Menyoal Kepoisme


Tadi di tipi ada yang ngebahas soal nomophobia (maap kalo tulisannya salah), phobia terhadap jauh dari HP katanya. Penyakit masyarakat modern kekinian.

Faktanya agak serem juga, hampir 50 persen pengguna smartphone yang terinfeksi. Penjelasannya sih, penderita biasanya ga bisa tenang, cemas, sama mendekati stres kalau berjauhan dari HP nya barang 5 menit saja. Meskipun di HP nya tidak ada notifikasi apapun. Tetap kudu dicek terus..

Asumsi saya sih, gejala diatas dikarenakan Yang Mulia Sosial Media. Dunia awang-awang tempat banyak orang bertaruh memasarkan hedonisme masing-masing. Sosmed selalu membuat pemujanya berburu keingintahuan. Baik kabar dari teman-teman yang baru dan lama, teman dekat, orang-orang yang “diincar”, dan lebih utama ke mantan.

Masalah utamanya adalah, manusia era sekarang lebih malas menanyakan kabar secara langsung dan lebih memilih mengetahui secara diam-diam kehidupan orang-orang via sosmed, lantas kemudian seolah-olah pura-pura tidak tahu. Mereka lebih senang mengira-ngira dan berkesimpulan atas apa yang mereka lihat. Saya sih lebih memandang sosmed sebagai tempat yang sangat cocok untuk mengumbar pemikiran saja.

Lebih jauh lagi, gejala nomophobia ini hanyalah salah satu sifat kepo manusia Indonesia rata-rata. Karena sesungguhnya, negeri ini penuh dengan manusia yang selalu ingin tahu. Mulai dari emak-emak yang bergosip antar tetangga, sampai ke penyadapan telpon tingkat KPK.

Memang sih, rasa penasaran adalah salah satu filsafat hidup manusia pada hakekatnya. Sudah tercipta sepaket sama otak. Manusia sudah diberkati dengan rasa ingin tahu sejak nabi Adam melihat buah khuldi. Tapi, baiknya keingintahuan tersebut di arahkan ke hal-hal yang lebih bersifat global dan universal ketimbang demi kehidupan pribadi orang perorang. Kalau cuma sekedar dipakai untuk tahu siapa yang ngelike status pasangan kamu, kemungkinan evolusinya belum sempurna.

Masalah kepo-mengepo ini benar-benar sudah diatas rata-rata. Di dunia sosmed, stalking  jadi primadona. Di dunia nyata, bisa kita lihat di tragedi bom sarinah kemaren. Teroris yang mengira dirinya Rambo itu, malah jadi tontonan layaknya sirkus lumba-lumba oleh masyarakat. Sampai-sampai, si polisi kudu bikin police line khusus buat “penonton” agar tidak ngelewati batas. Penasaran telah mengalahkan rasa takut. Tipikal orang Indonesia, Selama bukan dia yang kena, tetap #tidaktakut.

Kesampingkan korban-korban yang meninggal, kita malah penasaran dengan tukang sate dan pedagang asongan. Kami memang tidak takut, deg-degan, iya. Kita malah membahas hal-hal tidak penting yang dikira mewakili rasa tidak takut.

Negeri kita nampaknya memang kurang hiburan, mungkin karena itulah acara lawak lebih jamak di televisi hingga hari ini. Tengoklah semisal ada tabrakan atau kecelakaan di jalan raya. Dengan mudah ratusan tamu tak diundang pun gampang dikumpulkan. Semua ibu-ibu sampai anak-anak kecil  daatang menjadi semut yang ketemu gula. Lebih banyak yang penasaran ketimbang yang menolong. Macet pun pasti terjadi karena sebagian yang lewat minimal ingin melirik agar bisa jadi bahan perbincangan dikala nongkrong di warung kopi nanti. Tips bagi yang nanti mau kampanye tanpa biaya, kecelakaan bisa dijadikan salah satu alternatif.

Pernah di suatu malam di Bukit Tinggi, ketika saya sedang nongkrong asik bersama kopi, tersebutlah sebuah kebakaran hebat terjadi di sebuah rumah. Saya yang memang jarang menyaksikan kebakaran, dibuat kaget dengan kenyataan yang terjadi. Ratusan anak muda yang sepertinya kehabisan ide untuk mengajak jalan-jalan si pacar, malah menjadikan kebakaran sebagai tontonan kegiatan malam minggu.

Ratusan motor para penonton sudah terparkir rapi di masjid dan rumah-rumah penduduk. Dan banyak lagi yang antri macet dijalanan untuk menyaksikan kebakaran tersebut. Sampai-sampai mobil damkarnya harus ‘mengancam’ pengguna jalan cuma agar bisa lewat untuk mengambil air. Di TKP pun, jubelan manusia datang hanya untuk menikmati pemandangan api unggun yang memang jarang-jarang terjadi.

Begitulah Indonesia, di setiap sudut negerinya sama. Kita lebih memilih kepo dengan hal-hal sepele semacam harga Nikita Mirzani ketimbang mengetahui bursa caleg yang secara tidak langsung mempengaruhi kualitas hidup kita luar dalam. Kita lebih banyak menggunakan sosmed untuk mengartiskan diri ketimbang tempat mengekspresikan diri. Menyebarkan foto selfie ketimbang kritik dan menawarkan ide-ide.

Memang benar, rasa keingintahuan manusia itu begitu besar. Tapi Tuhan juga sudah menciptakan otak sebagai pengontrolnya. Otak bisa diarahkan oleh hati, bagi yang punya. Tapi, bagi manusia-manusia yang hatinya sudah di bawa lari gebetan, saya bisa maklum.

Lagipula, wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah sejak dulu itu, sudah memuat azas-azas kemanusiaan yang adil dan beradab. Sehingga tidak perlu menjadi jenius untuk memilah mana yang baik dan buruk dalam menempatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat.

Kok saya subjektif? Tentu saja saya harus subjektif. Toh, ini tulisan saya. Blog juga punya saya. Kalau mau membela diri, jangan komentari tulisan saya, tapi buat tulisan kamu sendiri.. Biar jangan jadi komentator bola. Sudah dulu ah, mau cari siomay dulu..

.

imagi lamp

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: