Azas Keklaksonan

12 Februari 2016

Sebagai seorang calon filsuf periode 2020-2025, seorang saya sangatlah menyukai  ketenangan. Terutama ketenangan fisik. Kepala saya akan sangat pusing jika menemukan situasi semacam mendengarkan konser musik metal, raungan cengeng anak kecil minta mainan, suara knalpot racing, pasangan yang sedang ribut karena selingkuh, tukang bengkel yang ngegas kendaraan secara berlebihan, ataupun ibu-ibu yang sedang ngomel dengan suara cempreng.

Dari kesemuamua sebab di atas, bunyi klakson saya tempatkan sebagai bunyi-bunyian PALING tidak asik dan sangat menggangu sejagat alam. Tepuk tangan sodara-sodara..

Di dalam dunia lalu lintas sendiri, klakson di fungsikan sebagai isyarat atau tanda peringatan bagi kendaraan yang ada di sekitarnya maupun orang-orang bego yang sulit mendengar karena terlalu asik dengan gadgetnya.  Sedangkan di Indonesia, klakson digunakan sebagai pengganti atas kalimat teriakan “WOOOYY!!”.

Sebagai manusia Indonesia normal, kehidupan jalan raya sudah menjadi bagian hari-hari saya yang memang tercatat sebagai pengguna kendaraan santun sejak tahun 2002. Sejak pertama kali memakai motorpun, saya jarang sekali menggunakan klakson karena menyadari bahwa bunyi klakson akan sangat menggangu bagi orang-orang yang tidak ingin mendengarnya. Karena memang, klakson diciptakan sebagai bahasa lalu lintas yang harus bersaing dengan riuhnya bunyi jalan raya. Untuk itulah klakson disetel dengan volume setara petasan.

Di Indonesia, klakson yang dibunyikan satu kali, bisa dimaklumi sebagai tanda permisi atau sekedar numpang lewat. Kalau dijadikan kalimat, ibaratnya jadi begini isinya: “permisi, saya duluan..”, atau “numpang lewat, pak..bu..”. Penggunaan klakson satu kali biasanya juga dipakai ketika ingin menyalip kendaraan lain atau sebagai tanda peringatan bagi kendaraan lain yang tidak kelihatan. Bisa juga dipakai sebagai pengganti ucapan terima kasih bagi kendaraan yang ikhlas memberikan jalan lewat.

Bunyi dua kali, biasanya dipakai sesama pengguna kendaraan untuk bertegur sapa, istilahnya itu pengganti kalimat: “Hai, pekabar cuy..”. Atau bisa juga kalau kendaraan dalam situasi ngebut, bunyi dua kali bisa di terjemahkan sebagai: “sorry, sedang buru-buru..”. Bunyinya juga dua kali dan pendek-pendek.

Jika, sebuah kendaraan membunyikan klakson lebih dari dua kali, artinya ada beberapa kemungkinan dan kesemuanya adalah kemungkinan terburuk.

Pertama, sudah pasti kondisi sedang macet. Yang paling saya kesali dari kemacetan adalah suara klakson yang seolah terompet vuvuzela itu. Sautan beriringan dari pengguna jalan yang seolah istrinya dirumah sedang mau melahirkan. Tipikal manusia yang menyalahkan macet tanpa sadar dia adalah salah satu penyebab kemacetan.

Pengguna kendaraan yang terjebak macet, mengguna klakson sebagai pengganti tumpahan kekesalan mereka karena sebenarnya tidak tahu ingin marah ke siapa. Ibaratnya sedang mendengarkan rengekan anak kecil yang minta dibelikan balon. Orang-orang ini tidak pernah menyadari kemacetan belum pernah menjadi lancar gara-gara klakson. Kebodohan massal yang bikin kesal sekali. Oon berjamaah.

Kedua, bunyi klakson yang dibunyikan terlalu banyak bisa dianggap sebagai indikasi buat ngajak berantem. Beberapa waktu lalu, muncul diberita seorang pengguna jalan yang digebuki massal karena menekan klakson terlalu berlebihan. Mungkin dia melihara kucing, jadi nyawanya ketularan banyak.

Padatnya jalan raya di Indonesia, selalu memungkinkan pengguna jalan lain untuk sering terserempet ataupun sekedar bersenggolan antar sesamanya. Untuk jalan-jalan besar, klakson jenis ini biasa ditujukan kepada kendaraan yang lebih besar. Kendaraan besar yang jalannya lelet tapi tidak memberikan akses untuk disalip, maupun yang jalannya ngebut tapi ugal-ugalan, harus siap dengan serangan klakson dari pengguna motor atau mobil pribadi yang memang lebih berkuasa atas jalan raya.

Atau, bisa juga ketika di lampu merah tapi kendaraan di depan juga tidak beranjak seolah macet. Suburlah klaksonan dari pengguna motor sebagai yang mulia di jalan raya memberi peringatan. Sok mau buru-buru, padahal kalau jalanan lancar, jalannya juga biasa aja. Ingat, sabar adalah koentji!

Ketiga, adanya kriminalitas di jalanan. Baik begal, perampokan, copet, penodongan, ataupun situasi bahaya lainnya, memang baiknya menggunakan klakson sebagai tanda minta tolong. Karena diharapkan, gangguan dari suara ini mampu mengundang orang datang secara beramai-ramai. Biasanya sih yang datang kebanyakan tukang pukul, hakim-hakim tanpa ijazah.  Mungkin ini satu-satunya alasan saya bisa menerima mengapa klakson tercipta.

Terakhir, tukang sayur dan kerabat-kerabatnya. Sebagai penderita insomnia akut, saya adalah orang yang baru akan tidur ketika matahari akan muncul. Sayangnya, pada waktu pagi hari merupakan jadwal tukang sayur mulai melancarkan aksinya. Evolusi terompet “oek-oek” yang sekarang menjadi klakson mulai menampakkan tajinya. Sialnya, tukang sayur kadang datang secara rombongan. Jadilah paduan suara ala klakson. Dan hancurlah ketenangan pagi saya..

Beberapa daerah di Indonesia memang memiliki mamang sejenis ini, yang menjadikan klakson sebagai alarm bagi munculnya kedatangan mereka. Backsound yang tidak aduhai memang.. Baik tukang sayur, tukang donat, tukang minyak, tukang sate, tukang roti juga tukang-tukang serupa lainnya. Mereka sepertinya tidak menyadari mana bunyi yang membuat orang keluar rumah karena tertarik atau terganggu.

Tapi, entah mengapa insting saya mengatakan bahwa Padang ini memang agak lain dari daerah-daerah lain yang pernah saya tinggali. Di sini, hidup manusia-manusia dengan telinga super. Kalau ngomong, harus cepat dan keras. Kalau sedang karaoke, speakernya harus sekomplek kedengaran. Angkot-angkotnya, dipasangi speaker sekelas konser dangdut biarpun kadang suara penumpang minta turun ga kedengaran. Tukang sayurnya, bunyiin klason dalam hitungan detik berturut-turut. Dan emak-emak gosipnya, hmmpp… kalah deh suara mesin F1.

Kalau jaman dulu sih masih mending, tukang bakso yang mukulin piring. Atau bunyi kring-kring sepeda, bunyi terompet oek-oek tukang donat.  Bahkan beberapa tukang cuma bermodal mulut untuk menarik pelanggan. Tapi sekarang, entah kenapa klakson yang jadi primadona.

Karena, orang-orang ini juga kurang menyadari mana bunyi-bunyi yang menggangu ataupun sekedar tanda. Yang mereka tahu, selama bunyinya menarik perhatian orang banyak, mereka akan menggunakan secara intens dan bersemangat. Yang saya takutkan, besok-besok malah petasan atau gas LPG 3kg yang mengganti bunyi-bunyiannya..

Kan ngeri juga kalo tiap tukangnya mau lewat, tiap rumah dilemparin petasan cabe. Lah, kalo sehari ada 10 mamang yang lewat, apa ga gempor itu kuping.. Sekalian aja bangun barak, biar nuansa perangnya bisa dapet.. Biar hastag #kamitidaktakut teramalkan dengan sungguh-sungguh.

Oke, segitu dulu resahnya saya. Yang pasti saya tidak suka klakson dan bunyinya. Memakainya di jalanpun jarang-jarang. Gunakan klakson seperlunya aja. Juga liat sikon dan keadaan. Karena memang, semua bahasa yang tidak verbal sangatlah sering mengalami kesalapahaman. Apalagi sampe berantem. Berantem ama orang jelek, kalau sama-sama bonyok kita yang rugi… Salam tiiinn….tiiiinnnn…..


Valentinifikasi

8 Februari 2016

Sebentar lagi Valentine. Lagi-lagi kita akan dihadapkan dengan kelompok yang mendukung, membiarkan dan yang mengharamkan. Konflik serupa natal, tahun baru, dan hari Ibu. Konflik-konflik yang mengisyaratkan kita masih setingkat homo sapiens.

Terkait Valentine, kita juga akan disajikan komen-komen sejenis: “kasih sayang tuh tiap hari, ga harus di valentine aja”, “Valentine kan sejarah aslinya kan serem, ada pembunuhan”, “Valentine tuh kan haram”, blablabla.. Komen yang mirip alarm tahunan, bunyinya sama dan terulang tiap tahun.

Dulu, di pesbuk saya pernah bikin status begini ketika hari AIDS nasional: “Selamat hari AIDS bagi yang menjalankan”. Saya ngasih selamat bukan karena saya bagian atau terkena AIDS, ikut meramaikan saja dan pengingat bagi yang lupa. Toh, saya tidak harus terinfeksi AIDS dulu agar bisa ngucapin selamat.

Pandangan saya terhadap Valentine sih masih sebatas acara seru-seruan bagi anak muda aja. Bagi beberapa orang yang terlalu serius menanggapi Valentine bahkan membawa sampai ke ranah iman dan akidah, saran saya sih, pergilah sesekali camping di hutan atau gunung. Udara alami sangat membantu merefresh otak dan urat-urat yang kaku. Piknik bisa di jadikan alternatif untuk menyegarkan pikiran dan menambah sedikit wawasan.

Karena hidup yang serius itu sangat tidak asik untuk dijalani. Tipikal hidup statis yang cuma mengalami satu musim, musim agama. Apa-apa agama, apa-apa agama. Padahal agama itu cuma alat, hanya kendaraannya saja. Tuhanpun tidak menyukai umat yang hanya memikirkan akhirat saja. Dunia yang penuh perbedaan ini pun haruslah dicermati dengan bijak dan tenang. Sekian dari saya. Kalo kebanyakan takut nanti jadi motivator..


Menyoal Kepoisme

8 Februari 2016

Tadi di tipi ada yang ngebahas soal nomophobia (maap kalo tulisannya salah), phobia terhadap jauh dari HP katanya. Penyakit masyarakat modern kekinian.

Faktanya agak serem juga, hampir 50 persen pengguna smartphone yang terinfeksi. Penjelasannya sih, penderita biasanya ga bisa tenang, cemas, sama mendekati stres kalau berjauhan dari HP nya barang 5 menit saja. Meskipun di HP nya tidak ada notifikasi apapun. Tetap kudu dicek terus..

Asumsi saya sih, gejala diatas dikarenakan Yang Mulia Sosial Media. Dunia awang-awang tempat banyak orang bertaruh memasarkan hedonisme masing-masing. Sosmed selalu membuat pemujanya berburu keingintahuan. Baik kabar dari teman-teman yang baru dan lama, teman dekat, orang-orang yang “diincar”, dan lebih utama ke mantan.

Masalah utamanya adalah, manusia era sekarang lebih malas menanyakan kabar secara langsung dan lebih memilih mengetahui secara diam-diam kehidupan orang-orang via sosmed, lantas kemudian seolah-olah pura-pura tidak tahu. Mereka lebih senang mengira-ngira dan berkesimpulan atas apa yang mereka lihat. Saya sih lebih memandang sosmed sebagai tempat yang sangat cocok untuk mengumbar pemikiran saja.

Lebih jauh lagi, gejala nomophobia ini hanyalah salah satu sifat kepo manusia Indonesia rata-rata. Karena sesungguhnya, negeri ini penuh dengan manusia yang selalu ingin tahu. Mulai dari emak-emak yang bergosip antar tetangga, sampai ke penyadapan telpon tingkat KPK.

Memang sih, rasa penasaran adalah salah satu filsafat hidup manusia pada hakekatnya. Sudah tercipta sepaket sama otak. Manusia sudah diberkati dengan rasa ingin tahu sejak nabi Adam melihat buah khuldi. Tapi, baiknya keingintahuan tersebut di arahkan ke hal-hal yang lebih bersifat global dan universal ketimbang demi kehidupan pribadi orang perorang. Kalau cuma sekedar dipakai untuk tahu siapa yang ngelike status pasangan kamu, kemungkinan evolusinya belum sempurna.

Masalah kepo-mengepo ini benar-benar sudah diatas rata-rata. Di dunia sosmed, stalking  jadi primadona. Di dunia nyata, bisa kita lihat di tragedi bom sarinah kemaren. Teroris yang mengira dirinya Rambo itu, malah jadi tontonan layaknya sirkus lumba-lumba oleh masyarakat. Sampai-sampai, si polisi kudu bikin police line khusus buat “penonton” agar tidak ngelewati batas. Penasaran telah mengalahkan rasa takut. Tipikal orang Indonesia, Selama bukan dia yang kena, tetap #tidaktakut.

Kesampingkan korban-korban yang meninggal, kita malah penasaran dengan tukang sate dan pedagang asongan. Kami memang tidak takut, deg-degan, iya. Kita malah membahas hal-hal tidak penting yang dikira mewakili rasa tidak takut.

Negeri kita nampaknya memang kurang hiburan, mungkin karena itulah acara lawak lebih jamak di televisi hingga hari ini. Tengoklah semisal ada tabrakan atau kecelakaan di jalan raya. Dengan mudah ratusan tamu tak diundang pun gampang dikumpulkan. Semua ibu-ibu sampai anak-anak kecil  daatang menjadi semut yang ketemu gula. Lebih banyak yang penasaran ketimbang yang menolong. Macet pun pasti terjadi karena sebagian yang lewat minimal ingin melirik agar bisa jadi bahan perbincangan dikala nongkrong di warung kopi nanti. Tips bagi yang nanti mau kampanye tanpa biaya, kecelakaan bisa dijadikan salah satu alternatif.

Pernah di suatu malam di Bukit Tinggi, ketika saya sedang nongkrong asik bersama kopi, tersebutlah sebuah kebakaran hebat terjadi di sebuah rumah. Saya yang memang jarang menyaksikan kebakaran, dibuat kaget dengan kenyataan yang terjadi. Ratusan anak muda yang sepertinya kehabisan ide untuk mengajak jalan-jalan si pacar, malah menjadikan kebakaran sebagai tontonan kegiatan malam minggu.

Ratusan motor para penonton sudah terparkir rapi di masjid dan rumah-rumah penduduk. Dan banyak lagi yang antri macet dijalanan untuk menyaksikan kebakaran tersebut. Sampai-sampai mobil damkarnya harus ‘mengancam’ pengguna jalan cuma agar bisa lewat untuk mengambil air. Di TKP pun, jubelan manusia datang hanya untuk menikmati pemandangan api unggun yang memang jarang-jarang terjadi.

Begitulah Indonesia, di setiap sudut negerinya sama. Kita lebih memilih kepo dengan hal-hal sepele semacam harga Nikita Mirzani ketimbang mengetahui bursa caleg yang secara tidak langsung mempengaruhi kualitas hidup kita luar dalam. Kita lebih banyak menggunakan sosmed untuk mengartiskan diri ketimbang tempat mengekspresikan diri. Menyebarkan foto selfie ketimbang kritik dan menawarkan ide-ide.

Memang benar, rasa keingintahuan manusia itu begitu besar. Tapi Tuhan juga sudah menciptakan otak sebagai pengontrolnya. Otak bisa diarahkan oleh hati, bagi yang punya. Tapi, bagi manusia-manusia yang hatinya sudah di bawa lari gebetan, saya bisa maklum.

Lagipula, wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah sejak dulu itu, sudah memuat azas-azas kemanusiaan yang adil dan beradab. Sehingga tidak perlu menjadi jenius untuk memilah mana yang baik dan buruk dalam menempatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat.

Kok saya subjektif? Tentu saja saya harus subjektif. Toh, ini tulisan saya. Blog juga punya saya. Kalau mau membela diri, jangan komentari tulisan saya, tapi buat tulisan kamu sendiri.. Biar jangan jadi komentator bola. Sudah dulu ah, mau cari siomay dulu..

.

imagi lamp


Debatorial

8 Februari 2016

Saya sebenarnya bukanlah orang yang cocok untuk diajak berdebat. Berdiskusi masih mungkin, tapi untuk berdebat, saya angkat jemuran deh. Karena sesungguhnya, kemerdekaan itu ialah hak… produk manusia setipe saya ini termasuk ke dalam golongan spesimen telmi yang sulit sekali mencerna secara spontan.

Saya selalu saja bermasalah dengan bagaimana cara penyampaian yang benar atas apa yang saya pikirkan. Tentu hal ini dikarenakan otak dan mulut saya sedikit kurang sinkron dan sulit sekali berkoordinasi. Ketika pemikiran saya sudah menjangkau bidadari di atas awan sana, mulut saya malah sibuk membicarakan cacing yang ada di dalam tanah.

Hal ini tentu akan menyulitkan ketika saya harus berdebat masalah-masalah serius nan sensitif. Karena ketika sebuah perdebatan sudah terjadi, akan sangat sulit untuk meralat atas perkataan yang sudah terucap. Dan yang paling menakutkan, ketika lawan debat menggunaan kesalahan tersebut untuk membantah pendapat yang telah terucap sebelumnya. Skak mat.

Untuk itulah terkadang saya lebih memilih diam ketika sebuah perdebatan tengah berlangsung. Baik debat-debat santai sekedar di warung kopi, maupun debat-debat serius di civitas kampus dan ruang-ruang kuliah. Saya lebih memilih menjadi pengamat dengan sedikit sunggingan senyum ramah ke kedua belah pihak yang sedang berdebat sambil menyalahkan pendapat mereka berdua di dalam hati.

Namun, yang paling saya tidak sukai dalam sebuah perdebatan adalah ketika mereka saling menjatuhkan lawan dengan menyalahkan pendapat lawan ketimbang memperkuat pendapatnya sendiri. Berdebat menjadi tidak asik ketika salah satu pihak mulai sok tahu dan mulai muncul sebentuk sunggingan senyum meremehkan yang muncul. Ketika hal ini terjadi, intisari perdebatan yang seharusnya mencari kebenaran akan berubah bentuk menjadi hanya mencari pembenaran.

Karena itulah, sebuah perdebatan haruslah dilakukan dengan lapang dada, keikhlasan, dan kejujuran. Juga tidak lupa wawasan luas yang menjadi dasarnya, agar tidak menjadi sekedar debat kusir. Sedangkan saya, tetap dengan pendirian sebagai kritikus. Persetan dengan debat, semuanya tetap salah pokoknya.. haha..

.

rokok


Jadi Apa

3 Februari 2016

Jadi gitarist, tapi gitarnya patah. Gagal. Coret

Jadi penulis, ga pernah serius. Gagal. Coret

Jadi kartunis, pasti gagal. Coret

Jadi anak, belum gagal. Masih ada harapan..

Jadi backpackeria, tapi kere. Gagal. Coret

Jadi penipu, gagal. Terlalu baik

Jadi keren, insyaAllah sudah..

Jadi pemulung, liat situasi dulu. Dipertimbangkan

Jadi travel writer, ga ada yang bayar. Gagal. Coret

Jadi filsuf, gagap. Coret

Jadi kaya, boleh. Tapi dikit aja, takut serakah..

Jadi enterpreneur, ga punya modal. Gagal. Belum dicoret

Jadi guru, kasian yang jadi murid. Enggak gagal sih, tapi coret..

Jadi wisuda? Haiissah…

 

 

#Padang, akhir Januari yang pancaroba..


Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: