Katanya..

30 Maret 2016

Beberapa hari yang lalu, resmi sudah saya putuskan diri ini untuk gantung sepatu dari huru-haranya dunia pendakian, baik mendaki gunung maupun panjat tebing. Lewat Keputusan Mendagri no.12 Tahun 2016, setelah resmi turun dari gunung Kerinci kemaren, jadilah saya ditetapkan pensiun hingga waktu yang tak bisa ditentukan.

3805 Mdpl, itulah batas diri yang saya ketahui saat ini. Tak mungkin kurang, bisa jadi lebih. Tapi saya tak berharap banyak. Dunia pendakian saya perlahan abu-abu, menyentuh titik jenuh. Sudah lama sebenarnya ingin berhenti. Cuma lingkungan saya sepertinya terus saja menggoda dengan alasan-alasan klise seperti, mencari ketenangan.. haiissh.

Padahal ketenangan saya sekarang hanya di kasur. Tidak lagi di gunung atau pantai yang sudah habis di booking makhluk-makhluk selfie. Tempat-tempat itu sudah bukan tempat keramat pencari suaka sepi, tapi justru malah pindah jadi tempat hiburan. Sampai-sampai malah ada yang bikin jazz diatas gunung, konser musik, dan hingar bingar perkotaan lainnya yang cuma pindah tempat.

Memang saya tak punya hak mencegah, toh gunung bukan milik siapa-siapa. Kemajuan jaman sudah menggantikan banyak hal termasuk sisi inovasi dalam bidang mountaineering ini. Tentu saya akan dianggap gila jika berharap suatu masa akan tetap konstan hingga begitu lama. Terutama karena manusia terlahir sebagai individu yang gampang bosan dengan situasi yang selalu sama. Perubahan akan selalu menggiling kebosanan dengan caranya sendiri..
***

Banyak hal kenapa saya menjadikan Gunung Kerinci sebagai persinggahan terakhir. Baik ketinggiannya, lokasinya, kenangannya, momennya, dan terutama, menuntaskan janji kepada kedua orang teman seperjuangan ketika pertama kali mendaki Kerinci di 2007.

Sebenarnya juga, pada pendakian kemaren, saya sedikit pesimis dengan si dengkul jahanam ini. Kali terakhir saya mendaki, 2014 di Gunung Talang. Artinya sudah dua tahun kaki ini dimanjakan dengan kendaraan. Belum lagi faktor paru-paru yang terlatih baik dengan asap rokok. Olahraga rutin pun cuma mengunyah makanan. Ditambah lagi, badan saya yang mulai melemah dengan udara lembab. Ibaratkan saja saya seperti dedek-dedek mall yang manja-manja lemah, tapi tanpa bagian menggelinjangnya.  Bahkan mandi di bawah jam 12 saja sudah serasa dijemur di Kutub Utara.

Tapi untunglah badan saya tidak banyak ulah di Kerinci kemaren. Meskipun suhu daerah Kayu Aro dengan dinginnya yang terkenal konstan hingga bisa menghasilkan teh terenak sedunia itu, tumbenlah saya tidak demam seperti yang biasa badan saya lakukan setiap turun gunung. Walaupun diterpa hujan dua malam juga, berjalan berjam-jam dengan pakaian yang sudah terendam air, jarang-jarang saya bahkan tidak pilek.

Pada summit attack Kerinci di tanggal 9 maret, sudah saya prediksi puncak gunung akan ramai dengan manusia-manusia yang berharap nonton gerhana matahari dari puncak. Karena malas, saya baru mendaki pukul 6 (padahal summit attack Kerinci harus dilakukan jam 2 subuh dari shelter dua). Dengan pendakian slow motion ala-ala gerombolan si berat, barulah pada jam 12 saya tiba di puncak. Jelas sekali saya dalam kondisi malas-malas basah karena medan Kerinci yang becek, berkabut dan hujan.

Karena para penonton gerhana sudah bubar, tibalah saatnya saya menguasai puncak. Suasana puncak yang tenang bersama angin dan kabut saja. Sepi. Entah kapan terakhir kali saya mendapati puncak gunung yang sepi begini. Dan bersama pemandangan dari puncak yang selalu sama, luas, rumah-rumah yang terlihat kecil, pepohonan, gunung lain, dan sawah serta perkebunan yang tertata apik. Perasaan sama yang saya rasakan tiap sampai di puncak gunung. Justru karena perasaan inilah saya ingin berhenti.

Kebosanan yang sampai jenuh mulai menjalar menjelma menjadi tanda tanya. Pemandangan yang sama. Suasana yang sama. Kelelahan yang sama. Dan pencarian yang sama. Bertahun-tahun saya mendaki gunung tanpa tahu apa yang saya cari. Tanpa menghasilkan sesuatu yang wah. Di tambah lagi ketenangan untuk berkontemplasi di puncak sudah hilang, berganti riuhnya cekrekan foto dan sampah kertas yang menggoda sekali untuk dipungut.

Saya tahu ini egois, tapi mengharapkan gunung menjadi tempat pertapaan sepertinya sudah bukan jamannya lagi. Era berganti, jaman berubah, waktu bergerak, dan dunia selalu berputar. Harapan hanya ada pada, semoga sejarah memang terulang. Sejarah dimana kesunyian gunug masih hanya diiringi cuitan burung liar dan suara siamang yang baru makan hexos.

Ya sudah, sampai ketemu lagi gunung-gunung Indonesia yang sudah pernah saya jamah. Terima Kasih yang teramat sangat…. Muah…

(Thanks to: Kerinci, Marapi, Talang, Kaba, Gede-Pangrango, Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Ungaran, Lawu, Sikunir, Muria, Kelud, Argopuro, Halau-halau, dan si eksotis Rinjani).

Iklan

Blog Anak Baik

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Nguping Jakarta

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Pandji Pragiwaksono

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

Kumpulan Misteri Dunia

Kumpulan Artikel Misteri dan Rahasia yang Belum Terpecahkan

Blog misteri enigma

Calon orang kaya. Tetap manis walau badai menghadang,,

%d blogger menyukai ini: