Menjadi Indonesia

27 Januari 2016

Beberapa tahun yang lalu, kita tersentak dengan fenomena beberapa pemain timnas sepakbola negeri ini yang dibuat seolah terobsesinya kita (atau putus asa?) dengan menaturalisasi banyak pemain asing yang entah dari mana datangnya. Dengan membabi buta kita mengIndonesiakan pemain-pemain luar yang berdarah campuran ini untuk ditugaskan merebut juara yang tak kunjung datang hingga efek gegap gempitanya pun cuma sekejap kentut, bahkan tak terdengar lagi kontribusi pemain-pemain tersebut kepada negara hingga hari ini.

Yang lebih menyedihkan lagi, di partai finalnya kita kalah oleh musuh bebuyutan, si Malaysia yang notabene pengguna fullteam pemain pribumi. Ibarat main game tuh, kayak udah pakai cheat tapi masih kalah juga. Huhuhu..

Di lain pihak, beberapa aktivis lingkungan di Kalimantan, juga seniman di Bali, atau Lembaga-lembaga LSM di Papua, dan pendiri sekolah Independen, bahkan penggerak pariwisata di Indonesia yang berkewarganegaraan asing, sulit sekali mendapat hak menjadi orang Indonesia (pernah diliput tim Kick Andy). Orang-orang bule ini sudah tinggal lebih dari 10 tahun (salah satu syarat menjadi WNI) dan bahkan berkontribusi aktif pada masyarakat hingga hari ini terutama untuk orang-orang pinggiran di Indonesia.

Sesulit itukah menjadi Indonesia? Sebagai orang Indonesia berdarah setengah Spanyol (fyi, telapak tangan saya bule, lho..), saya berani bilang tidak sulit. Mungkin saja, orang-orang yang saya sebutkan diatas itu belum tahu saja tips dan trick sebagai celah untuk diakui sebagai Orang Indonesia tulen bernuansa nusantaraisme nan adi luhur gemah ripah loh jinawi karena asah, asih, dan asu!. Inilah itu anunya, Cekidot ..

 

# Makan mie

Meskipun makanan pokok bangsa ini adalah beras, Mie sebagai kompetitor ketat tetap saja membayangi sebagai runner-up dalam kancah kuliner nasional. Selain murah, praktis dan bervariasi, mie juga jadi pilihan wajib bagi para survivor jelata layaknya anak kos, pendaki gunung, tukang jalan-jalan, juga ibu-ibu rumah tangga yang malas masak.

Indomie sebagai pemersatu bangsa, sering hadir di acara-acara amal nan religius bernuansa bantuan seperti donasi bagi korban bencana, pembagian sembako, sumbangan ke panti-panti, dan sesajen bagi para penjelajah yang singgah di masyarakat pedalaman.

Geliat penyebarannya pun hampir merata mulai dari warung kopi, kedai pinggir jalan hingga resto dan cafe-cafe elit senusantara. Tidak heran jika produsen mie instant selalu termasuk ke dalam barisan orang-orang terkaya di negeri ini bersaing dengan produsen rokok.

Dengan menjamurnya produk ini, maka wajar jika tiap manusia Indonesia pernah merasakan nikmatnya goyangan mie instant yang konon pernah menjadi mie terenak sedunia. Benarlah kiranya jika dikatakan mie Instant adalah ciri manusia Indonesia. Dan asal tahu saja, mie adalah alasan pertama kami, para pria, mau mendekati kompor, hei kalian..

 

# Kaki knalpot

Banyak fenomena tragis yang dimiliki manusia Indonesia. Kaki dengan cap knalpot adalah salah satunya. Kaki kanan pelakunya. Dan penyebarannya sungguh menakjubkan, hampir tiap orang punya.

Hal ini tidak akan terjadi di negara barat sana karena motor kurang populer di sana. Kalaupun ada, pengendaranya tidak ada yang sesantai di Indonesia yang cukup pakai celana pendek dan sendal jepit, kadang sambil baca koran.

Cap knalpot ditenggarai sebagai budaya warisan leluhur orang Asia dimana para masyarakat jaman dahulu akan ditato sebagai bentuk pengakuan kedewasaan oleh sukunya. Tato hanya didapat bagi orang-orang yang telah siap mandiri dalam hidup.

Semakin besar dan banyak tatonya, maka orang tersebut dianggap telah banyak pengalaman hidup. Bukan, saya menulis begini bukan karena saya memiliki cap knalpot yang besar dan banyak. Bukan itu. Kalau tidak percaya googling saja, kebetulan saya sedang malas. Percayalah. Dan bagi yang tidak mempunyai bekas knalpot di kakinya, itu menandakan bahwa kalian belum dewasa sama sekali, hahaha…

 

# Nama julukan

Kesenangan masa kecil masyarakat Indonesia adalah seringnya memberikan julukan nama yang absurd bagi kawan-kawannya. Pilihannya cuma dua, dipanggil dengan nama julukan, atau nama bapaknya. Khas Indonesia asli.

Sedari kecil kita sudah belajar membully dengan ejekan-ejekan yang sebenarnya memang sengaja dicari-cari. Bagi yang mentalnya kuat, ejekan ini akan bertahan sampai ia dewasa. Dan bagi yang mentalnya lempem, akan terganggu secara psikologis dan terus mengutuk teman yang memanggilnya dengan julukan tersebut tiap harinya.

Tidak heran nama julukan menjadi cerita masa lalu khas masyarakat Indonesia di tiap daerahnya.

 

# Ditilang

Di Indonesia ini, salah satu hal yang paling ingin dijauhi adalah berurusan dengan polisi. Kalau tidak masalah kriminalitas, berarti masalahnya adalah uang.

Institusi ini sering membela diri dengan slogan “itu cuma oknum..”. Oknum lambemu kotak… Lah kalau udah banyak bukan oknum lagi toh, pak.. Tingkat kepercayaan masyarakat jadi rendah, korupsi dimana-mana, birokrasi dipersulit, ketahuan salah malah balik ngancam, pistol jadi andalan, pungli merajalela, inisiatif rendah, robot aturan, kesewenang-wenangan seragam. Dll, dlllllllll….

Dan yang terlalu sering ditemui adalah polantas bersama surat tilangnya yang termasyur. Di seantero jagat bumi pertiwi ini, hampir semua makhluknya pernah merasakan pedihnya berhadapan dengan pakpol dan surat-suratnya tersebut. Merekalah, satu-satunya kelompok di negeri ini yang masih melestarikan kalimat “Selamat siang, pak..”.

Bukan cerita baru lagi jika masyarakat sangat membenci lembaga ini karena urusan tilangnya. Masyarakat pun akhirnya jadi pernah main ke pengadilan, yang seumur-umur tak pernah membayangkan dirinya akan berurusan dengan hakim dan meja hijau. Belum lagi praktek-praktek suap jalanan yang beredar sebagai lahan pencari nafkahnya.

Dengan banyaknya rumor yang beredar, dan karena masyarakat selalu punya pengalaman dengan polisi, maka ditilang seolah menjadi kewajiban bagi para pengendara di Indonesia. Kabar baiknya, Jika kamu tidak deg-degan ketika bertemu polisi, itu artinya kamu sedang diluar negeri.

 

#Blek

Misteri yang masih menyelimuti saya hingga hari ini adalah, tiap orang di Indonesia minimal ada satu teman yang ia panggil dengan “Blek/Black”. Masih untung cuma dipanggil blek, kadang yang lebih sadis malah nama aslinya disandingkan dengan julukan tersebut. Benar-benar pencemaran nama baik ini..

Meskipun, kulit si teman ini tidak hitam legam layaknya orang Afrika ketumpahan kopi, namun diyakini cukup menjadi yang terhitam didalam komunitasnya saja, maka julukan ini ikhlas ia sandang hingga dewasa menjelang.

Memang sih fungsinya cuma untuk lucu-lucuan, lha kan teman sendiri.. Tapi jika ditelisik lebih jauh, julukan ini sudah menyerempet SARA sih. Tapi karena orang Indonesia selow, akhirnya julukan ini dianggap lalu saja dan hanya jadi embel-embel. Inilah karakter asli orang Indonesia yang saya suka, santai aja, mau dipanggil julukan, ejekan, nama bapak kek, sipit kek, toh asal bukan untuk memaki atau menghina ya sah-sah saja.

 

# Mandi Sungai

Sebagai negara tropis dengan dua musim, musim panas banget dan musim banjir, hampir semua daerah di Indonesia memiliki sungai. Keadaan inilah yang akhirnya seolah menjadi wajib bagi para penduduknya minimal sekali seumur hidup pernah mandi di sungai. Apalagi jaman-jaman ketika SD setelah sepulang sekolah. Bagi anak-anak kecil, air merupakan sahabat paling akrab yang bisa mereka dapatkan. Baik sungai, pantai, laut, hujan juga lumpur.

Lihatlah jika musim banjir datang, bahkan anak-anak dijakarta pun tidak sungkan untuk mandi meski di sungai tercemar ataupun di jalanan yang tergenang (hueek..). Ini bisa dimaklumi karena memang, di dalam darah orang-orang Indonesia mengalir kesenangan akan bermain dengan air.

Ketika melihat air tergenang, kolam, sungai ataupun kumpulan air yang menganggur, gejolak darah orang Indonesia di dalam diri kamu pasti akan menjerit-jerit untuk segera menikmati. Hal inilah yang mungkin terjadi di Ranu Kumbolo kemaren. Maklumi saja..

Dan bagi kamu-kamu yang tidak bisa berenang, mulai saat ini tanyakanlah kebenaran kalian kepada orang tua masing-masing. Benarkah kamu anak kandung mereka? Benarkah mengalir darah Indonesia di diri kamu? Tanyakanlah meskipun kenyataan yang akan kamu dengar pahit adanya..

 

# Si Botak

Jangan sekali-kali mencukur habis rambutmu kecuali kamu keluarga militer atau kamu adalah motivator. Menjadi Indonesia, berarti telah mengalir di dalam diri kamu untuk tidak bisa menahan diri dari kemampuan membully orang-orang botak.

Kalau kamu punya anak, jangan biarkan mereka plontos ketika sedang berada di masa-masa sekolah (SD-SMP-SMA). Karena, budaya asli anak-anak Indonesia sangatlah kental akan sifat usil. Dan membully orang botak adalah menjadi favorit sejak daman dulu. Sebutannya pun memenuhi kosa kata kamus mulai dari gundul, botak, neon, tuyul, lampu taman, pak ogah, plontos, licin, silau, dragon ball, bola, kelereng, biji salak juga botol.

Dan kalau kamu punya teman yang sanggup bertahan untuk botak sedari kecil hingga sekarang, yakinlah ia mempunyai mental gatot kaca dan terbukti tahan banting. Karena, fisik orang Indonesia yang kurus dan pendek sangatlah tidak cocok disandingkan dengan kondisi botak yang memang seharusnya didampingi dengan tubuh kekar berkilau layaknya pemain WWF. Ini jugalah alasan mengapa harga obat penumbuh rambut kadang tidak masuk akal.. Harga diri itu mahal, bung..

 

# Huruf R

Di negara saya, Bengkulu, terdapat banyak sekali orang-orang pesisir yang kalau berbicara terdapat gangguan pada huruf R nya. Semacam cadel-cadel ga lucu. Diperkirakan ini dikarenakan logat dan aksen bahasa dari suku leluhurnya yang membuat bacaan R nya menjadi seperti bunyi orang ngorok.

Namun ternyata, jenis manusia yang saya perkirakan cuma ada di Bengkulu ini ternyata cukup banyak tersebar di seantero jagat Indonesia. Saya tidak tahu apakah hal ini disebabkan oleh gangguan lidah atau memang ketika lahir sudah kesetrum duluan.

Fenomena jenis ini di tempat saya sering disebut R bekarek. Atau kalau di Indonesiakan itu artinya berkarat. Mungkin karena pengucapan R dilakukan seolah-olah besi keropos. Orang-orang ini biasanya sering dikasih tantangan yang memang bikin sakit hati seperti meniru kalimat ini: “ular-melingkar-lingkar di atas pagar Pak Umar….”.

Dan kalau kamu adalah tipikal manusia dengan kombinasi botak, hitam dan r berkarat, saya sarankan segera pindah kewarganegaraan. Karena pembulian diindonesia terkenal sadis dan mengganggu mental secara permanen. Bersegeralah sebelum terlambat…

 

#Pose Piss

Kalau kamu sebenar-benarnya anak Indonesia, berarti kamu pernah berfoto dengan pose pasaran ala dua jari ini. Diperkirakan pose ini termasuk ke dalam kejadian-kejadian tak terjelaskan di alam semesta. Meskipun pose ini dipakai diseluruh dunia, rasa-rasanya cuma di negara ini setiap anak mudanya pernah melakukannya.

Karena memang, cuma di Indonesia segala kejadian aneh bisa terjadi secara massal menyeluruh. Maklum saja, negara ini sudah dikutuk latah abadi nan jaya.

Diperkirakan pose ini muncul karena sifat orang Indonesia yang mudah kagok dalam menghadapi kamera. Bikin mereka mati kutu dan kaku. Karena muka sudah datar, minimal ekspresi bisa dilakukan dengan tangan. Dan pose ini dianggap yang paling netral selain pose rcti oke..

 

# Preman Kampung

Ingin tahu standar sebuah daerah sudah maju atau belum? Coba lihatlah pemudanya. Di Indonesia gampang sekali menentukan sebuah daerah sudah maju atau masih sekelas kampung. Hal ini bisa diamini karena fenomena ini telah terjadi di seluruh Indonesia penyebarannya.

Kebanyakan pemuda ini bisa dikenali melalui gaya rambut yang ketinggalan zaman 10 tahun, atau rambutnya masih dipirang-pirangkan sebagian (duitnya mungkin ga cukup, jadi beli pirang yang sachetan). Juga, bisa dikenali lewat kendaraan yang dimodif secara tak beraturan dan minim konsep seperti ban yang dikecilin, knalpot racing tapi motornya bebek, cat absurd warna-warni, klakson dimirip-miripin tukang es, dan suara mesin yang dibikin tinggi Bass nya.

Fenomena ini menyebar di hampir tiap negara Asia Tenggara. Sayangnya, cuma Indonesia yang melestarikannya hingga detik ini. Dan tiap daerah selalu punya makhluk model begini. Kalau dalam dunia fashion, makhluk-makhluk ini bisa disebut sebagai fashion disaster. Butuh lebih dari sekedar Mario Teguh untuk menyadarkan mereka..

 

# Gambar Gunung dan sawah

Saya pikir, cuma generasi 2000 ke bawah yang melakukan hal ini. Tapi nyatanya, gambar legendaris berupa dua buah gunung, ditengahnya nyempil matahari, dikasih jalan raya lurus dengan bersandingkan sawah ceker ayam ini masih dilestarikan hingga sekarang.

Keponakan saya, entah imajinasi dari mana ia mendapati gambar yang serupa dengan gambar legendaris ini. Saya terkejut karena gambar ini belum mati, masih diwariskan dari zaman ke zaman. Saya mulai berpikir, gambar ini telah termaqtub di DNA tiap manusia Indonesia. Gambar ini adalah warisan leluhur. Dan tiap anak di Indonesia secara tidak sadar akan dapat menggambarkannya meskipun tidak diajarkan.

Hebat sekali gambar ini masih bertahan di pusaran waktu yang entah sampai kapan. Konsepnya pun sama persis seperti jalan, gunung, sawah, matahari, awan, rumah, dan manusia sekurus lidi. Harusnya UNESCO segera menjadikan gambar ini sebagai benda warisan budaya yang harus di pajang di museum dunia. Hukumnya wajib.

 

# Oleh-oleh

Ini juga salah satu sifat tak terjelaskan orang Indonesia. Menjadi orang Indonesia, berarti kamu harus siap dimintai oleh-oleh ketika akan bepergian keluar kota. Tidak perduli kamu pergi dalam rangka apapun, meeting, tugas luar kota, pelatihan, jalan-jalan, survey, study banding, tugas negara, atau bahkan ikut lomba sekalipun. Selama perginya ke luar kota, akan ada saja yang meminta oleh-oleh.

Anehnya, kadang meski tidak diminta pun, gejolak darah Indonesia ini pasti juga dengan sadarnya akan membelikan oleh-oleh. Minimal gantung kunci atau kaos yang ada tulisan daerah kunjungannya.

Membeli atau meminta oleh-oleh, adalah salah satu hasrat yang tidak bisa ditahan karena sudah mendarah daging di nadi orang-orang Indonesia. Sekalipun jalan-jalannya minim uang, ada saja yang dibelikan seolah-olah sebagai bentuk pengakuan sudah pergi ke kota orang lain.

Hebatnya lagi, pasar oleh-oleh ini menjadi pemasukan utama dalam bidang pariwisata daerah. Sayang, pemda setempat tidak melihat peluang ini dan malah membiarkan saja masyarakat berjualan tanpa inovasi pada produknya seperti topi, gantungan kunci, kaos, bahkan gelang tangan? Ayolah, kreatifitas masyarakat kita lebih dari itu…

***

Itulah beberapa syarat wajib untuk kamu bila ingin menjadi Indonesia tulen tanpa logo SNI. Tidak semua yang saya tulis di atas harus kamu lakukan, minimal kebanyakan pernah kamu alami. Untuk mereka yang telah bertekad bulat untuk menjadi WNI namun terhalang birokrasi, bisalah itu kalian lakukan hal-hal diatas.

Karena, menjadi Indonesia tidaklah perlu sertifikat selembar kertas sebagai bukti negara. Cukuplah melebur dengan nadi Ibu pertiwi dan jiwa nusantara. Melarut sukma ke dalam keseharian penduduk-penduduk lokal yang bersahaja. Terus menebar senyum dan tetap ramah seperti yang diajarkan leluhur sejak dahulu kala. Asalkan bisa mengamalkan pancasila dan sumpah pemuda, kami sambut kalian dengan tangan terbuka…

.

meme-presiden-indonesia

Iklan

Bukan Biar Pintar, tapi Untuk Tidak Bodoh

13 Januari 2016

Disadarai atau belum, dunia kita diisi dengan orang-orang yang menulis. Ini menarik. Menulis menjadi aktivitas yang tak pernah membosankan dari jaman purba. Tidak pandang profesi atau kasta, adakalanya orang-orang dari kalangan pejabat hingga selebritis, dari politikus sampai ilmuwan, dari anak tukang becak sampai profesor, pengusaha juga atlet, ada saja yang menulis baik biografi ataupun pemikiran mereka..

Yang pejabat menulis untuk mencitra dirinya, yang atlet dengan alasan motivasi atas prestasinya, yang artis untuk menyalurkan idenya, yang ilmuwan menulis untuk kepentingan umat, yang penulis menulis untuk dirinya sendiri.. Sedang saya menulis untuk membuka aib atau sekedar kebodohan terselubung.

Sebagai counter attack peribahasa “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang”, menulis membuat seseorang tak bakal mati. Ada juga yang bilang menulis adalah pekerjaan untuk memahat keabadian. Menempatkan diri melintasi ruang-waktu. Meskipun bukan idola, tapi saya membenarkan yang dikatakan si Descrates, Aku Menulis Maka Aku Ada..

Sebagai orang sastra yang pendiam lagi alim, saya memandang kegiatan menulis sebagai penyalur ide. Yang meski kadang ide-ide yang saya tawarkan tak berkelas dan terkesan mendustai logika. Ketidakmumpunian saya dalam menulis mengisyaratkan bahwa saya benar-benar membutuhkan banyak pegalaman untuk sekedar matang, bukan ahli. Pengalaman ini tentu saja didapat dengan menulis lebih banyak lagi.

Meskipun hanya menulis sebatas blog, saya termasuk orang yang percaya sebuah tulisan, terlebih karya, akan menjadi salah satu peninggalan yang berharga bagi penghuni masa depan, yang nantinya akan disebut sebagai sejarah. His Story.. (ya, semoga keturunan saya tidak menemukan blog ini nanti).

Bahkan beberapa manusia hebat di negeri ini tetap menulis meskipun dibatasi jeruji besi. Hal ini disebabkan menulis adalah pekerjaan sederhana yang membawa dampak hebat bagi pembacanya. Menulis dapat membuat ide-ide keluar secara matang dibandingkan ketika mulut berbicara (Denger tuh, pak Mario..). Menulis sanggup merefleksikan keadaan jiwa dan mental seseorang. Cerminan pribadi tiap individu mampu terbaca dari gambaran tulisannya.

Sayapun terkadang malu juga (iya, ternyata saya manusia biasa yang bisa malu dan salto) ketika sedang membaca sebuah tulisan yang bagus. Bikin iri dan merasa kalah. Lagipun. sebuah tulisan bagus juga dapat memotivasi saya untuk membuat hal serupa. Sayang otak saya terbatas memori 8 Gb.. Terkadang juga saya merasa bahwa saya bisa membuat sebuah tulisan yang bagus, namun terkendala cara penyampaiannya dan juga Aura Kasih yang jarang kasih semangat. Ah..

Menulis terkadang memang membosankan. Kadang dibaca, kebanyakan tidak. Ya, mbok jangan mikir bagusnya dulu.Namanya juga belajar. Lha, kalo masih nulis status aja masih: “tidur”, “makan”, “panas”, “nangis”, “kayang”, ya ga bakal bisa belajar. Yang baca juga males. Yang tertarik ya paling manusia kepo aja. Buatlah sesuatu yang bermakna dan bisa dicerna umat. Ga harus bagus minimal ada SPOK nya. Itu karena tadi, karakter dan kecerdasan kamu bisa dinilai orang dari apa yang kamu tulis.

Kemudian, ada baiknya orang-orang yang senang copy paste, comot quote sana-sani, ngeshare kalimat-kalimat motivasi, ataupun membagikan puisi-puisi medsos, mulailah berpikir untuk menulis kata-katanya sendiri. Jangan ketergantungan terus. Menulislah apa saja. Karena kamu bukan wartawan yang memberitakan ataupun dermawan yang suka bagi-bagi rezeki. Kalau kamu plagiat terus kata-kata orang nanti kamu bisa dikatain pelacur ilmu. Jangan, ya..

Sudah segitu dulu kuliah dari saya. Semoga tidak tersesat dan ingat jalan pulang. Ingat, menulis itu produk kamu. Daya tahannya bisa sampai ke masa depan. Jangan ngalay juga nulisnya, kasian nanti yang baca kena katarak.

 

# dan apresiasi tertinggi saya berikan kepada penulis kamus yang entah bagaimana caranya bisa sampai ratusan milyar bahkan triliun itu..

.

motive


Front Pembela Perokok

13 Januari 2016

Salam Djarum!

Kerabat Djarum Super mania semuamuanya, ada hal menarik yang kepikiran hari ini terkait ranah perokokan dunia. Bukan maksud mau membuat alibi atas kecenderungan saya merokok sih, cuma penasaran aja. Tadi pagi saya dikejutkan oleh si otak yang tiba-tiba mau aja mikir kok banyak orang-orang hebat banyak juga yang merokok. Tentu saja pertanyaan ini tidak lantas terjawab dengan, “sudah takdir, mas..”.

Takdir cangkem mu kotak!

Kalau boleh berargumen, saya mau membenarkan atas adanya hubungan antara rokok dengan inspirasi. Dan tentu tidak butuh undang-undang khusus gender untuk membenarkan hubungan keduanya. Sebenarnya tidak langsung sih, cuma membantu menemani ketika otak sedang mencari-cari  dalam kegiatan bermenung diri. Karena memang, seorang pemikir butuh lebih banyak waktu untuk diam dan berpikir ketimbang ngocehnya. Nah, daripada bermenung-menung bengong layaknya batu dan dihinggapi setan nyasar, beberapa orang malah memilih rokok sebagai teman.

Iya, saya sedang memikirkan Pram, Kennedy, Chairil, Sanji, Mao Tse Tung, Sudirman, Stalin, Kurt Cobain, Sukarno, bahkan Che Guevara yang seorang dokter. Orang-orang ini bukan hanya pandai berkata-kata (iya, kata lain dari gombal), tapi juga mencipta dan berkarya. Terlebih dalam hal menulis dan membuahkan ide.

Yah, walaupun referensi kedokteran saya kurang, tapi dari penelitian tentang rokok di suatu waktu dulu (malas googling), tembakau memang mengandung zat yang bikin rileks dan menenangkan. Dua keadaan inilah yang teramat penting bagi seorang yang senang memulung imajinasi di dunia otaknya.

Ketenangan dalam berpikir adalah koentji !

Dan bagi seorang mahasiswa sastra yang wajib menelurkan sebuah karya, tentu saya sedikit paham mengenai nano-nanonya menghasilkan karya. Baik pujangga, filsuf, maupun ahli strategi bahkan seorang atlet pun membutuhkan keadaan tenang dan rileks. Karena keadaan tersebutlah yang membawa manusia kembali ke khittahnya sebagai mahkluk yang berpikir. Berpikirlah walau absurd. Karena dunia selalu butuh pemandangan baru..

Juga, kegiatan menghisap dan menghembuskan nafas ini secara manusiawi memang sering kita jumpai ketika seorang manusia sedang dalam keadaan ingin melepaskan beban, pasrah, dan menerima keadaan secara ikhlas dan berlapang dada. Kalo kata anak gaul, tulisannya jadi gini: “huuufft”. Sedang perokok melakukan kegiatan tersebut dengan tambahan sedikit asap biar backgroundnya bisa lebih didramatisir.. hehe.

Kalau memang kegiatan merokok ini harus dibarter nyawa, kami pun rela asal mati dengan pikiran tenang. Asalkan ide-ide dan inpirasi akan hadir. Asalkan Imajinasi kami tak terbendung dengannya. Karena kami juga pecinta hidup yang telah memilih jalan yang agak berbeda..

Kamu tidak setuju? Saya tidak peduli.. haha!

 

 

“Saya percaya bahwa merokok memiliki kontribusi akan suatu perdamaian dan keakraban.” (Albert Einstein – Tukang Fisika, sudah tenang duluan)

.

df


Masa Muda Katanya

6 Januari 2016

Abis baca Dilan, jadi pengin ceritain masa SMA juga.. hehe. Ceritanya bagus, khas Pidi Baiq banget sih. Alter egonya mungkin. Milea? hah! Spesies wanita yang sudah punah saya pikir. Jenis Wanita langka yang mungkin lahir 100 tahun sekali.. Kalo masih ada stoknya sih, saya ambil dua deh, bonus kaos kaki. Hhuhuh. Yuk ah….

***

Terlahir sebagai anak baik-baik, saya berevolusi  menjadi bajingan di masa remaja. Saya di 2003, adalah satu dari sekian ribu anak di bumi Indonesia yang berhasil menanggalkan seragam putih-birunya untuk beralih ke jenjang SMA. Meskipun masa SMP saya penuh kemalasan, namun saya membawa nilai yang cukup lumayan bahkan untuk diajukan ke SMA terfavorit seprovinsi Bengkulu.

Dasarnya memang bengal, jadi saja saya malah daftar ke STM. Meninggalkan sebagian besar teman (dan gebetan) yang lebih memilih ke SMA yang terletak bersebelahan dengan gedung SMP saya dulu. Menuju ke sekolah yang konon menjadi sumber berita koran-koran kota karena aksi kriminal dan kenakalan remajanya. Entah Setan spesies apa yang merasuki saya waktu mengambil urusan masa depan ini seenteng memilih sendal jepit saja.

Bersama 5 teman SMP lainnya, saya iseng-iseng saja daftar ke jurusan yang katanya terbaik seantero STM, Jurusan Elektronika. Jurusan yang butuh otak dan skill berlebih katanya. Dan memang, sebelumnya saya tidak menyiapkan rencana apapun atas pilihan ini. Cuma ikut-ikutan teman saja sih. Iya, maaf.. Saya memang lelaki lemah..

Tak dinyana, pada hari pengumuman, nama saya menduduki puncak teratas klasemen sementara. Namun, 3 hari kemudian setelah pendaftaran telah ditutup, nama saya merosot dan akhirnya menduduki rangking tiga. Yang kemudian nama-nama ini dibagi menjadi dua kelas berdasarkan rangking ganjil-genap. Dan resmilah saya menjadi siswa STM dengan dasar elektronik bongkar-buang-beli baru.

Masa SMA bagi kami bukanlah masa paling indah, tapi masa paling keras. Di sinilah saya menjadi perokok aktif, main biliar, menenteng carriel, mulai pacaran, naik motor jatuh, nongkrong di sekolah lain, tawuran, minum-minum, bikin nangis guru, berkali-kali berurusan dengan polisi dan bikin band. Kebetulan dulu rokok saya masih mild, masih ingusan, menyesuaikan kantong anak sekolah.

Di kelas satu, beberapa perkelahian mulai mewarnai hari-hari sekolah yang kadang pakai pisau atau batu. Berbanding terbalik dengan masa SMP, saya di STM hampir-hampir tak pernah berolahraga kecuali ujian. Sering nginap di rumah teman, kemping, bilyaran atau ke pantai sampai pagi. Tidak ada hp, tidak ada teknologi. Saya sering nonton konser sama pacar, tapi lebih sering saya tinggal main sama kawan-kawan.

Hari-hari di STM saya jalani dengan suka cita. Nongkrong di warung khusus para perokok, main PS, bolos, ketauan bolos, distrap tidak bikin tugas, dijemur pas upacara karena tidak pernah ikut senam tiap jumat, ngerokok dalam kelas, dan yang paling sering adalah mungutin sampah tiap hari sebelum masuk ke kelas karena telat. Selalu.

Saya memang lebih memilih telat dan mungutin sampah ketimbang bangun pagi. Selain jarak yang mengharuskan saya dua kali naik angkot, berangkat terlalu pagi akan menyulitkan saya bertemu dengan kakak-kakak kuliahan gemes yang sukur-sukur bisa sebelahan di angkot.

Di STM, tiap kelas di bagi dua gedung. Gedung 1 diatas untuk pelajaran umum. Upacara bendera tiap senin, dan SKJ tiap jumat. Gedung 2 di bawah, untuk pelajaran tehnik, tiap sabtu upacara dan bersih-bersih taman setelahnya. Saya selalu dapat barisan khusus ketika hari senin. Barisan orang-orang yang tidak pakai topi dan dasi. Di hari sabtu, saya baris di samping guru-guru, di depan para siswa. Barisan para siswa yang telat. Dan hebatnya, nama saya sering disebut. Mungkin sampai sekarang mereka masih ingat dengan saya? Pemegang rekor telat nan abadi?

Padahal ketika STM, eksistensi saya mudah sekali dikenali. Cari saja sebentuk siswa yang jerawatan dengan rambut acak tak tersisir, tidak pakai kaos kaki dan baju sekolah penuh tempelan juga gambar-gambar tokoh komik. Jangan lupa celana yang sedikit sobek karena pakaian saya selalu didapat dari peninggalan kakak saya.

Salah satu keuntungan keluarga yang punya banyak anak lelaki adalah pakaiannya bisa diwariskan. Dan sial bagi si bungsu karena ia pemegang warisan terakhir. Stok pakaiannya banyak tapi bekas semua. Itulah nasib yang saya dapati hingga detik ini, memakai semua pakaian yang telah terjamah. Dan sialnya, ukuran tubuh kami berlima hampir sama semua. Dan saya curiga hal ini telah dilakukan sejak saya masih bayi..

Dikelas dua, masa puncak mulai terjadi. Perkelahian antar kelas, razia rambut dan motor, penutupan pagar untuk bolos, sidak di warung-warung. Bahkan beberapa teman sekelas masuk tipi karena mencuri motor gurunya sendiri. Sarap emang.

Saya sendiri ketangkap mencuri kembang kepsek bersama dua orang lainnya. Kembang ini sebenarnya adalah hukuman bagi siswa yang sering bolos. Karena di depan kantor kepsek banyak kembang, dan saya juga malas bawa kembang dari rumah (masa anak STM bawa kembang??? Ga oke banget ah..), akhirnya kami bertiga setuju “memindahkan” saja kembang yang di depan kantor kepsek ke kelas. Sayangnya ketahuan, karena kami memang belum ahli mencuri, kan masih anak baik-baik..

Karena ketahuan, akhirnya ditugaskan membersihkan taman bengkel seharian sebagai tukang kebun. Ngerumput, bakar sampah, nanem pohon.. Mumpung ada ubi di sekitar taman, sekalian aja dibakar di sela-sela mengurus kebun itu. Ubinya habis, eh malah ketauan wali kelas. Dimarahi lagi..

Di kelas tiga ga ada cerita yang asik. Selain 6 bulan saya magang di Semarang, sisanya saya disibukkan dengan les, ujian dan tryout. Kebetulan waktu kelas tiga saya punya pacar yang suka jalan-jalan. Jadi, les sama tryout sering saya tinggal dan saya serahkan pada nasib saja untuk saya alihkan mendaki gunung dan menyusuri pantai.

Guru-guru di STM saya memang galak-galak, mungkin untuk mengimbangi dominasi anak-anak bermasalahnya. Tapi, mereka hanya marah ketika kami salah saja. Mereka mendisiplinkan, mengarahkan. Bukan membatasi. Karena mereka tahu kami hanyalah remaja puber yang sedang mencari arah hidup.

Kamipun tak pernah main-main jika berhubungan dengan akademik. Buktinya kami sekelas menjadi satu-satunya kelas yang lulus 100 persen seantero STM. Saya pun bertahan dengan selalu rangking 3 selama 3 tahun. Bahkan dapat undangan beasiswa di Universitas Jogja. Tapi entah kenapa saya tolak waktu itu, mungkin karena saya udah punya pacar.

Sekarang saya dengar kabar, jurusan saya udah ngulik masalah robotika. Sudah sampai pada teknologi robot. Sedangkan saya dulu, pas ujian cuma bikin amplifier gitar, itupun ga bunyi. Sekarang benerin senter aja masih ke tukang serpis. Udah ilang ilmunya. Haha..

Tapi, di STM inilah kreatifitas saya berkembang sempurna. Otak saya tidak melulu dipenuhi teknologi, uang, wanita ataupun masa depan. Saya melayang melewati batas diri dan mulai menjamah yang tak terpikirkan. Saya berkarya, menulis, mencipta, tertawa, berenang, mendaki, berlari, sangat dinamis sampai rasanya tidak ingin tidur saja karena selalu saja ada pergerakan.

Saya merancang desain rumah, menciptakan barang-barang elektronik yang unik, mendaki gunung, berenang di pantai sepi, menulis puisi dan lagu, membuat buku-buku rancangan, mencatat perjalanan-perjalanan, manggung di festival band, datang ke konser-konser, latihan di studio, berkelahi ketika ingin, menyusuri daerah-daerah yang belum terjamah, membunuh waktu dengan berkumpul, mendiskusikan apapun bahkan tentang harga cabe, membual tentang masa depan, kenalan dengan wanita pakai nama palsu, menggoda guru magang, maling buku perpustakaan, bolos dengan alasan ikut donor darah, dan berteman dengan siapa saja.

Masa muda saya memang sedikit beruntung karena belum diambil alih teknologi. Masih bisa bahagia tanpa uang. Masih dinamis tanpa beban. Masih mengangap hujan sebagai teman. Dan bersenang-senang adalah segalanya..

Ah, mesin waktu.. Kapan kamu ada?

.

3

Bukit Kaba, Bengkulu, 2004


Mahasiswi Indonesia, Bersatulah dengan Mahasiswa..

4 Januari 2016

Suka sedih kalo dengar berita mahasiswi yang meninggal di tipi-tipi. Yang meninggal karena lagi penelitian lah, lagi jalan-jalan, lagi dikost-kostan, lagi selfie, lagi ospek, lagi pelatihan, atau mati di jalan raya, mati karena angkotlah..

Sebagai calon menteri pemberdayaan wanita (cantik), tentu saja hal ini meresahkan saya akibat hilangnya calon objek yang harusnya saya berdayakan.

Mungkin banyak yang merasa saya sok hebat saja kenapa hanya memikirkan para wanitanya, saya diskriminasi, feministis, betinaisme. Bukan, bukan sok jagoan. Bukan pula ingin dipuji dan dipeluk (kalau mau sih, boleh, ikhlas saya mah), tapi saya tau, laki-laki kebanyakan memang bajingan. Laki-laki itu semua gombal kecuali saya pokoknya. Tukang bunuh perasaan. Cuih.

Kenapa mahasiswi? Karena wanita akan berada di masa lucu-lucunya ketika menginjak masa kuliah atau tepatnya 18+. Sebagai pelindung makhluk halus, seyogyanya saya wajib melindungi seluruh jenis mahkluk lucu dimuka bumi demi terpeliharanya senyum kebahagiaan bagi umat manusia yang menikmatinya. Itu. DEMI UMAT MANUSIA. Jangan pikir saya egois dan sok hebat saja. Jangan salah menilai saya… Yayaya?


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: