Tulisan Berjalan


Dahulu, memang semestinya saya ada rencana menjadi seorang travel blogger, sebuah pekerjaan dengan resiko dibayar karena jalan-jalan. Syaratnya gampang, bikin review tempat-tempat yang telah dikunjungi dan dituliskan ke dalam sebuah blog pribadi untuk disebarkan ke seantero jagat maya.

Pekerjaan ini mulai diminati beberapa tahun terakhir, apalagi sekarang kementrian pariwisata sedang gencar-gencarnya promo pesona Indonesia, bahkan memberikan perhatian khusus kepada para travel blogger ini.

Dulu saya pikir, bisa asik jalan-jalan bahkan keliling dunia gratisan, fasilitas disediakan, dapet gaji, sukur-sukur di kasih bonus jodoh putri Indonesia.

Tapi beberapa hari yang lalu setelah saya nonton liputan tentang travel blogger di metro tv, akhirnya saya berpikir ulang untuk menjadikan profesi travel blogger tersebut sebagai pekerjaan.

Akhirnya saya tercerahkan, terbangunkan, kepala saya terbuka, bukan karena dioperasi, tapi pikiran saya sedang naik level… hampir setara otak monyet.

Dari sudut pandang objektif, tentu profesi ini sungguh menyenangkan. Bisa keliling dunia gratis dan digaji. Wawlah pokoknya..

Pekerjaannya pun gampang banget, cuma nulis sebuah artikel di dalam blog. CUMA NULIS, SODARA-SODARA…

Namun, secara pribadi yang matang dan sangat dewasa, saya memandang pekerjaan ini terlalu beresiko terutama kepada mental saya sendiri yang masih polos. Banyak hal yang menghalangi saya untuk melakukan pekerjaan berbahaya ini.

Pertama, saya bukanlah tipikal perencana yang baik. Seorang saya, merupakan musuh besar dari keteraturan, manajemen, kerapian, penjadwalan atau apapunlah namanya..

Saya ini, bisa saja mengunjungi sebuah tempat lantas berubah tujuan dari keinginan semula dalam hitungan jam. Beberapa kali saya sering merubah destinasi bahkan setelah hampir sampai ditempat tujuan. Ini akan sangat bertentangan dengan pekerjaan travel blogger yang semuanya telah terjadwal rapi.

Kadang kala juga, saya suka spontanitas dalam bertualang. Lebih asik lagi jika saya tidak tau tempat yang akan dituju. Apalagi yang ngajak cewek cakep. Hmmmpphhh.. Moto “tersesat itu lebih baik” sebaiknya kalian coba sesekali.

Lalu, masalah utamanya. Faktor terpenting dalam pekerjaan ini adalah tulisan. Mulai dari tulisan yang harus bagus dan menarik, blognya banyak pengunjung, dilengkapi foto dan spot-spot eksotis, dan informasi yang valid dan terbaru.

Untuk masalah informasi, insyaAllah saya yang rajin ini masih bisa googling sana-sini di internet. Lha untuk foto? Jangankan foto tempat eksotis, foto diri sendiri saja saya tidak ada yang bagus. Apalagi foto pemandangan layak jual.. Beginilah kawan-kawan, nasib muka anti-fotogenic..

Tambah lagi, blognya harus banyak pengunjung. Duh, sosmed aja ga punya, mau promosi blog kemana coba? Spam? Rendahan banget.. Lagi pula saya males banget ngutak-ngatik tampilan blog supaya menarik. Gonta ganti template, foto, background, riweuh euy, repot bin rempong sudah. Biarlah blog saya tenang disini..

Apalagi model tulisan saya begini, siapa mau baca coba? Kambing? Miris.. Iya, saya sadar tulisan saya ga pernah akur sama EYD. Sering ga jelas juga, dalam arti yang sebenarnya. Absurd secara tersirat maupun tersurat.

Makanya blog saya jarang saya kasih tau siapa-siapa. Takut dimanfaatkan teroris guna menghancurkan isi kepala bagi yang membacanya.. Sisi positifnya, karena saya tau ga ada yang baca makanya saya bebas nulis seenaknya tanpa cemas mikirin salah atau salah banget.

Tengoklah tulisan-tulisan di blog ini, menandakan mutu penulisnya sekali… Seenaknya, kacau, tidak terarah, tidak berbobot dan ‘kurang bergizi’. Iya, saya tau. Tapi apa mau dikata, saya malas merubah gaya tulisan saya. Biarlah seperti ini. Tetap berisi kode-kode.. Namanya juga masih belajar.

Hanya saja, saya belum berpikir serius untuk menulis. Menulis saya kerjakan agar otak saya ada kegiatan saja. Biar tidak nonton tv melulu. Biar ga nengok pantatnya Pevita Pearce terus.

Tulisan saya memang jauh dari dari standar tulisan layak. Baik untuk dibikin artikel, ataupun sekedar diterbitkan. Pada dasarnya, menulis adalah media menumpahkan isi pikiran yang efektif bagi saya. Walaupun sering apa yang saya tulis tidak sesuai dengan apa yang saya pikirkan.

Karena bagi seorang spesies introvert macam saya, bahasa verbal sangatlah sulit untuk dilakukan karena kecepatan berpikir saya lebih cepat daripada si mulut.

Karena itu pula, rata-rata orang introvert punya sifat kritis. Karena berpikir kritis dilakukan dengan cepat, tajam dan tanpa basa-basi. Dan ketika disediakan media seperti menulis, maka keluarlah semua ide yang kadang bertumpuk seperti tak beraturan akibat terpendam terlalu sering.

Level tertinggi tulisan saya pun cuma sebatas travel writer. Seratus tingkat dibawah travel blogger. Nulis artikel tentang jalan-jalan trus dibayar. Ga dikasih akomodasi, ga ada jadwal, ga ada tuntutan, tapi uangnya ga seberapa. Yah, meskipun tulisan saya ga bagus-bagus amat, paling tidak saya punya minat terhadap perkembangan pariwisata di Indonesia.

Menulis dan dibayar itu saya lakukan hanya ketika saya membutuhkan uang saja. Ketika hidup mulai mendesak saya ke sudut ring. Karena, saya malas sekali menulis karena deadline. Terutama skripsi (*cuihhh).

Saya hanya menulis ketika saya mau saja. Ketika saya butuh. Butuh mengeluarkan sesuatu di kepala. Karena kalau tidak keluarkan, kepala saya jadi keras. Kondisi yang sama seperti ketika nahan pup di bioskop.

Dan ketika seseorang memutuskan untuk menjadikan travel blogger sebagai profesi, maka tidak berbeda dengan pekerja kantor lainnya yang harus memenuhi jadwal dan deadline yang tentu saja sangat saya hindari.

Yah, meskipun ada sisi kesenangan seperti gaji, jalan-jalan gratis, terkenal, dan mendapati pemandangan baru.

Namun secara pribadi, esensi jalan-jalan yang nikmat itu sesungguhnya adalah tanpa berpikir. Yap, tanpa memikirkan mau kemana, kapan pulang, berapa lama, dimana, sama siapa, tidur dimana, ataupun mau apa.

Cukup menikmati saja. Sejauh angin menghempas, seluas matahari berkedip. Menikmati TITIK
.

image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: