Azas Keklaksonan


Sebagai seorang calon filsuf periode 2020-2025, seorang saya sangatlah menyukai  ketenangan. Terutama ketenangan fisik. Kepala saya akan sangat pusing jika menemukan situasi semacam mendengarkan konser musik metal, raungan cengeng anak kecil minta mainan, suara knalpot racing, pasangan yang sedang ribut karena selingkuh, tukang bengkel yang ngegas kendaraan secara berlebihan, ataupun ibu-ibu yang sedang ngomel dengan suara cempreng.

Dari kesemuamua sebab di atas, bunyi klakson saya tempatkan sebagai bunyi-bunyian PALING tidak asik dan sangat menggangu sejagat alam. Tepuk tangan sodara-sodara..

Di dalam dunia lalu lintas sendiri, klakson di fungsikan sebagai isyarat atau tanda peringatan bagi kendaraan yang ada di sekitarnya maupun orang-orang bego yang sulit mendengar karena terlalu asik dengan gadgetnya.  Sedangkan di Indonesia, klakson digunakan sebagai pengganti atas kalimat teriakan “WOOOYY!!”.

Sebagai manusia Indonesia normal, kehidupan jalan raya sudah menjadi bagian hari-hari saya yang memang tercatat sebagai pengguna kendaraan santun sejak tahun 2002. Sejak pertama kali memakai motorpun, saya jarang sekali menggunakan klakson karena menyadari bahwa bunyi klakson akan sangat menggangu bagi orang-orang yang tidak ingin mendengarnya. Karena memang, klakson diciptakan sebagai bahasa lalu lintas yang harus bersaing dengan riuhnya bunyi jalan raya. Untuk itulah klakson disetel dengan volume setara petasan.

Di Indonesia, klakson yang dibunyikan satu kali, bisa dimaklumi sebagai tanda permisi atau sekedar numpang lewat. Kalau dijadikan kalimat, ibaratnya jadi begini isinya: “permisi, saya duluan..”, atau “numpang lewat, pak..bu..”. Penggunaan klakson satu kali biasanya juga dipakai ketika ingin menyalip kendaraan lain atau sebagai tanda peringatan bagi kendaraan lain yang tidak kelihatan. Bisa juga dipakai sebagai pengganti ucapan terima kasih bagi kendaraan yang ikhlas memberikan jalan lewat.

Bunyi dua kali, biasanya dipakai sesama pengguna kendaraan untuk bertegur sapa, istilahnya itu pengganti kalimat: “Hai, pekabar cuy..”. Atau bisa juga kalau kendaraan dalam situasi ngebut, bunyi dua kali bisa di terjemahkan sebagai: “sorry, sedang buru-buru..”. Bunyinya juga dua kali dan pendek-pendek.

Jika, sebuah kendaraan membunyikan klakson lebih dari dua kali, artinya ada beberapa kemungkinan dan kesemuanya adalah kemungkinan terburuk.

Pertama, sudah pasti kondisi sedang macet. Yang paling saya kesali dari kemacetan adalah suara klakson yang seolah terompet vuvuzela itu. Sautan beriringan dari pengguna jalan yang seolah istrinya dirumah sedang mau melahirkan. Tipikal manusia yang menyalahkan macet tanpa sadar dia adalah salah satu penyebab kemacetan.

Pengguna kendaraan yang terjebak macet, mengguna klakson sebagai pengganti tumpahan kekesalan mereka karena sebenarnya tidak tahu ingin marah ke siapa. Ibaratnya sedang mendengarkan rengekan anak kecil yang minta dibelikan balon. Orang-orang ini tidak pernah menyadari kemacetan belum pernah menjadi lancar gara-gara klakson. Kebodohan massal yang bikin kesal sekali. Oon berjamaah.

Kedua, bunyi klakson yang dibunyikan terlalu banyak bisa dianggap sebagai indikasi buat ngajak berantem. Beberapa waktu lalu, muncul diberita seorang pengguna jalan yang digebuki massal karena menekan klakson terlalu berlebihan. Mungkin dia melihara kucing, jadi nyawanya ketularan banyak.

Padatnya jalan raya di Indonesia, selalu memungkinkan pengguna jalan lain untuk sering terserempet ataupun sekedar bersenggolan antar sesamanya. Untuk jalan-jalan besar, klakson jenis ini biasa ditujukan kepada kendaraan yang lebih besar. Kendaraan besar yang jalannya lelet tapi tidak memberikan akses untuk disalip, maupun yang jalannya ngebut tapi ugal-ugalan, harus siap dengan serangan klakson dari pengguna motor atau mobil pribadi yang memang lebih berkuasa atas jalan raya.

Atau, bisa juga ketika di lampu merah tapi kendaraan di depan juga tidak beranjak seolah macet. Suburlah klaksonan dari pengguna motor sebagai yang mulia di jalan raya memberi peringatan. Sok mau buru-buru, padahal kalau jalanan lancar, jalannya juga biasa aja. Ingat, sabar adalah koentji!

Ketiga, adanya kriminalitas di jalanan. Baik begal, perampokan, copet, penodongan, ataupun situasi bahaya lainnya, memang baiknya menggunakan klakson sebagai tanda minta tolong. Karena diharapkan, gangguan dari suara ini mampu mengundang orang datang secara beramai-ramai. Biasanya sih yang datang kebanyakan tukang pukul, hakim-hakim tanpa ijazah.  Mungkin ini satu-satunya alasan saya bisa menerima mengapa klakson tercipta.

Terakhir, tukang sayur dan kerabat-kerabatnya. Sebagai penderita insomnia akut, saya adalah orang yang baru akan tidur ketika matahari akan muncul. Sayangnya, pada waktu pagi hari merupakan jadwal tukang sayur mulai melancarkan aksinya. Evolusi terompet “oek-oek” yang sekarang menjadi klakson mulai menampakkan tajinya. Sialnya, tukang sayur kadang datang secara rombongan. Jadilah paduan suara ala klakson. Dan hancurlah ketenangan pagi saya..

Beberapa daerah di Indonesia memang memiliki mamang sejenis ini, yang menjadikan klakson sebagai alarm bagi munculnya kedatangan mereka. Backsound yang tidak aduhai memang.. Baik tukang sayur, tukang donat, tukang minyak, tukang sate, tukang roti juga tukang-tukang serupa lainnya. Mereka sepertinya tidak menyadari mana bunyi yang membuat orang keluar rumah karena tertarik atau terganggu.

Tapi, entah mengapa insting saya mengatakan bahwa Padang ini memang agak lain dari daerah-daerah lain yang pernah saya tinggali. Di sini, hidup manusia-manusia dengan telinga super. Kalau ngomong, harus cepat dan keras. Kalau sedang karaoke, speakernya harus sekomplek kedengaran. Angkot-angkotnya, dipasangi speaker sekelas konser dangdut biarpun kadang suara penumpang minta turun ga kedengaran. Tukang sayurnya, bunyiin klason dalam hitungan detik berturut-turut. Dan emak-emak gosipnya, hmmpp… kalah deh suara mesin F1.

Kalau jaman dulu sih masih mending, tukang bakso yang mukulin piring. Atau bunyi kring-kring sepeda, bunyi terompet oek-oek tukang donat.  Bahkan beberapa tukang cuma bermodal mulut untuk menarik pelanggan. Tapi sekarang, entah kenapa klakson yang jadi primadona.

Karena, orang-orang ini juga kurang menyadari mana bunyi-bunyi yang menggangu ataupun sekedar tanda. Yang mereka tahu, selama bunyinya menarik perhatian orang banyak, mereka akan menggunakan secara intens dan bersemangat. Yang saya takutkan, besok-besok malah petasan atau gas LPG 3kg yang mengganti bunyi-bunyiannya..

Kan ngeri juga kalo tiap tukangnya mau lewat, tiap rumah dilemparin petasan cabe. Lah, kalo sehari ada 10 mamang yang lewat, apa ga gempor itu kuping.. Sekalian aja bangun barak, biar nuansa perangnya bisa dapet.. Biar hastag #kamitidaktakut teramalkan dengan sungguh-sungguh.

Oke, segitu dulu resahnya saya. Yang pasti saya tidak suka klakson dan bunyinya. Memakainya di jalanpun jarang-jarang. Gunakan klakson seperlunya aja. Juga liat sikon dan keadaan. Karena memang, semua bahasa yang tidak verbal sangatlah sering mengalami kesalapahaman. Apalagi sampe berantem. Berantem ama orang jelek, kalau sama-sama bonyok kita yang rugi… Salam tiiinn….tiiiinnnn…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: