#prayfordompet

18 November 2015

Prayfordompet adalah salah satu bentuk sosio-kritik saya terhadap warga dunia akhir-akhir ini. Kenapa sosio kritik? Itu supaya saya kelihatan keren saja. Makanya pakai bahasa tinggi begitu… haha.

Sejak munculnya simbol tagar di twitter, semua manusia maya di dunia ini seolah mendapat media curahan dalam berbagi simpati terutama melalui #prayforanu, #prayforini, #prayforitu dan lain sebagainya.

Seperti yang terjadi baru-baru ini. Hampir semua orang berdoa untuk peristiwa terorisme di Paris melalui simbol tagar tersebut. Simpati berdatangan dari seluruh penjuru termasuk si negara latah, Indonesia-Raya-yang-ngakunya-sudah-merdeka.
Dasar korban kekinian… ce-ka-ce-ka-ce-ce-ka (ckckckckc).

Kemudian peristiwa ini berbuntut menjadikan manusia Indonesia menjadi 2 golongan. Golongan pertama biasanya anak kekinian yang mengabdikan dirinya untuk eksistensi. Semua yang melanda khalayak ramai harus segera diketahui bentuknya. Tanpa ba-bi-bu  harus ikut arus, kudu apdet pokoknya. Supaya orang lain tau bahwa dirinya adalah bagian dari demokrasi sebagai mayoritas. Golongan penyembah charger..

Sebagian lainnya, yang merasa anti-mainstream, menolak eksistensi akan tagar tersebut. Golongan ini menghubung-hubungkan dengan solidaritas pilih kasih, dimana untuk korban perang palestina dan beberapa negara timur tengah lainnya dunia seolah cuek saja. Giliran paris yang korbannya ‘cuma’ ratuuusaaaan (iklan Tango lewat), orang-orang malah nangis rame-rame. Belum lagi masih disudutkannya Islam melalui ISIS di mata Barat. Golongan ini lebih memilih tagar #prayforworld.

Biasanya golongan terakhir ini akan mempersembahkan data, fakta, analisa, foto, dan berbagai tulisan yang mendukung teori mereka untuk tetap bersikukuh menggunakan tagar pilihannya.

Orang-orang ini seperti ingin mempropaganda orang lain agar mengikuti jejak mereka, karena mereka punya data dan fakta, mereka merasa benar dan seolah diatas angin.

Tidak jelas siapa yang mereka salahkan. Apakah terorisnya atau pemakai tagar pray for parisnya atau tukang bakso depan rumah. Dasar anti-mainstream amatiran..

Sebenarnya, apa yang dilakukan ke 2 golongan ini tidaklah salah. Bersimpati antar sesama manusia memang baik. Yang bikin malas, bersimpatinya itu demi eksistensi . Entah beneran didoakan atau cuma ehem-ehem..
Tapi kadang saya suka risih, kenapa kita bersimpati hanya ketika timbul korban?

Dan saya seperti biasa, tidak memilih hitam atau putih. Tapi saya bikin warna sendiri. Saya malah bikin #prayfordompet. Itu saya buat sebagai sindiran kepada kedua golongan diatas.

Secara tersirat, ‘dompet’ saya maknakan sebagai hidup perindividu, manusia secara perorangan. Saya ingin balik menyentil orang-orang Indonesia bahwa kita ini manusia yang terlalu visioner. Manusia yang terlalu jauh memandang ke depan. Sampai-sampai yang di dekat terlupakan..

Tak perlu jauh-jauh memikirkan hajat hidup orang-orang Eropa ataupun Timur Tengah nun jauh di padang pasir sana. Pikirkan diri sendiri dulu saja lebih baik.

Pikirkan diri kita yang telah terkontaminasi kebijakan busuk birokrat tai kucing yang berada di gedung mewah sana. Pikirkan diri kita hari ini adalah akibat dari putusan-putusan orang-orang berdasi yang bercinta dengan artis TV di hotel berbintang sana.

Kita yang pengangguran, miskin, kuliah tidak lulus-lulus, merangkak mengemis ke orang tua, ngutang sana-sini, memelas hanya untuk nilai, menjilat kepada yang lebih berkuasa, menyaksikan kebobrokan acara televisi, menelan asap gratisan, ataupun individu yang mengeluh tanpa akhir. Semua adalah buah dari kebijakan yang dihasilkan orang-orang yang mengaku wakil bangsa itu.

Seperti sebuah puisi yang dituliskan diatas sebuah makam di Inggris, tentang merubah dunia haruslah merubah diri sendiri dahulu. Tak perlulah melihat kuman diseberang jika ada gajah di depan mata..

Jika memang diri sendiri baik-baik saja, bolehlah itu baru memikirkan orang-orang disekitar. Keluarga, teman, pacar, sodara, Ariel Tatum, Olla Ramlan, ataupun dik Nabilah. Aura Kasih ga usah dipikirin. Itu tugas saya..

Kalaupun mereka sudah baik-baik saja hingga tidak perlu dipikirkan lagi, kita punya negara dan persoalannya yang bertumpuk untuk dipikirkan. Kita punya pedagang kecil yang harus dipikirkan di 2016 nanti ketika perdagangan bebas dibuka dan mereka harus bersaing dengan pedagang luar negeri.

Kita punya generasi mendatang yang harus dipikirkan dalam menghadapi dunia pendidikan dengan basis kurikulum labil dan dengan para pengajar yang semakin ala kadarnya.

Kita punya penduduk di perbatasan negara yang harus dipikirkan kegundahan hati mereka untuk berpindah negara karena sudah tidak ada lagi yang memperhatikan nasib mereka.

Kita punya Papua dengan masalah yang sudah berkaratnya, negeri kaya tapi penduduknya mayoritas miskin tak berpakaian.

Kita punya veteran perang yang harus diperhatikan, atlet-atlet kelas dunia yang terlantar setelah ‘tak terpakai’, olahraga yang minim prestasi, makin banyaknya perusahaan asing yang berdiri, guru yang masih saja tak digaji, polisi-polisi korup, skripsinya Frans, Pariwisata Daerah, nelayan, penambang, buruh, PSK, aktivis, tukang sol, dan PLN. Serta jutaan masalah lainnya yang seharusnya sudah dipikirkan sejak niat mewakili rakyat itu sudah tertanam.

Memang, ini terkesan egois. Tapi jika konteksnya untuk menolong, walaupun sekedar simpati, untuk menolong orang lain kita harus memastikan diri selamat terlebih dahulu. Ibarat ingin menolong orang tenggelam, pastikan dulu diri bisa berenang dan tidak ikut tenggelam.

Ah, atau mungkin saya ini terlalu naif.. Padahal saya bukan penggemar musik retro.. Memang sebaiknya saya tidur saja tadi daripada nulis beginian…

Jangan tanyakan tulisan saya ini benar atau salah. Karena sudah jelas, saya ini adalah seorang lelaki. Dan lelaki selalu saja salah. Selalu salah… Selalu.

***

NB: Tulisan diatas cuma basa-basi. Saya benar-benar sedang berdoa demi dompet. 3 hari sudah beli rokoknya batangan terus.. Kasihani baim ya kawan-kawan…
.
.
image


Tulisan Berjalan

12 November 2015

Dahulu, memang semestinya saya ada rencana menjadi seorang travel blogger, sebuah pekerjaan dengan resiko dibayar karena jalan-jalan. Syaratnya gampang, bikin review tempat-tempat yang telah dikunjungi dan dituliskan ke dalam sebuah blog pribadi untuk disebarkan ke seantero jagat maya.

Pekerjaan ini mulai diminati beberapa tahun terakhir, apalagi sekarang kementrian pariwisata sedang gencar-gencarnya promo pesona Indonesia, bahkan memberikan perhatian khusus kepada para travel blogger ini.

Dulu saya pikir, bisa asik jalan-jalan bahkan keliling dunia gratisan, fasilitas disediakan, dapet gaji, sukur-sukur di kasih bonus jodoh putri Indonesia.

Tapi beberapa hari yang lalu setelah saya nonton liputan tentang travel blogger di metro tv, akhirnya saya berpikir ulang untuk menjadikan profesi travel blogger tersebut sebagai pekerjaan.

Akhirnya saya tercerahkan, terbangunkan, kepala saya terbuka, bukan karena dioperasi, tapi pikiran saya sedang naik level… hampir setara otak monyet.

Dari sudut pandang objektif, tentu profesi ini sungguh menyenangkan. Bisa keliling dunia gratis dan digaji. Wawlah pokoknya..

Pekerjaannya pun gampang banget, cuma nulis sebuah artikel di dalam blog. CUMA NULIS, SODARA-SODARA…

Namun, secara pribadi yang matang dan sangat dewasa, saya memandang pekerjaan ini terlalu beresiko terutama kepada mental saya sendiri yang masih polos. Banyak hal yang menghalangi saya untuk melakukan pekerjaan berbahaya ini.

Pertama, saya bukanlah tipikal perencana yang baik. Seorang saya, merupakan musuh besar dari keteraturan, manajemen, kerapian, penjadwalan atau apapunlah namanya..

Saya ini, bisa saja mengunjungi sebuah tempat lantas berubah tujuan dari keinginan semula dalam hitungan jam. Beberapa kali saya sering merubah destinasi bahkan setelah hampir sampai ditempat tujuan. Ini akan sangat bertentangan dengan pekerjaan travel blogger yang semuanya telah terjadwal rapi.

Kadang kala juga, saya suka spontanitas dalam bertualang. Lebih asik lagi jika saya tidak tau tempat yang akan dituju. Apalagi yang ngajak cewek cakep. Hmmmpphhh.. Moto “tersesat itu lebih baik” sebaiknya kalian coba sesekali.

Lalu, masalah utamanya. Faktor terpenting dalam pekerjaan ini adalah tulisan. Mulai dari tulisan yang harus bagus dan menarik, blognya banyak pengunjung, dilengkapi foto dan spot-spot eksotis, dan informasi yang valid dan terbaru.

Untuk masalah informasi, insyaAllah saya yang rajin ini masih bisa googling sana-sini di internet. Lha untuk foto? Jangankan foto tempat eksotis, foto diri sendiri saja saya tidak ada yang bagus. Apalagi foto pemandangan layak jual.. Beginilah kawan-kawan, nasib muka anti-fotogenic..

Tambah lagi, blognya harus banyak pengunjung. Duh, sosmed aja ga punya, mau promosi blog kemana coba? Spam? Rendahan banget.. Lagi pula saya males banget ngutak-ngatik tampilan blog supaya menarik. Gonta ganti template, foto, background, riweuh euy, repot bin rempong sudah. Biarlah blog saya tenang disini..

Apalagi model tulisan saya begini, siapa mau baca coba? Kambing? Miris.. Iya, saya sadar tulisan saya ga pernah akur sama EYD. Sering ga jelas juga, dalam arti yang sebenarnya. Absurd secara tersirat maupun tersurat.

Makanya blog saya jarang saya kasih tau siapa-siapa. Takut dimanfaatkan teroris guna menghancurkan isi kepala bagi yang membacanya.. Sisi positifnya, karena saya tau ga ada yang baca makanya saya bebas nulis seenaknya tanpa cemas mikirin salah atau salah banget.

Tengoklah tulisan-tulisan di blog ini, menandakan mutu penulisnya sekali… Seenaknya, kacau, tidak terarah, tidak berbobot dan ‘kurang bergizi’. Iya, saya tau. Tapi apa mau dikata, saya malas merubah gaya tulisan saya. Biarlah seperti ini. Tetap berisi kode-kode.. Namanya juga masih belajar.

Hanya saja, saya belum berpikir serius untuk menulis. Menulis saya kerjakan agar otak saya ada kegiatan saja. Biar tidak nonton tv melulu. Biar ga nengok pantatnya Pevita Pearce terus.

Tulisan saya memang jauh dari dari standar tulisan layak. Baik untuk dibikin artikel, ataupun sekedar diterbitkan. Pada dasarnya, menulis adalah media menumpahkan isi pikiran yang efektif bagi saya. Walaupun sering apa yang saya tulis tidak sesuai dengan apa yang saya pikirkan.

Karena bagi seorang spesies introvert macam saya, bahasa verbal sangatlah sulit untuk dilakukan karena kecepatan berpikir saya lebih cepat daripada si mulut.

Karena itu pula, rata-rata orang introvert punya sifat kritis. Karena berpikir kritis dilakukan dengan cepat, tajam dan tanpa basa-basi. Dan ketika disediakan media seperti menulis, maka keluarlah semua ide yang kadang bertumpuk seperti tak beraturan akibat terpendam terlalu sering.

Level tertinggi tulisan saya pun cuma sebatas travel writer. Seratus tingkat dibawah travel blogger. Nulis artikel tentang jalan-jalan trus dibayar. Ga dikasih akomodasi, ga ada jadwal, ga ada tuntutan, tapi uangnya ga seberapa. Yah, meskipun tulisan saya ga bagus-bagus amat, paling tidak saya punya minat terhadap perkembangan pariwisata di Indonesia.

Menulis dan dibayar itu saya lakukan hanya ketika saya membutuhkan uang saja. Ketika hidup mulai mendesak saya ke sudut ring. Karena, saya malas sekali menulis karena deadline. Terutama skripsi (*cuihhh).

Saya hanya menulis ketika saya mau saja. Ketika saya butuh. Butuh mengeluarkan sesuatu di kepala. Karena kalau tidak keluarkan, kepala saya jadi keras. Kondisi yang sama seperti ketika nahan pup di bioskop.

Dan ketika seseorang memutuskan untuk menjadikan travel blogger sebagai profesi, maka tidak berbeda dengan pekerja kantor lainnya yang harus memenuhi jadwal dan deadline yang tentu saja sangat saya hindari.

Yah, meskipun ada sisi kesenangan seperti gaji, jalan-jalan gratis, terkenal, dan mendapati pemandangan baru.

Namun secara pribadi, esensi jalan-jalan yang nikmat itu sesungguhnya adalah tanpa berpikir. Yap, tanpa memikirkan mau kemana, kapan pulang, berapa lama, dimana, sama siapa, tidur dimana, ataupun mau apa.

Cukup menikmati saja. Sejauh angin menghempas, seluas matahari berkedip. Menikmati TITIK
.

image


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: