Masa Muda Katanya


Abis baca Dilan, jadi pengin ceritain masa SMA juga.. hehe. Ceritanya bagus, khas Pidi Baiq banget sih. Alter egonya mungkin. Milea? hah! Spesies wanita yang sudah punah saya pikir. Jenis Wanita langka yang mungkin lahir 100 tahun sekali.. Kalo masih ada stoknya sih, saya ambil dua deh, bonus kaos kaki. Hhuhuh. Yuk ah….

***

Terlahir sebagai anak baik-baik, saya berevolusi  menjadi bajingan di masa remaja. Saya di 2003, adalah satu dari sekian ribu anak di bumi Indonesia yang berhasil menanggalkan seragam putih-birunya untuk beralih ke jenjang SMA. Meskipun masa SMP saya penuh kemalasan, namun saya membawa nilai yang cukup lumayan bahkan untuk diajukan ke SMA terfavorit seprovinsi Bengkulu.

Dasarnya memang bengal, jadi saja saya malah daftar ke STM. Meninggalkan sebagian besar teman (dan gebetan) yang lebih memilih ke SMA yang terletak bersebelahan dengan gedung SMP saya dulu. Menuju ke sekolah yang konon menjadi sumber berita koran-koran kota karena aksi kriminal dan kenakalan remajanya. Entah Setan spesies apa yang merasuki saya waktu mengambil urusan masa depan ini seenteng memilih sendal jepit saja.

Bersama 5 teman SMP lainnya, saya iseng-iseng saja daftar ke jurusan yang katanya terbaik seantero STM, Jurusan Elektronika. Jurusan yang butuh otak dan skill berlebih katanya. Dan memang, sebelumnya saya tidak menyiapkan rencana apapun atas pilihan ini. Cuma ikut-ikutan teman saja sih. Iya, maaf.. Saya memang lelaki lemah..

Tak dinyana, pada hari pengumuman, nama saya menduduki puncak teratas klasemen sementara. Namun, 3 hari kemudian setelah pendaftaran telah ditutup, nama saya merosot dan akhirnya menduduki rangking tiga. Yang kemudian nama-nama ini dibagi menjadi dua kelas berdasarkan rangking ganjil-genap. Dan resmilah saya menjadi siswa STM dengan dasar elektronik bongkar-buang-beli baru.

Masa SMA bagi kami bukanlah masa paling indah, tapi masa paling keras. Di sinilah saya menjadi perokok aktif, main biliar, menenteng carriel, mulai pacaran, naik motor jatuh, nongkrong di sekolah lain, tawuran, minum-minum, bikin nangis guru, berkali-kali berurusan dengan polisi dan bikin band. Kebetulan dulu rokok saya masih mild, masih ingusan, menyesuaikan kantong anak sekolah.

Di kelas satu, beberapa perkelahian mulai mewarnai hari-hari sekolah yang kadang pakai pisau atau batu. Berbanding terbalik dengan masa SMP, saya di STM hampir-hampir tak pernah berolahraga kecuali ujian. Sering nginap di rumah teman, kemping, bilyaran atau ke pantai sampai pagi. Tidak ada hp, tidak ada teknologi. Saya sering nonton konser sama pacar, tapi lebih sering saya tinggal main sama kawan-kawan.

Hari-hari di STM saya jalani dengan suka cita. Nongkrong di warung khusus para perokok, main PS, bolos, ketauan bolos, distrap tidak bikin tugas, dijemur pas upacara karena tidak pernah ikut senam tiap jumat, ngerokok dalam kelas, dan yang paling sering adalah mungutin sampah tiap hari sebelum masuk ke kelas karena telat. Selalu.

Saya memang lebih memilih telat dan mungutin sampah ketimbang bangun pagi. Selain jarak yang mengharuskan saya dua kali naik angkot, berangkat terlalu pagi akan menyulitkan saya bertemu dengan kakak-kakak kuliahan gemes yang sukur-sukur bisa sebelahan di angkot.

Di STM, tiap kelas di bagi dua gedung. Gedung 1 diatas untuk pelajaran umum. Upacara bendera tiap senin, dan SKJ tiap jumat. Gedung 2 di bawah, untuk pelajaran tehnik, tiap sabtu upacara dan bersih-bersih taman setelahnya. Saya selalu dapat barisan khusus ketika hari senin. Barisan orang-orang yang tidak pakai topi dan dasi. Di hari sabtu, saya baris di samping guru-guru, di depan para siswa. Barisan para siswa yang telat. Dan hebatnya, nama saya sering disebut. Mungkin sampai sekarang mereka masih ingat dengan saya? Pemegang rekor telat nan abadi?

Padahal ketika STM, eksistensi saya mudah sekali dikenali. Cari saja sebentuk siswa yang jerawatan dengan rambut acak tak tersisir, tidak pakai kaos kaki dan baju sekolah penuh tempelan juga gambar-gambar tokoh komik. Jangan lupa celana yang sedikit sobek karena pakaian saya selalu didapat dari peninggalan kakak saya.

Salah satu keuntungan keluarga yang punya banyak anak lelaki adalah pakaiannya bisa diwariskan. Dan sial bagi si bungsu karena ia pemegang warisan terakhir. Stok pakaiannya banyak tapi bekas semua. Itulah nasib yang saya dapati hingga detik ini, memakai semua pakaian yang telah terjamah. Dan sialnya, ukuran tubuh kami berlima hampir sama semua. Dan saya curiga hal ini telah dilakukan sejak saya masih bayi..

Dikelas dua, masa puncak mulai terjadi. Perkelahian antar kelas, razia rambut dan motor, penutupan pagar untuk bolos, sidak di warung-warung. Bahkan beberapa teman sekelas masuk tipi karena mencuri motor gurunya sendiri. Sarap emang.

Saya sendiri ketangkap mencuri kembang kepsek bersama dua orang lainnya. Kembang ini sebenarnya adalah hukuman bagi siswa yang sering bolos. Karena di depan kantor kepsek banyak kembang, dan saya juga malas bawa kembang dari rumah (masa anak STM bawa kembang??? Ga oke banget ah..), akhirnya kami bertiga setuju “memindahkan” saja kembang yang di depan kantor kepsek ke kelas. Sayangnya ketahuan, karena kami memang belum ahli mencuri, kan masih anak baik-baik..

Karena ketahuan, akhirnya ditugaskan membersihkan taman bengkel seharian sebagai tukang kebun. Ngerumput, bakar sampah, nanem pohon.. Mumpung ada ubi di sekitar taman, sekalian aja dibakar di sela-sela mengurus kebun itu. Ubinya habis, eh malah ketauan wali kelas. Dimarahi lagi..

Di kelas tiga ga ada cerita yang asik. Selain 6 bulan saya magang di Semarang, sisanya saya disibukkan dengan les, ujian dan tryout. Kebetulan waktu kelas tiga saya punya pacar yang suka jalan-jalan. Jadi, les sama tryout sering saya tinggal dan saya serahkan pada nasib saja untuk saya alihkan mendaki gunung dan menyusuri pantai.

Guru-guru di STM saya memang galak-galak, mungkin untuk mengimbangi dominasi anak-anak bermasalahnya. Tapi, mereka hanya marah ketika kami salah saja. Mereka mendisiplinkan, mengarahkan. Bukan membatasi. Karena mereka tahu kami hanyalah remaja puber yang sedang mencari arah hidup.

Kamipun tak pernah main-main jika berhubungan dengan akademik. Buktinya kami sekelas menjadi satu-satunya kelas yang lulus 100 persen seantero STM. Saya pun bertahan dengan selalu rangking 3 selama 3 tahun. Bahkan dapat undangan beasiswa di Universitas Jogja. Tapi entah kenapa saya tolak waktu itu, mungkin karena saya udah punya pacar.

Sekarang saya dengar kabar, jurusan saya udah ngulik masalah robotika. Sudah sampai pada teknologi robot. Sedangkan saya dulu, pas ujian cuma bikin amplifier gitar, itupun ga bunyi. Sekarang benerin senter aja masih ke tukang serpis. Udah ilang ilmunya. Haha..

Tapi, di STM inilah kreatifitas saya berkembang sempurna. Otak saya tidak melulu dipenuhi teknologi, uang, wanita ataupun masa depan. Saya melayang melewati batas diri dan mulai menjamah yang tak terpikirkan. Saya berkarya, menulis, mencipta, tertawa, berenang, mendaki, berlari, sangat dinamis sampai rasanya tidak ingin tidur saja karena selalu saja ada pergerakan.

Saya merancang desain rumah, menciptakan barang-barang elektronik yang unik, mendaki gunung, berenang di pantai sepi, menulis puisi dan lagu, membuat buku-buku rancangan, mencatat perjalanan-perjalanan, manggung di festival band, datang ke konser-konser, latihan di studio, berkelahi ketika ingin, menyusuri daerah-daerah yang belum terjamah, membunuh waktu dengan berkumpul, mendiskusikan apapun bahkan tentang harga cabe, membual tentang masa depan, kenalan dengan wanita pakai nama palsu, menggoda guru magang, maling buku perpustakaan, bolos dengan alasan ikut donor darah, dan berteman dengan siapa saja.

Masa muda saya memang sedikit beruntung karena belum diambil alih teknologi. Masih bisa bahagia tanpa uang. Masih dinamis tanpa beban. Masih mengangap hujan sebagai teman. Dan bersenang-senang adalah segalanya..

Ah, mesin waktu.. Kapan kamu ada?

.

3

Bukit Kaba, Bengkulu, 2004

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: