusus yang statusnya wajib. Berbeda dengan Bung Hatta yang “harus wudhu dulu” sebelum melakukan ritual baca buku. Saya membaca buku hanya butuh suasana “pause”, sebuah ruang, dan bantal atau kursi.

Karena eh karena, semakin asik sebuah buku, semakin banyak pose membaca yang tanpa sadar mampu saya peragakan. Saya bukanlah tipikal seorang Rangga yang begitu cool-nya membaca buku Chairil Anwar, atau seorang metroseksual yang membaca buku diatas sebuah sofa dengan secangkir kopi di gelas putih bersih sambil duduk menyilangkan kaki..

Ketika sedang sendirian, saya mampu menampilkan 32 jenis pose ketika sedang membaca. Tanpa sadar. Mulai dari posisi tidur, mojok di dinding, kadang saya di atas, kadang buku yang di atas, pindah ke kursi, wc juga kena, balik lagi ke lemari, kepala di paha Aura Kasih, balik lagi ke paha Maudy Ayunda eh,……

Dan jangan heran, jika setiap buku yang saya punya tidaklah khatam seperti yang terlihat. Hanya sekitar lima buku yang bisa saya pastikan telah saya baca dari awal hingga akhir. Makanya, beberapa teman yang melihat koleksi buku saya selalu mengira buku-buku saya telah terawat dengan baik. Hah! Mereka sepertinya kurang memahami perbedaan antara buku yang terawat dan buku yang tak tersentuh sejak di beli..

Juga, status sebagai mahasiswa sastra tidaklah menjadikan saya terlalu mesra dengan buku kemana saya pergi. Buku tidak pernah saya jadikan anak manja yang kemanapun saya pergi, harus kudu wajib banget ikut. Selain takut dianggap pintar, saya juga risih dianggap licik. Karena konon, wanita suka dengan lelaki pinter. Apalagi yang pinter merawat dompet.. uhuk..

Iklan

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: