Menjadi Indonesia


Beberapa tahun yang lalu, kita tersentak dengan fenomena beberapa pemain timnas sepakbola negeri ini yang dibuat seolah terobsesinya kita (atau putus asa?) dengan menaturalisasi banyak pemain asing yang entah dari mana datangnya. Dengan membabi buta kita mengIndonesiakan pemain-pemain luar yang berdarah campuran ini untuk ditugaskan merebut juara yang tak kunjung datang hingga efek gegap gempitanya pun cuma sekejap kentut, bahkan tak terdengar lagi kontribusi pemain-pemain tersebut kepada negara hingga hari ini.

Yang lebih menyedihkan lagi, di partai finalnya kita kalah oleh musuh bebuyutan, si Malaysia yang notabene pengguna fullteam pemain pribumi. Ibarat main game tuh, kayak udah pakai cheat tapi masih kalah juga. Huhuhu..

Di lain pihak, beberapa aktivis lingkungan di Kalimantan, juga seniman di Bali, atau Lembaga-lembaga LSM di Papua, dan pendiri sekolah Independen, bahkan penggerak pariwisata di Indonesia yang berkewarganegaraan asing, sulit sekali mendapat hak menjadi orang Indonesia (pernah diliput tim Kick Andy). Orang-orang bule ini sudah tinggal lebih dari 10 tahun (salah satu syarat menjadi WNI) dan bahkan berkontribusi aktif pada masyarakat hingga hari ini terutama untuk orang-orang pinggiran di Indonesia.

Sesulit itukah menjadi Indonesia? Sebagai orang Indonesia berdarah setengah Spanyol (fyi, telapak tangan saya bule, lho..), saya berani bilang tidak sulit. Mungkin saja, orang-orang yang saya sebutkan diatas itu belum tahu saja tips dan trick sebagai celah untuk diakui sebagai Orang Indonesia tulen bernuansa nusantaraisme nan adi luhur gemah ripah loh jinawi karena asah, asih, dan asu!. Inilah itu anunya, Cekidot ..

 

# Makan mie

Meskipun makanan pokok bangsa ini adalah beras, Mie sebagai kompetitor ketat tetap saja membayangi sebagai runner-up dalam kancah kuliner nasional. Selain murah, praktis dan bervariasi, mie juga jadi pilihan wajib bagi para survivor jelata layaknya anak kos, pendaki gunung, tukang jalan-jalan, juga ibu-ibu rumah tangga yang malas masak.

Indomie sebagai pemersatu bangsa, sering hadir di acara-acara amal nan religius bernuansa bantuan seperti donasi bagi korban bencana, pembagian sembako, sumbangan ke panti-panti, dan sesajen bagi para penjelajah yang singgah di masyarakat pedalaman.

Geliat penyebarannya pun hampir merata mulai dari warung kopi, kedai pinggir jalan hingga resto dan cafe-cafe elit senusantara. Tidak heran jika produsen mie instant selalu termasuk ke dalam barisan orang-orang terkaya di negeri ini bersaing dengan produsen rokok.

Dengan menjamurnya produk ini, maka wajar jika tiap manusia Indonesia pernah merasakan nikmatnya goyangan mie instant yang konon pernah menjadi mie terenak sedunia. Benarlah kiranya jika dikatakan mie Instant adalah ciri manusia Indonesia. Dan asal tahu saja, mie adalah alasan pertama kami, para pria, mau mendekati kompor, hei kalian..

 

# Kaki knalpot

Banyak fenomena tragis yang dimiliki manusia Indonesia. Kaki dengan cap knalpot adalah salah satunya. Kaki kanan pelakunya. Dan penyebarannya sungguh menakjubkan, hampir tiap orang punya.

Hal ini tidak akan terjadi di negara barat sana karena motor kurang populer di sana. Kalaupun ada, pengendaranya tidak ada yang sesantai di Indonesia yang cukup pakai celana pendek dan sendal jepit, kadang sambil baca koran.

Cap knalpot ditenggarai sebagai budaya warisan leluhur orang Asia dimana para masyarakat jaman dahulu akan ditato sebagai bentuk pengakuan kedewasaan oleh sukunya. Tato hanya didapat bagi orang-orang yang telah siap mandiri dalam hidup.

Semakin besar dan banyak tatonya, maka orang tersebut dianggap telah banyak pengalaman hidup. Bukan, saya menulis begini bukan karena saya memiliki cap knalpot yang besar dan banyak. Bukan itu. Kalau tidak percaya googling saja, kebetulan saya sedang malas. Percayalah. Dan bagi yang tidak mempunyai bekas knalpot di kakinya, itu menandakan bahwa kalian belum dewasa sama sekali, hahaha…

 

# Nama julukan

Kesenangan masa kecil masyarakat Indonesia adalah seringnya memberikan julukan nama yang absurd bagi kawan-kawannya. Pilihannya cuma dua, dipanggil dengan nama julukan, atau nama bapaknya. Khas Indonesia asli.

Sedari kecil kita sudah belajar membully dengan ejekan-ejekan yang sebenarnya memang sengaja dicari-cari. Bagi yang mentalnya kuat, ejekan ini akan bertahan sampai ia dewasa. Dan bagi yang mentalnya lempem, akan terganggu secara psikologis dan terus mengutuk teman yang memanggilnya dengan julukan tersebut tiap harinya.

Tidak heran nama julukan menjadi cerita masa lalu khas masyarakat Indonesia di tiap daerahnya.

 

# Ditilang

Di Indonesia ini, salah satu hal yang paling ingin dijauhi adalah berurusan dengan polisi. Kalau tidak masalah kriminalitas, berarti masalahnya adalah uang.

Institusi ini sering membela diri dengan slogan “itu cuma oknum..”. Oknum lambemu kotak… Lah kalau udah banyak bukan oknum lagi toh, pak.. Tingkat kepercayaan masyarakat jadi rendah, korupsi dimana-mana, birokrasi dipersulit, ketahuan salah malah balik ngancam, pistol jadi andalan, pungli merajalela, inisiatif rendah, robot aturan, kesewenang-wenangan seragam. Dll, dlllllllll….

Dan yang terlalu sering ditemui adalah polantas bersama surat tilangnya yang termasyur. Di seantero jagat bumi pertiwi ini, hampir semua makhluknya pernah merasakan pedihnya berhadapan dengan pakpol dan surat-suratnya tersebut. Merekalah, satu-satunya kelompok di negeri ini yang masih melestarikan kalimat “Selamat siang, pak..”.

Bukan cerita baru lagi jika masyarakat sangat membenci lembaga ini karena urusan tilangnya. Masyarakat pun akhirnya jadi pernah main ke pengadilan, yang seumur-umur tak pernah membayangkan dirinya akan berurusan dengan hakim dan meja hijau. Belum lagi praktek-praktek suap jalanan yang beredar sebagai lahan pencari nafkahnya.

Dengan banyaknya rumor yang beredar, dan karena masyarakat selalu punya pengalaman dengan polisi, maka ditilang seolah menjadi kewajiban bagi para pengendara di Indonesia. Kabar baiknya, Jika kamu tidak deg-degan ketika bertemu polisi, itu artinya kamu sedang diluar negeri.

 

#Blek

Misteri yang masih menyelimuti saya hingga hari ini adalah, tiap orang di Indonesia minimal ada satu teman yang ia panggil dengan “Blek/Black”. Masih untung cuma dipanggil blek, kadang yang lebih sadis malah nama aslinya disandingkan dengan julukan tersebut. Benar-benar pencemaran nama baik ini..

Meskipun, kulit si teman ini tidak hitam legam layaknya orang Afrika ketumpahan kopi, namun diyakini cukup menjadi yang terhitam didalam komunitasnya saja, maka julukan ini ikhlas ia sandang hingga dewasa menjelang.

Memang sih fungsinya cuma untuk lucu-lucuan, lha kan teman sendiri.. Tapi jika ditelisik lebih jauh, julukan ini sudah menyerempet SARA sih. Tapi karena orang Indonesia selow, akhirnya julukan ini dianggap lalu saja dan hanya jadi embel-embel. Inilah karakter asli orang Indonesia yang saya suka, santai aja, mau dipanggil julukan, ejekan, nama bapak kek, sipit kek, toh asal bukan untuk memaki atau menghina ya sah-sah saja.

 

# Mandi Sungai

Sebagai negara tropis dengan dua musim, musim panas banget dan musim banjir, hampir semua daerah di Indonesia memiliki sungai. Keadaan inilah yang akhirnya seolah menjadi wajib bagi para penduduknya minimal sekali seumur hidup pernah mandi di sungai. Apalagi jaman-jaman ketika SD setelah sepulang sekolah. Bagi anak-anak kecil, air merupakan sahabat paling akrab yang bisa mereka dapatkan. Baik sungai, pantai, laut, hujan juga lumpur.

Lihatlah jika musim banjir datang, bahkan anak-anak dijakarta pun tidak sungkan untuk mandi meski di sungai tercemar ataupun di jalanan yang tergenang (hueek..). Ini bisa dimaklumi karena memang, di dalam darah orang-orang Indonesia mengalir kesenangan akan bermain dengan air.

Ketika melihat air tergenang, kolam, sungai ataupun kumpulan air yang menganggur, gejolak darah orang Indonesia di dalam diri kamu pasti akan menjerit-jerit untuk segera menikmati. Hal inilah yang mungkin terjadi di Ranu Kumbolo kemaren. Maklumi saja..

Dan bagi kamu-kamu yang tidak bisa berenang, mulai saat ini tanyakanlah kebenaran kalian kepada orang tua masing-masing. Benarkah kamu anak kandung mereka? Benarkah mengalir darah Indonesia di diri kamu? Tanyakanlah meskipun kenyataan yang akan kamu dengar pahit adanya..

 

# Si Botak

Jangan sekali-kali mencukur habis rambutmu kecuali kamu keluarga militer atau kamu adalah motivator. Menjadi Indonesia, berarti telah mengalir di dalam diri kamu untuk tidak bisa menahan diri dari kemampuan membully orang-orang botak.

Kalau kamu punya anak, jangan biarkan mereka plontos ketika sedang berada di masa-masa sekolah (SD-SMP-SMA). Karena, budaya asli anak-anak Indonesia sangatlah kental akan sifat usil. Dan membully orang botak adalah menjadi favorit sejak daman dulu. Sebutannya pun memenuhi kosa kata kamus mulai dari gundul, botak, neon, tuyul, lampu taman, pak ogah, plontos, licin, silau, dragon ball, bola, kelereng, biji salak juga botol.

Dan kalau kamu punya teman yang sanggup bertahan untuk botak sedari kecil hingga sekarang, yakinlah ia mempunyai mental gatot kaca dan terbukti tahan banting. Karena, fisik orang Indonesia yang kurus dan pendek sangatlah tidak cocok disandingkan dengan kondisi botak yang memang seharusnya didampingi dengan tubuh kekar berkilau layaknya pemain WWF. Ini jugalah alasan mengapa harga obat penumbuh rambut kadang tidak masuk akal.. Harga diri itu mahal, bung..

 

# Huruf R

Di negara saya, Bengkulu, terdapat banyak sekali orang-orang pesisir yang kalau berbicara terdapat gangguan pada huruf R nya. Semacam cadel-cadel ga lucu. Diperkirakan ini dikarenakan logat dan aksen bahasa dari suku leluhurnya yang membuat bacaan R nya menjadi seperti bunyi orang ngorok.

Namun ternyata, jenis manusia yang saya perkirakan cuma ada di Bengkulu ini ternyata cukup banyak tersebar di seantero jagat Indonesia. Saya tidak tahu apakah hal ini disebabkan oleh gangguan lidah atau memang ketika lahir sudah kesetrum duluan.

Fenomena jenis ini di tempat saya sering disebut R bekarek. Atau kalau di Indonesiakan itu artinya berkarat. Mungkin karena pengucapan R dilakukan seolah-olah besi keropos. Orang-orang ini biasanya sering dikasih tantangan yang memang bikin sakit hati seperti meniru kalimat ini: “ular-melingkar-lingkar di atas pagar Pak Umar….”.

Dan kalau kamu adalah tipikal manusia dengan kombinasi botak, hitam dan r berkarat, saya sarankan segera pindah kewarganegaraan. Karena pembulian diindonesia terkenal sadis dan mengganggu mental secara permanen. Bersegeralah sebelum terlambat…

 

#Pose Piss

Kalau kamu sebenar-benarnya anak Indonesia, berarti kamu pernah berfoto dengan pose pasaran ala dua jari ini. Diperkirakan pose ini termasuk ke dalam kejadian-kejadian tak terjelaskan di alam semesta. Meskipun pose ini dipakai diseluruh dunia, rasa-rasanya cuma di negara ini setiap anak mudanya pernah melakukannya.

Karena memang, cuma di Indonesia segala kejadian aneh bisa terjadi secara massal menyeluruh. Maklum saja, negara ini sudah dikutuk latah abadi nan jaya.

Diperkirakan pose ini muncul karena sifat orang Indonesia yang mudah kagok dalam menghadapi kamera. Bikin mereka mati kutu dan kaku. Karena muka sudah datar, minimal ekspresi bisa dilakukan dengan tangan. Dan pose ini dianggap yang paling netral selain pose rcti oke..

 

# Preman Kampung

Ingin tahu standar sebuah daerah sudah maju atau belum? Coba lihatlah pemudanya. Di Indonesia gampang sekali menentukan sebuah daerah sudah maju atau masih sekelas kampung. Hal ini bisa diamini karena fenomena ini telah terjadi di seluruh Indonesia penyebarannya.

Kebanyakan pemuda ini bisa dikenali melalui gaya rambut yang ketinggalan zaman 10 tahun, atau rambutnya masih dipirang-pirangkan sebagian (duitnya mungkin ga cukup, jadi beli pirang yang sachetan). Juga, bisa dikenali lewat kendaraan yang dimodif secara tak beraturan dan minim konsep seperti ban yang dikecilin, knalpot racing tapi motornya bebek, cat absurd warna-warni, klakson dimirip-miripin tukang es, dan suara mesin yang dibikin tinggi Bass nya.

Fenomena ini menyebar di hampir tiap negara Asia Tenggara. Sayangnya, cuma Indonesia yang melestarikannya hingga detik ini. Dan tiap daerah selalu punya makhluk model begini. Kalau dalam dunia fashion, makhluk-makhluk ini bisa disebut sebagai fashion disaster. Butuh lebih dari sekedar Mario Teguh untuk menyadarkan mereka..

 

# Gambar Gunung dan sawah

Saya pikir, cuma generasi 2000 ke bawah yang melakukan hal ini. Tapi nyatanya, gambar legendaris berupa dua buah gunung, ditengahnya nyempil matahari, dikasih jalan raya lurus dengan bersandingkan sawah ceker ayam ini masih dilestarikan hingga sekarang.

Keponakan saya, entah imajinasi dari mana ia mendapati gambar yang serupa dengan gambar legendaris ini. Saya terkejut karena gambar ini belum mati, masih diwariskan dari zaman ke zaman. Saya mulai berpikir, gambar ini telah termaqtub di DNA tiap manusia Indonesia. Gambar ini adalah warisan leluhur. Dan tiap anak di Indonesia secara tidak sadar akan dapat menggambarkannya meskipun tidak diajarkan.

Hebat sekali gambar ini masih bertahan di pusaran waktu yang entah sampai kapan. Konsepnya pun sama persis seperti jalan, gunung, sawah, matahari, awan, rumah, dan manusia sekurus lidi. Harusnya UNESCO segera menjadikan gambar ini sebagai benda warisan budaya yang harus di pajang di museum dunia. Hukumnya wajib.

 

# Oleh-oleh

Ini juga salah satu sifat tak terjelaskan orang Indonesia. Menjadi orang Indonesia, berarti kamu harus siap dimintai oleh-oleh ketika akan bepergian keluar kota. Tidak perduli kamu pergi dalam rangka apapun, meeting, tugas luar kota, pelatihan, jalan-jalan, survey, study banding, tugas negara, atau bahkan ikut lomba sekalipun. Selama perginya ke luar kota, akan ada saja yang meminta oleh-oleh.

Anehnya, kadang meski tidak diminta pun, gejolak darah Indonesia ini pasti juga dengan sadarnya akan membelikan oleh-oleh. Minimal gantung kunci atau kaos yang ada tulisan daerah kunjungannya.

Membeli atau meminta oleh-oleh, adalah salah satu hasrat yang tidak bisa ditahan karena sudah mendarah daging di nadi orang-orang Indonesia. Sekalipun jalan-jalannya minim uang, ada saja yang dibelikan seolah-olah sebagai bentuk pengakuan sudah pergi ke kota orang lain.

Hebatnya lagi, pasar oleh-oleh ini menjadi pemasukan utama dalam bidang pariwisata daerah. Sayang, pemda setempat tidak melihat peluang ini dan malah membiarkan saja masyarakat berjualan tanpa inovasi pada produknya seperti topi, gantungan kunci, kaos, bahkan gelang tangan? Ayolah, kreatifitas masyarakat kita lebih dari itu…

***

Itulah beberapa syarat wajib untuk kamu bila ingin menjadi Indonesia tulen tanpa logo SNI. Tidak semua yang saya tulis di atas harus kamu lakukan, minimal kebanyakan pernah kamu alami. Untuk mereka yang telah bertekad bulat untuk menjadi WNI namun terhalang birokrasi, bisalah itu kalian lakukan hal-hal diatas.

Karena, menjadi Indonesia tidaklah perlu sertifikat selembar kertas sebagai bukti negara. Cukuplah melebur dengan nadi Ibu pertiwi dan jiwa nusantara. Melarut sukma ke dalam keseharian penduduk-penduduk lokal yang bersahaja. Terus menebar senyum dan tetap ramah seperti yang diajarkan leluhur sejak dahulu kala. Asalkan bisa mengamalkan pancasila dan sumpah pemuda, kami sambut kalian dengan tangan terbuka…

.

meme-presiden-indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: