Ultraman Kemana Pergi?


Saya belakangan ini tidak terlalu cinta tanah air. Selain karena musim hujan yang mengharuskan saya lebih banyak waktu untuk hibernasi, kegiatan cinta-mencintai ini belum saya rasakan efek baliknya. Apakah ini yang namanya cinta bertampar sebelah tangan?

Saya bukanlah tipikal orang yang akan tetap bahagia meskipun tanah air mencintai orang lain. Ya, saya tidak seikhlas itu. Tataran ilmu saya belumlah sampai pada makrifat pujangga romantis yang membiarkan pujaan hatinya boleh jalan dengan orang lain asalkan dia bahagia. Sorry, nehi banget..

Jadi pertanyaannya gini: “Kapan negara akan memperdulikanmu… ?”

Saat mengharumkan namanya dipentas Olahraga antar negara? Belum tentu. Nyatanya ratusan atlet banyak hidup miskin bahkan sebelum sampai di hari tuanya..

Saat berjuang berperang mempertahankan negara? Tentara kita masih banyak yang digusur rumahnya bahkan beberapa lahan dicaplok yang katanya demi kepentingan umat. Apalagi veteran perangnya, masih banyak yang bahkan numpang hidup di rumah anaknya..

Ngg.. ngemis ke istana? Atau unjuk rasa sekalian? Tergantung Presidennya juga. Kalo lagi sial dapet Presiden model Suharto, kepala bisa kemasukan pelurunya petrus. Sukur-sukur dapet yang model Jokowi, bisa dapet makan siang. Tapi abis itu pulang ke kampung ga ada perubahan, tetep miskin aja..

Apa harus gantungan di jembatan putus ala anak sekolah di banten dulu biar negara mau merhatiin? Atau naik ke menara sutet dengan alasan putus cinta biar diliput TV trus didatengin kak Seto? Nah, kalo engga ikut ISIS aja sekalian, kan lagi booming banget tuh. Kapan lagi bisa jalan-jalan ke luar negeri kan..

Atau gini deh, daftar jadi TKI. Minta ditugaskan ke Arab atau Malaysia yang banyak orang kaya songongnya, trus setrika balik itu majikan. Nah, ntar kalo kena hukuman mati, pasti negara mau perhatiin kayak yang sudah-sudah.. Belum lagi kalo rakyatnya iba terus ikut ngumpulin koin sampai 2 milyar. Kan lumayan tuh, Balas dendam ke majikan dapet, hukuman mati ga jadi, plus dapet duit buat foya-foya..

Karena memang, standar perhatian negara itu absurd adanya. Ga usah berharap Salim Kancil, Munir, Sum atau siapapun yang udah tinggal nama minta diperhatiin. Yang idup aja jarang diperhatiin apalagi yang mati kan..

Lha kalo sensus penduduk aja masih asal centang kok. Apalagi kalo mau pemilu, negara aja ga tau mana rakyatnya yang udah mati atau masih hidup atau udah pindah rumah, ada aja namanya di daftar pemilih. Keliatan kan informasi penduduknya jarang diupdate.

Padahal jaman udah canggih, udah ada medsos.. Anak sekarang kan aktif banget infonya. Lagi kayang aja dibikin status kok. Harusnya pemerintah bikin juga dong, terus nge-add semua rakyatnya biar tau kondisinya semua. Biar tau kalo penduduknya ada yang pindah, mati, sedang sholat, lagi tidur, atau lagi putus..aih.

Memang sih, rakyat yang 300 juta ini ga bisa diperhatiin satu persatu. Jumlah penduduk aja masih pakai istilah estimasi, karena yang dipelosok-pelosok dan pedalaman jarang dikunjungi untuk di data. Ngapain ke pedalaman, ngotorin baju safari aja.. ya gak pak?

Saya jadi ingat slogan: Jangan tanya apa yang sudah negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang sudah kamu berikan untuk negara. Sebenarnya pernyatan presiden Amerika ini keren sih. Tapi kan kondisional juga. Kalo negaranya maling kan slogannya jadi ikut berubah: Jangan tanya apa yang sudah negara ambil darimu, tapi tanyakan atas dasar apa sodara pengadu mengadu hingga gaduh seperti ini?

Negara disini kan maksudnya pemerintah, ya sebagai rakyat kan bolehlah nanya pemerintah udah ngapain aja. Uang pajaknya diapain aja. Hutang luar negeri dipakai buat apa. Rakyat sememangnya cuma mau makmur dan sejahtera saja kok. Kalo salah satunya ga terpenuhi kan boleh dong tanya sesekali. Lha wong pajak sama tilang bayar terus kok ya..

Entahlah, akhir-akhir ini saya merasa negara ini mulai berputar haluan seperti menjadi sebuah perusahaan saja. Perusahaan yang mulai dibayang-bayangi dengan kepenting serba uang (ini negara ketularan cewek matre kayaknya..). Yang menghasilkan, akan dijadikan teman bahkan sodara. Yang tidak menguntungkan akan di cuekkan. Orang-orang berlomba menunjukkan jasa demi perhatian. Sekedar unjuk gigi agar terlihat. Dalangnya siapa lagi kalo bukan parpol.

Negara sebesar ini cuma dijadikan permainan bagi sekelompok orang. Imbas sistem pendidikan yang mengedepankan logika ketimbang moral. Hingga menjadikan negara ini, negara absurd dimana seorang petani bisa mati karena kelaparan.. Seorang mahasiswa mati karena putus cinta.. Seorang anak mati karena orang tuanya tidak punya biaya untuk kehidupannya.. bahkan mobil pun bisa mati karena tidak adanya ruang gerak lagi..

Orang-orang seperti Ultraman perlahan sudah mulai menghilang. Pahlawan-pahlawan yang akan pergi setelah tugasnya selesai tanpa perlu ketenaran dan pamor bahkan foto-foto. Pahlawan di negeri ini kebanyakan pergi karena mati. Bukan pergi karena tugas yang sudah selesai. Karena di negeri ini, negeri yang tetap seperti ini, sebuah tugas tidak akan pernah ada akhirnya..

Hidup MKD! Mati Otak!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: